Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Diserang


__ADS_3

"Kok mobilnya berhenti Lee?" ucap Sarah setelah dia bangun dari tidurnya.


"Eh, kamu udah bangun. Iya, kayaknya ada ban yang kempes. Mau ganti ban dulu," ucap Lee sambil menarik tuas pintu kemudi mobilnya.


Tak lama kemudian Lee keluar dari dalam mobil tanpa menutup mobil. Berjalan memutar mengelilingi mobilnya. Ketika hendak memeriksa ban belakang, Lee dihadang dua belas orang pria sambil membawa senjata tumpul. Lee memasang posisi siap siaga. Rombongan itu berhenti tiga meter dari tempat Lee berdiri. Salah satu dari mereka maju selangkah.


"Mana Sarah?" ucap pria itu ketus.


"Ada urusan apa anda sama Sarah?"


"Itu bukan urusan elu!" ucap pria itu kesal.


"Ternyata anda lebih dari banci," ucap Lee tenang.


"Maksud elu?"


"Anda hanya berani sama perempuan. Jika kalian menginginkan Sarah, langkahi dulu mayat gw," ucap Lee serius.


"Nich orang nantangi!" ucap pria itu ketus.


"Ada apa Ric?" ucap Sarah sambil berjalan menghampiri mereka.


Waduh ngapain juga Sarah keluar dari dalam mobil.


"Eh, ada Nona cantik baru nongol. Gw mau elu gantiin Mariana di dalam hidup gw. Hidup gw susah gara - gara Babe elu ngusir Mariana!"


"Maaf, aku nggak mau, aku sudah punya calon suami."


"Alah, elu sama aja kayak Mariana suka gonta - ganti cowok. Sama murahannya. Pantesan si Juned ninggalin elu. Setelah Juned pergi, ama si El, sekarang entah sama siapa," ucap Ricky.


"Tolong dijaga ucapan anda Tuan Ricky yang terhormat," ucap Lee serius.


"Elu dikasih berapa ronde setiap malam sama Sarah?"


"Ricky!" bentak Sarah.


"Elu mau ikut gw apa kaga?" ucap Ricky serius.


"Nggak." ucap Sarah dengan lantang.


"Sepertinya dia ingin main kasar. Ayo serang!"


Tak lama kemudian Ricky dan pasukannya menyerang Sarah dan Lee. Lee dan Sarah memasang kuda - kuda. Dengan tangkas dan lihai, Sarah dan Lee melawan serangan mereka yang bertubi - tubi. Tiba - tiba ada yang menendang kakinya Lee dari belakang ketika Lee lengah hingga Lee tersungkur. Sarah melihat kejadian itu, langsung menendang memutar ke arah para lawan yang menyerang Sarah sehingga para lawan Sarah kalah telak.


Sarah langsung berlari, dan melawan dua orang yang mau menyerang Lee. Tanpa menunggu aba - aba lagi, dengan kecepatan kilat Sarah berlari, melompat dan menendang ke arah kepala kedua orang itu sehingga kedua orang itu jatuh terlentang. Masih ada empat orang lagi lawan mereka. Sedangkan Lee merasa kesakitan sehingga dia tidak bisa berdiri.


"Kalau kalian lelaki sejati, satu lawan satu," ucap Juneidi serius sambil berjalan menghampiri mereka.


"Ngapain elu ikut campur urusan gw!? Urus aja bini elu!" ucap Ricky kesal.


"Aku belain Sarah karena Sarah saudaraku. Kenapa kamu menyerang mereka?" ucap Juneidi tenang.


"Cih, saudara tapi pacaran. Gara - gara keluarganya Sarah, tambang emas gw kabur dari sini! Sarah harus mau menjadi penggantinya Mariana !"

__ADS_1


"Mana sudi Sarah mau. Udah sana kalian pergi dari kampung sini! Jika kalian tidak mau pergi, aku lawan kalian semua!" ucap Juneidi sambil berdiri di samping kanannya Sarah.


"Ciee yang masih cinte ama Sarah," ledek Ricky.


"Udah Ky, sebaiknya kita kabur dari sini. Bisa berabe kalau berurusan sama Juned," ucap salah satu temannya Ricky.


"Inget Sarah! Suatu saat nanti gw culik elu!" sarkas Ricky.


Tak lama kemudian Ricky and the geng berlari kencang meninggalkan Sarah, Lee dan Juneidi menuju ke sebuah kebun. Ada beberapa temannya Ricky berlari pincang dan dua orang pingsan. Sarah berjongkok untuk membantu Lee berdiri, lalu memapah Lee. Juneidi berjongkok untuk melihat luka memar di bagian dengkulnya Lee. Juneidi memegang pelan luka itu.


"Aauuww!" pekik Lee kesakitan.


"Sarah, dia harus dibawa ke Pak Haji Latief," ucap Juneidi sambil beranjak berdiri. "Sepertinya tulang di area dengkulnya patah," lanjut Juneidi.


"Tapi kalau jam segini Pak Haji Latief udah tutup. Ya udah untuk sementara waktu, Lee nginep di rumahku aja," ucap Sarah.


"Nggak boleh nginep, aku telepon si Njar dulu," ucap Juneidi.


"Kelamaan tau! Sambil nunggu Njar, Lee di rumahku dulu, mau kukompres air hangat lukanya. Sebaiknya Bang Juned di sini aja, nungguin kedua orang itu sadar sambil kasih laporan ke Pak RT."


