
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Cahaya sang fajar dengan warna merah kekuningan menerangi kota Jakarta. Bertengger di ufuk timur cakrawala. Lukisan alam arakan awan putih dengan indahnya menghiasi langit biru. Kicauan burung menyambut mentari yang berada di dalam peraduannya. Sinarnya menembus lembut celah - celah gorden dan ventilasi udara ke dalam kamar hotel yang dibooking oleh El sehingga pencahayaan di kamar hotel tampak temaram. Sinar matahari yang berpendar telah membangunkan Regina.
Kelopak kedua matanya Regina mulai bergerak pelan - pelan, kemudian mengedipkan dengan perlahan untuk menyesuaikan silaunya cahaya yang masuk ke dalam kamar. Lily menggeliatkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna. Regina membuka kedua matanya dengan sempurna, lalu menoleh ke El yang masih terlelap tidur. Regina membelai wajahnya El sambil tersenyum manis. Membayangkan pergulatan mereka yang sangat panas dan sangat memuaskan.
"Ai! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" pekik El yang sedang mengingau.
Regina mendengus kesal ketika El menyebut 'Ai'. Dia baru menyadari bahwa selama mereka bercinta yang berlandaskan nafsu, El sering menyebut 'Ai' bukan menyebut namanya. Regina tersenyum sinis mengingat hal itu. Dia jadi kesal karena El sering menganggap dirinya orang lain ketika lagi bercinta. Belaian tangan kirinya Regina menjalar ke dadanya El yang atletis.
"Ai! Ai! Ai!" teriak El yang masih mengingau.
Sontak Regina menepuk - nepuk dadanya El dengan kencang karena kesal sehingga membangunkan El. El membuka kedua matanya, lalu mengerjakan kedua matanya berulang kali untuk menyesuaikan bias cahaya matahari yang masuk ke dalam retina kedua matanya sambil gelagapan. Setelah dirinya tenang dan kedua matanya terbuka sempurna, El menoleh ke Regina yang sedang tersenyum manis ke dirinya.
Tatapan matanya El datar ketika melihat Regina. El beranjak berdiri dari tempat tidur, lalu mengambil celana boxernya yang tergeletak tak berdaya di atas lantai. Memakai celana boxernya, lalu melengos menuju ke ruang tamu kamar suite hotel itu tanpa mempedulikan keberadaan Regina. Regina mendengus kesal diperlakukan seperti itu. Regina mengambil pakaian dalamnya yang berada di atas lantai. Memakai pakaian dalamnya, lalu menyusul El ke ruang tamu. Melihat El yang sedang mengutak - ngatik sebuah smartphone.
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi.
Dan sepi. Kau seperti nyanyian dalam hatiku. Yang memanggil rinduku padamu, oh. Seperti udara yang kuhela. Kau selalu ada. Kau seperti nyanyian dalam hatiku. Yang memanggil rinduku padamu, oh. Seperti udara yang kuhela. Kau selalu ada. Selalu ada
Kau selalu ada. Selalu ada. Kau selalu ada ...
Bunyi nada sambung dari smartphone milik El. El tidak langsung mengangkat panggilan telepon itu. El melihat sebuah tulisan Ai di layar smartphonenya sambil mendengarkan nada dering dari smartphone miliknya. Dengan berat hati, akhirnya El mau menerima panggilan telepon itu. Dia menyentuh ikon hijau untuk menjawab sambungan telepon itu, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Hallo Ai, ada apa?" ucap El datar.
"El, kapan kamu pulang?"
"Aku nggak tahu jelas kapan pulangnya. Emangnya ada apa?' ucap El yang masih datar.
"Kamu marah ya samaku?"
"Nggak. Kamu mau ngapain teleponku?"
"Aku mau ngomong penting sama kamu."
"Ya udah ngomong aja."
"Aku ternyata bukan anak kandung Babe Rojali. Waktu aku masih bayi aku ditemukan di bak mobilnya Babe. Babe dan Nyak sengaja tidak melaporkan hal itu ke pihak berwajib karena selama sepuluh tahun mereka menginginkan seorang anak, akhirnya mereka memungutku sebagai anaknya mereka. Aku sedih El, selama ini aku tidak tinggal bersama orang tua kandungku. Aku ingin sekali menemui mereka, tapi apa daya aku tidak punya jejak dari mereka. Aku ingin sekali memiliki nasabku yang jelas untuk pernikahan kita nanti. Aku ingin mencari mereka, tapi hari ini Babe jadi dioperasi dan aku harus kerja. Tolong aku El untuk mencari mereka, ini demi masa depan kita," ucap Sarah sendu yang telah membuat hatinya El terenyuh.
"Ok sayang, nanti aku bantuin kamu untuk mencari mereka. Yang penting sekarang kamu fokusin kesembuhan Babe dan kerjaan kamu."
__ADS_1
"Kapan kamu pulang?"
"Aku usahakan besok pulang," ucap El serius.
"Kenapa kemarin nomor handphone kamu nggak aktif, padahal kemarin aku ngedrop gara - gara aku kaget mengetahui sebuah rahasia yang menyatakan bahwa aku bukan anak kandungnya Babe dan Nyak sampai aku pingsan. Untung ada Bang Juned sama Lee yang telah menolongku sampai aku bisa berdiri tegak lagi untuk menghadapi masalahku," ucap Sarah sedih yang membuat El merasa bersalah.
"Maaf cintaku, kemarin aku bertemu sama salah satu clientku," ucap El yang membuat Regina tersenyum sinis. "Kamu udah kenal Lee?"
"Iya, dia orangnya baik banget. Dia saudaramu kan?"
"Iya. Kamu nggak apa - apa kan ditemani sama Lee selama aku berada di sini?"
