
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Perlahan kedua kelopak matanya Sarah mulai terbuka karena kehilangan daya rekat yang sempat mengunci kedua matanya Sarah dengan kuat. Sarah mengerdipkan kedua matanya agar bisa menyesuaikan bias sinar lampu yang menyeruak masuk menembus kornea matanya. Sarah pun melegarkan kepalanya ke sekeliling ruangan.
Sedikit terkejut melihat kamar yang bernuansa putih ketika kedua kelopak matanya terbuka setelah terkatup dalam waktu yang dia sendiri tidak tahu sudah berapa lama. Tiba - tiba kepalanya pusing dan nafasnya kembali memburu ketika teringat kejadian yang sangat mengerikan menimpa dirinya.
"Sayang ...," ucap Annisa sambil duduk di samping kiri ranjang.
Sarah melihat seorang wanita separuh baya yang ada di sampingnya dengan menggunakan hijab panjang berwarna biru dongker. Umminya yang sudah ada di sana menunggu Sarah menatap Sarah dengan penuh kekhawatiran. Ibu kandungnya Sarah merasa terpukul karena kejadian yang sangat memilukan menimpa anaknya yang baru dia nemuin beberapa bulan yang lalu. Raut wajah kesedihan terpancar dari wajahnya Annisa.
"Ummi ... aku takut," ucap Sarah sendu dan panik.
"Kamu tenang aja ya, kamu sudah aman sekarang," ucap Umminya Sarah lembut sambil mengusap lembut punggung telapak tangan kanannya Sarah. "Apa yang kamu rasakan sekarang?" ucap Annisa dengan penuh kelembutan.
Tiba - tiba tangan kanannya Sarah bergetar. Annisa melihat tubuhnya Sarah memperlihatkan tremor yang sangat kuat. Melihat keadaan seperti itu, umminya Sarah langsung mempererat genggaman tangannya. Satu tangan umminya Sarah langsung menekan tombol darurat berulang kali untuk memanggil perawat maupun dokter.
"Kamu tidak perlu mengingat kejadian itu. Kamu tenang saja karena Allah selalu melindungimu. Sekarang kamu aman karena di sini ada Ummi" ucap Annisa dengan nada suara yang lembut sambil mengelus lembut punggung tangan Sarah sehingga tremor di tubuhnya Sarah menghilang.
Pintu kamar rawat inap Sarah terbuka. Tak lama kemudian suara derap langkah memasuki ruang rawat inap Sarah. Seorang dokter dan seorang perawat datang menghampiri tempat tidur Sarah. Perawat itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Sarah dan memeriksa tekanan darahnya Sarah dengan menggunakan tensimeter.
"Wahhh..., Nak Aisyah sudah sadar. Bagaimana kabar kamu? Baik - baik aja kan?" tanya dokter itu sambil memasangkan stetoskop ke telinganya.
"Kabar aku baik Dok, cuma badan saya gemetaran dan saya masih takut Dok, " jawab Sarah ketika sedang diperiksa sama dokter.
"Hebat kamu! Bisa melampaui masa kritis kamu," ucap dokter sambil memeriksa kesehatan Sarah. "Saya akan meresepkan obatnya," lanjutnya sambil melepaskan stetoskop dari kedua telinganya.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?"
"Dia sudah membaik Bu."
"Bagaimana hasil CT Scan putri saya Dok?"
"Hasil CT Scan Nona Lily normal semua, Bu. Keadaan fisiknya tidak perlu dikhawatirkan lagi, Bu. Karena kita sudah mengobati semua luka fisiknya. Kita pantau dulu keadaannya selama delapan jam kedepan, ya Bu. Kalau tidak ada masalah nanti malam pasien sudah boleh pulang."
"Baik Pak dokter. Kalau keadaan psikisnya gimana Dok? Soalnya tadi badannya anak saya bergetar."
