Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Sarah Nomor Satu


__ADS_3

Mariana membuka ke dua kelopak matanya, lalu mengerjapnya secara perlahan. Dia melihat seluruh pelosok ruangan kamar Ricky dengan pencahayaan yang temaram. Dia menoleh ke samping kanan. Sosok Ricky sudah tidak ada di sana. Mengalihkan pandangannya ke smartphone miliknya yang berada di atas nakas sebelah kiri ranjang. Dia mengambil smartphonenya, melihat jam yang tertera di layar smartphonenya.


Jam itu menunjukkan pukul dua dini hari. Mariana menaruh lagi smartphone miliknya ke tempat semula. Beranjak berdiri dari tempat tidur. Melangkahkan kakinya ke arah pintu balkon kamar yang terbuka lebar. Mariana mengerutkan dahinya karena seingat dia sebelum dia tidur, pintu balkon itu tertutup rapat. Samar - samar, dia mendengar suara ******* dua orang yang saling bersahutan. Mariana ke luar dari kamar, lalu melihat ke bawah. Tapi tidak ada satu pun orang di bawah sana.


"Mungkin itu suara jeritan itu berasal dari kamar sebelah, apakah salah satu dari mereka adalah Ricky? Kalau benar Ricky, aku tak akan memberikan maaf lagi untuk dirinya," gumam Mariana.


Mariana membalikkan badannya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Menutup pintu balkon kamar itu. Melanjutkan langkahnya ke pintu kamar melewati pintu balkon yang sudah terbuka. Melanjutkan langkahnya ke pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka.


Mariana melebarkan kedua matanya melihat Ricky sedang berhubungan intim dengan wanita lain di sofa. Mariana mengeraskan rahang mukanya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Dengan hati yang mencelos, Mariana menahan amarahnya. Dia membalikkan badannya, melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi dering dari smartphone milik Ricky yang berada di atas nakas sebelah kanan tempat tidurnya. Mariana mengerutkan keningnya ketika melihat nomor asing di layar smartphonenya Ricky. Dengan nekat, Mariana menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo," sapa Mariana lembut.


"Ini siapa?" tanya seorang pria dengan nada suara yang ketus.


"Saya Mariana ibu dari anaknya Ricky, kamu siapa?" ucap Mariana lembut.


"Mana Ricky?"


"Apakah kamu ingin menanyakan tentang informasi terbaru tentang Sarah? Aku tahu jati diri aslinya Sarah. Aku adalah anak dari orang yang mengangkat Sarah sebagai anak."


"Memangnya siapa dia yang sebenarnya?"


"Wani piro?"


"Kamu maunya berapa?"


"Lima ratus juta rupiah."


"Hahaha, itu namanya pemerasan."


"Aku punya informasi terbaru dan terlengkap mengenai Sarah, jika kamu berminat, bayar segitu."


"Cepat katakan di mana Ricky!?"


"Tunggu sebentar."


Mariana berbalik, melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga. Menyentuh ikon video call untuk memperlihatkan kegiatan yang telah dilakukan Ricky ke orang itu. Orang itu merespon video call itu. Mariana berjalan melewati pintu kamar. Mendekati Ricky dan wanita itu. Memperlihatkan kegiatan panas yang telah dilakukan oleh Ricky dengan seorang wanita. Mariana juga melihat seorang wanita dalam keadaan naked. Sedetik kemudian Mariana menyentuh ikon speaker.


Kelakuan bos sama anak buah sama aja.

__ADS_1


Batin Mariana.


"HAI KUNYUK!!! CEPAT KATAKAN HASIL KERJAMU!!!!" pekik orang itu melalui speaker.


Sontak Ricky menghentikan kegiatannya, lalu menoleh ke Mariana yang sedang memvideokan dirinya dengan wanita itu. Spontan Ricky melebarkan kedua matanya karena geram melihat apa yang telah Mariana lakukan. Ricky ambil pakaiannya, lalu memakainya. Berjalan mendekati Mariana, lalu menyambar smartphone miliknya.


"Cepat katakan informasi apa yang kamu dapatkan?"


