
"Cantik sekali kamu Ai pakai baju itu," puji El sambil terpukau melihat Sarah yang sedang memakai sebuah gaun dan merasakan detakan jantungnya bertambah cepat.
"Tapi bajunya terlalu terbuka," ucap Sarah yang sedang mencoba baju.
"Tidak apa - apa Ai. Udah beli yang itu," ucap El senang.
Sarah masuk lagi ke ruang ganti salah satu butik terbaik di Jakarta, lalu menutup tirai ruang ganti. Dia memperhatikan dirinya di depan cermin yang besar. Memperhatikan model gaun yang dia pakai sekarang. Sebuah gaun slim fit panjang model kemben warna merah sehingga memperlihatkan punggung Sarah yang putih bersih. Belahan gaun itu sampai paha. Menggerakkan badannya ke kanan kiri. Mengangkat tangan kanan kirinya secara bergantian. Dia melakukan untuk memastikan kenyamanan dirinya saat mengenakan gaun itu.
"Aku harus memakai kalung untuk menutupi belahan dadaku," gumam Sarah bermonolog.
Tiba - tiba El membuka tirai ruang ganti, lalu masuk ke dalam ruang ganti sambil membawa satu set jas. Menutup tirai ruang ganti. Sarah melebarkan kedua matanya melihat kelakuan El. El langsung menggantung setelan jas itu, lalu membuka kaos dan celana jinsnya di depan Sarah. Sarah menutup mukanya dengan kedua tangannya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali. El tertawa kecil melihat reaksi Sarah.
"Ngapain juga kamu nutup wajahmu? Kamu kan pernah melihatku pakai boxer doang," ucap El sambil memakai celana panjang warna merah maroon.
"Makanya itu, aku nggak mau lagi ngeliatnya. Kamu nggak malu ganti baju dihadapanku?" ucap Sarah.
"Nggak, kamu kan calon istriku," ucap El serius sambil memakai jas bermotif abstrak warna merah maroon.
"Udah pakai jasnya belum? tanya Sarah.
"Udah, buka aja."
Sarah menelan salivanya berulang kali melihat seorang pria yang memiliki tinggi tubuh sekitar seratus delapan puluh centimeter dan berbadan tegap mengenakan setelan jas merah maroon yang tampaknya dijahit khusus untuk ukuran badannya karena menempel dengan sangat pas di tubuhnya. Celana panjang yang berwarna merah maroon tampak bagus membungkus kaki jenjangnya.
Aku perhatikan, ganteng juga El.
Batin Sarah sambil memperhatikan El.
"Kenapa lihat aku seperti itu? Aku tambah ganteng ya?" ucap El dengan nada suara yang menggoda sambil melihat dirinya di depan cermin.
"Iya," ucap Sarah spontan.
"Menurut kamu bagaimana? Apakah setelan jas ini sangat cocok di badanku?" tanya Fernandez sambil berdiri tegap lagi di depan cermin.
"Iya, sangat cocok dengan badanmu," jawab Sarah.
"Terima kasih cintaku," ucap El lembut, lalu mengecup puncak kepalanya Sarah.
__ADS_1
"Tuan, apakah setelan jasnya sudah cocok?" tanya salah satu karyawan butik itu.
"Iya."
"Kalau gaun pestanya sudah cocok?"
"Iya," celetuk El yang membuat Sarah melebarkan kedua matanya lagi. "Aku sangat suka kamu pakai baju ini Ai," bisik El.
Sarah mendengus kesal. Dia membuka tirai ruang gantinya, lalu keluar dari ruang ganti. Menutup tirai ruang gantinya. Duduk di bangku yang berada di depan ruang ganti. Mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Keadaan cukup sepi di sekitarnya. Menoleh ke pegawai itu, lalu tersenyum sopan. Pegawai itu juga tersenyum sopan ke Sarah sambil menganggukkan kepalanya.
"Apakah Nyonya menyukai gaunnya?" tanya pegawai itu sopan.
"Iya," ucap Sarah berbohong karena dia tidak mau melukai perasaannya El.
"Apakah gaunnya pas di tubuh anda?"
"Iya, bahkan sangat pas ukurannya dengan badan saya. Oh ya di sini jual tas dan kalung juga?"
"Jual Nyonya. Etalase aksesoris dan tas ada di sebelah sana," ucap pegawai itu sambil menunjukkan etalase aksesoris dan tas dengan ibu jarinya, lalu Sarah menoleh ke arah yang ditunjuk oleh pegawai itu
"Baik Tuan, saya bawakan setelan jasnya," ucap pegawai itu dengan sopan.
El memberikan setelan jas itu ke pegawai itu, lalu berucap, "Gaun biar kami yang membawanya."
