Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Syuting Iklan Ini


__ADS_3

"Cut!" titah Ray yang menghentikan kegiatan mereka, lalu dia mengusap mukanya dengan kasar. "Kamu kenapa sich Sar? Dari tadi aktingmu kurang greget, sampai sekarang aku belum mendapatkan feel-nya," lanjut Ray, sang sutradara sambil menoleh ke Sarah yang sedang memakai bathrobe.


"Maaf Pak Ray, aku belum biasa pakai bikini di depan banyak orang," ucap Sarah yang merasa bersalah.


"Anggap aja di sini nggak ada orang, bisa nggak Sar?" ucap Ray serius sambil menatap tajam ke Sarah.


"Bisa."


"Kamu kenapa sich Ray?" ucap Antony sambil berjalan masuk ke dalam studio yang dijadikan tempat lokasi syuting.


"Dari tadi pagi Sarah kelihatan canggung."


"Emangnya sekarang dia lagi syuting iklan apa?"


"Sabun mandi, dia nggak biasa pakai bikini."


Antony menelan salivanya berulang kali melihat Sarah yang hanya memakai bikini sambil melebarkan kedua matanya. Melihat Sarah tanpa sedetik pun berkedip. Ray mengetahui hal itu. Lalu Ray tersenyum smirk ketika mendapatkan ide yang bisa dibilang usil. Sarah tidak mengetahui kedatangan Antony. Sarah menoleh ke lawan mainnya, seorang model cowok yang gantengnya luar biasa sebanding dengan wajahnya Antony yang rupawan. Model pria itu hanya memakai celana boxer.


"Ton, elu yang gantiin model prianya ya, soalnya dari tadi Sarah kikuk berpasangan dengan model pria itu," celetuk Ray yang membuat Antony kaget.


"Eh ... kamu jangan cari masalah sama El dech Ray," ucap Antony gugup sambil menoleh ke Ray.


"Emangnya aku mau mencari masalah apa dengan dia? Apa karena aku memasangkan kamu dengan Sarah di dalam iklan ini? Ini kan soal pekerjaan, maka mungkin El marah. Udah mau ya gantiin model pria itu? Kamu juga kan dulu seorang model dan artis.


"Nggak, aku ada kerjaan," ucap Antony yang merasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang, lalu membalikkan badannya tanpa melangkahkan kakinya.


"Kita mulai dari awal ya," ucap Ray tegas, lalu dia melihat layar sebuah televisi kecil yang berada di depannya, sedangkan para kru sedang mempersiapkan alat - alat mereka.


"Sar, anggap aja kekasihmu biar kamu tidak kikuk lagi," ucap Dimas, sang model pria sambil menatap penuh hasrat ke Sarah.


"I — ya," ucap Sarah gugup.

__ADS_1


"Tiga, dua, satu, action!" perintah Ray yang mengetahui bahwa Antony tidak jadi pergi dari studio, melainkan bertahan berada di dalam studio untuk melihat proses syuting iklan sabun ini.


Tak lama kemudian Sarah dan Dimas memperagakan orang yang sedang mandi dengan menggunakan sabun cair Sofy. Setelah itu berpura - pura membilas tubuh mereka. Mereka mengambil handuk, lalu memakainya. Mereka berjalan ke tengah studio, lalu saling menatap. Mereka menghadapkan diri mereka ke arah kamera. Dimas merangkul punggung polosnya Sarah.


"Gila kamu ya Ray!" ucap Antony marah yang membuat semua orang yang berada di dalam studio terkejut.


Sontak semua orang yang berada di dalam studio menoleh ke Antony. Sarah melebarkan kedua matanya melihat sosok Antony yang sedang menatap ke dirinya dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Dengan cepat Antony mengendalikan dirinya. Membalikkan badannya lagi, lalu melangkah cepat ke ruang kerjanya sambil merasakan sebuah rasa yang sangat ingin memiliki Sarah seutuhnya. Salah satu kru telah membukakan pintu untuk Antony.


Berjalan menuju pintu lift. Menghentikan langkahnya di depan pintu lift. Lalu memencet tombol panah ke atas di dinding lift di samping kiri pintu lift. Pintu lift terbuka yang menampilkan sosoknya El bersama para bodyguardnya. El dan para bodyguardnya melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. El bingung melihat wajahnya Antony yang memerah, seperti menahan sebuah hasrat. Antony melengos masuk ke dalam lift. Pintu lift ketutup secara otomatis.


El menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berjalan karena tidak habis pikir melihat Antony seperti itu. Sebelum makan siang, El sengaja ingin melihat syuting iklan sabun yang dibintangi oleh Sarah. Melihat setiap nomor ruang studio yang terpampang di setiap daun pintu. El memberikan kode ke para bodyguardnya dengan mengangkat telapak tangan kanannya di depan para bodyguardnya setelah El mendapati nomor tiga di daun pintu. El menekan handle pintu ruang studio itu ke bawah.