"Terus kalian berdua ke rumahmu naik apa?"


"Aku masih sanggup jalan dipapah," ucap Lee sambil menahan rasa sakit.


"Ya udah kalau begitu, lagi pula jarak ke rumahku dekat dari sini," ucap Sarah.


"Ok, oh ya Sar, jangan lupa kasih tahu ke El tentang kejadian ini dan luka patah di kakinya Lee," ucap Juneidi.


"Iya Bang Juned."


"Iya, kamu tenang aja Lee. Oh ya, kamu udah bawa dompet dan handphonemu?" ucap Juneidi.


"Belum. Masih ada di dalam mobil."


"Bawa aja dulu Lee, aku ambilin ya," ucap Juneidi.


"Oh ya Bang Juned, tolong sekalian tasku ya," ucap Sarah.


"Ok," ucap Juneidi.


Tak lama kemudian Juneidi berlari kecil ke mobilnya Lee yang pintunya masih terbuka. Sarah melihat rombongan beberapa pria, ada sebagian yang sudah tua sedang melangkahkan kakinya menghampiri mereka. Juneidi juga melihatnya ketika sedang mengambil sebuah dompet, handphone dan tas. Rombongan orang itu berhenti di depan Sarah dan Lee. Rombongan itu menelisik Sarah dan Lee.


"Ada apa yang telah terjadi di sini?" tanya salah satu orang dari rombongan itu.


"Kami diserang sama kelompoknya Ricky Pak, ada dua orang temannya Ricky yang masih pingsan Pak" ucap Sarah jujur.


"Ricky yang kampung sebelah dan yang pacarnya si Mariana ya Sar?" ucap yang satunya lagi.


"Iya Pak."


"Tuch anak kaga ada kapok - kapoknya berbuat masalah," ucap yang satunya lagi.


"Ya udah elu bawa aja pacar elu berobat ke Haji Latief," ucap yang satunya lagi.

__ADS_1


"Emangnya Haji Latief masih buka praktek?" tanya Sarah.


"Masih Sar, tadi ada yang berobat juga dari kampung sebelah, gara - gara dibegal sama kelompoknya Ricky."


"Kalau gitu, aku yang bawa Lee berobat ke Haji Latief," ide Juneidi sambil memberikan tasnya Sarah ke Sarah.


"Tapi Bang Juned, siapa yang melaporkan hal ini ke Pak RT dan yang membantu kita untuk mengurusi masalah ini?" tanya Sarah bingung sambil menerima tas selempangnya.


"Kamu tenang aja, aku sudah melaporkan hal ini ke Pak RT, bapak - bapak ini yang akan membantu kita," ucap Juneidi.


"Iya benar tuch Sar," ucap bapak - bapak yang satunya lagi.


"Nanti mobilnya Lee diantar sama Pak RT ke rumahmu, aku antar Lee pakai mobilku," ucap Juneidi sambil mengambil tubuhnya Lee.


"Ya udah kalau begitu. Terima kasih banyak ya Bapak - Bapak. Saya pamit pulang dulu, assalamu'alaikum," ucap Sarah sopan.


"Wa'alaikumussalam, warohmahtullahi wabarakatuh," ucap Juneidi.


Tak lama kemudian Sarah membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya. Menyusuri jalanan yang sepi. Tiba - tiba handphone milik Sarah bergetar di dalam tasnya. Sarah membuka reselting tas jinjingnya. Mengambil handphone miliknya. Dia melihat nama El di layar handphonenya. Sarah menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda itu ke telinga kirinya.


"Assalamu'alaikum, ada apa El?" tanya Sarah datar karena kecapekan.


"Wa'alaikumussalam. Ai, kamu sudah selesai lemburnya?"


"Udah. Oh ya El, tadi kami habis diserang sama kelompoknya Ricky sampai kakinya Lee patah."


"Kamu nggak apa - apa kan Ai?" tanya El panik.


"Nggak apa - apa, malah yang parah lukanya Lee. Tapi Lee langsung dibawa ke Haji Latief. Dia ahli patah tulang di dekat rumahku. Untung tadi ada Bang Juned yang datang membantu kita."


Kenapa sich si Juned selalu ada ketika Sarah sedang dalam masalah.


Batin El.


"Sebaiknya kamu telepon ke Lee, tanyain kabarnya. Dia butuh support dari kamu juga setelah mengalami masalah ini," lanjut Sarah.


"Jadi sekarang kamu sendirian?"


"Iya. Kamu nggak usah khawatirkan diriku."


"Tapi aku mau ngomong lebih lama lagi sama kamu," ucap El dengan nada suara yang manja.


"Idih, kayak anak TK yang mau minta permen. Udah dulu ah, assalamu'alaikum."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. El mendengus kesal sambil menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. El menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Edward. Lalu mendekatkan benda pipih itu lagi ke telinga kirinya.


"Hallo Ed, tolong beliin tiket pesawat malam ini juga!" titah El ketika sambungan telepon itu dijawab oleh Edward.


"Hah!? Gila elu yak! Ini udah jam setengah sebelas malam, lagi pula besok pagi elu harus ketemu sama orang - orang dari pemda Malang."


"Elu yang gantiin gw nemuin mereka."


"Emang ada apa sich mendadak begini?"

__ADS_1


"Sarah habis diserang."


__ADS_2