
Sarah menyusuri langkahnya di selasar rumah sakit. Dia ingin menjenguk Babenya. Dia telah mendapatkan informasi bahwa operasi jantung babenya besok pagi. Sarah sangat bahagia dan bersyukur memiliki seorang pacar seperti El yang sangat baik hati. Melalui bantuan dari El, babenya bisa dioperasi jantung tanpa mengurus administrasi yang ribet. Tak sengaja Sarah mendengar percakapan orang tuanya ketika dia membuka sedikit pintu rawat inap VVIP tempat babenya dirawat.
"Abang harus bilang ke Sarah kalau dia bukan anak kita Ro," ucap Rojali sedih yang membuat Sarah membuka lebar mulutnya karena terkejut, tapi dia harus menahan rasa keterkejutannya supaya bisa mendengar ucapan berikutnya.
"Jangan dulu Bang, nanti dia pergi dari rumah. Kalau dia pergi, nanti siapa yang bantuin kita? Lagi pula kita sudah kehilangan anak satu - satunya kita si Mariana."
"Oh ya elu sudah kasih tahu Mariana tentang kondisi gw?"
"Udah, tapi seperti biasa dia masa bodo dengan keadaan Abang."
"Dasar anak durhaka!" ucap Rojali sambil memegang dada kirinya karena sakit.
Sontak Sarah membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar karena panik melihat Rojali kesakitan. Memencet bel untuk memanggil perawat. Sarah menyalim tangan kanannya Rogaya dan Rojali secara bergantian. Dua orang perawat masuk ke dalam ruang rawat inap Rojali. Yang satunya memasang alat tensimeter di tangan kanannya Rojali sedangkan yang satunya lagi sedang memeriksa data riwayat Rojali.
"Seratus delapan puluh lima per seratus lima," ucap perawat setelah memeriksa tensi darahnya Rojali.
"Pak Rojali masih merasakan nyeri di dada kiri?" ucap perawat yang memeriksa data riwayat Rojali sambil menoleh ke Rojali.
"Masih sus, barusan saya masih merasakan sakit di dada kiri dan sesak nafas," lirih Rojali.
"Babe mikirin apa sich sampai sakit lagi?" ucap Sarah sedih.
"Pak jangan terlalu banyak pikiran ya karena besok pagi rencana kami mau operasi Bapak. ucap perawat yang memeriksa tensi Rojali.
"Iya saya juga tahu itu Sus," ucap Rojali datar.
"Bu Rogaya bisa ikut kami? Kami mau bicara sebentar sama Ibu," ucap perawat yang tadi memeriksa data riwayat Rojali.
"Iya Sus," ucap Rogaya, lalu dua orang perawat itu melangkahkan kakinya menuju ke pintu ruang rawat inap.
"Sar, titip Babe ya."
"Iya Nyak."
__ADS_1
Tak lama kemudian Rogaya mengikuti langkahnya dua orang perawat itu. Mereka keluar, lalu Rogaya menutup pintu ruang rawat inap Rojali. Sarah melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Rojali. Rojali menoleh ke Sarah, lalu tersenyum dengan senyuman yang meneduhkan bagi Sarah. Sarah menggenggam telapak tangan kanannya Rojali. Rojali meneteskan air matanya.
"Be, nggak usah mikirin yang macam - macam ya," ucap Sarah lembut penuh kasih sayang sebagai seorang anak.
"Sar, maafin Babe ya. Babe baru plong kalau Babe menceritakan tentang sesuatu mengenai elu Sar," ucap Rojali sendu.
"Ya udah kalo itu maunya Babe. Babe mau cerita apa?" ucap Sarah pura - pura nggak tahu.
"Dulu sekitar dua puluh dua tahun yang lalu, Babe menemukan seorang bayi perempuan yang lucu dan cantik di bak mobil Babe. Waktu itu Babe terkejut dan senang menemukan seorang bayi yang selama ini Babe dan Nyak impikan. Sudah sepuluh tahun Babe dan Nyak menikah tidak diberi keturunan. Makanya ketika menemukan elu, hati kita sangat bahagia. Kami sengaja tidak ingin memberi tahu soal penemuan anak ke pihak berwajib karena kami tidak ingin melepaskanmu. Akhirnya kami merawat dan mengurusmu. Maafin Babe dan Nyak yang selama ini pernah menyakiti elu," ucap Rojali sendu.
"Iya, Sarah maafin Be."
"Karena itu Abi dan Umminya Juneidi tidak merestui hubungan asmara kalian. Maafin Babe sama Nyak ya Sar. Sampai sekarang Babe dan Nyak kaga tahu orang tua kandung elu. Mungkin orang tua kandung elu tinggal di Bogor. Waktu itu gw menemukan elu setelah pulang beli sayuran di perkebunan daerah Bogor. Sampai kapan pun elu tetap anak gw. Sebaiknya elu cari orang tua kandung elu, supaya elu cepat nikah, kasihan El, kayaknya dia ngebet banget nikah sama elu."
