Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Sangat Mencintai Dirinya


__ADS_3

"Kepalanya kurang nengok ke kanan Say," ucap Paul sang koreografer, lalu Sarah mengikuti arahan sang koreografer. "Ok," lanjut Paul.


"Tiga, dua, satu, ciss," ucap fotografer, lalu memotret Sarah.


Cekrek, cekrek


Dua foto berhasil diabadikan dalam sesi terakhir pemotretan. Dari pagi hingga siang Sarah melakukan pemotretan untuk cover album perdananya. Di dalam studio foto milik Mustika Group, Sarah berfoto dengan berbagai macam gaya yang diarahkan oleh koreografer. Sarah sungguh menghayati pekerjaan ini sehingga proses pemotretannya sangat berjalan lancar. Dari sejak pemotretan awal, selain para kru ada Antony yang sedang berdiri di belakang fotographer. Antony memperhatikan proses pemotretan yang telah dilakukan oleh Sarah.


Beberapa kali Sarah secara tidak sengaja, melihat pak Antony berbicara dengan salah satu kru pemotretan. Dan beberapa kali, Antony tersenyum manis ke Sarah, dan Sarah membalasnya. Sang fotographer mengecek beberapa hasil jepretannya. Sedangkan Sarah berubah posisi, lalu melangkahkan kakinya menghampiri sebuah sofa panjang. Menduduki tubuhnya di atas sofa itu. Sarah melihat Antony berjalan menghampiri fotographer.


"Boleh saya lihat hasil fotonya Al," ucap Antony sambil menoleh ke fotographer.


Al menoleh ke Antony, lalu berucap dengan sopan, "Boleh Pak, silakan dilihat."


Tak lama kemudian Al membuka tali kameranya. Memberikan kameranya ke Antony. Antony memencet tombol untuk melihat hasil jepretan Al. Antony tersenyum senang melihat semua foto yang membuat Al ikut senang. Antony membalikkan kamera itu ke pemiliknya. Al menerima kamera itu sambil tersenyum sopan.


"Menurut Bapak mana yang lebih bagus?" ucap Paul sopan.


"Semua fotonya bagus, tapi menurut saya yang paling bagus yang urutan ke delapan, dua belas, dua puluh lima, tiga puluh tiga, dan empat puluh enam."


"Terima kasih atas masukannya Pak Antony, nanti saya sampaikan ke teman - teman saya Pak," ucap Paul sopan. "Saya selaku ketua pelaksana pemotretan cover album perdananya Sarah, ingin menyampaikan bahwa pemotretan telah selesai. Terima kasih atas kerja samanya, waktunya kalian untuk istirahat," ucap Paul sopan sambil menatap satu persatu kru secara bergantian.


Tak lama kemudian Antony menghampiri Sarah yang sedang merilekskan tubuhnya. Semua mata tertuju ke Antony yang sedang menduduki tubuhnya di samping kanannya Sarah. Antony menoleh ke Sarah, Sarah pun menoleh ke Antony. Antony tersenyum manis ke Sarah sehingga membuat Sarah ikut tersenyum.


"Sarah, sekarang ini kamu ada acara nggak?"


"Nggak Pak, emangnya kenapa?"


"Aku ingin ngajak kamu pergi ke tempat latihan drama di sekolahnya Aqila. Kamu mau ikut?"


"Wah, saya mau banget Pak, tapi setelah istirahat makan siang saya ada jadwal latihan vokal."


"Nanti saya minta izin ke Bu Berta," ucap Antony.


"Tapi saya nggak enak hati Pak."


"Nggak apa - apa, ini juga untuk kebahagiaan Aqila. Dia pernah ngomong ke saya, dia ingin kamu dan saya melihat dia sedang latihan drama. Mumpung saya punya waktu, makanya saya mengajak kamu untuk ikut lihat Aqila latihan drama."

__ADS_1


"Bagaimana kalau saya nonton pentas dramanya, kapan pentasnya Pak?" ucap Sarah sopan.


"Hari Sabtu pagi, ya udah nggak apa - apa pas pentas aja kamu ikutnya. Aqila udah bilang ke kamu?"


"Belum Pak."


"Mungkin nanti dia bilangnya."


"Permisi, saya ke ruang ganti dulu ya," ucap Sarah sopan.


"Iya."


