
Gumpalan awan berbentuk tipis transparan dengan tampilan filamen seperti sutra membentang di langit biru. Cahaya sang mentari di siang hari bersinar cerah. Angin berhembus cukup kencang menyelimuti setiap orang yang melakukan aktivitas, termasuk Sarah, El dan supir sewaan yang sedang melakukan perjalanan ke perkebunan teh milik Papi Rogen.
Waktu terus berputar mengiringi perjalanan yang dilakukan Sarah, El dan supir sewaan dari restoran De Soematra Surabaya menuju ke perkebunan teh dengan menggunakan mobil yang disewa oleh El. Mobil Audi A8 L berwarna hitam yang ditumpangi oleh Sarah dan El menembus keramaian kota Malang.
Melewati Kota yang didirikan pada masa Pemerintahan Belanda pada tanggal satu April seribu sembilan ratus empat belas, yang dimana E.K Broeveldt sebagai wali kota pertama. Menelusuri kota yang terletak di dataran tinggi seluas 145,28 km² yang merupakan enklave Kabupaten Malang.
Sarah membuka kedua matanya secara perlahan. Mengerjapkan kedua matanya secara perlahan untuk menyesuaikan bias cahaya. Merentangkan kedua tangannya ke atas, lalu menguletkan badannya. Mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia melihat El sedang menatap langit.
Apa yang harus aku katakan? Jujur atau berbohong? Aku takut ketahuan habis bercinta sama Regina di dalam mobil. Aku nggak habis pikir Sarah mempercayai alasanku yang mengatakan toilet penuh karena ada dua toilet rusak dan aku sakit perut sampai harus berlama - lama di dalam kamar mandi. Mau gimana lagi, saat itu aku butuh pelampiasan dan aku ingin kebutuhan biologisku terpenuhi, sedangkan Sarah mana mungkin mau memenuhi kebutuhan biologisku untuk sekarang ini.
Batin El setelah mendengar pertanyaan Sarah
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" tanya Sarah lembut.
El menoleh ke Sarah, lalu berucap dengan lembut, "Tidak ada apa - apa sayang."
"Dari tadi aku perhatikan kamu kebanyakan melamun."
"Aku hanya kecapekan."
"Kalau capek kenapa nggak istirahat aja," ucap Sarah.
"Nanti aja istirahatnya."
"Perut kamu masih sakit?"
"Udah mendingan, kan tadi udah dibuang semua," ucap El berbohong.
"Kamu masuk angin kali. Mau aku kerok?"
"Nggak ah, aku nggak suka dikerok. Kalau dipijat aku mau."
"Ya udah nanti malam aku pijat."
"Terima kasih cintaku," ucap El senang, lalu dia memeluk erat pinggangnya Sarah.
"Ih risih, di depan ada orang lain," ujar sambil melepaskan kedua tangannya El.
"Cuma sebentar aku minta peluknya," ucap El memelas.
"Kita udah sampai mana?" tanya Sarah sambil melihat ke jalanan.
"Di jalan raya I.R. Rais. Sebentar lagi sampai," jawab El sambil melepaskan pelukannya.
"Jalanannya sepi," ujar Sarah.
__ADS_1
Seketika suasana hening. Mobil itu memasuki area parkiran mobil sebuah perkebunan teh sekaligus sebagai tempat objek wisata alam setelah menempuh jarak kurang lebih dari delapan puluh tujuh koma empat dan memakan waktu dua jam sepuluh menit. Mobil berhenti, lalu supir mematikan mesin mobil.
Sarah dan El membuka sabuk pengaman. Mereka membuka pintu mobil. Keluar dari dalam mobil. Menutup pintu mobil sambil mengedarkan pandangannya. El langsung menggandeng tangan kanannya Sarah. Seorang pemuda berlari menghampiri mereka.
"Tolong bawakan koper - koper kami," ucap El.
"Baik Tuan," ucap pemuda itu, lalu pemuda itu berjalan ke bagasi mobil.
Sarah dan El melangkahkan kakinya menuju villanya Rafael sambil bergandengan tangan, disusul oleh seorang pemuda yang membawa koper mereka. Suasana di kebun teh milik keluarganya El pada hari Sabtu sangat ramai karena banyak turis yang mengunjunginya. Baik turis dalam negeri maupun turis luar negeri. Mereka menyusuri jalan khusus pejalan kaki melewati hamparan luas daun teh. Hembusan angin semilir menerpa kulit mereka hingga rintik - rintik hujan membasahi mereka.
"Ayo cepatan jalannya, sebentar lagi hujan!" ucap Rafael.
Tak berselang lama, mereka berlari menelusuri jalanan di bawah guyuran hujan. Di tengah perjalanan mereka menemukan sebuah saung yang sudah lumayan banyak orang berteduh. Mereka berlari ke saung. Meneduh bersama orang - orang. Sekilas Rafael melihat ceplakan kacamata pahlawan bertopeng ala Sinchan dibalik kaos putih yang dipakai Sarah. Sarah terkejut karena tiba - tiba El memeluk badannya. Sarah menoleh ke El dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku memelukmu karena untuk menutupi ceplakan bra kamu yang kelihatan," bisik El.
