
Pintu rahasia di kamarnya Sarah terbuka. El berjalan melewati pintu itu. Pintu itu tertutup secara otomatis. El melangkahkan kakinya menghampiri Sarah yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Naik ke atas tempat tidur Sarah. Memeluk pinggangnya Sarah dari belakang. Sarah terbangun karena ada seseorang yang sedang memeluknya. Sarah tahu yang memeluknya adalah El karena dia mencium aroma maskulin milik El.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Sarah dengan suara khas orang bangun tidur.
"Aku merindukanmu, seharian kita nggak ketemuan," bisik El.
"Tadi pagi pas sarapan kita ketemuan di ruang makan."
"Setelah itu kita nggak ketemuan lagi, baru sekarang kita ketemuan. Bagaimana syuting video klip pertamanya? Menyenangkan?"
"Iya."
"Kenapa bisa menyenangkan?"
"Karena sesuai dengan ekspektasi perusahaan dan diriku."
"Selain itu?"
"Ketemu sama Aqila."
"Selain itu?"
"Nope."
"Bagaimana dengan kakimu? Sudah sembuh?"
"Sudah."
"Siapa yang ngobatin?"
"Pak Antony."
"Tadi kamu digendong sama Anton?"
"Iya."
Ucapan Sarah sesuai dengan hasil laporan para pengawal pribadinya Sarah.
Batin El.
"Ngapain dia gendong kamu?"
"Mulai dech posesifnya, aku nggak suka. Lagipula emangnya para bodyguardku nggak melaporkan semua kegiatanku ke kamu?" ucap Sarah datar.
"Huh ...," El menghela nafas panjang. "Aku nggak suka kamu disentuh sama laki - laki lain Ai," lanjut El.
"Dia sentuh aku karena sedang menolongku, bukan karena nafsu. Lihat konteksnya dong El. Masa orang nggak boleh menolongku karena menyentuh diriku. Ada - ada aja kamu El."
"Tapi dia berbeda, dia mencintai dirimu."
"Dari kemarin aku sudah bilang itu tidak mungkin karena dia masih cinta sama almarhum istrinya. Udahlah nggak usah bahas yang macam - macam, aku lagi capek banget."
"Aku masih ingin ngobrol sama kamu Ai."
"Ya udah ngobrol yang lain aja."
__ADS_1
"Besok kamu jadi foto untuk cover album rekamanmu?"
"Jadi. Besok pagi kamu jadi pergi ke Surabaya?"
"Jadi. Aku nginep sehari di Surabaya dan nginep di Madura tiga hari. Bagaimana kabar Nyak kamu?"
"Oh ya, aku baru ingat. Nyak kesepian tinggal sendirian di rumah, boleh nggak Nyak tinggal di sini?"
"Boleh, terus warung siapa yang jagain?"
"Warung tutup untuk sementara waktu sampai kasus penyerangan dan penembakan itu selesai. Lagipula jika Nyak tinggal di sini, bisa menghemat biaya pengeluaran. Keluargamu tidak usah mengeluarkan uang lagi untuk menggaji para bodyguard di rumah Nyak."
"Berarti para bodyguard di rumah Nyak dipecat semua?"
"Iya."
"Tidak bisa Ai, mereka telah dikontrak sama Papi Billy untuk menjaga Nyak dan rumahnya. Sebaiknya mereka kerja di sini aja sekalian jagain Nyak."
"Ya udah terserah kamu, yang penting Nyak tinggal di sini."
"Ai, bulan depan kita nikah yuk! Kamu nggak usah bayar hutangmu ke aku dan aku bantuin kamu mencari orang tua kandungmu," ucap El sambil menahan semua rasa yang bergejolak di hatinya, lalu dia mengendus tulang tengkuk lehernya Sarah.
"Ih geli El, ya udah dech terserah kamu aja," ucap Sarah yang merasa tak enak hati karena selalu menunda keinginan mereka untuk menikah.
"Terima kasih sayangku," ucap El senang, lalu El membalikkan badannya Sarah sehingga mereka saling berhadapan.
Tatapan mata mereka yang berbinar bertemu. Hati mereka berdebar kencang, detak jantung mereka bertambah cepat dan gelayar lembut menyelimuti jiwa mereka. Bahkan burung perkutut milik El terbangun dengan sendirinya. El ragu untuk menuntaskan hasratnya atau nggak.
Tok ... tok ... tok ...
Bunyi gedoran di daun pintu kamarnya Sarah menggema sehingga mengagetkan mereka. El melepaskan pelukannya, sedangkan Sarah langsung membalikkan badannya. Menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur, lalu berdiri. Melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Mengintip ke luar melalui kaca pembesar yang tertanam di daun pintu.
