
Kerlap - kerlip jutaan bintang beserta syahdunya sinar rembulan di langit malam area Cisarua Bogor yang mengiringi aktivitas para manusia pada malam hari di Cisarua Bogor. Termasuk aktivitas El dan Sarah. Mereka saat ini sedang berada di dalam mobil mewahnya El. Setelah pulang kerja mereka pergi ke villanya El yang berada di Cisarua Bogor.
Rencananya besok pagi mereka akan mencari orang tua kandung Sarah. Menurut penjelasan dari Rojali, Sarah berasal dari daerah Bogor. Waktu itu Rojali menemukan Sarah di bak mobilnya setelah pulang belanja sayuran di perkebunan daerah Tajurhalang Bogor. Makanya itu, mereka akan mencari orang tua kandungnya Sarah di daerah itu.
Keadaan malam Sabtu di Cisarua sangat hidup dengan kemacetan lalu lintas segala hiruk - pikuk dari aktivitas masyarakatnya maupun para turis. Mobil mewah itu terus melaju menyusuri jalan raya di Cisarua.
Melewati beberapa pejalan kaki di trotoar yang sedang sedang berjalan. Ada beberapa pemuda - pemudi sedang asyik memainkan alat musik dan sebagainya lagi sedang bernyanyi sambil menggoyangkan badannya.
Sarah tercengang melihat pemandangan yang memperlihatkan kehidupan malam di Cisarua dari balik jendela mobil. Baru kali ini dia melihat langsung keramaian di Cisarua pada malam hari. Ingin rasanya dia tinggal di sini supaya bisa jauh dari pergunjingan orang - orang. Sarah memanyunkan bibirnya ketika mengingat dirinya sebagai bahan gosip orang - orang yang berada di tempat kerjanya. Sudah tiga kali dalam seminggu Sarah dijadikan bahan gosip.
"Eh, Ai ku sudah bangun," ucap El sambil sekilas menoleh ke Sarah.
"Hhhmmm."
"Kamu kenapa? Dari tadi manyun terus," ucap El sambil menoleh ke Sarah.
"Aku sebal dijadikan bahan gosipan teman - teman kerjaku. Dalam seminggu udah tuga kali aku digosipin. Pertama aku digosipin suka gonta - ganti cowok sampai mereka kira aku pakai pelet. Kedua aku menikah denganmu dalam waktu dekat ini dan yang ketiga aku simpanan Pak Rifky."
"Kamu sudah klarifikasi semua gosip itu?"
"Sudah."
"Bagaimana tanggapan mereka?"
"Sebagian besar dari mereka tidak percaya sama pernyataanku," ucap Sarah sedih.
"Kamu tenang aja, nanti juga mereka semua percaya sama kamu," ucap El menyakinkan sambil mengelus punggungnya Sarah.
"Aku nggak mau kamu ikut campur untuk menyelesaikan masalah itu."
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku ingin biar waktu yang menyadarkan kekeliruan mereka."
"Ya udah kalau itu maumu."
"Oooaahmmm," Sarah menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
"Sini sandaran di pundakku kalau mau tidur lagi," ucap El.
Tak lama kemudian Sarah menyandarkan kepalanya di pundak kanannya El. El mengelus lembut puncak kepalanya Sarah hingga membuat Sarah tertidur lagi sambil melihat keadaan di luar lewat jendela mobil. Melihat mobil melewati keramaian daerah Cisarua menuju sebuah jalanan yang lebih sepi dari hilir mudik kendaraan. Pinggir jalan yang dilewati mobil itu dihiasi lampu - lampu jalan dan beberapa pohon rindang.
Roda mobil berputar dengan kecepatan yang lumayan tinggi melewati rumah - rumah penduduk, beberapa toko yang sudah tutup dan akhirnya melewati gerbang sebuah villa yang bernuansa klasik. Mobil berhenti di depan pintu utama villa itu. Supir itu menurunkan rem tangan mobil, lalu membuka kunci pintu mobil. Salah satu pelayan di villa itu membuka pintu mobil bagian penumpang.
__ADS_1
"Selamat malam Tuan Muda," ucap pelayan itu sopan sambil membungkukkan tubuhnya ke El.
El memangku tubuhnya Sarah, lalu berucap, "Malam Pak Asep."
"Mari saya bantu Tuan Muda," ucap pelayan itu yang memiliki nama Asep.
"Tidak usah, biar saya yang menggendongnya," ucap El sambil beranjak berdiri dan menggendong tubuhnya Sarah.
