Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Tolong Biarkan Aku Sendiri


__ADS_3

El dan Sarah masuk ke dalam salah satu klub terkenal di kota Jakarta melewati pintu masuk tanpa pengawalan para bodyguard. Malam ini mereka datang ke acara pesta ulang tahun teman SMA nya El. Mereka mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan klub untuk mencari meja yang kosong sambil mendengarkan suara hingar bingar musik disco klub malam di pusat kota Jakarta yang dimainkan oleh seorang DJ yang mengiringi setiap gerakan para pengunjung.


Beberapa cowok yang melewati mereka terpukau melihat Sarah yang mengenakan gaun merah model kemben yang slim fit. Padahal Sarah hanya memoles wajahnya dengan make up yang natural. El kesal dan cemburu melihat tatapan terpana beberapa cowok ke Sarah. El langsung mempererat genggaman tangannya, lalu mengajak Sarah mencari tempat duduk. Mereka berjalan di bawah naungan sinar lampu disko yang kerlap - kerlip menyinari setiap sisi klub malam elite yang banyak dikunjungi oleh orang golongan atas dan memiliki kantong tebal


El menemukan meja kosong, dia langsung mengajak Sarah ke meja itu. Mereka duduk berdampingan. El melepaskan genggamannya, lalu menoleh ke Sarah. Sedangkan Sarah menoleh ke El sehingga tatapan mata mereka bertemu dan saling mengunci. El memiringkan wajahnya, lalu mendekatkan bibirnya ke bibirnya Sarah. Tanpa sengaja, Sarah mendengar suara de*sah*an demi ******* dari meja sebelah.


"El, meja sebelah berisik banget," ucap Sarah polos ketika bibirnya El berada di depan bibirnya.


"Biarin aja Ai," ucap El lembut.


Sarah mendorong badannya El sehingga badannya El sedikit menjauh. El mengerutkan keningnya karena bingung kenapa dari kemarin Sarah menolak ciumannya. Sarah mengalihkan pandangannya ke depan melihat para pramusaji klub malam dengan memakai pakaian yang seksi dan selalu menebarkan senyuman menawan hilir mudik membawa aneka minuman maupun makanan ke seluruh pengunjung dan melihat para pengunjung yang melakukan kegiatan malam hari di klub.


"Kamu kenapa sich menolak ciumanku dari kemarin?" tanya El penasaran.


"Aku takut digigit lagi dan aku nggak mau ciuman lagi sebelum menikah. Cukup sampai hari Kamis kita ciuman sebelum kita menikah. Aku nggak mau menambah dosa lagi El," ucap Sarah serius.


"Kalau cium pipi atau cium kening boleh?"


"Tetap nggak boleh."


El mendengus kesal, lalu berkata, "Kamu mau minum apa?"


"Orange jus."


Tak lama kemudian El berdiri. Keluar dari meja, lalu melangkahkan kakinya untuk mengambil air. Sarah melihat sosok El yang menghilang di kerumunan orang. Sarah memperhatikan setiap pengunjung yang hadir di acara pesta ini berpenampilan borjuis. Ada dua laki - laki sedang berjalan menghampiri dirinya. Entah itu siapa mereka. Mereka gabung duduk satu meja sama Sarah.


"Hallo cantik, siapa namamu?" ucap salah satu dari mereka.


"Maysaroh," ucap Sarah berbohong.


"Hahaha," mereka tertawa lepas.


"Mana mungkin wanita secantikmu memiliki nama yang bagaimana gitu," ledek yang satunya.


"Nggak pantas nama itu untuk wanita secantik dirimu," ucap yang satunya lagi.


"Kamu ke sini sendirian?" ucap yang satunya.


"Enggak."


"Lalu ke sini sama siapa?" ucap yang satunya lagi.


"Sama El," ucap Sarah.


"Ooo, kamu ke sini sama El?" ucap yang satunya lagi.


"Iya."


"Kamu dibayar berapa sama El?" tanya yang satunya.

__ADS_1


"Maksud kalian apa ya?" tanya Sarah bingung.


"Halah, jangan sok suci kamu. El itu kan sering pakai jasa cewek panggilan. Salah satunya kamu kan?"


"Tolong dijaga ucapan anda," ucap Sarah sedikit kesal.


"Kamu nggak usah munafik. Itu buktinya ada kalau kamu salah satu dari mereka. Kapan El memberikan cupangan di area buah dadamu?"


Sontak Sarah berdiri, lalu keluar dari meja. Berjalan menuju ke pintu keluar klub itu sambil membawa perasaan yang marah, kecewa dan sedih. Berjalan melewati pintu otomatis klub itu. Melangsingkan kakinya tanpa arah. Setiap lelaki memandang dirinya dengan tatapan mata yang nakal. Sarah langsung menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan mata dari para laki - laki.


Sarah menyeberang setelah melewati parkiran klub itu. Berjalan menyusuri trotoar jalanan. Tiba - tiba ada sebuah mobil yang membunyikan klakson sehingga Sarah menoleh ke mobil itu. Sarah kaget melihat Juneidi yang sedang mengendarai mobilnya. Mobilnya Juneidi berhenti pas di samping kanannya Sarah. Juneidi membuka kunci dan pintu bagian penumpang depan.


"Ayo masuk Sar!" ajak Juneidi.


