
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Sang mentari sudah berada di tengah cakrawala. Langit cerah bertaburan arakan awan yang begitu indah bentuknya menyelimuti sebuah kebun yang memiliki luas delapan puluh tujuh hektar di kota Bogor. Pada hari sabtu kebun itu banyak dikunjungi oleh para wisatawan termasuk El dan Sarah. Suasana yang ramai membuat Sarah semangat menyusuri kebun itu sambil melihat aneka macam tumbuhan.
"El, tanaman di kebun raya ini ada berapa ya?" tanya Sarah sambil melihat pohon besar.
"Setahu aku ada lima belas ribu jenis koleksi pohon dan tumbuhan, termasuk bunga raflesia," ucap El sambil menggenggam erat telapak tangan kanannya Sarah. "Ai, kita foto berdua yuk di taman itu," ucap El sambil menunjuk sebuah taman yang berisi berbagai macam tanaman kaktus.
Maysaroh menoleh ke El, lalu berucap, "Foto lagi? Tadi kan kita udah foto - foto."
"Ayolah Ai, di sana kan belum foto," ucap El memelas.
"Baiklah."
Tak lama kemudian mereka ke taman Mexico yang dihiasi dengan lebih dari seratus spesies tanaman seperti agave, yucca, kaktus dan tumbuhan sukulen lainnya. Mereka ambil posisi bergaya untuk difoto. El memeluk erat pinggang rampingnya Sarah. El meninggikan posisi kameranya supaya mereka berdua dan taman itu terlihat jelas. Sarah memasang senyuman manis ke kamera. Tiba - tiba El mencium pipi kanannya Sarah ketika El memencet tombol kamera yang untuk membidik objek foto.
Cekrek
Momen mereka berdua berhasil diabadikan. Sarah langsung menoleh ke El karena dia merasa pipinya dicium. Sarah melebarkan kedua matanya ke El. El hanya cengengesan sambil mengacungkan kedua jarinya yang membentuk huruf v. Sarah mendengus kesal karena kelakuan El yang tidak pandang bulu melihat keadaan sekitarnya.
Sarah melangkahkan kakinya keluar dari taman itu dengan tergesa - gesa. El menggeleng - gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil melihat reaksi Sarah yang malu dicium di depan umum. El mengangkat kameranya, lalu mengambil posisi untuk membidik Sarah. Sejak awal, El diam - diam membidik Sarah sebagai objek fotonya.
Cekrek, cekrek, cekrek
El berhasil lagi mengabadikan momen ketika Sarah melihat sebuah tanaman hias yang indah. El melepaskan kameranya hingga membiarkannya bergelantungan di leher kokohnya. El berjalan menghampiri Sarah yang masih takjub melihat beberapa tanaman hias. El memeluk erat pinggang rampingnya Sarah, lalu mengikuti arah pandang kedua matanya Sarah.
"Ai kita makan yuk, aku udah lapar, pengen makan masakan kamu sekarang!" ajak El pelan.
"Ayo, kita lesehan di sana," ucap Sarah sambil menunjuk tempat yang sejuk dan ramai sama para pengunjung yang sedang ngebotram.
__ADS_1
"Ayo dach kalau begitu," ucap El senang.
Tak lama kemudian mereka menghampiri tempat itu. El membuka ikatan tikar, lalu menggelarnya. Sarah ikut menggelar tikar itu. Mereka melepaskan alas kakinya. Berjalan pelan ke tengah tikar. El melepaskan tas ranselnya, lalu menaruhnya di atas tikar. El membuka reselting tas ranselnya, lalu mengeluarkan barang - barang yang mereka bawa untuk piknik di kebun raya Bogor. Dengan sigap Sarah membantu El mengeluarkan barang - barang mereka.
"Nanti pulang aku yang bawa tas kamu," ucap Sarah sambil menata barang - barang di atas tikar.
"Nggak usah, biar aku aja," ucap El sambil merebahkan tubuhnya di atas tikar sambil menghadap langit cerah.
"Katanya lapar mau makan, malah berjemur."
"Lagi menikmati angin sepoi - sepoi," ucap El santai. "Ai sini tiduran di sampingku."
"Nggak ah," tolak Sarah halus.
Tiba - tiba El menarik tangan kanannya Sarah hingga Sarah tergeletak. Sontak Sarah ingin bangun, tapi ditahan sama El hingga usahanya sia - sia. Sarah melihat sekitarnya yang lumayan ramai. Dengan enggan Sarah mengikuti keinginan El. Sarah rebahan di samping kirinya El. Sarah langsung menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya karena silau sinar matahari.
Cekrek
Tiba - tiba El mengabadikan lagi momennya mereka berdua. Spontan Sarah memiringkan tubuhnya menghadap El. Tak membuang waktu, El langsung memiringkan badannya dan lagi - lagi membidik momen mereka berdua.