Mendorongnya sehingga pintu terbuka. El masuk ke dalam studio. Menutup pintu, lalu melangkahkan kakinya menghampiri Ray yang sedang melihat proses adegan di iklan sabun. El melebarkan kedua matanya sambil menelan salivanya berulang kali melihat Sarah yang hanya memakai bikini. Melihat Sarah yang sedang berakting sedang mandi.


Rasa cemburu membuncah ketika Sarah dan Dimas saling menatap hangat. Sebisa mungkin El menahan rasa cemburunya karena dia melihat pancaran dari kedua matanya Dimas yang sedang bergairah dan melihat Dimas merangkul punggung polosnya Sarah dengan mesra, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kanannya Sarah.


"Dengan memakai sabun Sofy, suamiku seperti lem, tidak mau pisah dengan tubuhku," ucap Sarah lembut.


"Ok, done! Good job untuk kalian semua," ucap Ray, lalu dia melepaskan headset dari kepalanya.


"Gila elu ya El! Main nonjok aja, untuk syutingnya sudah selesai," ucap Ray kesal.


"Aku nggak jadi menonjok laki - laki bejat itu," ucap El sambil menahan rasa cemburunya dan menatap tajam ke Dimas.


"Udahlah El, ini kan hanya pekerjaan," ucap Ray melunak supaya bisa menenangkan El.


"Elu nggak perhatiin tatapan matanya dia ke Sarah tadi, tatapan nakal seorang pria yang ingin menyetubuhi Sarah!" ucap El.


"Gw nggak tahu El."


El menoleh ke Ray, lalu berucap, "Kenapa Sarah harus dipasangkan dengan seorang model pria sich!?"

__ADS_1


"Itu semua atas permintaan dari pemilik perusahaan sabun itu El."


"Pak, saya permisi dulu," ucap Sarah sopan sambil menahan rasa kesalnya kepada El yang tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya.


"Iya."


Tak lama kemudian Sarah menarik tangan kanannya El. Lalu mengajak El ke ruang ganti. Ray menghela nafas panjang melihat kejadian itu. Mereka melewati pintu ruang ganti Melihat ruang ganti yang dihuni sama Maimunah, fashion stylish, dan make up artist. Maimunah mengerutkan keningnya karena bingung melihat El yang berada di studio. Setahu dia El lagi pergi ke luar kota untuk meninjau lokasi proyek perumahannya.


"Tolong kalian ke luar dari sini, saya ingin bicara sama El," ucap Sarah sopan sambil melepaskan genggaman tangannya.


Mau tak mau mereka mengikuti permintaan Sarah. Mereka keluar dari ruang ganti. El mengikuti langkah kaki mereka. Menutup pintu, lalu mengunci pintu ruang ganti. El membalikkan badannya. Berjalan menghampiri Sarah dengan tatapan mata yang mendamba. Sarah menahan kedua pundaknya El yang hendak ingin mencium bibirnya Sarah.


"Aku ingin ngomong sama kamu," ucap Sarah tegas.


"Baiklah, kamu mau ngomong apa?" ucap El sambil menjauhkan wajahnya dari wajahnya Sarah.


"Aku nggak suka kamu bersikap kasar dengan rekan kerjaku El. Itu sama aja dengan mempermalukan diriku di depan para rekan kerjaku. Aku melakukan ini karena aku ingin menjadi pekerja yang profesional," ucap Sarah serius.


"Dia sudah berbuat nakal sama kamu Ai," ucap El serius.


"Itu kan hanya tatapan, bukan tindakan. Kalau dia bertindak asusila terhadap diriku, aku pasti menghajarnya El."


"Aku nggak mau dia menatap kamu seperti itu, bagiku itu sama aja dia melecehkan dirimu Ai."


"Sudahlah El, kamu jangan posesif. Kamu tahu kan aku tidak suka itu. Kamu tenang aja El, aku tahu mana yang tidak baik bagi diriku."


"Kamu kenapa sich suka membantah diriku, pada hal aku lakukan itu untuk kebaikan dirimu. Aku tidak mau kamu diapa - apain sama cowok lain, karena aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Tak lama kemudian El menarik tengkuk lehernya Sarah. ******* bibirnya Sara penuh dengan hasrat. Sarah mengimbangi permainan El. Sarah mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya El. Tangan kirinya El beralih ke arah simpulan ujung handuk yang dikenakan oleh Sarah. Membuka simpulan itu sehingga handuk yang dipakai Sarah terjatuh. Kini kedua tangannya El berpindah ke area pegunungan milik Sarah. Menjelajah liar di sana.

__ADS_1


Tok ...


"El jangan berbuat mesum di lokasi syuting iklan ini!"


__ADS_2