
"Aakkhhh Ai aaakkkhh ...."
"Mmmppphhh ...."
"Faster Ai ... aaakkkhhh ...."
Menambahkan kecepatan hentakan demi hentakan penyatuan inti tubuh mereka yang menyalurkan birahi mereka hingga tubuh mereka bergetar hebat. Suara decitan tempat tidur yang besar di dalam kamar sebuah villa milik Regina menggema karena getaran dahsyat dari penyatuan inti dua orang yang sedang memuaskan nafsu mereka. Regina mempercepat tempo gerakan pinggulnya di benda pusaka milik El hingga mencapai puncak kenikmatan.
"Aaakkkhhh ...."
"Aaakkkhhh ...."
Erangan mendesah dengan sensual dari bibir mereka secara bersamaan telah menandakan pencapaian yang sangat nikmat. Tubuh idealnya Regina menindih tubuh kekarnya El dengan menggunakan kedua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah. Helaan nafas mereka terengah - engah saling bersahutan. El membuka kedua matanya sambil mengatur nafasnya supaya stabil.
"Kamu mau lagi?" tanya Regina dengan nada suara yang sensual sambil membelai wajah gantengnya El.
"Tidak, bisakah kamu melepaskan penyatuan kita?"
"Kenapa kamu buru - buru menyelesaikan hubungan intim kita?"
"Aku ingin segera menemui wanita yang aku cintai."
"Kalau kamu cinta dama dia kenapa kamu bermain api sama diriku?"
El tersenyum sinis, lalu berucap, "Kamu hanya sebatas pemuas kebutuhan biologisku saja, aku berhubungan intim samamu tidak pernah memakai rasa, hanya nafsu belaka. Lagi pula kamu kan seorang pelacur, aku nggak mau memiliki perasaan cinta dan memiliki hubungan yang spesial sama dirimu."
"Percuma dong kamu punya pacar, tapi tidak bisa memuaskan dirimu," ujar Regina datar sambil melepaskan penyatuan mereka.
"Dia tidak mau berhubungan intim sebelum menikah," ucap El sambil menggerakkan tubuhnya ke tepian tempat tidur.
"Pemikiran yang kuno."
"Dia sangat memegang ajaran agamanya," ucap El sambil beranjak berdiri.
"Kamu mau aja pacaran sama cewek yang memiliki pemikiran seperti itu."
"Justru itu yang aku cari," ucap El sambil membuka ****** dari inti tubuhnya.
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi, sepi. Kau seperti nyanyian dalam hatiku. Yang memanggil rinduku padamu. Seperti udara yang kuhela kau selalu ada. Kau seperti nyanyian dalam hatiku. Yang memanggil rinduku padamu. Seperti udara yang kuhela kau selalu ada. Kau selalu ada. Kau selalu ada. Kau selalu ada. Kau selalu ada.
Bunyi dering dari smartphone milik El ketika El membuang ****** ke tempat sampah. El langsung berjalan cepat ke nakas sebelah kanan tempat tidur. Mengambil smartphone miliknya. Dia tersenyum senang ketika melihat tulisan My love di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum El, kamu di mana?" ucap Sarah panik karena ketika dia bangun tidur sudah tidak ada El di sampingnya.
"Wa'alaikumussalam, aku di hotel. Kamu kangen ya sama aku?" ucap El sedikit meledek.
"Nggak, aku cuma khawatir aja. Kamu semalam tidur di hotel?"
"Iya, aku udah nggak kuat lagi tidur di samping kamu tanpa melakukan making love," ucap El sambil merasakan sentuhan sensual tangan Regina di inti tubuhnya
"Ih kamu, pagi - pagi udah mesum aja."
"Aakkhh ..." ucap El spontan ketika tangan Regina meremas sensual benda pustakanya.
"Kamu kenapa El?" ucap Sarah panik.
"Nggak kenapa - kenapa, udah dulu ya, aku mau mandi dulu," ucap El terburu - buru sambil menahan nafsu birahinya.
"Iya, setelah itu ke sini ya, jadi kan pagi ini kita beli oleh - oleh?"
"Jadi, biar aku aja yang pergi beli oleh - oleh, kamu istirahat aja dulu."
"Iya."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Sarah menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menaruh handphonenya di tempat semula. Merapikan perlengkapan sholatnya. Melangkahkan kakinya untuk menaruh perlengkapan sholatnya di tempat semula. Sarah mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar.
