
Waktu terus bergulir mengiringi roda bis yang ditumpangi oleh Sarah di wilayah elit gedung perkantoran. Hari ini Sarah akan mengikuti test psikotes dan tertulis di sebuah perusahaan design dan kontraktor. Dia melamar sebagai arsitek, sebuah pekerjaan yang sangat dia inginkan. Sarah terkejut melihat sosok El yang sedang membantu seorang ojol yang sedang terjatuh melalui jendela bis.
Sarah melangkah ke pintu bis dengan pelan - pelan karena berdesakan dengan penumpang bis yang lainnya, lalu berucap ketika berada di dekat pintu bis, "Halte Panin Tower ya Pak."
"Baik Neng," ucap kondektur.
"Halte Panin Tower! Halte Panin Tower! Siap - siap yang mau turun!" teriak kondektur.
Tak lama kemudian bis yang ditumpangi oleh Sarah berhenti di depan halte. Sarah dan beberapa penumpang yang lainnya turun dari bis. Sarah melangkahkan kakinya ke IR Tower yang letaknya tak jauh dari Panin Tower. Sarah melihat kagum sisi kanan kiri jalanan dihiasi gedung pencakar langit dan taman yang tertata dengan apik. Melihat takjub eksterior bangunan IR Tower yang didominasi dengan kaca - kaca besar.
Sarah masuk ke dalam pekarangan tower. Melihat pekarangan tower yang dihiasi dengan taman dan beberapa mobil mewah. Masuk ke dalam lewat pintu keamanan dan pintu utama tower. Alangkah takjubnya Sarah melihat interior tower. Tower yang bergaya minimalis modern. Sarah melangkahkan kakinya menghampiri bagian informasi.
"Permisi, selamat siang Bu," ucap Sarah sopan ke salah satu perempuan yang bekerja di bagian informasi.
"Selamat siang juga, ada yang bisa saya bantu?" ucap perempuan itu sopan.
"Ruangan test psikotes dan tertulis untuk seleksi karyawan baru di mana ya Mbak?" ucap Sarah.
"Di lantai dua belas ya Mba. Boleh minta kartu identitasnya? ucap perempuan itu sopan.
"Boleh, tunggu sebentar ya," ucap Sarah.
Tak lama kemudian Sarah membuka reselting tas jinjingnya untuk mengambil dompetnya. Membuka dompetnya, lalu mengambil kartu identitasnya. Memberikan kartu identitasnya ke perempuan itu. Perempuan itu menerima kartu identitasnya Sarah, lalu memberikan kartu tamu ke Sarah. Sarah menerimanya, lalu mengalungkan kartu tamu.
Dua orang wanita yang bekerja di bagian informasi beranjak berdiri, lalu berucap sopan, "Selamat siang Pak Rifky."
"Selamat siang. Apakah Pak Rogen sudah datang?" ucap Rifky sopan.
"Belum datang Pak," ucap salah satu wanita yang bekerja di bagian informasi.
"Terima kasih infonya," ucap Rifky sopan.
Tak sengaja Rifky menoleh ke Sarah yang sedang fokus melihat handphonenya. Rifky mengerutkan dahinya ketika memperhatikan wajahnya Maysaroh. Ada gelayar aneh mengalir lembut ke seluruh tubuhnya ketika menelisik wajahnya Maysaroh. Entah perasaan apa itu.
Wajahnya mirip sekali sama Nisa.
Batin Rifky.
"Assalamu'alaikum Tuan Besar," sapa El yang membuat Sarah terkejut.
Kenapa ada El di sini?
Batin Sarah.
Karena lagi tidak ingin bertemu dengan El. Diam - diam Sarah melangkahkan kakinya menjauh dari bagian informasi tanpa memperlihatkan wajahnya ke El. Sarah berjalan cepat ke tempat duduk yang berada di lobby tower. Duduk di kursi yang menghadap ke taman. Memandang tanaman yang beraneka warna dan yang ditata dengan apiknya sehingga indah dipandang.
"Hallo Sarahku," sapa El yang membuat Sarah menoleh ke dirinya.
Yah ketahuan dech.
Batin Sarah.
"Kenapa kamu menghindar dariku?" ucap El serius sambil menduduki tubuhnya di kursi depan Sarah.
"Aku tidak menghindar," ucap Sarah datar untuk menutupi kebohongannya.
"Masa sih, tadi aku lihat kamu menghindar dariku."
"Aku lagi malas nemuinmu," ucap Sarah datar.
"Kenapa?"
"Aku kesal sama kamu!" ucap Sarah ketus.
__ADS_1
"Kenapa kamu kesal sama aku?"
"Kamu tidak membuka kunci pintu mobil sehingga membiarkan aku di dalam mobil ketika kamu ganti baju. Karena itu orang yang melihatnya jadi salah paham! Bukan hanya itu aja, aku digunjingkan, jadi bahan gosip para tetangga dan kita diharuskan untuk membuat pernyataan di depan umum!" ucap Sarah sinis
"Kamu tenang aja, aku akan menyelesaikan masalah itu. Aku punya saksi dan bukti untuk menguatkan alibi kita."
"Siapa dan apa?"
"Maimunah dan hasil tes keperawanan kamu."
"Waktu itu, Maimunah belum ada."
"Tapi kan dia melihat apa yang kita lakukan dari kaca mobil. Kapan kamu ditest keperawanannya?"
"Setelah ini, aku langsung ke rumah sakit."
