
"Untuk wilayah Cikarang dan sekitarnya, Two R development mencatatkan marketing sales yang relatif stabil yaitu di angka tiga koma lima triliun atau naik nol koma lima persen YoY setara dengan empat puluh lima koma delapan persen dari total realisasi. Proyek terbaru kami di daerah Darmawangsa juga berkontribusi enam ratus lima puluh miliar dengan rata - rata harga di dua koma lima miliar per unit. Pendapatan Two R development sempat mengalami turun naik di akhir tahun kemarin. Tapi, untuk secara keseluruhan neraca Two R development masih di dalam kategori sehat, dimana kami memproyeksikan net gearing ratio di nol koma dua puluh lima koma x, masih di bawah rata - rata peers yang sebesar nol koma empat koma x. Revisi terbaru kami memperkirakan pendapatan dan laba bersih di tahun ini sebesar delapan koma lima triliun dari sebelumnya di angka tujuh koma tiga triliun Pak Ferdy," ucap El yang sedang berdiri mempresentasikan semua keunggulan proyeknya di depan seorang investor baru.
"Saya rasa sudah cukup penjelasannya Pak Rafael. Tolong segera berikan berkas kontrak kerja samanya," ucap Ferdy yang membuat El menarik sudut bibirnya.
"Baik Pak Ferdy yang baik hati," ucap El sopan. "Eli tolong berikan berkas kontrak kerja sama perusahaan ini ke Pak Ferdy," lanjut El sambil menduduki tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Baik Pak," ucap Eli, lalu Eli memberikan berkas itu.
"Terima kasih Bu Eli," ucap Ferdy sambil menerima surat perjanjian itu, lalu membuka beberapa lembar dan menandatangani berkas itu.
"Terima kasih Pak Ferdy atas kepercayaan anda terhadap perusahaan ini, semoga kerja sama kita berlangsung lama," ucap El sopan.
"Sama - sama Pak Rafael," ucap Ferdy, lalu dia beranjak berdiri.
El ikut berdiri, lalu berucap, "Panggil aja Pak El, saya lebih suka dipanggil El."
"Ok Pak El, saya pamit mengundurkan diri karena jadwal saya padat."
"Sudah tentu karena anda adalah salah satu pengusaha yang sangat sukses. Kerja sama dengan perusahaan anda merupakan suatu kehormatan bagi saya maupun perusahaan ini," ucap El ramah.
"Anda terlalu berlebihan Pak El, selamat sore Pak El," ucap Ferdy, lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke El.
El membalas uluran tangan kanannya Ferdy, lalu berucap, "Selamat sore."
Tak lama kemudian Ferdy melangkahkan kakinya menuju pintu ruang kerjanya El yang mempunyai nama lengkap Rafael Darmawan Pandjaitan. Pintu ruang kerja dibuka oleh Eli. El melihat kepergian Ferdy melewati pintu. Setelah kepergian Ferdy, Eli menutup pintu ruang kerjanya El. Eli berjalan menghampiri El. El duduk di kursi singgasananya. Eli mengambil berkas kontrak kerja sama yang sudah ditandatangani oleh Ferdy.
"Tolong kamu buat salinannya," ucap El serius.
"Baik Pak."
"Tolong hari ini dokumen pembebasan lahan di wilayah Depok Lama diselesaikan ya!" titah El sopan.
"Baik Pak."
"Pak Juan sudah sampai?"
"Belum Pak."
"Ya sudah, kamu balik aja ke tempat kerjamu."
"Baik Pak," ucap Eli, lalu dia membalikkan badannya.
Pintu ruang kerja El terbuka secara perlahan. Di ambang pintu ada ibu kandungnya El yang bernama Clara Felixia Simanjuntak dan Florence Akasia Onsu. Mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya El. El berdiri sambil tersenyum kecut melihat kedatangan mereka yang tiba - tiba.
Ngapain juga mereka ke sini sekarang. Jadwalku untuk menemui Sarah jadi tertunda.
Gerutu El di dalam hati
"Selamat siang Nyonya Besar," sapa Eli sopan ketika berpapasan dengan Clara.
"Selamat siang juga Eli," ucap Clara ramah.
Eli melangkahkan kakinya ke pintu ruang kerjanya El. Keluar dari ruangan, lalu menutup pintu ruangan itu. Clara memeluk erat anak cowok satu - satunya, lalu duduk di depan kursi kerjanya El. Flo dan El berjabat tangan, lalu Flo duduk di kursi samping kirinya Clara. El duduk lagi di kursi singgasananya. Clara menaruh rantang dan perlengkapan makan di atas meja kerjanya El. Sedangkan Flo menundukkan kepalanya karena masih sungkan sama El.
__ADS_1
"Flo sengaja membuat masakan enak untuk makan siang kalian berdua," ucap Clara lembut.
Pasti ini rencananya Mami.
Batin El.
"Maaf, siang ini aku mau meninjau proyek perumahan di wilayah Cimanggis," ucap El sopan.
