Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Aku Minta Maaf


__ADS_3

Wahai sang pencuri hatiku, kamu telah mengusik relung hatiku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku. Sangat bahagia hatiku rasanya tertusuk panah cinta. Namun rasa itu tak seindah realita. Kita harus berpisah karena waktu dan jarak yang memisahkan kita. Ow, lara dan hancur hati ku. Yang sedang dicumbu asmara cinta. Hilanglah selera. Hilanglah segala rasa.


Bunyi ringtone dari smartphone milik El yang telah mengusik tidur pulasnya El. El membuka kedua matanya secara perlahan. Mengerjakan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya temaram yang masuk ke dalam kedua kornea matanya. El menoleh ke samping kirinya. Dia melihat wajah lelahnya Regina yang telah memuaskan nafsu birahinya.


Melepaskan tangan kiri Regina yang telah memeluk erat pinggangnya. Menduduki tubuhnya sambil bersandar di headboard. Melihat jam yang memperlihatkan pukul sepuluh pagi. El meraih smartphone miliknya yang berada di atas nakas sebelah kanan ranjang. Melihat tulisan cintaku di layar smartphonenya.


El beranjak berdiri dari tempat tidur. Melangkahkan kakinya menuju pintu balcon kamar tanpa sehelai benang pun. Menggeser pintu balcon sehingga pintu itu terbuka. Melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Bersandar di pagar balcon. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo assalamu'alaikum El," salam Sarah lembut yang selalu melelehkan hatinya El.


"Wa'alaikumussalam cintaku. Maaf ya semalam aku nggak bisa menemani kamu di rumah sakit karena semalam aku harus nemuin salah satu clientku," ucap El lembut.


"Iya nggak apa - apa sayang. Terima kasih ya handphonenya."


"Apakah kamu menyukainya?"


"Tentu saja aku menyukainya sayang. Kamu kapan lagi ke rumah sakitnya?"


"Siang ini cintaku. Kamu kangen ya sama aku?"


"Tentu saja aku merindukan dirimu."


"Siapa yang nemenin kamu semalam?"


"Meira. Oh ya El, menurut kamu, aku, Nyak Mariana dan bayinya sebaiknya tinggal di mana?"


"Kalian tinggal di sini aja, maaf kemarin aku telah berkata kasar kepadamu."


"Aku juga minta maaf karena telah melemparkan handphoneku ke kamu. Kamu nggak apa - apa Mariana tinggal di penthousemu lagi?"


"Iya nggak apa - apa cintaku. Ini semua kulakukan demi dirimu. Oh ya kapan Meira pulang dari sana?"


"Sebentar lagi."


"Ya udah, sekarang aku mau ke sana. Habis mandi aku langsung ke sana," ucap El bahagia.


"Ok, aku tunggu. Bye El."

__ADS_1


"Bye cintaku."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. El menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Melewati pintu balcon yang terbuka. Berjalan menghampiri tempat tidur. Menaruh smartphone miliknya di tempat semula. El membungkukkan badannya. Menggoyangkan bahu kirinya Regina dengan kasar berulang kali.


Regina membuka kedua secara pelan - pelan. Mengerjapkan kedua matanya untuk beradaptasi dengan cahaya yang temaram. Melihat wajahnya El yang terlihat bahagia. Regina menduduki tubuhnya sambil bersandar pada headboard ranjang. El menegakkan badannya. Melanjutkan langkahnya menuju walking in closet.


"Kenapa kamu membangunkan aku? Padahal aku masih ngantuk," ucap Regina dengan suara yang serak - serak basah.


"Aku mau pergi. Kalau kamu tidur lagi, sebaiknya jangan di sini," ucap El sambil membuka salah satu pintu lemarinya.


"Terus aku tidur di mana?"


"Di kamarnya Sarah," ucap El sambil mengambil kimononya.


Tok ... tok ... tok ...


"El! Kamu sudah bangun kan!" teriak Rogaya.


Bunyi ketukan pintu kamarnya El dan teriakan Rogaya yang membuat El kaget plus panik. Sontak El langsung memakai kimononya. Berlari kecil menghampiri Regina. Menarik tangan kirinya Regina supaya Regina lekas berdiri. Dengan lemas Regina berdiri sambil mendengus kesal. Regina menghempaskan tangannya El. El membulatkan kedua matanya ke Regina.


"Aku mau ambil pakaianku dulu," ucap Regina.


Teriakan Rogaya telah membuat El tambah panik. Dengan cekatan El membantu Regina memungut pakaian dan tas selempangnya Regina yang teronggok di atas lantai kamar. Setelah pakaian Regina diambil, El langsung menarik tangan kirinya Regina. Melangkahkan kakinya menuju pintu rahasia. Regina berlari kecil mengikuti langkahnya El yang terburu - buru.