"Nanti ada psikiater yang akan memeriksanya ya Bu. Tapi saya yakin Nona Aisyah tidak mengalami gangguan mental, hanya merasakan ketakutan saja. Kami permisi dulu, jika perlu bantuan bisa panggil kami," ucap pak dokter sopan.
"Terima kasih banyak ya Pak," ucap Annisa lembut.
Sedetik kemudian dokter dan perawat itu tersenyum sopan sambil sedikit menganggukkan kepalanya. Mereka melangkahkan kakinya menuju pintu kamar keluar dari kamar rawat inap. Annisa beranjak berdiri dari kursinya ketika dokter dan perawat berjalan melewati pintu kamar, lalu perawat itu menutup pintu kamar.
"Apakah El yang membawa aku ke sini Ummi?"
"Iya Nak."
__ADS_1
"Dia sekarang lagi di mana Mi?"
"Setahu Ummi, dia sekarang masih di kantor polisi untuk memberikan keterangan. Oh ya sebentar lagi, Zayn akan menjenguk kamu."
Tak disangka air matanya Sarah mengalir ketika mengingat Zayn, lalu Sarah berucap dengan sedih, "Ummi aku ingin membatalkan pernikahan kami karena aku sudah tidak suci lagi. Aku sudah tak pantas lagi bersanding dengan Zayn karena aku sudah tak berharga lagi, aku sudah kotor dan hina Mi."
Annisa menyeka air matanya Sarah dengan penuh kasih sayang, lalu berucap, "Kamu tak perlu membatalkan pernikahan kalian karena Zayn menerima kamu apa adanya. Dia ingin menyempurnakan agamanya bersamamu, itulah salah satu cara untuk mencapai tujuan hidupnya. InsyaAllah kamu mampu menyempurnakan agamamu bersama Zayn selamanya."
"Benarkah Ummi dia menerima aku apa adanya?"
"Iya sayangku. Kamu tak perlu khawatir akan itu. Zayn orang yang sangat menjaga komitmennya dan dia adalah orang yang sangat baik," ucap Annisa penuh dengan kelembutan.
"Pak Trisno sudah ditangkap Mi?"
"Dia sudah meninggal."
"Kenapa dia meninggal Mi?"
"Dia ditembak."
"Ditembak sama polisi?"
"Iya, kamu tak perlu memikirkan orang yang telah berbuat jahat kepadamu Nak."
"Mi aku bingung."
"Bingung kenapa Nak?"
"Waktu itu kenapa ada El dan El telah menolongku serta dia membawa aku ke sini?"
Berarti El telah melihat area sensitif aku lagi dong.
Batin Sarah.
"Kamu makan ya," ucap Annisa lembut sambil mengambil nampan makanan.
Tak lama kemudian Annisa menyuapi Sarah. Annisa memakan makanan yang sudah disajikan dari pihak rumah sakit. Pintu kamar rawat inap Lily terbuka lagi. Menampilkan sosoknya El. El melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sambil tersenyum manis ke Sarah dan membawa parcel buah. Langkahnya menghampiri Sarah dan Annisa. Menaruh parcel buah di atas nakas sebelah kiri ranjang.
"Selamat malam Ummi Nisa," sapa El sambil menangkup kedua telapak tangannya di dada.
"Selamat malam El," ucap Annisa lembut sambil mengangguk sopan.
"Bagaimana keadaanmu Ai?"
"Alhamdulillah udah lebih baik. El, bagaimana kelanjutan dari kasus penculikanku?"
"Semua orang yang terlibat dalam penculikan ditangkap."
"Termasuk Pak Trisno?" ucap Sarah untuk memastikan kabar yang sebenarnya, lalu Annisa menyuapi Sarah lagi.
"Dia sudah meninggal. Dia meninggal karena ditembak samaku."
"Ah!?" ucap Sarah terkejut setelah menelan makanannya, lalu Annisa menyuapinya lagi.
__ADS_1
"Kamu bisa dipenjara El," ucap Annisa yang diangguki sama Sarah.
"Biari aja, aku akan tanggung jawab atas perbuatanku."
