Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Mommy


__ADS_3

Mommy!!" pekik Aqila riang sambil berlari ketika melihat Sarah berjalan menghampiri dirinya bersama Daddynya.


Sarah menghentikan langkahnya, lalu berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya ketika melihat Aqila berlari menghampiri dirinya. Aqila Memeluk lehernya Sarah dengan erat. Sarah memeluk badannya Aqila penuh dengan kasih sayang.


"Aqila senang Mommy datang ke sini," ucap Aqila bahagia.


"Wah, Aqila udah punya Mommy baru," celetuk salah satu orang tua murid.


"Selamat siang Bu Vena," ucap Antony, lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke Vena.


"Selamat siang Pak Antony," ucap Vena sambil mengulurkan tangan kanannya ke Antony, lalu mereka berjabat tangan.


"Di mana Alice?" tanya Antony sopan sambil melepaskan tangan kanannya.


"Dia masih di dalam Pak, kapan kalian menikah, kok kita - kita nggak diundang sich Pak?"


"Kami bukan sepasang kekasih Bu, kami hanya sebatas hubungan rekan kerja Bu," ucap Antony sopan.


"Ooo, saya kira Mommy barunya Aqila, soalnya tadi Aqila nyebutnya Mommy sich."


"Memang Kaka Mommynya Aqila," ucap Aqila spontan di dalam gendongan Sarah.


"Dia suka nyebut saya Mommy Bu," ucap Sarah sopan.


"Kami permisi dulu Bu Vena," ucap Antony sopan.


"Permisi ya Bu," ucap Sarah sopan, lalu Vena hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan dari Sarah.


"Hari ini Dede pintar main dramanya, Daddy salut sama Dede," ucap Antony senang sambil melangkahkan kakinya.


"Makasih Daddy, aku kan mau jadi artis kayak Mommy," ucap Aqila senang sambil menoleh ke Antony.


"Kalau mau jadi artis harus rajin latihan dan disiplin," ucap Sarah lembut sambil berjalan dan menggendong Aqila.


"Mommy, yang pake baju hitam - hitam siapa sich? Ali kemalin ikutin Mommy elus?"


"Mereka bodyguardnya Mommy," ucap Sarah lembut.


"Odigat itu apa Mommy?"


"Yang jagain Mommy."


"Emangnya Daddynya nggak bisa jagain Mommy?"

__ADS_1


"Daddy kan harus kerja Sayang," ucap Antony lembut.


"Eh, ada Om anteng," ucap Aqila riang sambil melihat El yang sedang berjalan menghampiri mereka sehingga mereka menghentikan langkah kakinya.


Antony mengarahkan kedua tangannya ke Aqila, lalu berkata, "Dede, Daddy gendong ya?"


"Nggak mau!" ucap Aqila ketus sambil membuang muka.


"Kenapa Aqila tidak mau digendong sama Daddynya Aqila?" tanya El ketika berada di depan mereka.


"Aku mau digendong ama Mommy aja," ucap Aqila ceria.


"Kakak Sarah itu bukan Mommynya Aqila," ucap El datar.


"Mommynya aku!" ucap Aqila ketus.


"El!" gertak Sarah.


Antony mengambil Aqila dari gendongan Sarah karena merasa nggak enak hati, lalu berkata, "Maafin Aqila ya, kami permisi dulu."


"Aku mau ama Mommy! Aku mau Mommy! Aku mau Mommy!" teriak Aqila sambil menangis di dalam gendongan Antony yang sedang berlari kecil.


Sarah menoleh ke El, lalu berkata, "Sudah puas bikin seorang anak kecil menangis!?"


"Belum waktunya untuk dijelaskan El! Kalau sana anak kecil itu butuh proses! Aku tidak ngebohongin Aqila! Aku pernah bilang ke dia kalau dia boleh menganggapku sebagai Mommynya! Kamu ngerti dikit dong sama anak kecil!" ucap Sarah kesal, lalu Sarah berlari kecil menuju tempat parkiran mobil meninggalkan El.


"Kamu mau ke mana?" tanya El sambil berteriak.


Tidak ada jawaban dari Sarah sehingga membuat El gondok. El berlari mengejar Sarah. El menarik tangan kanannya Sarah ketika berada di belakang Sarah sehingga Sarah menghentikan langkahnya dan menoleh ke El yang sudah menghentikan langkahnya. Sarah menatap kesal ke El, begitu juga sebaliknya.


"Lepasin tanganku!" ucap Sarah kesal sambil meronta - rontakan tangan kanannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya El tegas.


"Aku mau pulanglah!" ucap Sarah ketus sambil menghempaskan tangannya El.


