Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Takut Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Dilike ya guys 😊


Dikomen ya guys 😁


Divote ya guys 😊


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Secara perlahan kedua kelopak netra milik Sarah terbuka. Mengerjapkan kedua matanya, lalu menguceknya untuk mengadaptasi pantulan sinar temaram lampu kamar yang menyeruak masuk menembus kornea kedua matanya. Setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna, Sarah mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan.


Sarah melihat Maimunah sedang terlelap tidur di atas karpet. Dia berdiri dari tempat tidur pasien. Berjalan pelan menghampiri Maimunah. Menduduki tubuhnya di samping kanannya Maimunah. Sarah menyeringai iseng ketika melihat Maimunah yang sedang terlelap dengan mulut yang terbuka dan mendengkur. Sarah mengambil smartphone milik Maimunah. Menyentuh beberapa ikon untuk memotret Maimunah. Memposisikan kamera smartphone di depan wajahnya Maimunah.


Cekrek


Sarah memotret Maimunah dalam keadaan tidur terlelap. Sarah menyentuh beberapa ikon untuk mengirim foto itu ke Zarkasih sambil tersenyum jahil. Menulis caption iseng di bawah foto itu, lalu mengirim foto itu ke Zarkasih. Pintu kamar perawatan Sarah terbuka. Sarah menoleh ke pintu sambil menaruh smartphone milik Maimunah di tempat semula.


Dia melihat sosoknya Amstrong yang sedang menutup pintu dengan hati yang berdebar - debar. Sarah tersenyum sopan ke Amstrong yang sedang berjalan menghampiri dirinya sambil membalas senyuman Sarah. Sarah menggoyang tubuhnya Maimunah supaya Maimunah bangun dari dunia mimpinya, tapi usahanya sia - sia. Amstrong berhenti di depan Sarah.


"Assalamu'alaikum," salam Amstrong pelan.


"Wa'alaikumussalam," balas Sarah dengan hati yang masih berdebar.


"Mas Dafa sudah datang?"


"Belum. Ams udah punya janji ketemuan sama Mas Dafa?"


"Belum, aku kira di sini ada Mas Dafa. Oh ya, kamu pernah ngajar di daerah Mustika Jaya?"


"Iya, memangnya ada apa ya?" ucap Sarah sedikit khawatir.


"Dika, anak yang kemarin aku temui, ternyata dikurung di sebuah gudang daerah Mustika Jaya. Dia ingatnya, setiap pagi dan sore di gudang itu banyak sekali anak - anak kecil yang lagi ngumpul, gudang itu berada di sekitar wilayah perkampungan kumuh daerah Mustika Jaya. Kamu pernah dengar nama pemilik gudang itu?"


"Ehmmm ... kalau nggak salah Pak Trisno. Memangnya para warga tidak memberi tahu soal itu?"


"Nggak, mereka semua pada bungkam. Di interogasi sama polisi pun mereka masih bungkam."


"Oh ya, siapa orang tua dari anak itu?"


"Belum diketahui, dia masih belum bisa bicara lancar. Karena itu polisi menginterogasinya secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi kesehatannya. Kamu ngajar apa di sana?"


"Berhitung dan menggambar. Tapi sudah setahun lebih aku sudah tidak mengajar lagi di sana."


"Kenapa?"


"Karena aku mempunyai masalah dengan ketua preman di sana, nama ketua preman itu adalah Pak Trisno. Karena itu pula, nyawaku, El, keluarga kami terancam dan sekolah tempat ku mengajar ditutup."


"Ada masalah apa kamu sama dia?"


"Waktu itu, aku mau mengajar di sana, tapi anak - anak muridku malah dipaksa untuk bekerja, padahal organisasi kami dan mereka sudah menyepakati perjanjian di atas materai, bahwa setiap pagi anak - anak itu harus belajar. Mereka telah melanggar perjanjian itu. Aku sebagai perwakilan organisasi menegur mereka, tapi mereka tidak menggubrisnya dengan alasan pemasukan mereka berkurang karena anak - anak belajar di tempatku mengajar dan waktu belajar telah menyia - nyiakan kesempatan mereka untuk mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. Akhirnya aku sama mereka berkelahi.


"Kamu pernah ketemu sama Pak Trisno?"

__ADS_1


"Sudah tiga kali saya ketemu sama dia sebelum perkelahian itu."


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi dering dari smartphone milik Maimunah. Sontak Maimunah terbangun dari tidurnya. Maimunah mengerjapkan kedua matanya, lalu menguceknya. Setelah kedua matanya terbuka sempurna, Maimunah gelagapan ketika melihat sosok Amstrong yang sedang berdiri di hadapannya. Sarah tertawa kecil melihat Maimunah salah tingkah di depan Amstrong.


"Terima kasih atas informasinya, aku pamit pulang, assalamu'alaikum," ucap Amstrong sopan.


"Wa'alaikumussalam," ucap Sarah sopan ketika Maimunah menyambar smartphone miliknya.


