
Sarah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar rawat inap. Sejak kemarin pagi dia masuk ke rumah sakit akibat sakit typus. Melihat tangan kanannya yang sedang diinfus dan melihat beberapa bodyguard berjenis kelamin wanita. Sarah mengubah posisi ranjang dari posisi tidur ke posisi duduk dengan memencet tombol di sisi kiri ranjang.
Pintu kamar rawat inap terbuka yang menampilkan El dan Rifky beserta para pengawal El. Mereka berdua masuk ke dalam kamar, lalu berjalan menghampiri Sarah. Pintu kamar ditutup oleh salah satu bodyguardnya El. Rifky tersenyum hangat ke Sarah sehingga membuat Sarah tersenyum sopan ke Rifky.
"Assalamu'alaikum Sarah," salam Rifky.
"Wa'alaikumussalam Pak Rifky. Silakan duduk Pak," ucap Sarah sopan.
"Iya, bagaimana kabar kamu?" ucap Rifky sambil menduduki tubuhnya di atas kursi samping kanan ranjang.
"Udah baikan Pak."
"Kamu sakit apa?"
"Typus Pak."
"Semoga kamu cepat sembuh agar bisa melakukan semua kegiatanmu."
"Aamiin Ya Robbal Alamiin."
"Kita bisa ngobrol sebentar?"
"Bisa Pak. Ngobrol tentang apa ya Pak?"
"Waktu dulu saya dan istri saya kehilangan bayi perempuan saya yang berusia tiga bulan karena diculik. Penculiknya ketangkap, tapi kami tidak menemukan anak kami. Kata penculik itu, dia menaruhnya di atas tumpukan sayuran. Dia tidak tahu plat nomor mobil yang mengangkut sayuran itu. Kami mencarinya ke mana - mana dan melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Sudah setahun kami tidak menemukan bayi perempuan kami sehingga polisi menutup kasus ini. Kami selalu berdoa dan masih berharap bisa menemui bayi perempuan kami walaupun kasus itu sudah ditutup oleh pihak yang berwajib. Karena itu istri saya kepikiran dan kondisi kesehatannya drop sampai dia menderita kanker otak. Kami ingin sekali menemui bayi perempuan kami sebelum istri saya meninggal. Waktu saya pertama kali ketemu sama kamu, saya menduga bahwa kamu adalah putri kami karena wajah kamu mirip sekali dengan wajah istri saya. Makanya sejak itu saya ingin sekali membicarakan hal ini kepadamu, tapi waktu itu belum sempat saya utarakan karena jadwal saya yang padat. Untungnya dua hari yang lalu, El memberi tahu kepada saya tentang kamu yang sedang mencari orang tua kandungmu. Aku ingin kita melakukan test DNA dulu. Kalau hasilnya cocok, kamu adalah anak kami."
"Pak Rifky maunya kapan?"
"Bagaimana kalau sekarang? Mumpung kita berada di rumah sakit?"
"Boleh."
"Aku ambil rambutmu ya?"
"Iya."
Tak lama kemudian Rifky beranjak berdiri, lalu mengambil kantung plastik klip dari kantung celananya. Mencabut beberapa helai rambutnya Sarah dengan penuh kelembutan agar Sarah tidak kesakitan. Membuka kantung plastik klip, lalu menaruh beberapa helai rambutnya Sarah di dalam kantung plastik klip itu. Menutup kantung plastik klip itu.
"Semoga kamu anak saya," ucap Rifky lembut.
"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Istri Pak Rifky dirawat di rumah sakit mana?"
__ADS_1
"Mount Elizabeth. Kalau kamu terbukti anak kami, aku berharap kamu bisa tinggal di Singapore supaya bisa tinggal bersama Annisa."
"Pasti aku tinggal di sana setelah aku menyelesaikan semua kontrak kerjaku, tapi sebelum kontraknya habis, aku usahakan sesering mungkin ke sana untuk menemani Bu Annisa," ucap Sarah sopan.
"Saya permisi, mau ke lab dulu, terima kasih atas pengertiannya," ucap Rifky lembut.
"Iya Pak, hati - hati."
"Iya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Perlu saya antar Pak?"
"Terima kasih atas tawarannya, tapi tidak perlu, saya bisa sendiri."
El hanya tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanggapan dari ucapan Rifky. Tak lama kemudian Rifky membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Pintu kamar dibuka oleh salah satu bodyguardnya El. Rifky berjalan melewati pintu.
El memberikan kode ke semua pengawal yang berada di dalam kamar agar keluar dari dalam kamar dengan mendongakkan wajahnya. Semua para pengawal keluar dari dalam kamar. Pintu kamar ditutup oleh salah satu pengawalnya Sarah. El mendekati Sarah, lalu menggenggam telapak tangan kirinya Sarah, lalu mengangkatnya. Mengecup punggung telapak tangan kirinya Sarah dengan penuh rasa cinta.