"Pulang bareng, naik mobilku," ucap El melunak sambil menggenggam tangan kanannya Sarah.


Mau tak mau Sarah mengikuti ucapan El. El berjalan keluar gedung melewati pintu lobby gedung sambil bergandengan tangan dengan Sarah. Para pengawal mengikuti langkahnya mereka. Mereka berjalan menghampiri mobilnya El yang diparkir di tempat VVIP. Melewati kerumunan anak - anak dan ibu - ibu. Salah satu bodyguardnya El membukakan pintu untuk mereka. El dan Sarah masuk ke dalam mobil.


"Kenapa mobilku ada di sebelah kanan mobil ini?" tanya Sarah sambil melihat mobilnya.


"Aku suruh supir mobilmu pindah parkir ke sini. Aku perhatiin baby sitternya Aqila nggak ada, di mana dia?" ucap El ketika mobil bergerak.

__ADS_1


"Ayu pulang kampung, ibunya lagi sakit," jawab Sarah sambil menoleh ke El.


"Pantesan Antony manfaatin kamu untuk mengurusi anaknya. Aku tahu udah hampir seminggu, Aqila habis pulang sekolah ke kantor Daddynya, terus main sama kamu."


"Aku nggak ngerasa Pak Antony manfaatin aku kok, dengan senang hati aku ajak main Aqila. Bagaimana perkembangan pencarian orang tua kandungku? Apakah udah dapat kabar dari anak buahmu?"


"Ada."


"Apa informasi terbarunya?"


"Anak buahku mendapatkan informasi ada sebuah kasus penculikan anak bayi yang di daerah Tajurhalang Bogor. Anak buahku sudah mendapatkan alamat penculiknya dan alamat korbannya. Tadi pagi anak buahku mendatangi rumah korban itu, tapi rumahnya kosong melompong, kata para tetangga para penghuni rumah itu pindah dan mereka tidak tahu alamat barunya. Nama pemilik rumah itu, Bu Annisa. Nah siang ini anak buahku sedang ke rumah penculiknya."


"Semoga orang tua kandungku cepat ditemukan," ucap Sarah senang.


"Aamiin. Apakah kamu senang dengar informasi itu?"


"Iya senang," ucap Sarah bahagia.


Tiba - tiba Sarah mengecup pipi kanannya El. El membulatkan kedua matanya karena terkejut diperlakukan seperti itu. Sarah memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil. El tersenyum bahagia karena Sarah telah mencium dirinya. El menarik dagunya Sarah dengan lembut sehingga Sarah menoleh ke dirinya. El mengecup pipi kirinya Sarah dengan penuh kasih sayang.


Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang


Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi, sepi. Kau seperti nyanyian dalam hatiku. Yang memanggil rinduku padamu. Seperti udara yang kuhela kau selalu ada. Kau seperti nyanyian dalam hatiku. Yang memanggil rinduku padamu. Seperti udara yang kuhela, kau selalu ada. Kau selalu ada. Kau selalu ada. Kau selalu ada. Kau selalu ada.


Bunyi ringtone dari smartphone milik El berbunyi. El mengambil benda pipih itu dari saku dalam jasnya. Melihat nama Irwan yang tertera di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo Wan, ada informasi apa?" ucap El serius.


"Bos, penculiknya sudah meninggal dunia. Anak - anaknya tidak mengetahui siapa orang tua dari anak bayi yang diculik sama ibu mereka."


"Cari alamat rumah yang dimiliki oleh Annisa seantero Indonesia. Jelaskan kepada mereka tentang penculikan itu dan tanyakan ke semuanya tentang penculikan itu," titah El.


"Baik Bos."


El menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruhnya di tempat semula. El menatap sendu ke Sarah yang sedang menatapnya sedari tadi. El membelai wajahnya Sarah dengan penuh kasih sayang.


"Ada apa dengan penculiknya?" tanya Sarah serius.


"Penculiknya sudah meninggal dunia dan anak - anaknya tidak mengetahui siapa orang tua dari bayi yang telah diculik oleh ibunya mereka. Tapi kamu tenang aja, aku menyuruh anak buahku untuk mencari alamat rumah yang dimiliki oleh Annisa seantero Indonesia, serta menjelaskan tentang penculikan itu dan menanyakan ke mereka tentang penculikan itu.


"Itu membutuhkan waktu yang sangat lama El."


"Tenang aja, cara kerja anak buahku cepat, tangkas dan cermat."

__ADS_1


Annisa, seperti apakah orangnya. Aku sangat ingin menemuinya. Sebutan apa yang pantas untuk dirinya, Ibu, Bunda, atau Mommy?


__ADS_2