
Warna biru terang di cakrawala. Arakan awan menghiasi langit cerah. Sang Surya di seperempat langit. Hari mulai terang menjemput semangatnya hidup. Angin semilir berhembus dengan lembut, melambai di awal hari. Burung camar beterbangan di langit cerah. Pemandangan langit di pagi hari yang menaungi Sarah.
Sehabis sarapan di cottages milik El yang berada di pinggir laut selat Sunda, Sarah duduk termenung di pembatas antara wilayah cottages milik El dengan pantai yang dalam sambil melihat ombak bergulung-gulung dari lautan, memecah jua di bibir pantai. Deburan ombak saling bersahutan, suaranya terdengar begitu renyah.
"Sarah!" panggil El yang membuyarkan lamunan Sarah.
Sarah menoleh ke El. Tersenyum manis ke El yang sedang berlari kecil menghampiri dirinya. Sarah mengalihkan pandangannya ke langit cerah. El menduduki tubuhnya menghadap laut di samping kanannya Sarah. El memandang laut biru yang indah. Memegang erat telapak tangan kanannya Sarah. Sarah menoleh ke El yang sedang memandang dirinya tanpa berkedip.
"Maaf udah menungguku lama," ucap El lembut.
"Nggak apa - apa El."
"Apakah kamu senang menginap di cottages ini?" ucap El tanpa menoleh ke Sarah.
"Iya, pemandangan di sini sangat indah."
El menoleh ke Sarah, lalu berkata, "Seindah dirimu Sayang."
"Pagi - pagi udah ngegombal."
"Aku tidak ngegombal, itu memang kenyataan."
"Tadi rapat apaan?"
"Konsolidasi keamanan diriku, kamu dan keluarga kita."
"Memangnya ada yang lebih membahayakan dari pembebasan Pak Trisno?"
"Ada. Pertama polisi menemukan mobil yang menyerang kita sampai aku ditembak jatuh ke jurang lalu kebakar. Kedua, ternyata mobil itu punya Trisan Notonegoro, yang disingkat menjadi Trisno. Yang ketiga, menurut data polisi mobil itu telah dicuri oleh sekelompok pencuri. Yang keempat, polisi telah menutup kasus itu karena para pelaku meninggal dunia. Keluargaku termasuk Papi Billy tidak percaya dengan datanya pihak kepolisian, makanya itu kami menambah keamanan untuk diriku, kamu dan keluarga kita. Ada kemungkinan Trisno ingin membalas dendam kepada kita, terutama dirimu."
"Masa sich El? Padahal waktu itu dia menulis surat permintaan maaf kepadaku dan dia mencurahkan penyesalan atas tindakannya kepadaku."
"Itu hanya sandiwara dia supaya bisa mendapatkan pembebasan bersyarat."
"Maaf ya El, karena diriku kalian jadi terlibat dan aku telah merepotkan kalian," ucap Sarah sendu.
"Nggak apa - apa Sayangku. Udah jangan dipikirin. Ayo kita ke pantai sekarang!" ucap El mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Sarah mengangguk kepalanya dengan senang sebagai respon dari ajakan El. Tak lama kemudian mereka membalikkan tubuhnya. Beranjak berdiri, lalu berjalan menuju ke pinggir pantai sambil berpegangan tangan. Menyusuri jalanan aspal wilayah cottages ke wilayah pantai yang memiliki pasir putih.
Pasir pantai yang lembut tempat memijak telapak kaki Sarah dan El. Mereka sedang berjalan menuju bibir pantai sambil saling berpegangan tangan menikmati keindahan alam di tepi pantai pada pagi hari. Mereka menghentikan langkahnya di bibir pantai sambil merasakan pecahan deburan ombak.
"Ini pantai umum atau pantai pribadi?" tanya Sarah sambil menoleh ke El.
"Pantai milik pribadi. Papi Rogen membeli wilayah ini sudah lama, lalu dia membangun sebuah cottages. Di seberang pantai ada gunung anak Krakatau. Kamu masih ingat dengan sejarah tentang kemunculan gunung anak Krakatau?" ucap El sambil menoleh ke Sarah.
"Lumayan. Munculnya Gunung Anak Krakatau tak lepas dari aktivitas Gunung Krakatau pada tanggal sebelas Juni tahun seribu sembilan ratus dua puluh tujuh silam. Gunung Anak Krakatau terbentuk akibat erupsi magma basa di pusat komplek Gunung Krakatau. Berdasarkan situs Badan Geologi, pada tanggal dua puluh delapan Desember tahun seribu sembilan ratus dua puluh tujuh, aktivitas vulkanik baru terjadi di pusat kaldera di kedalaman seratus delapan puluh delapan meter. Peristiwa tersebut kemudian dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau."
"Good, selain cantik, kamu juga pintar. I love you," ucap El lembut.
"Aku jadi malu," ucap Sarah malu - malu kucing sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
El tersenyum bahagia melihat reaksi Sarah, lalu membuka kedua tangannya Sarah sambil berucap dengan lembut, "Kamu tambah cantik ketika kamu malu - malu seperti ini. Aku ingin lihat rona merah di pipimu Sayang."