Menempelkan telapak tangan kanannya di tengah dinding maupun di tengah daun pintu rahasia. Pintu rahasia terbuka, lalu El menggiring Regina masuk ke dalam ruang rahasia. Pintu rahasia ketutup secara otomatis ketika mereka berada di dalam ruangan rahasia. Menaiki beberapa anak tangga. Regina melihat sisi kanan kiri tembok yang menghimpit tangga. Regina tersenyum sinis melihat foto - fotonya Sarah yang telah dipajang di tembok.


Kayak kamar pemujaan.


Batin Regina.


El menempelkan telapak tangan kanannya di tengah tembok maupun di tengah daun pintu ketika mereka berada di puncak anak tangga. Pintu rahasia terbuka, lalu mereka melanjutkan langkah kakinya mereka masuk ke dalam kamarnya Sarah. Pintu rahasia ketutup secara otomatis. El melepaskan genggaman tangannya. Tiba - tiba Regina memeluk erat pinggangnya El.


"Aku masih ingin kita melakukan adegan panas lagi seperti semalam," bisik Regina manja.


"Sekarang bukan saatnya," ucap El tegas sambil melepaskan kedua tangannya Regina yang telah melingkari pinggangnya.


Regina mendengus kesal ketika El menghempaskan kedua tangannya. Tanpa basa - basi, El melengos pergi dari hadapan Regina. Regina tambah bete ketika El membuka pintu rahasianya. Regina menaruh barang - barangnya di atas ranjang ketika El masuk ke dalam ruang rahasia, lalu memakai pakaiannya. Berjalan ke pintu kamar, lalu menguncinya ketika pintu rahasia ketutup secara otomatis.

__ADS_1


Regina memperhatikan seluk beluk kamarnya Sarah. Ada beberapa lukisan yang dipajang di setiap sisi tembok kamar. Berjalan pelan ke meja gambarnya Sarah. Melihat sebuah gambar rumah tipe minimalis. Memperhatikan kalimat yang tertera di ujung bawah kanan gambar.


"Rumah masa depan kami. Love El," ucap Regina datar yang telah membaca kalimat itu.


Regina mengalihkan pandangannya ke meja kerjanya Sarah. Tak sengaja Regina melihat sebuah album foto. Regina mengambil album foto itu. Membuka halaman album foto itu. Regina tersenyum sinis melihat foto mesranya El bersama Sarah. Membuka lembar berikutnya. Melihat foto Sarah yang sedang bernyanyi dengan tatapan mata yang tidak suka.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi dering dari smartphone milik Regina. Menaruh album foto itu di tempat semula. Regina berjalan pelan ke tempat tidur. Mengambil tas selempangnya, lalu membuka reselting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Melihat tulisan client *** 3 di layar smartphonenya. Regina mendengus kesal karena mendapati panggilan dari Trisan. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo sayang ada apa?" ucap Regina lembut.


"Kamu lagi di mana?" ucap Trisan datar.


"Di hotel, emangnya kenapa?"


"Aku lapar, pengen makan kamu lagi."


"Bagaimana kalau nanti siang aja ya sayang. Aku istirahat dulu ya, supaya bisa memberikan pelayanan yang sangat memuaskan untuk dirimu," ucap Regina dengan nada suara yang sensual.


"Baiklah, nanti siang aku jemput kamu."


"Ok. Tapi bayarannya harus lebih banyak ya sayang supaya aku bisa lebih giat memanjakan dirimu sayang."


"Kamu mau minta berapa sayang?"


"Seratus juta."


"Baik, nanti aku transfer ke rekeningmu."


"Ok, ayangku mmmuuuaaahhhh."


"Mmmuuuaaahhhh."


Tak lama kemudian Regina menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menyimpan smartphone miliknya di dalam tas. Menutup reselting tas selempangnya. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan dirinya setelah bekerja keras memuaskan hasrat birahinya El. Mengenang kejadian yang semalam. Sebuah kejadian diluar dugaannya.


Selain dirinya yang bekerja keras untuk memuaskan kebutuhan biologisnya El, El juga bekerja keras untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga membuat rasa suka Regina kepada El bertambah. Karena itu Regina tidak dibayar atas kerja kerasnya karena mereka melakukan itu berlandaskan saling memuaskan dan tidak hanya itu, ternyata Regina melakukan itu atas asas rasa sukanya dia kepada El . Tiba - tiba Regina membayangkan wajahnya Sarah. Membuka kedua matanya. Menghembuskan nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Sarah, aku minta maaf."


__ADS_2