"Iya nggak apa - apa. El, kamu tahu nggak nomor handphonenya Pak Rifky? Aku mau minta izin libur buat hari ini dan besok. Kemarin aku udah minta izin nggak masuk hari ini ke Pak Agus, tapi nggak dibolehin."
"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin kalau kamu tidak diperbolehkan izin nggak masuk sama Pak Agus. Udah beberapa bulan yang lalu Pak Rifky berada di Singapore, nemani istinya yang lagi sakit kanker otak. Biar aku aja yang menghubunginya."
"Ya ampun, Ya Allah sembuhkanlah penyakit istinya Pak Rifky. Aamiin Ya Robbal Alamiin. Kalau gitu kamu nggak usah hubungi Pak Rizky. Aku nggak bilang soal tidak diperbolehkan libur karena aku tidak mau menyusahkan kamu."
"Sekarang kamu di mana?"
"Masih di rumah, lagi bingung mau ke rumah sakit atau ke kantor?"
"Ya udah, kamu nggak usah kerja hari ini. Sebaiknya kamu nemani Nyak dan Babe kamu di rumah sakit."
"Tapi kan belum dapat izin nggak masuk."
"Udah kamu ke rumah sakit aja, urusan izin nggak masuk biar kuurus, kamu tenang aja," ucap El serius dan tak bisa dibantah.
"Baik. Terima kasih cintaku. I love you, mmmuuuaaahhhh."
"Hehehe, udah dulu ya. Bye El, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Bye my love forever," ucap El, lalu sambungan panggilan telepon itu terputus.
"El sarapan dulu," ucap Regina lembut yang menggoda sambil melihat El menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya.
"Kamu makan aja duluan," ucap El sambil mengutak - ngatik smartphone miliknya.
"Kamu mau telepon siapa?" ucap Regina lembut yang menggoda ketika melihat El sedang mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Kamu nggak berhak tahu!" ucap El ketus yang membuat Regina mendengus kesal. "Hallo Lee, elu kok nggak kasih tahu kalau Sarah kemarin pingsan?!" ucap El kesal
"Hey bekicot, gw udah kasih tahu ya. Kemarin gw telepon elu nggak aktif, terus gw kirim pesan yang memberi tahu tentang keadaan Sarah ke elu."
"Waktu itu dia pingsan di mana?"
"Di gazebo pantai saat berteduh sebelum berteduh dia kehujanan. Gw lihat Sarah lagi digendong sama Juneidi, pas gw pastiin ternyata Sarah pingsan dan Juneidi mau membawanya ke klinik. Tapi gw sarankan Juneidi agar Sarah dibawa ke villa gw yang jarak dekat dengan pantai itu. Juneidi menyetujui saran dari gw. Di villa, Sarah diobati dan diurus sama Bi Sum sampai dia segar lagi."
"Terima kasih banyak ya Lee. Sekarang elu lagi di mana?"
"Di depan rumahnya Sarah. Hari ini, Sarah gw anterin kerja."
"Anterin dia ke rumah sakit aja."
__ADS_1
"Tapi kan dia tidak diperbolehkan izin tidak masuk kerja?"
"Biar gw urus soal izinnya."
"Ok dech bos."
Tak lama kemudian El menyentuh beberapa ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. El menoleh ke Regina yang sedang asik makan. El melihat beberapa macam makanan di atas meja ruang tamu suite kamar hotel sambil mengutak - ngatik beberapa ikon untuk menghubungi Papinya. Mendekatkan lagi benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum Papi."
"Iya ada apa my boy?" ucap Rogen lembut.
"Sarah kemarin sudah minta izin untuk tidak masuk kerja karena Babenya hari ini mau dioperasi, tapi sama Pak Agus tidak diperbolehkan. El minta tolong sama Papi, tolong telepon Tante Irene untuk ngomongin soal ini ke Tante Irene."
"Kamu ngaco, di sana baru jam dua belas malam."
"Tapi kan Tante Irene suka sholat tahajjud pada tengah malam."
"Kamu tahu dari siapa kalau Irene suka sholat tahajjud pada tengah malam?"
"Kan setiap muslim kalau mau sholat tahajjud, sebaiknya pada tengah malam."
"Kamu tahu tentang itu dari mana?"
"Aku kan lagi belajar tentang agama Islam Pi, jadi aku tahu waktu sholat dan bacaan sholat."
"Kamu serius mau menikahi Sarah?"
"Iya Pi, aku serius ingin menikahinya."
"Dia sudah tahu kalau kamu bukan muslim?"
"Saat ini dia belum tahu Pi, belum waktunya untuk memberi tahu soal itu ke Sarah. Aku ingin dia mengetahui hal itu setelah aku sudah menguasai ajaran agama Islam dengan baik dan benar. Setelah itu aku baru pindah agama Pi."
"Kamu sudah yakin ingin pindah agama?"
"Untuk saat ini belum seratus persen yakin Pi."
"Ya udah kalau gitu. Nanti Papi telepon ke Tante Irene. Bye my boy."
"Bye Papi."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. El menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruh smartphone miliknya di atas meja tamu. Duduk di sofa single. Menoleh ke Regina yang sedang memakai bathrobe. Mengambil sandwich, lalu memakannya.
"Nanti aku transfer bayaranmu tadi malam dan pagi ini," ucap El sambil mengunyah.
"Kamu tidak mau menambah waktu bercinta kita lagi?" ucap Regina
"No, thanks."
"Takut ketahuan calon istrimu? Kita kan bisa melakukan itu diam - diam."
"Aku tidak mau melakukan itu lagi selain sama istriku."
__ADS_1
Regina tertawa kecil, lalu berucap, "Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin ada hati yang terluka."