"Ajaklah Flo, sekalian pendekatan biar kalian mengenal lebih dalam lagi dan supaya kamu bisa menyukai Flo setelah kamu mengetahui dirinya. Oh ya, Mami mau pergi rapat dulu, tolong jaga Flo ya El," ucap Clara sopan, lalu Clara beranjak berdiri.
Rafael berdiri sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu berucap, "Baiklah Mi."
"Gitu dong, Mami sangat senang kalian mau pendekatan. Ya udah, Mami pergi dulu ya."
Tak lama kemudian Clara memeluk erat El lagi. Melambaikan tangan kanannya ke El dan Flo dengan wajah yang sumringah. Clara melangkahkan kakinya menuju pintu ruang kerjanya El. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka secara perlahan. Keluar dari ruang kerjanya El, lalu menutup pintu ruang kerjanya El.
"Ayo Flo ikut gw lihat proyek!" ajak El ramah sambil melangkahkan kakinya ke pintu.
Sedetik kemudian pintu ruang kerjanya El terbuka lagi. Kali ini muncul Edward, sahabatnya El dari kecil. Kedatangan Edward telah menghentikan langkahnya mereka. El berjalan menghampiri El dan Flo. Edward memasang wajah yang ceria melihat El berduaan sama Flo yang sedang berdiri di samping kirinya El sambil membawa rantang dan plastik putih.
"Siapa lagi nich cewek?" ledek Edward sambil melirik ke Flo.
"Anak sahabat Nyokap gw, namanya Florence."
Edward mengulurkan tangan kanannya ke Flo, lalu berucap, "Edward, panggil aja Aa Ed."
Ucapan Edward telah membuat Flo tersenyum malu sambil mengulurkan tangan kanannya ke Edward, lalu berkata, "Florence, panggil aja Flo."
"Pasti elu ada maunya," ucap Edward sambil melepaskan genggaman tangannya, lalu menurunkan tangan kanannya.
"Temani dan jagain Flo sekalian nanti tolong anterin dia ke rumahnya."
"Gw sich mau aja nemenin dan anterin pulang cewek cantik seperti Flo, tapi Nyokap elu marah nggak?" ucap Edward.
"Benar juga ucapan elu. Baiklah kalau gitu, kalian berdua ikut gw mantau proyek."
"Widihhhh, kita diajak jalan - jalan, pasti ada traktiran nich."
"Tenang aja, nanti kalian berdua gw traktir di warungnya Nyak Rogaya."
"Warung apaan tuch?"
"Warung nasi lah. Makanannya dijamin enak."
"Elu gimana sich El. Itu si Flo udah bawain makanan, ngapain juga kita makan di warung orang. Mendingan kita ngebotram."
"Ngebotram di mana?"
"Di lokasi proyek elu."
"Kalau gitu kalian aja ngebotram di sana sekalian nungguin gw mantau proyek. Setelah itu kita ke Yayang gw."
"Elu benaran jadian ama tuh cewek?"
__ADS_1
"Gw pengennya sih gitu, tapi untuk sekarang ini belum waktunya."
"Kenapa?"
"Yah ... nanti elu juga tahu sendiri."
"Kalau Flo gimana? Mau nggak jadi pacarnya Bang El?" ledek Edward.
Ucapan Edward telah menimbulkan rona merah di pipinya Flo, lalu Edward berucap, "El, si Flo kayaknya suka sama elu."
"Itu haknya dia," ucap El santai.
"Terus elu gantungin di Flo?"
"Dari awal Flo tahu bahwa gw nggak suka sama dia," ucap El serius.
"Terus Nyokap elu?"
"Nyokap gw tahu itu kok, tapi dia kekeh supaya gw ama Flo jadian, maka itu Nyokap gw nyuruh kita pendekatan dulu supaya gw bisa suka sama Flo," ucap El to the point.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering dari smartphone milik El yang menghentikan pembicaraan mereka. El mengambil smartphone miliknya dari kantong dalam jasnya. El tersenyum manis melihat tulisan My Sarah di layar smartphonenya. Dengan senang hati dia menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum El," sapa Sarah.
"Wa'alaikumussalam My Honey," ucap El senang.
"Jangan manggil yang macam - macam lagi!" titah Maysaroh.
"Iya, ada apa Sar?"
"Maaf, besok aku nggak bisa ikut hadir acara pembuktian di kantor rukun tetangga."
"Memangnya kenapa?"
"Besok aku ada test interview di perusahaan The IR Design and Contractor."
"Ya udah nggak apa - apa. Kamu tenang aja, urusan itu bisa ku tangani."
"Ya udah kalau gitu."
"Sar, nanti sore ada di rumah nggak?"
"Ada, memangnya kenapa?"
"Aku mau main ke warung nasimu."
"Ya udah kalau mau main, tapi harus beli loh," ucap Sarah sedikit ngeledek.
"Iya nanti aku beli semuanya, demi cintaku padamu."
"Gombal."
__ADS_1