Sarah mengikuti perkataan Juneidi karena tidak ada satu pun angkutan umum yang lewat. Masuk ke dalam mobilnya Juneidi. Memakai sabuk pengaman setelah menutup pintu mobil. Juneidi mengunci pintu mobilnya. Juneidi menoleh ke Sarah. Juneidi menelan salivanya berulang kali melihat Sarah yang mengenakan gaun terbuka. Tak sengaja Juneidi melihat belahan dadanya Sarah dan paha putih yang mulus milik Sarah.


Cepat - cepat Juneidi mengalihkan pandangannya ke depan mobil, lalu berkata sambil menurunkan tuas rem tangan mobilnya, "Kenapa kamu memakai baju seperti itu?"


"Aku pakai baju ini karena aku menghadiri acara pesta ulang tahunnya temannya El di sebuah klub daerah sini," ucap Sarah sambil menoleh ke El.


Sekilas Juneidi menoleh ke Sarah, tak sengaja Juneidi melihat kissmark di area dadanya Sarah, lalu berucap, "Sekarang Elnya di mana?"


"Masih di klub itu."


"Terus kenapa kamu keluar sendirian dari klub itu?" tanya Juneidi sambil melajukan mobilnya.


"Aku kabur karena aku diledekin sama teman - temannya El."


"Waktu itu Elnya nggak ada, dia lagi ambil minum."


"Jadi El nggak tahu kamu kabur dari klub itu?"


"Iya Bang Juned. Bang Juned kenapa malam - malam begini keluar bawa mobil?"


"Abiku sakit, nggak ada yang bisa bawa dia ke rumah sakit. Jadi aku mau pulang ke rumah. Ya udah, nanti sekalian aku anterin kamu pulang ke rumahmu. Bagaimana kabar Babemu?"


"Semoga Abunya Bang Juned cepat sembuh ya. Alhamdulillah lebih baik dari kemarin. Hari Senin mau dioperasi, tolong didoain semoga operasinya berhasil."


"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Iya aku doain. Sampai sejauh mana hubunganmu dengan El?"


"Yah ... masih seperti yang kemarin - kemarin."


"Maaf ya Sarah, bukannya aku ikut campur soal hubunganmu dengan El. Tapi sebaiknya El segera menikahimu. Aku tahu kalian suka berciuman, bahkan lebih dari itu. Perbuatan itu adalah perbuatan dosa, maka itu El harus segera menikahimu. Aku sebagai salah satu sahabatmu menginginkan yang terbaik untukmu," ucapan Juneidi yang membuat Sarah terperangah.


"Bang Juned tahu tentang kami suka berciuman dari mana?" tanya Sarah bingung karena selama ini dia tidak pernah menceritakan tentang hal pribadi kepada para sahabatnya.


"Dari bercak merah di area dadamu."


Sontak Sarah menutup kissmark itu dengan telapak tangan kanannya dan mengalihkan pandangannya ke depan. Juneidi melihat sebuah mobil sedang memberikan kode lampu sen dari kaca spion. Juneidi menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Menarik tuas rem tangan mobilnya. Membuka kunci pintu mobil. Membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu pengemudi mobilnya.

__ADS_1


"Bang Juned mau ke mana?" tanya Sarah sambil menoleh ke Juneidi.


"Mau bicara sebentar sama El."


"Emangnya ada El?"


"Ada, tuch mobilnya ada di belakang kita. Kamu mau menemuinya?"


Sarah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaannya Juneidi. Juneidi tersenyum manis ke Sarah, lalu keluar dari dalam mobil. Juneidi menutup pintu mobilnya. Melangkahkan kakinya menghampiri El yang sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Aku ingin bicara sama Sarah," ucap El datar.


"Dia tidak mau El," ucap Juneidi tenang.


"Kamu nggak ada hak mencampuri urusan pribadiku dengan Sarah, sebaiknya kamu urusin istrimu!" ucap El marah.


"Sebaiknya dibicarakan dengan baik - baik El," ucap Juneidi tenang.


"Eh elu tuch udah beristri, nggak etis bawa seorang wanita yang bukan mahrom nya!" ucap El kesal.


"Tapi kami bersaudara."


"Kalian itu saudara jauh!"


"Tapi kita tetap bersaudara. Sebaiknya untuk sekarang ini biarkan Sarah menenangkan dirinya dulu. Setelah tenang, kamu hubungi dia lagi."


"Eh elu ya! Jangan sok jadi pahlawan dech! Gw mau ngomong sama Sarah dan mengajaknya pulang!" ucap El marah.


"Tapi dia nggak mau El. Aku sudah bertanya sama dia, tapi dia nggak mau."


"Damn it!" makian El.


"Maaf ya El, bukannya aku ingin ikut campur hubungan kalian. Tapi aku sebagai saudaranya menginginkan yang terbaik buat dia. Aku nggak suka kamu menjamah tubuhnya apalagi memberikan tanda di tubuhnya sebelum kalian menikah. Cinta tak perlu melakukan itu sebelum cinta belum disahkan oleh agama. Karena hal itu sudah terjadi di antara kalian, sebaiknya kalian berdua menikah supaya kalian tidak berbuat dosa lagi."


"Eh elu nggak ceramah di depan gw dach! Gw tahu apa yang gw lakukan! Gw juga pengen nikahi dia, tapi dia yang menundanya!" ucap El marah.


"Tapi kan kamu bisa membujuknya supaya dia mau menikah denganmu secepatnya."


"Makanya sekarang ini gw pengen ngomong sama dia!"


"Tolong biarkan aku sendiri," ucap Sarah yang tiba - tiba nongol di antara Juneidi dan El.




🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih telah membaca novelku ini 😊😊

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan klik like, vote, hadiah dan komentar ya.😊😊


__ADS_2