"Baik Tuan," ucap pegawai itu
Tak lama kemudian pegawai itu pergi. Sedangkan Sarah masuk ke dalam ruang ganti. El melihat sekelilingnya sepi. Dia langsung masuk ke dalam ruang ganti, lalu menutup tirai yang membuat Sarah kaget. El langsung menarik pinggang rampingnya Sarah, lalu membalikkan tubuhnya Sarah. Memeluk pinggangnya Sarah dengan erat sehingga tubuh mereka berdempetan. El memiringkan wajahnya sambil memejamkan kedua matanya, lalu Mencium, *******, dan menghisap bibirnya Sarah dengan penuh kelembutan.
Sarah mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya El. Memejamkan kedua matanya, lalu membalas ciuman El sehingga ciuman mereka memanas. Tangan kanannya El menjelajah ke area benda kenyal milik Sarah. Ciumannya merambat ke area leher jenjangnya sampai ke area dua buah milik Sarah. El memberikan sensasi berbeda lagi dengan meninggalkan jejak petualang di area buah miliknya Sarah sehingga Sarah mengeluarkan suara *******.
"Permisi Tuan Muda," ucap Adi yang telah mengganggu kegiatan mereka.
Sontak mereka menghentikan kegiatan mereka. Sarah mendorong tubuhnya El. Sarah membalikkan badannya menghadap cermin. Melihat lipstiknya belepotan ke mana - mana. Sedangkan El merubah posisinya menghadap ke cermin, lalu melihat lipstiknya Sarah yang menempel di bibirnya. El membersihkan lipstiknya Sarah di bibirnya. El mengecup puncak Sarah dengan lembut.
"Ai, aku tunggu di luar," bisik El lembut.
Tak lama kemudian El membuka tirai ruang ganti. Keluar dari ruang ganti, lalu segera menutup tirai ruang ganti. Sarah memperhatikan kissmark di bagian atas buah miliknya sambil mengerutkan keningnya. Merabanya sambil merasakan gelayar aneh di tubuhnya. Dia tidak merasakan sakit di bercak merah hasil ciptaan El.
__ADS_1
"Kemarin yang seperti ini ada di leherku, sekarang di sini. Besok - besok aku nggak mau dicium lagi sama El, bisa - bisa badanku habis digigiti terus. Yasalam, itu juga perbuatan dosa. Ya Allah ampunilah dosa - dosaku," ucap Sarah bermonolog yang masih meraba kissmark buatan El.
Tak lama kemudian Sarah membuka reselting gaun yang dia pakai, lalu membuka gaun itu dari tubuhnya. Menggantung gaun itu, lalu mengambil celana panjangnya. Memakai celana panjangnya. Mengambil branya, lalu memakainya. Mengambil kaos, lalu memakainya. Sarah mengambil gaun itu, lalu membuka tirai ruang ganti. Keluar dari ruang ganti sambil membawa gaun itu. Dia melihat El sedang memperhatikan sebuah gambar. Sarah melangkahkan kakinya menghampiri El.
"Kamu sedang lihat apa?" tanya Sarah sambil menduduki tubuhnya di samping kirinya El.
El menoleh ke Sarah, lalu memberikan sebuah foto seorang pria yang berusia sekitar tiga puluhan ke Sarah dan berucap, "Menurutmu dia itu Trisno?"
Sarah menerima foto itu, lalu menelisik foto itu dan berkata, "Iya, ini wajahnya Pak Trisno."
"Dia sekarang pergi lagi dari Malang, entah kemana. Polisi dan para anak buah Papi kehilangan jejaknya. Dia bermain lihai dan tersusun rapi. Kami menduga jika dia pergi ke Singapore. Aku akan minta tolong sama temanku yang bekerja sebagai penyidik kepolisian di Singapore untuk menangkap Trisno."
"Kita serahkan saja soal Pak Trisno ke pihak berwajib dan Papimu. Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu," ucap Sarah lembut sambil memberikan foto itu ke El.
"Maaf aku tak bisa, aku harus menemukannya. Aku nggak akan membiarkan orang yang ingin membunuh cintaku," ucap El serius sambil memberikan foto itu ke Adi.
Sarah sudah sangat mengerti sifat keras kepalanya El, makanya dia nggak berani membahas lagi tentang Trisno sama El. Sarah beranjak berdiri dari bangku. Melangkahkan kakinya menuju etalase aksesoris. El beranjak berdiri dari bangku, lalu mengikuti langkahnya Sarah. Dia menghentikan langkahnya ketika berada di sebuah etalase yang berisi beberapa kalung. El ikut memperhatikan semua kalung yang dipajang di dalam etalase.
"Kalung - kalung ini terbuat dari bebatuan akik Martapura," ucap salah satu pegawai butik dengan sopan.
"Sebaiknya besok kita beli kalungmu di Tanteku Ai, sekalian aku kenali sama Tanteku," bisik El.
Sarah menoleh ke El, lalu berucap, "Tapi aku juga mau beli tas juga."
"Nanti aja sekalian di sana, aku harus ke Papi Billy sekarang," bisik El.
"Baiklah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
__ADS_1