
"Kenapa kamu melakukan itu Mei?" tanya Sarah ketika mereka sudah berada di dalam mobilnya Zarkasih.
"Ehm ... aku melakukan itu karena terdesak Sar. Aku butuh uang yang sangat banyak untuk biaya pengobatan Amang."
"Kamu kan bisa membicarakan tentang biaya pengobatan Amang kamu ke kita, kita pasti membantunya," ucap Sarah.
"Kalau soal biaya, gw bisa bantu Mei," samber Zarkasih sambil mengendarai mobilnya.
"Terus tadi yang menggantikan uangnya Pak Burhan siapa?"
"El," celetuk Zarkasih.
"Baik sekali si El, dia sekarang lagi di mana?" ucap Meira sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Dia masih di sana, menyelesaikan urusan kamu sama Pak Burhan," ucap Sarah.
"Kamu beruntung sekali punya kekasih seperti dia," ucap Meira.
"Pretttt," protes Zarkasih.
"Njar!" tegur Sarah sambil melebarkan kedua matanya ke Zarkasih supaya tidak membuka aibnya El.
"Kenapa?" tanya Meira sambil menoleh ke Sarah dan Zarkasih secara bergantian.
"Semoga dia tulus membantu kita," ujar Zarkasih.
"Yah pasti tulus lah. Macam pula kau ini Njar," celetuk Meira. Tapi ... aku harus membayar uang itu, supaya kejadian yang tadi tidak terulang lagi," lanjut Meira.
"Bagaimana kalau kita ngelamar sebagai band kafe untuk membayar uangnya?" idenya Sarah.
"Atau nggak kita ikutan kontes nyanyi di acara pencarian bakat? Lumayan besar kan hadiahnya?" samber Zarkasih.
"Aku jadi terharu, kalian baik banget sama aku," ucap Meira, lalu dia memeluk erat Sarah.
"Kita kan sahabatan," ucap Sarah sambil membalas pelukan Meira.
"Kok aku gerah ya, Njar gedein AC nya dong," ucap Mei sambil melepaskan pelukannya.
"Bujug buneng, ini dah dingin kali Mei. Emangnya elu mau hidup kayak di kutub, bisa - bisa kita beku kayak es," ucap Zarkasih.
"Tapi aku kepanasan," ucap Mei sambil menggeliatkan tubuhnya ke sana kemari sehingga rok klop selutut yang dipakainya tersingkap sehingga memperlihatkan kedua pahanya yang putih.
"Astaghfirullah," ucap Zarkasih yang tak sengaja melihat kedua paha Meira. Zarkasih mengalihkan pandangannya ke jalanan, lalu berucap, "Sepertinya Mei dikasih sesuatu dech, Sar coba elu telepon ke El, tanya dia cara nangani orang yang seperti Mei sekarang ini."
"Kayak dikasih obat gitu yah Njar," ucap Sarah sambil membuka resleting tas selempangnya.
"Bisa jadi."
"Gw buka baju aja kali yak?" ucap Mei yang masih menggeliatkan tubuhnya.
"Jangan!" pekik Zarkasih dan Sarah kompak
"Yah udah gedein AC nya dong! Gerah nich," gerutu Meira.
"Selain gerah elu merasakan apa lagi Mei?" tanya Zarkasih sambil menyetir dan meningkatkan suhu udara dingin dari AC.
"Kayak ada yang menggelitik di sekujur tubuhku," ucap Meira yang masih menggeliatkan tubuhnya.
"Assalamu'alaikum," salam Maysaroh.
"Wa'alaikumussalam, ada apa Sar?" ucap El senang.
"El, Mei gerahan melulu sampai dia mau buka bajunya di dalam mobilnya Njar, dia menggeliatkan tubuhnya dan dia merasa ada sesuatu yang menggelitik di sekujur tubuhnya. Bagaimana cara menanganinya?"
"Waduh! Kurang ajar sekali si Burhan!" umpat El. "Suruh Njar ngebut, pas sampai di rumahnya, langsung dibuka pakaiannya dan mandi air dingin sampai semua yang dia rasa hilang," lanjut El memberikan penjelasan.
"Terima kasih, oh ya nanti kita akan membayar uang kamu."
"Uang yang mana?"
"Uang kamu yang untuk membayar ganti rugi uangnya Pak Burhan."
"Ooo, nggak usah dibayar."
"Kami tidak mau, karena takut hal seperti tadi terulang lagi."
__ADS_1
"Gila aja kali, aku menjebak temanku sendiri, itu tidak mungkin Sarah," ucap El sedikit kesal.
"Kami tetap akan membayarnya."
"Terserah kalian. Kamu udah sampai mana Sar?"
"Di Cawang. Udah dulu ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," balas El.
Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. El menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menaruhnya di atas meja kerja Joshua. El menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Menghembuskan nafas dengan kasar sambil memejamkan kedua matanya. Joshua menoleh ke El sambil mengernyitkan keningnya.
"Kenapa lagi kau ini?" ucap Joshua.
"Aku lagi sebal tulang," ucap El datar.
"Bukannya masalah tadi udah selesai?"
"Udah, tapi bukan itu yang bikin aku sebal."
"Terus apa?"
"Aku jatuh cinta sama sahabatnya Meira."
"Meira itu wanita yang tadi berurusan sama Pak Burhan?"