El berjalan masuk ke dalam villanya melewati pintu utama villa sambil menggendong tubuhnya Sarah ala bride style. Melewati ruang tamu, kamar tamu dan ruang keluarga. Menaiki beberapa anak tangga yang melingkar sambil membawa tubuhnya Sarah. Menyusuri lorong lantai dua villa itu menuju ke kamarnya. Melewati pintu kamar yang sudah terbuka. Membaringkan tubuhnya Sarah di tempat tidurnya. Mejongkokan tubuhnya agar dirinya sejajar dengan tingginya tempat tidur. Membelai wajahnya Sarah dengan penuh kasih sayang.
"Permisi Tuan Muda, tas koper anda mau taruh di mana?" tanya Adi sopan yang membawa tas koper milik El.
"Tolong taruh di nakas," ucap El sopan sambil menoleh ke Adi.
"Baik Tuan Muda," ucap Adi.
"Ada informasi lagi tentang Trisno?" tanya El sambil melihat Adi yang sedang berjalan menghampiri nakas di sebelah kanan tempat tidur.
"Belum ada lagi Tuan," ucap Adi sambil menaruh tas kerjanya El di atas nakas sebelah kanan ranjang.
"Kamu sudah menyiapkan pengawalan kami untuk besok pagi?"
"Sudah Tuan, Mereka sudah siap dari jam lima pagi," jawab Adi sambil menoleh ke El.
"Ada lima orang"
"Sudah Tuan."
"Adi tolong kamu selidiki siapa yang menjadi dalang penyebaran gosip tentang Sarah di perusahaan The IR Contractor And Design, jika kamu sudah menemui orang itu, urus dia dengan cara yang baik - baik dan bilang ke dia untuk memberikan pernyataan bahwa dirinya salah menilai Sarah di depan para karyawan perusahaan itu."
"Baik Tuan."
"Aku tunggu kabar hasil dari masalah itu secepatnya."
"Baik Tuan."
"Terima kasih. Nanti tolong pintunya ditutup."
"Baik Tuan."
Tak lama kemudian Adi berjalan menuju ke pintu kamar. Keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. El beranjak berdiri, lalu berjalan pelan ke nakas sebelah kanan. Menduduki tubuhnya di tepian ranjang. Membuka tas kopernya. Mengambil sebuah berkas tentang beberapa informasi mengenai orang tua kandungnya Sarah, lalu membaca berkas itu.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
__ADS_1
Bunyi dering dari handphonenya Sarah. El langsung menaruh berkas di dalam tas kopernya, lalu menutup tas kopernya. Dengan perlahan El mengambil handphonenya Sarah yang berada di dalam tasnya agar Sarah tidak terbangun. Melihat tulisan Babe di layar handphone. El memencet tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum Babe," ucap El sopan.
"Wa'alaikumussalam El. Sarah mana?"
"Lagi tidur Babe. Ada pesan untuk Sarah?"
"Babe baru ingat, dulu Babe suka beli sayuran di perkebunan sayuran Pak Gunawan. Coba kamu tanya Pak Gunawan, dia pernah kehilangan anaknya nggak? Sebelum ketemu Pak Gunawan, sebaiknya kamu tanya dulu sama tangan kanannya yang bernama Irman. Bilang kamu mau bicara penting sama Pak Gunawan. Dari pada kalian cari satu persatu untuk mencari orang tua kandungnya Sarah, sebaiknya cari dulu Pak Gunawan."
"Babe tahu orangnya seperti apa?"
"Babe sich sampai sekarang belum pernah ketemu sama dia, jadi Babe nggak tahu wajahnya seperti apa. Anak buah Babe juga nggak pernah tahu dan tak pernah lihat dia."
"Nanti kamu ke Pak Gunawan dulu ya, tolong sampaikan hal ini ke Sarah juga ya."
"Iya Babe," ucap El sopan.
"Terima kasih ya kalian tidak melapor ke pihak polisi mengenai masalah Babe yang tidak pernah melaporkan perihal penemuan seorang bayi perempuan."
"Iya sama - sama Babe."
"Udah dulu ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Sambungan telepon itu terputus. El menaruh handphonenya Sarah di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Memperhatikan wajah cantik nan ayu milik Sarah. Mengusap lembut pipinya Sarah. Mengecup keningnya Sarah dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Tersenyum manis karena bahagia melihat wajahnya Sarah.
"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu mencari mereka."
💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.
Di like ya
Di komen ya
Di vote ya
Di kasih bintang lima ya
__ADS_1
Di kasih hadiah ya
Love you all 😁😁😁😁😘😘😘😘