"Sebuah kamar yang benar - benar spesial untuk diriku," ujar Sarah senang.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
"Assalamu'alaikum, hallo Munah, ada apa?"
"Wa'alaikumussalam, eh Sar elu kapan balik ke Jakarta?"
"Nanti sore, emangnya kenapa?"
"Semalam gw lihat si Markonah di warung nasi. Dia mencaci maki Nyak ame Babe elu sampai Nyak elu menangis. Gw telpon elu, nomor handphone elu nggak aktif. Se RT pada heboh lihat si Markonah marah - marah ke Nyak dan Babe. Dan ternyata benar dugaan si Mei - Mei bahwa si Markonah itu sugar baby dari pria tua yang waktu kita ketemu di kafenya El. Elu masih ingat kagak?" cerocos Maimunah.
"Iya, si Mariana kenapa marah - marah ke Nyak?"
"Yang gw denger, karena si Mariana bukan anaknya Babe Rojali. Nyak elu selingkuh sampai hamil, Nyak elu ngebohongi elu semua."
"Terus Babe gw gimana!?"
"Babe elu ... dibawa ke rumah sakit lagi."
__ADS_1
"Kok aku nggak dikasih tahu berita seperti ini?!"
"Eh, dari semalam gw hubungi elu susah banget dach. Makanya tadi habis sholat subuh, gw langsung telepon elu lagi. Udah elu buruan pulang, jangan pacaran melulu."
"Siapa juga yang pacaran."
"Lah emangnya kalian kagak jadi candle light dinner?"
"Jadi, siapa yang bawa Babe gw?"
"Si Juned, Babe elu dibawa ke rumah sakit Pasar Rebo lagi. Kalian ngapain aja selain candle light dinner?"
"Nggak ngapain - ngapain, udah dulu ah, gw mau nelpon El dulu."
"Emangnya El ke mana?"
"Dia nginep di hotel."
"Kenapa nginep di hotel?"
"Karena di villanya cuma ada kamar satu, yang lainnya belum jadi. Jadi si El tidur di hotel. Udah dulu ah, assalamu'alaikum," ucap Sarah.
Tak lama kemudian Sarah menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Memencet tombol ikon hijau untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menyentuh beberapa tombol untuk menelpon El. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya. Mendengar nada sambung beberapa kali, tapi nggak diangkat - diangkat.
"Lagi sholat kali," ujar Sarah.
Tak lama kemudian Sarah menyentuh beberapa tombol untuk mengirim pesan ke El. Setelah pesan itu terkirim, Sarah meletakkan handphone miliknya di tempat semula. Melangkah kakinya ke lemari. Membuka pintu lemari. Mengambil koper miliknya dan koper milik El.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering panggilan telepon yang berasal dari handphonenya Sarah. Sontak Sarah berlari kecil ke nakas sebelah kanan tempat tidur. Mengambil handphone miliknya. Melihat nama El di layar handphonenya. Memencet ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya lagi.
"Hallo assalamu'alaikum Ai, aku langsung pulang sekarang, kamu tunggu aku dulu ya, jangan ke Jakarta sendirian," ucap El khawatir.
"Wa'alaikumussalam, iya El."
"Aku langsung ke villa, bye Ai," ucap El terburu - buru.
Tak lama kemudian El menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kanannya. Menaruhnya di tempat semula. Memegang kembali kepalanya Regina yang masih memanjakan benda pusakanya. Merasakan kenikmatan seksual yang mampu untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya.
"Faster Ai aakkhhh ...," ucap El sambil memejamkan kedua matanya.
Keringat peluh membasahi tubuh mereka lagi. Regina dengan gerakan cepat dan sensual memberikan servis yang tak bisa dilupakan oleh El. El benar - benar menikmatinya sehingga cairan kental muncrat ke dalam mulutnya Regina, lalu Regina menelannya. Regina menjauhkan wajahnya dari pesawat tempur milik El.
__ADS_1
Mengarahkan wajahnya ke atas sambil tersenyum menggoda ke El. El melepaskan kedua tangannya Regina dari pesawat tempurnya. Menjauhkan tubuhnya dari Regina, lalu melengos pergi ke kamar mandi tanpa mempedulikan keberadaan Regina. Regina tersenyum sinis melihat El yang kembali cuek terhadap dirinya setelah El menelpon Sarah dan setelah pelampiasan seksnya terpenuhi.
"Tidak ada kesetiaan di dunia ini."