Tak lama kemudian Sarah beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan ke ruang ganti. Letak ruang ganti berada di sebelah kiri tempat pemotretan. Sarah masuk ke ruang ganti melewati pintu ruangan yang sudah terbuka. Di sini masih ada seorang make up artist profesional beserta asistennya yang sedang sibuk membereskan perlengkapannya dan seorang stylish profesional beserta asistennya yang sedang merapikan beberapa baju untuk pemotretan.


Sarah berjalan menghampiri Maimunah yang sedang tertidur di sebuah sofa panjang. Sarah menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan Maimunah saat di jam waktu kerja. Sarah mengambil tas selempangnya yang berada di atas meja depan sofa panjang. Menduduki tubuhnya di atas sofa single.


"Permisi Sarah, mau ganti baju sekarang?" ucap asisten stylish profesional yang bernama Rini yang tiba - tiba berdiri di samping kirinya Sarah.


"Nanti aja ya, saya mau nelpon sebentar," ucap Sarah sopan.


"Ok."


"Hallo, assalamu'alaikum," sapa Sarah sopan.


"Wa'alaikumussalam, kamu telepon aku karena udah kangen ya?" ucap El senang.


"Nggak. Kamu pulang hari Sabtu jam berapa?"


"Dari Madura pagi, pesawatnya jam tiga sore. Emangnya kenapa Ai?"


"Aku mau ngajak kamu nonton."


"Wow suatu kehormatan untuk diriku, tumben kamu ngajak aku nonton, kamu mau nonton apa Ai?"


"Nonton pentas drama Aqila. Acaranya such Sabtu pagi, tapi nggak apa - apa kalau kamu nggak bisa."


"Nanti aku usahain bisa nonton," ucap El serius.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Udah dulu ya, aku mau ganti baju dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. El menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menaruhnya di tempat semula. El menatap tajam ke Regina yang sedang tersenyum manis nan menggoda ke dirinya. El sekuat tenaga untuk tidak tergoda sama Regina.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" ucap Regina lembut nan menggoda.


"Aku nggak suka kamu menaiki harga bahan baku bangunan seenak udelnya. Kemarin kita udah sepakat dengan harga segitu, tapi kamu tiba - tiba menaikkannya," ucap El serius.


"Sebagai kompensasinya, aku berikan tubuhku untukmu selama kamu berada di sini," ucap Regina sensual sambil memberikan sentuhan sensual di inti tubuhnya El dengan ujung jari kaki kanannya.


"Stop Regina!" ucap El kesal. "Aku tidak membutuhkan itu. Aku ingin kamu menurunkan harga bahan baku bangunan seperti yang tertera di dalam perjanjian kita! Jika tidak saya akan membelinya di tempat lain," ucap El tegas.


"Baiklah," ucap Regina setelah menghentikan aksinya. "Kamu sekarang berubah. Apakah kamu sudah diberikan tubuhnya?"


Brakkkk


El memukul meja dengan keras sehingga Regina dan semua orang yang berada di dalam restoran kaget dan langsung menoleh ke dirinya. El beranjak berdiri dari sofa. Sontak Regina meraih pergelangan tangan kanannya El untuk menahan El agar tidak pergi. El menepisnya dengan kasar, lalu menduduki tubuhnya lagi.


"Kamu jangan ngomong macam - macam tentang calon istriku!" ucap El serius dan kesal.


"Maaf," ucap Regina pura - pura merasa bersalah. Bagaimana kabar calon istrimu?"


"Baik. Dua sedang sibuk mempersiapkan album perdananya."


"Wow keren sekali. Tapi kalau tidak salah ingat dia itu seorang arsitek juga ya?"


"Iya, tapi itu dulu."


"Kenapa dia ingin menjadi seorang penyanyi?"


"Karena dia ingin membayar hutangnya ke saya."


"Ngapain juga dia bayar hutangnya ke kamu, itu sama aja tidak mensyukuri nikmat yang ada. Dia kan bisa aja tidak usah membayar hutangnya ke kamu."


"Pemikiran dia sedikit berbeda dari kita. Dia memiliki prinsip hidup yang kuat dan sedikit idealisme."

__ADS_1


"Apakah kamu mencintainya?"


"Iya, bahkan aku sangat mencintai dirinya."


__ADS_2