"Iya Be."
"Romannya ke mana El? Kok gw kaga lihat batang hidungnya sich."
"Dia lagi pergi ke Malang Be, lagi meninjau proyek perumahannya."
"Babe udah sarapan?"
"Udah."
"Udah minum obat?"
"Udah."
"Sebaiknya Babe istirahat dan jangan mikir yang macam - macam ya, soalnya besok pagi Babe mau dioperasi."
"Iya Sar."
Sedetik kemudian Sarah melepaskan genggaman tangannya. Berjalan menghampiri sebuah sofa panjang. Menduduki tubuhnya di sofa itu. Sarah membuka reselting tas selempangnya untuk mengambil handphone miliknya. Mengambil handphonenya, lalu memencet beberapa tombol untuk melihat pesan dari El.
__ADS_1
Assalamu'alaikum Ai ku yang sangat kucintai. Maafkan aku ya Ai. Aku tidak menyangka kalau teman - temanku telah meledek dan menghinamu. Setelah aku mengetahui kejadian itu, aku langsung menghajar kedua cecenguk itu. Besok - besok aku tidak akan mencium kamu lagi sebelum kita menikah. Sekarang aku lagi on the way Malang, lihat proyek perumahan yang telah kamu desain rumahnya untuk perusahaan property Papi Rogen. Aku berharap kamu segera memaafkan aku dan tidak mendiamkan diriku. Aku merasa nelangsa bila kamu marah kepadaku. See you again. Your love, El.
Batin Sarah yang sedang membaca pesan di dalam hatinya.
Sarah mengalihkan pandangannya ke sosok Babenya. Dia melihat Babenya sedang tidur terlelap. Sarah meneteskan air matanya karena hatinya merasakan luka tak kasat mata. Sejak bayi dia harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya. Sesuatu yang seharusnya dia miliki. Sarah menyeka air matanya. Menghirup udara sebanyak - banyak, lalu menghembuskan nafas dengan pelan - pelan sehingga air matanya berhenti mengalir.
Memencet beberapa tombol untuk menelpon El. Memencet tombol hijau, lalu mendekatkan benda itu ke telinga kirinya. Terdengar nada tidak aktif dari nomor handphonenya El. Sarah menjauhkan benda itu dari telinga kirinya. Menaruh handphone miliknya di dalam tas slempangnya, lalu menutup reselting tas slempangnya. Sarah merenung memikirkan seperti apa orang tua kandungnya.
Apakah mereka orang jahat sehingga menaruhku di bak mobil babe bersama sayur mayur? Apakah aku diculik, lalu karena panik penculik itu menaruhku di bak mobil babe? Seperti apakah keluargaku? Aku harus menemukan keluargaku.
Batin Sarah sambil melamun.
Pintu kamar rawat inap terbuka. Rogaya masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. Rogaya menoleh ke Rojali yang sedang tidur terlelap. Rogaya melanjutkan langkah kakinya menghampiri Sarah. Rogaya duduk di sebelah kirinya Sarah. Rogaya menoleh ke Sarah yang masih melamun memikirkan keluarga aslinya.
"Sar, maafin kami berdua ya. Karena keinginan kami yang menginginkan seorang anak, elu nggak kami laporkan ke pihak berwajib," ucap Rogaya yang membuyarkan lamunan Sarah.
Sarah menoleh ke Rogaya, lalu berucap, "Iya nyak."
"Bagaimana keadaan warungnya Nyak Sar?"
"Alhamdulillah, pembelinya bertambah."
"Elu nggak capek kan masak buat warung sambil bekerja?"
"Nggak Nyak."
"Alhamdulillah, gw baru sadar kalau elu anak yang sholeha. Maafin Nyaknya yang udah pernah berbuat kasar ke elu."
"Iya Nyak. Nyak, aku keluar dulu ya,"
"Iya, hati - hati ya."
Sarah menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Rogaya. Sarah berdiri dari sofa panjang. Melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat inap. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka. Sarah keluar dari kamar rawat inap Rojali. Menutup pintu kamar rawat inap. Melanjutkan langkahnya menuju ke lift rumah sakit. Sarah berniat untuk mencari keluarganya, maka itu dia ingin pergi dari rumah sakit.
__ADS_1
Di depan lift dia melihat seorang bayi yang sedang diajak bercanda dana ibunya. Bayi itu tertawa riang. Adegan itu membuat hatinya Sarah tersentuh. Dia ingin merasakan kehangatan dan kasih sayang dari seorang ibu kandung. Tak terasa air matanya mengalir lagi. Juneidi sedang berjalan menuju ke lift sambil melihat Sarah yang sedang menangis. Juneidi menepuk bahu kanannya dengan pelan ketika berada di belakang Sarah.
"Aku antar kamu ke tempat biasa supaya kamu bisa melepaskan rasa sedih yang ada di dalam hati."