"Modus."
El tidak menggubris ucapan Sarah. Dia menikmati aroma wangi vanila dari tubuhnya Sarah. Semakin lama pelukan El semakin erat sehingga membuat Sarah gelisah dan tak nyaman karena harus menahan gejolak rasa di hatinya. Rasa kesal dan senang berkecamuk di hatinya. Sarah menggeliatkan tubuhnya, namun tidak direspon oleh Rafael. Malah Rafael asyik menciumi puncak kepalanya Sarah.
"El, tolong lepasin pelukannya, aku risih," bisik Sarah.
El menoleh, lalu berkata, "Aku tidak akan membiarkan orang lain menikmati sebuah pemandangan yang membuatnya horni."
"Yah, nggak gitu juga kali. Masa karena lihat ceplakan braku, orang langsung horni."
"Orang itu seperti kamu El, macam orang mata keranjang," ujar Sarah.
Karena risih, Sarah melepaskan tangannya El dari tubuhnya. Sarah berlari ke arah jalan yang tadi dia lewati. El langsung mengejarnya. Pas sampai di belakang Sarah, El menarik tangan kanannya Sarah. Lalu membimbing Sarah ke villanya yang letaknya tak jauh dari saung.
"Lepaskan tanganku! Aku mau pulang! Aku takut diapa - apain lagi sama kamu!" ucap Sarah sambil mengikuti langkahnya El fan meronta - rontakan tangan kanannya.
"Aku janji tidak akan apa - apain kamu," ucap El sambil berlari kecil.
"Benaran?"
"Iya benaran, tapi kamu juga janji menginap di sini."
"Iya."
Melangkahkan kakinya dengan tempo yang cepat di bawah guyuran air hujan menelusuri jalanan sehingga mereka berada di depan sebuah bangunan yang memiliki arsitektur minimalis dengan konsep manly. Mereka menghentikan langkahnya di depan villa. Sarah memandang terkejut dan takjub villa itu. Dia sangat senang karena salah satu karyanya dipakai oleh El. Rancangan desain villa itu karyanya dia.
"Kamu senang melihat desain villaku?" tanya El sambil menoleh ke Sarah.
"Aku sangat senang El, terima kasih kamu telah memakai hasil karyaku untuk membangun villa itu."
__ADS_1
"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak El
Mereka menaiki tangga menuju pintu utama villanya Rafael. El memencet bel di pintu villanya, namun belum ada yang membukanya. El memencet bel pintu lagi. Tak lama kemudian, pintu utama villa terbuka lebar menampilkan sosok seorang pria tua.
"Semua sudah disiapkan?" tanya El sopan sambil berjalan masuk ke dalam villa sambil menggandeng Sarah yang sedang tersenyum ramah ke pria tua itu.
"Sudah Tuan," ucap pria tua itu.
"Ayo kita ke kamar, kamu mandi pakai air hangat dan ganti baju," ujar El sambil berjalan menuju ke sebuah pintu kamar.
"Ini kamar tamu?" ucap Sarah sambil melihat El membuka pintu sebuah kamar.
"Nggak juga, ini kamar serbaguna," ucap El sambil masuk ke dalam kamar.
"Tuan ini koper - kopernya mau taruh di mana?" tanya seorang pemuda yang tadi membawakan koper mereka.
"Taruh di samping lemari aja," ujar El sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Baik Tuan," ucap pemuda itu, lalu dia mengikuti perintah dari El. "Saya permisi dulu Tuan," ucap pemuda itu setelah menaruh koper mereka di samping kanan lemari.
"Iya, terima kasih ya," ucap El sopan, lalu pemuda itu pergi dari dalam kamar.
"Bagaimana? Kamu senang dengan kamar ini?" tanya El sambil melihat Sarah yang sedang terkesima karena foto - foto dirinya dipajang di dalam kamar.
"Ini seperti kamar milikku. Aku nggak nyangka foto - fotoku bertebaran di dalam kamar ini," ucap Sarah bahagia sambil memperhatikan foto - fotonya.
"Memang kamar ini kupersembahkan untuk dirimu," ucap El sambil mengunci pintu kamar.
"Di mana kamarmu?" tanya Sarah sambil menoleh ke El.
"Di sini. Ini kamar kita berdua."
Sarah mengerutkan keningnya, lalu berucap, "Kita tidur berdua di sini?"
"Iya."
"Aku tidak mau!" ucap Sarah ketus.
"Kamar yang lain belum jadi semua cinta, aku janji tidak ngapain - ngapain kamu."
"Benaran loh."
"Iya, udah sana kamu mandi duluan, baju kamu lepek banget."
"Kamu jangan ngintip!"
__ADS_1
"Iya, aku tidak akan mengintipnya."
Sarah mendekatkan dirinya ke El, lalu berucap, "El, thank you for loving me."