"Hallo El, sepertinya kalian sudah saling mengenal," ucap Rifky ramah sambil berjalan menghampiri mereka.
"Eh, ada Tuan Besar," ucap El sopan.
"Kamu mah kebiasaan panggil Om Tuan Besar, panggil aja Om," ucap Rifky sambil menduduki tubuhnya di sofa samping kirinya El.
"Iya Om, habisnya udah kebiasaan," kilah El.
"Dia teman kamu El?" tanya Rifky sambil menoleh ke El.
"Iya sich, tapi nanti jadi pacarku Om. Menurut Om kami cocok?"
"Ehmmm ... sepertinya kamu lebih cocok sama Flo."
"Ah Om sama aja kayak Papi dan Mami selalu ngompori aku jadian sama Flo. Aku nggak cinta sama Flo Om. Aku cinta sama dia."
"Tapi kan itu demi keluargamu El."
"Siapa namamu Nak?" tanya Rifky sopan sambil menoleh ke Sarah, lalu Sarah beranjak berdiri.
"Sarah Pak," ucap Sarah sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke Rifky.
Rifky berdiri, lalu membalas uluran tangan kanannya Maysaroh untuk berjabat tangan dan berucap, "Kamu janjian ketemu sama El di sini?"
"Enggak Pak, saya ke sini mau mengikuti test psikotes dan tertulis," ucap Sarah sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangannya Rifky.
"Kok kamu nggak bilang sama aku?" protes El.
"Menurutku nggak perlu," ucap Sarah sambil menduduki tubuhnya di tempat yang semula.
"Kamu ngelamar sebagai apa?" tanya Rifky sambil duduk di tempat semula.
"Arsitek Pak."
"Lulusan apa?
"Teknik arsitektur UI pak."
"Kalau gitu kamu nggak usah mengikuti test, kamu tinggal masuk aja," ucap Rifky serius.
"Terima kasih Om," celetuk El.
"Maaf Pak, saya tidak bisa menerima tawaran Bapak. Saya tetap ingin mengikuti jalur yang biasa aja Pak."
"Benaran kamu ingin mengikuti test itu?"
"Iya Pak," ucap Sarah yakin.
__ADS_1
"Bagus, kamu punya pendirian yang kuat," ucap Rifky senang.
"Tapi Om dia tetap lulus kan?" tanya El sambil menoleh ke Rifky.
"Tergantung hasil testnya El," ucap Rifky serius.
"Semoga kamu lulus ya Sarah," ucap El serius.
"Aamiin," ucap Sarah pelan.
"Assalamu'alaikum," salam Rogen sambil berjalan menghampiri mereka sehingga mereka menoleh ke dirinya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Rifky sambil mengulurkan tangan kanannya ke Rogen.
"Gimana kabarmu sobat?" ucap Rogen ramah sambil membalas uluran tangan kanannya Rifky, lalu mereka berpelukan.
"Alhamdulillah baik, kamu gimana kabarnya Bro?" ucap Rifky sambil melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah baik juga," ucap Rogen sambil melepaskan pelukannya.
"Sepertinya kamu tambah sholeh aja," ucap Rifky senang sambil melihat Rogen yang memakai baju gamis dan kopiah.
"Iya, tadi aku habis dari pengajian di masjid Sunda Kelapa, terus langsung ke sini."
"Aku sungguh senang mendengarnya," ucap Rifky senang.
"Assalamu'alaikum Om Rogen," sapa Sarah sopan sambil berdiri, lalu menyalim Rogen.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Neng Sarah," ucap Rogen sopan.
"Kamu kenal dia Gen?" tanya Rifky sambil menoleh ke Rogen.
"Iya, dia masih saudaranya Engkong Abdullah."
"Pantesan kalian saling kenal."
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rogen sambil menoleh ke Sarah.
"Saya mau mengikuti test psikotes dan tertulis Om," ucap Sarah sambil menduduki tubuhnya di tempat semula.
"Kamu ngelamar sebagai arsitek?"
"Iya Om."
"Udah Ky, langsung terima aja. Hasil rancangan rumahnya bagus - bagus. Aku pernah minta dia ngerancang villa untuk renovasi villaku di Sukabumi. Hasilnya sangat memuaskan," ucap Rogen sambil menoleh ke Rifky.
"Tanpa kamu minta, tadi aku sudah menawarkannya, tapi dia menolaknya. Dia adalah wanita yang mempunyai pendirian yang kuat Gen. Aku yakin dia lulus," ucap Rifky serius.
"Permisi Om, Pak, El, saya mau ke ruang test dulu," ucap Sarah sopan sambil beranjak berdiri.
"Iya silakan," ucap Rifky.
Tak lama kemudian Sarah berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya. El memperhatikan gerak - gerik Sarah hingga Sarah menghilang dari pandangan El. Rogen melihat ada cinta di kedua matanya El ketika El memandang Sarah. Rogen sangat memahami rasa cinta El ke Sarah. Dia menepuk bahu kanannya El dengan penuh kasih sayang.
"Sebaiknya kamu berpikir dulu untuk menjalin hubungan asmara sama Sarah," ucap Rogen lembut.
"Untuk sekarang ini aku lagi pendekatan dulu sama Sarah Pi," ucap El serius.
"Menurut Papi, sifatnya mirip sama sifatnya Irene."
"Masa Pi?"
"Iya, sama - sama memiliki pendirian yang kuat."
__ADS_1