"Sarah sudah pindah tempat tinggal, udah nggak tinggal lagi sama El. Mereka sudah putus."


"Sekarang dia tinggal di mana?"


"Saya sedang mencari informasi tentang itu."


"Kamu sudah tahu jati dirinya?"


"Saya masih mencarinya."


"BESOK BAWA MARIANA KE RUMAHKU!!!" titah orang itu.


"Baik Pak Trisno."


Sedetik kemudian Trisan alias Trisno menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kanannya. Melemparnya ke atas tempat tidur dengan asal sehingga mengenai hidungnya Regina. Sontak Regina terbangun dari tidurnya. Regina mengusap hidungnya yang sakit sambil mengerjapkan kedua matanya.


Yes, akhirnya dia pergi juga dari sini.


Batin Regina.


"Iya," ucap Regina parau sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Cepatan bangun! Beresin semua barang - barangku!" perintah Trisan.


"Maaf aku nggak bisa, seluruh badanku sakit semua."


"Kalau gitu, aku tambahin lagi hukumanmu!" ucap Trisno tegas.


"Oh, jangan dong," ucap Regina sambil menduduki tubuhnya.


"Ya udah lakukan perintahku!"


"Baik Yang," ucap Regina.


"Aku mandi dulu, cepat laksanakan!"

__ADS_1


Regina mendengus kesal ketika Trisan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Mau tak mau Regina harus melakukan perintahnya Trisan. Regina beranjak berdiri dari tempat tidur ketika Trisan masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi. Regina mengambil lingerie hitam dan pakaian nya yang teronggok di atas lantai kamar, lalu memakainya.


Berjalan ke lemari baju, lalu menghentikan langkahnya di depan pintu lemari. Membuka pintu lemari baju. Tak sengaja Regina melihat fotonya Sarah. Regina mengambil foto itu. Menelisik wajahnya Sarah di foto itu. Regina menatap bingung melihat fotonya Sarah. Regina tersenyum senang ketika dia berhubungan intim dengan El. El benar - benar memuaskan jiwa petualangannya.


Terbesit Regina ingin menghubungi El. Regina menaruh fotonya Sarah di tempat semula. Melangkahkan kakinya menuju nakas sebelah kanan tempat tidur. Mengambil smartphone miliknya yang berada di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi El. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya. Terdengar nada sambung beberapa kali sehingga panggilan itu dijawab.


"Hallo," ucap El serak.


"Hallo sayang, aku kangen sama kamu. Kita phone *** lewat video call yuk."


"Nggak ah, aku lagi capek. Ini siapa sich?"


"Regina. Oh ya, aku punya informasi mengenai nyawanya Sarah dan kamu."


"Cepat katakan informasi itu," ucap El datar.


"Aku tidak mau membicarakan hal itu di telepon."


"Aku aku bayar satu miliar jika kamu memberi tahunya."


"Aku tidak mau uang itu, yang aku mau hanya berhubungan **** denganmu selama tujuh hari di sini."


"Baiklah aku pikir - pikir dulu."


"Jangan terlalu lama berfikirnya, nyawa kalian taruhannya."


"Baiklah. Nanti aku hubungi jika mau ke sana."


"Ok, aku tunggu. Bye El."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. El menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menaruh di atas nakas sebelah kiri tempat tidurnya. Menyingkap selimut. Turun dari ranjang, lalu berdiri dalam keadaan bugil. Clarissa terbangun akibat pergerakan El. Membuka kedua matanya secara perlahan. Melihat El yang sedang berjalan ke kamar mandi.


"Kamu mau ngapain?" tanya Clarissa dengan suara yang serak.


"Aku mau mandi, setelah itu aku pulang ke Jakarta," jawab El tanpa menoleh ke Clarissa.


"Kamu ngaco, masa pulang pada jam dua malam."


"Ada urusan penting yang harus aku tangani."


"Apa itu?"


"Itu bukan urusanmu. Ini urusanku dengan Sarah.

__ADS_1


Apapun akan kupertaruhkan demi keselamatan dirimu Ai. Yang penting di dalam hidupku, nyawanya Sarah nomor satu.


__ADS_2