Tak lama kemudian El bisa melihat rona merah di pipinya Sarah. El tersenyum manis sambil membuka jepitan bunga dari rambutnya Sarah, lalu menaruhnya di atas pasir. Membelai wajahnya Sarah dengan penuh kelembutan. Merasakan desiran lembut di setiap pembuluh darah mereka. El memeluk erat pinggang rampingnya Sarah. Sarah selalu merasakan ketenangan dan kenyamanan saat berada di dalam pelukan James.
"Kita berenang sekarang yuk!" ajak James.
"Ayo, tapi aku malu," ucap Sarah sambil menundukkan kepalanya.
"Tapi kan nanti ada pengunjung cottages yang ingin berenang di sini."
"Kamu kan berenang pakai baju renang.
"Bukan baju renang, tapi bikini!" protes Sarah.
"Sama aja kali Ai. Aku kan belinya waktu ke luar negeri, sayang kalau nggak dipakai. Lagi pula kamu nggak usah malu sama aku, aku kan calon suamimu," ucap El lembut.
"Baiklah."
Tak lama kemudian Sarah membuka baju putihnya, lalu menaruhnya di atas pasir sehingga memperlihatkan tubuh moleknya. El menelan salivanya berulang kali dan merasakan burung perkututnya bangun melihat Sarah yang hanya memakai bikini warna hitam. Sarah melangkahkan kakinya ke tengah pantai. Menyemburkan tubuhnya ke dalam air.
El membuka celana dan kemejanya, lalu menaruhnya di atas pasir. Melangkahkan kakinya menyusul Sarah ke pantai yang lebih dalam, lalu menyemburkan tubuhnya ke air. Sarah menghentikan kegiatan berenangnya. Dia mengambang dengan posisi berdiri. Mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok El.
"Kemana El ya?" gumam Sarah bermonolog.
__ADS_1
Hap
Tiba - tiba El nongol dari bawah permukaan air yang berada di belakang Sarah membuat Sarah terkesiap. El langsung membalikkan badannya Sarah, lalu memeluknya dengan erat. Tatapan mata mereka saling bertemu. Ada binaran cinta dari kedua mata mereka. El mendekatkan wajahnya ke wajahnya Sarah. Mencium benda kenyal milik Sarah dengan lembut dan intens. Sarah membalas ciuman El sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher kokohnya El.
Ternyata gerak - gerik mereka diperhatikan oleh Ricky. Ricky memperhatikan mereka dengan menggunakan teropong berteknologi canggih sehingga dengan radius ribuan kilometer mampu melihat sesuatu dengan sangat jelas. Ricky melepaskan teropong itu dari kedua matanya lalu seringai licik.
"Sarah, nanti kamu akan tahu resiko berurusan dengan diriku. Aku akan membalas semua perbuatan dirimu dan keluargamu kepada diriku," ucap Ricky bermonolog.
Ricky mengambil smartphone miliknya dari saku dalam jaket kulit yang dia pakai. Menyentuh beberapa ikon untuk menelpon seseorang. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya sambil melihat pemandangan langit yang cerah. Mendengar nada sambung dari nomor yang dia panggil, lalu sambungan telepon itu dijawab.
"Hallo Trisan, aku sudah tahu keberadaan incaranmu," ucap Ricky serius.
"Di mana orangnya?"
"Di cottages My Paradise daerah ujung kulon. Cottages milik Om Rogen. Ternyata incaranmu seorang wanita munafik. Di depan orang banyak alim, di belakang orang banyak bejat."
"Emangnya apa yang dia lakukan di sana?"
"Dia sedang bercinta dengan kekasihnya yang sok jagoan."
"Shittt!" ucap Trisan sambil membanting smartphone miliknya sehingga sambungan telepon itu terputus.
"Aku akan membalas semua perbuatan kalian! Rogen kau telah membuat adikku tersayang meninggal dunia dan kau Sarah yang telah membuat sebagian bisnisku hancur!" ucap Trisan kesal.
Richard menghisap lagi putung rokok di balkon apartemennya, lalu mengebulkan asap rokoknya sambil melihat pemandangan kota Surabaya. Menatap serius susunan bangunan pencakar langit tertata rapih sambil merasakan hembusan angin yang lumayan kencang menyelimuti atmosfer kota Surabaya.
"Rupanya kamu di sini," ujar Regina dengan nada suara yang sensual.
Sontak Trisan membalikkan badannya. Melihat Rebecca yang sedang memakai bathrobe. Regina duduk di kursi depan Trisan. Regina mengambil satu rokok dari tempatnya dan korek api gas yang berada di atas meja, menyulutkan api ke ujung rokoknya. Menghisap rokok, lalu mengebulkan asap rokok sambil duduk menyilangkan kaki kirinya sehingga terlihat jelas paha kirinya yang mulus.
"Kenapa mukamu kelihatan kusut begitu?" tanya Regina sambil melihat Trisan yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Aku lagi marah sama orang - orang yang telah menghancurkan keluarga dan bisnisku."
"Kalau boleh tahu, siapa orangnya?"
"Rafael Darmawan Pandjaitan dan Sarah," ucap Trisan serius sambil menduduki tubuhnya di samping kanannya Regina.
__ADS_1
Sebaiknya aku tidak kasih tahu tentang hubunganku dengan El ke Trisan, biar lebih aman.