Cekrek
El menangkap pergelangan tangan kirinya Sarah, lalu mencium punggung telapak tangan itu dengan penuh kelembutan. El mengecup keningnya Sarah dengan lembut. El mengambil sebuah kotak kecil dari kantong celana jinsnya. Membuka kotak itu yang isinya ternyata sebuah cincin berlian. El menyematkan cincin itu di jari manis tangan kirinya Sarah. Sarah terpana melihat kelakuan El yang begitu romantis bagi dirinya.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya El lembut sambil menggenggam erat telapak tangan kirinya Sarah.
"El, kamu yakin mau menikahi diriku?" tanya Sarah serius.
"Iya," ucap El yakin.
"Kamu mau menerima kekurangan aku dan kekurangan keluargaku?"
"Iya," jawab El mantap.
"Maaf, aku belum bisa menjawabnya."
"Kenapa? Apakah kamu masih mencintai Juneidi?"
__ADS_1
"Aku sudah tidak mencintai dirinya."
"Terus karena kenapa?"
"Terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah."
"Ai, udah empat bulan lebih kita menjalin asmara. Bagiku itu sudah cukup waktu mengambil keputusan untuk menikah. Kamu sudah kenal dekat sama papi Rogen, papi Billy dan mami Renata, bahkan mami Clara sudah merestui hubungan asmara kita."
Sarah melepaskan genggaman tangannya El, lalu merubah posisi tubuhnya menghadap ke langit yang cerah. Dia memejamkan kedua matanya. Memikirkan bagaimana caranya memberi tahu ke El tentang kondisi keluarganya sekarang yang penuh dengan masalah. Sarah tidak mau merepotkan El yang sudah sangat baik sama keluarganya sehingga membuat Rogaya berubah. Rogaya sudah memperlakukan Sarah dengan sangat baik karena El selalu memberinya uang.
"Sebenarnya ada apa?" tanya El sedikit khawatir.
"Saat ini keluargaku sedang banyak masalah. Nyak Babe banyak hutang, aku ingin membayar semua hutangnya dari uang gajiku karena itu aku belum bisa mengumpulkan uang untuk pernikahanku. Semalam Mariana diusir dari rumah sama Babe karena ketahuan hamil. Ayah dari anak yang dikandung Mariana adalah sugar daddynya Mariana. Sampai sekarang Babe bawaannya marah melulu karena kelakuan Mariana. Makanya itu aku mengajakmu ke sini untuk refreshing. Aku melarang kamu datang ke rumahku karena aku takut jika kamu datang ke rumahku, kamu kena semprotan Babe. Aku ingin menyelesaikan masalah keluargaku dulu, baru aku memikirkan masa depanku."
"Aku akan membayar semua hutang orang tuamu dan aku akan menghibur Babe supaya dia tidak marah - marah terus dan melupakan kelakuan jeleknya Mariana."
"Terima kasih El. Tapi aku tidak mau merepotkanmu lagi karena selama ini kamu terlalu baik sama keluargaku. Tolong hargailah keputusanku."
"Baiklah kalau itu maumu, aku akan menunggu jawabanmu," ucap El datar, lalu dia merubah posisi tubuhnya menghadap langit biru.
Sarah menegakkan badannya, lalu menoleh ke El dan berucap, "Aku mau lihat foto - foto kita."
El menegakkan badannya, lalu mengeluarkan tali kamera dari lehernya. Memberikan kamera itu ke Sarah. Sarah tersenyum manis ke El sambil menerima kamera itu. Sarah mengutak - ngatik kamera untuk melihat hasil bidikan El. Sarah tercengang melihat banyak sekali foto dirinya. El merebahkan kembali badannya, lalu memandang langit biru lagi.
"El, siapa yang mendirikan taman Teijsmann di kebun raya ini?" ucap Sarah sambil melihat foto candid dirinya ketika berada di sebuah taman yang dibangun pada tahun seribu delapan ratus delapan puluh empat.
"Doctor Melchior Treub," ucap El datar.
Sarah merasa jika El sedang kesal sama dirinya sehingga dia menaruh kamera itu di atas tikar. Sarah menoleh ke El yang sedang menatap langit dengan wajah yang datar. Sarah mendekatkan wajahnya ke wajahnya El. Perlahan Sarah membuka kacamata El. El memejamkan kedua matanya karena silau.
"Kamu marah ya?" tanya Sarah lembut.
"Nggak juga."
"Masa sich?" bisik Sarah sambil memeluk badannya El
"Ai, kamu sekarang udah mulai berani mesra ya?" ledek El.
__ADS_1
"Nggak juga. El, aku nggak bermaksud untuk melukai dirimu dan menolak keinginanmu. Tapi aku ingin menyelesaikan masalah itu dengan kemampuanku sendiri.