"Ada apa ya Pak?" tanya Sarah sedikit bingung.
"Nona, kata Tuan Billy tolong nomor handphone Nona diaktifkan. Tuan Billy ingin telepon anda Nona untuk membahas hal yang sangat penting."
"Ok, nanti saya aktifkan. Terima kasih banyak ya Pak," ucap Sarah sopan.
Tak lama kemudian Sarah menutup pintu kamar. Mengunci lagi pintu kamar. Melangkahkan kakinya menghampiri nakas sebelah kanan tempat tidur. Mengambil handphone miliknya. Menduduki tubuhnya di tepian sebelah kanan ranjang. Menyentuh beberapa tombol di keyboard handphonenya untuk mengaktifkan nomor handphonenya sambil merasakan pelukan di pinggangnya.
Kring ...
Bunyi dering dari handphonenya. Melihat tulisan Papi Billy di layar handphonenya. Menekan ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Sedangkan El, menduduki tubuhnya di belakang Sarah. Sarah mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya sambil merasakan hembusan nafas El di tengkuk lehernya yang membuatnya geli. Sarah menggeliatkan tubuhnya karena kegelian.
"Hallo selamat malam Papi Billy," ucap Sarah sopan.
"Sar, ada El nggak di situ?" tanya Billy to the point.
"Ada Papi, Papi mau ngomong sama El?"
"Iya, tolong kasih handphonemu ke El."
"Iya Papi," ucap Sarah sopan, lalu Sarah menyodorkan handphone miliknya ke El.
El menerima handphone itu, lalu berkata, "Iya, ada apa Papi?"
__ADS_1
"Kamu ngapain di kamarnya Sarah? Jangan berbuat mesum di sana!"
"Iya Papi, lagipula kamu nggak ngapa - ngapain Papi, kami hanya ngobrol."
"Udah jam sebelas malam ngobrol apaan?"
"Ngobrol soal pernikahan kita, Papi sendiri ngapain jam segini telepon?"
"Pak Trisno mau melakukan pembebasan bersyarat, dan dia mampu melakukan persyaratannya."
"Ajib gila?! ucap El terkejut. "Kaya amat tuch orang mampu bayar uang tebusan. Terus pihak kepolisian menyetujuinya?"
"Sedang dipertimbangkan."
"Kalau bisa jangan sampai Pak Trisno bebas Pi."
"Papi tidak bisa menjaminnya El, semua tergantung hasil rapat pihak kepolisian."
"Apa perlu aku perbanyak pengawal Pi jika Pak Trisno bebas?"
"Sangat diperlukan."
"Ya udah Pi, kebetulan sekali. Para bodyguard yang jagain rumahnya Sarah disuruh ke sini aja. Nyaknya Sarah dan Ce Titin tinggal di sini juga, bagaimana Pi?"
"Boleh juga idemu."
"Oh ya Pi, bagaimana perkembangan kasus penyerangan dan penembakan yang kemarin?"
"Kami belum menemukan pelakunya El. Masih proses pelacakan."
"Menurut Papi ada hubungannya nggak antara Pak Trisno dengan kasus itu?"
"Bisa jadi ada hubungannya, Papi juga mikir seperti itu, makanya Papi sedang menyelidikinya El. Ya udah besok pagi Papi suruh anak buah Papi untuk pindah tempat kerjanya."
"Ok Papi, makasih ya. Besok pagi Sarah nelpon ke Nyaknya dan Ce Titin untuk tinggal di sini. Makasih banyak Papi."
"Ya udah dulu ya."
Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. El memberikan benda persegi panjang itu ke pemiliknya. Sarah menerimanya, lalu menaruhnya di tempat semula. El memeluk erat pinggang rampingnya Sarah sambil mengendus leher jenjangnya Sarah yang membuat Sarah menggeliatkan tubuhnya karena kegelian.
"El, jangan dong aku geli!" gerutu Sarah.
"Besok pagi kamu telepon Nyak dan Ce Titin suruh mereka tinggal di sini."
"Ce Titin nggak usah kali El, dia sudah berkeluarga."
"Ya udah kalau gitu, besok pagi telepon Nyak aja."
"Iya. El, Pembebasan bersyarat Pak Trisno sedang dipertimbangkan ya?"
"Iya. Kamu nggak mau dia bebas?"
"Sebenarnya iya sich, tapi aku tidak boleh memaksakan takdir."
"Kalau gitu kamu jangan mikirin soal itu, sebaiknya kamu pikirin album perdanamu."
__ADS_1
"Iya El. Sana kamu tidur di kamarmu."
"Nggak ah. Besok kan aku pergi ke luar kota selama beberapa hari, pasti kita tak bertemu selama beberapa hari. Tolong malam ini biarkan aku tidur di sini."