"Kenapa kamu menembaknya El?" ucap Sarah setelah menelan makanannya, lalu Annisa menyuapinya.
"Karena dia telah memperkosa kamu, aku ingin dia mendapatkan balasan yang setimpal."
"Ummi sangat berterima kasih karena kamu telah menolong Aisyah, tapi kamu seharusnya tak perlu membunuh dia dan itu kan bisa merugikan dirimu sendiri El, Ummi jadi merasa nggak enak sama keluargamu," ucap Annisa yang merasa tak enak hati sama El.
"Ummi tak perlu merasa itu, keluargaku justru mendukungku untuk melakukan itu, apalagi Papi Billy."
"Assalamu'alaikum," salam Zayn sambil membawa satu tangkai bunga mawar merah dan parcel buah berada di ambang pintu kamar.
Semua langsung menoleh ke Zayn, lalu Aisyah berucap, "Wa'alaikumussalam."
"Bagaimana keadaan kamu Ai?" tanya Zayn lembut sambil berjalan masuk ke dalam kamar melewati pintu yang masih terbuka.
"Sudah lebih baik," ucap Sarah lembut dengan kedua mata yang berbinar - binar menatap Zayn.
Zayn menaruh parcel di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Menyalim Annisa, lalu memberikan setangkai bunga mawar merah ke Sarah sambil tersenyum manis dan hangat ke Sarah. El memperhatikan gesturenya Zayn yang sangat lembut terhadap Sarah. Ada rasa cemburu di jiwanya El, tapi dia menangkisnya karena dia sadar bahwa Sarah bukan kekasihnya lagi. El juga memperhatikan gesturenya Sarah yang sudah jatuh cinta kepada Zayn.
"Ummi, aku aja nyuapi Aisyah, Ummi duduk aja," ucap Zayn sopan sambil mengulurkan kedua tangannya ke Annisa.
"Nggak usah Nak Zayn, biar Ummi aja," ucap Annisa lembut, lalu menyuapi Sarah.
"Baiklah Ummi, bagaimana perkembangan kasus penculikan Aisyah?"
"Semua yang terlibat di dalam kasus itu dipenjara."
"Alhamdulillah, mereka dipenjara, kalau perlu dihukum seumur hidup," komentar Zayn.
"Dalangnya sudah dihukum mati," samber El.
Zayn langsung menoleh ke El, lalu berucap dengan sopan, "Maksud kamu apa ya?"
"Si Trisan sudah meninggal karena ditembak."
"Ditembak sama polisi?"
"Bukan, tapi ditembak sama aku."
"Kamu bisa dipenjara El."
"Biarin aja, habisnya dia telah memperkosa Aisyah. Aku jadi marah melihatnya. Coba kamu berada di sana, pasti kamu menembaknya."
Zayn tidak menggubris El, lalu menoleh ke Sarah dan berucap, "Apapun yang telah terjadi padamu, aku akan tetap menikahimu. Aku ingin menyempurnakan agamaku bersamamu. Kamu mau kan menikah aku karena Allah?"
Aku perhatikan gasturenya Zayn, dia sangat mencintai Sarah. Begitu juga sebaliknya, Sarah juga sangat mencintai Zayn. Sebaiknya aku mengalah.
Batin El.
"Terima kasih karena telah menerima diriku apa adanya. Iya, aku juga ingin menikah samamu karena itu adalah salah satu caraku untuk mencapai haluan hidupku."
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Hai para pembaca yang budiman, ini adalah episode yang terakhir di dalam novelku yang berjudul Haluan Hidupku. Terima kasih telah mendukungku dalam menulis novel ini. Ada novel yang telah menceritakan tentang El bersama seorang wanita setelah Aisyah ataupun Sarah menikah. Judul novel itu adalah Asa Diriku, dibaca dan dukung aku di novel itu ya. By the way, minggu depan aku akan membuat novel yang berjudul Kamu Adalah Jodohku. Mampir, baca dan dukung aku dalam menulis novel itu ya ππππ. See you again ππππ