"Iya. Nama sahabatnya Sarah."
"Terus kenapa kamu sebal?"
"Sarah tidak mencintaiku, dia orangnya susah untuk ditaklukkan."
"Nggak salah tuch? Keponakan Tulang susah menaklukkan seorang wanita, kamu kan player, masa bisa sich?"
"Bisa aja Tulang, cewek ini berbeda dengan cewek - cewekku yang lain.
"Yah ... usaha dong supaya bisa mendapatkan hatinya."
"Aku udah usaha Tulang."
"Aku nggak bisa."
"Bukannya tadi kamu sudah mendapatkan seorang wanita?"
"Cewek tadi hanya sebagai pemuas nafsuku, tapi ketika aku sedang bercumbu sama cewek itu, wajahnya Sarah menghantui diriku."
"Itu namanya kamu nafsu untuk memiliki Sarah seutuhnya."
"Nafsu dan cinta Tulang."
"Ya udah kalau gitu, usahanya lebih giat lagi."
"Sepertinya itu tidak bisa diperjuangkan lagi."
"Kenapa?"
"Soalnya tadi Sarah melihat aku sedang bercumbu dengan wanita itu."
"Kenapa bisa begitu?"
"Tadi dia sedang mencari Meira. Dia salah masuk ruangan. Dia masuk ke ruangan yang sudah aku booking."
"Responnya dia gimana?"
"Flat. Kejadian tadi itu adalah poin minus diriku. Itulah yang membuatku sebal. Menurut Tulang gimana? Apakah aku harus memperjuangkannya lagi?"
"Tak perlu."
Kringgg ...
Bunyi nada dering dari smartphone milik El. El mengambil smartphone miliknya dari atas meja kerjanya Joshua. Rafael melihat tulisan Mommy Renata di layar smartphonenya. El menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo anakku sayang," sapa Renata dengan penuh kasih sayang.
"Hallo Mommyku sayang, Mommy lagi ngapain?"
__ADS_1
"Mommy lagi beresin baju. Oh ya besok pagi jam sembilan jemput Mommy sama Papi di bandara ya."
"Mommy sama Papi mau ke Jakarta?"
"Iya sayang."
"Iya, nanti El jemput Mommy sama Papi. Mommy jangan lupa ya bawain keripik apel sama keripik nangka ya."
"Iya sayang. Kamu sekarang lagi di mana?"
"Di ruang kerjanya Tulang Joshua Mom."
"Jam segini Joshua masih kerja? Dan kamu ngapain di sana?"
"Aku bantuin Tulang Joshua Mommy."
"Yah udah kalau begitu. Jangan lupa jaga kesehatanmu ya sayang."
"Iya Mommy."
"Selamat malam anakku. Bye."
"Selamat malam Mommy. Bye."
El menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menaruhnya lagi di tempat semula. Pintu ruang kerjanya Joshua terbuka, menampilkan sosok Rogen, ayah kandungnya El. Rogen berjalan menghampiri mereka. Lalu memberikan beberapa folder dokumen.
"Ini apa Bang?" tanya Joshua sambil menerima folder - folder itu.
"Aku serahkan perusahaanku yang bergerak di dunia hiburan," ucap Rogen sambil menduduki tubuhnya di atas kursi.
"Aku bayar berapa Bang?"
"Aku tukar perusahaan itu sama saham Michelle di perusahaan PO bis, minuman, makanan dan perkebunan. Michelle menyetujuinya. Tinggal surat perjanjian kita, masih diurus sama pengacara keluarga kita. Michelle menginginkan kamu yang memimpin perusahaan itu. Jadi, aku serahkan semua berkas mengenai perusahaan itu."
"Baiklah kalau begitu, terus siapa yang jadi asisten pribadimu?"
"Billy."
"What?" ucap El kaget.
Rogen menoleh ke El, lalu berucap, "Memangnya kenapa El?"
Yah kalau Papi ada di sini, aku nggak bisa bebas seperti sekarang.
Batin El.
"Nggak kenapa - kenapa Pi."
"Kamu nggak bisa bebas ya?" celetuk Joshua.
"Nggak juga," jawab El santai.
"Ngapain kamu ada di sini?" tanya Rogen.
"Biasa cari sentuhan wanita Bang," samber Joshua.
"Yah ... Tulang mah mulutnya ember," ucap El kesal, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"By the way, si El lagi jatuh cinta plus patah hati," celetuk Joshua.
"Oh ya?" ucap Rogen kaget sambil menoleh ke Joshua. "Sama siapa?"
"Sama Maysaroh."
Rogen menoleh ke El, lalu berucap, "Maysaroh, tetangganya Babe Abdullah?"
"Iya Pi."
"Waduh, kamu nggak boleh pacaran sama dia. Dia anak yang baik dan beda agama sama kamu," ucap Rogen serius.
"Aku sama Papi aja beda agama," celetuk El.
"Itu beda konteks El," ujar Rogen serius.
"Yah udah. Kami nggak pacaran, kami hanya temanan, lagipula aku ditolak," ucap El kesal.
__ADS_1
"Karena kesal kamu melampiaskannya ke hal - hal negatif. Papi, Mami, Papi Billy, Mommy Renata sering menasehatimu tapi kamu sering mengulang kesalahanmu lagi, kenapa kamu melakukan itu?"