Sedetik kemudian Amstrong berbalik. Melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Maimunah salah menyentuh ikon di layar smartphonenya sehingga panggilan telepon itu ditolak. Maimunah mendengus kesal ketika mengetahui yang tadi menelponnya adalah Zarkasih, kekasih tercintanya. Tiba - tiba pintu kamar terbuka ketika Amstrong hendak memegang handle pintu. Ternyata yang membuka pintu itu adalah Antony. Antony menatap tajam ke Amstrong yang sedang tersenyum ramah ke dirinya sambil mengesampingkan tubuhnya.


"Permisi," ucap Amstrong sopan ketika berjalan melewati Antony.


Antony tidak merespon ucapan Amstrong. Antony melengos masuk ke dalam kamarnya Sarah. Menutup pintu kamar, lalu melanjutkan langkahnya ke dalam kamar. Antony melihat Sarah dan Maimunah yang sedang melongo melihat kepergian Amstrong. Antony menyipitkan kedua matanya seperti seorang yang hendak ingin menyelidiki sesuatu. Antony berhenti di depan mereka.


"Assalamu'alaikum," salam Antony.


"Wa'alaikumussalam," balas Sarah.


"Kenapa kalian tadi melongo?" tanya Antony menyelidik.


"Karena kami terpana sama vampir yang guantenggg banget," celetuk Maimunah.


"Kalian masih terobsesi sama cowok itu?"


"Iya, kami masih terobsesi dengan Amstrong," ucap Maimunah spontan.


"Iya," ucap Sarah.


"Gantengan mana, aku atau dia?"


"Dia," jawab Sarah spontan.


"Kamu langsung jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama? Kamu lebih menyukainya dari pada menyukaiku?" ucap Antony dengan nada suara yang cemburu.


"Wuidihhhh, ada yang cemburu nich," ledek Maimunah.


"Aa jangan cemburu gitu," ucap Sarah datar sambil beranjak berdiri.


"Pak Antony kenapa cemburu? Padahal kan Pak Antony bukan pacarnya Sarah."


"Nggak usah bahas soal perasaan. Aa kenapa ke sini?"


"Aku ingin jemput kamu pulang dari rumah sakit."


"Nanti kan aku dijemput sama Mas Dafa."


"Tadi aku sudah minta izin sama Mas Dafa untuk ngejemput kamu pulang dari sini. Dia menyetujuinya."


"Ya udah kalau begitu. Duduk dulu A, aku mau merapikan pakaianku dulu," ucap Sarah sambil menghentikan langkahnya di depan lemari baju.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mau membahas perasaan?" ucap Antony sambil melihat Sarah yang sedang membuka pintu lemari baju.


"Bujug buneng ... elu kelewatan yak Maysaroh, foto seksi gw elu kirim ke Njar," ucap Maimunah menggelegar.


"Njar komentar apa Munah?"


"Dia bilang wow cantik banget calon bini gw, sampai - sampai lalat enggan mendekatinya," ucap Maimunah kesal.


"Hahaha ... si Njar bisa aja ngeledeki elu," ucap Sarah sambil mengambil beberapa pakaiannya.


"Lagian sich elu pake segala kirimin foto gw lagi ngorok. Iseng banget elu yak, awas aja elu yak, nanti gw isengi," celetuk Maimunah.


Kringgg ...


"Ya ampun, kenapa Nyak gw telepon," ucap Maimunah spontan sambil menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan itu, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. "Hallo, assalamu'alaikum, ada apa Nyak?"


"Elu pulang sekarang dah! Babe elu udah sekarat."


"Iya Nyak, aye pulang sekarang," ucap Maimunah panik.


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Maimunah menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di dalam tas selempang, lalu menutup reselting tas itu. Beranjak berdiri, lalu berjalan menghampiri Sarah yang sedang berdiri mematung. Tak terasa air matanya Maimunah mengalir lembut di pipinya. Maimunah memeluk Sarah dengan erat. Sarah membalas pelukan Maimunah.


"Sar, gw pulang, Babe gw lagi sekarat," ucap Maimunah sambil mengeluarkan air matanya.


"Iya, hati - hatinya," ucap Sarah sambil melepaskan pelukannya.


"Pak Antony, Munah pulang duluan, tolong jagain Sarah yak."


"Iya, kamu tenang aja."


"Assalamu'alaikum," ucap Maimunah.


"Wa'alaikumussalam," ucap Sarah.


Tak lama kemudian Maimunah berjalan cepat menuju pintu kamar sambil menangis. Menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka. Keluar dari dalam kamar. Menutup pintu kamar itu. Antony berjalan menghampiri Sarah yang sedang mengambil beberapa pakaiannya.


"Kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku?"


"Pertanyaan apa A?" ucap Sarah sambil menaruh beberapa pakaiannya di atas kasur ranjang.


"Kenapa kamu tidak mau membahas soal perasaan?"


Sontak Sarah menoleh ke Antony, lalu berucap, "Karena itu akan menyakitkan."


"Berarti benar dugaanku bahwa kamu telah jatuh cinta kepada Amstrong?"


"Iya, tapi aku tidak mau menyelami perasaan itu."


"Kenapa?"


"Karena aku takut jatuh cinta lagi."

__ADS_1


__ADS_2