Mommy, mommy ku tersayang. Mommy, mommy ku tercinta. Mommy, mommy ku tersayang. Mommy, mommy ku tercinta. Oh ... cinta mu selalu tulus untuk ku. Cinta mu selalu abadi untuk ku. Cinta mu selalu ada untuk ku.
"Hallo, assalamu'alaikum," ucap Maimunah.
"Wa'alaikumussalam, ada apa Munah?"
"Gimana kabar elu?"
"Alhamdulillah udah mendingan. Bagaimana perkembangan berita gosip tentangku Munah?"
"Memangnya elu kaga tahu? Di acara infotainment tv dan di sosial media, berita gosip tentang elu lagi di peringkat pertama. Sampai - sampai tadi pagi beberapa pers datang ke rumah sakit untuk menanyakan kebenaran berita itu. Emangnya El kaga kasih tahu elu? Makanya gw telepon elu nanyain keadaan elu setelah diserbu oleh para wartawan.
"El nggak kasih tahu tentang itu, emangnya ada berita gosip apa?"
Ya Tuhan semoga Maimunah tidak menceritakan semuanya.
Batin El.
"Elu digosipin kumpul kebo sama El, elu jadi terkenal karena di back up sama El, secara Antony dan Andrew adalah saudaranya El. Elu dibilang anak buangan. Elu dibilang anak yang tidak tahu berterima kasih karena perlakuan kalian terhadap Mariana. Elu dibilang kacang lupa kulitnya. Karena itu gw khawatir sama kondisi kesehatan elu dan gw pengen banget datang ke rumah sakit, mau ngasih penjelasan yang sebenar - benarnya, tapi El ngelarangnya. Katanya biar dia aja yang ngejelasinnya. Elu kaga kenapa - kenapa kan?"
"Aku baik - baik aja Munah."
__ADS_1
"Elu kaga nemuin para wartawan?"
"Nggak Maimunah. Mungkin El yang menemui mereka. Ada email atau massage dari para penggemarku nggak?"
"Ada, tapi elu kaga usah khawatir, gw udah ngurus itu semua."
"Terima kasih ya Munah."
"Sama - sama Rah, udah dulu yak, gw mau mandi dulu. Jangan terlalu banyak pikiran yak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Sarah memencet ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di tempat semula. Menoleh ke El dengan tatapan mata yang tajam. El mendengus kesal melihat ekspresi Sarah. El menduduki tubuhnya di atas kursi samping kiri tempat tidur. El menggenggam telapak tangan kirinya Sarah lagi dengan penuh rasa cinta.
"El, memangnya tadi pagi ada beberapa wartawan datang ke rumah sakit ini untuk menemuiku?"
Ya ampun si Maimunah polos banget sich.
Batin El.
"Iya, tapi aku nggak mau hal itu menjadi beban pikiran kamu, makanya aku melarang mereka menemuimu. Akhirnya aku yang memberikan penjelasan kepada mereka."
"Apakah sekarang mereka masih ada?"
"Sudah pergi."
Tiba - tiba pintu kamar rawat inap Sarah terbuka. Rogaya melengos masuk ke dalam kamar dengan derai air mata. Ekspresi mukanya Sarah langsung sedih melihat Rogaya menangis. Rogaya langsung mendekap erat tubuhnya Sarah sambil menangis tersedu - sedu. El hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali melihat kelakuan Rogaya.
"Nyak kenapa menangis?"
"Hiks ... hiks ... hiks .... Maafin Mariana ya Rah, dia yang telah nyebarin gosip tentang elu hiks ... hiks ... hiks .... Tapi tolong ajak dia tinggal bersama lagi. Hiks ... hiks ... hiks ... ya —."
"Nyak Rogaya tolong jangan bahas tentang itu di sini!" ucap El kesal yang telah memotong ucapan Rogaya.
"El, tolong jangan potong ucapan Nyak dan jelaskan apa yang telah terjadi," ucap Sarah tegas.
"Tadi siang Mariana aku usir dari apartemen karena dia telah mencoreng namamu di depan media."
"Karena itu dia pergi dari apartemen bawa anaknya yang masih bayi hiks ... hiks ... hiks ... Nyak kaga tega si Melia tinggal di tempat yang kaga jelas Rah hiks ... hiks ... hiks ... Sarah, tolong ajak dia tinggal bersama kita hiks ... hiks ... hiks ... maafin dia ya hiks ... hiks ... hiks ... sampai sekarang Nyak telepon Mariana nggak bisa - bisa hiks ... hiks ... hiks ... Nyak sangat khawatir sama keadaan mereka Rah hiks ... hiks ... hiks ...."
"Ya udah sekarang Nyak tenang aja, nanti aku hubungi Mariana untuk ngajak tinggal bersama lagi," ucap Sarah lembut.
__ADS_1