
Warna jingga cahaya mentari di cakrawala. Arakan awan menutupi sang surya di ufuk barat yang siap untuk tenggelam. Hari mulai senja menjemput mesra ketenangan malam. Angin semilir berhembus dengan lembut, melambai di penghujung hari. Burung camar beterbangan di langit senja yang menaungi hamparan luas pantai dan lautan.
Ombak bergulung-gulung dari lautan, memecah jua di bibir pantai. Deburan ombak saling bersahutan, suaranya terdengar begitu renyah. Pasir pantai yang lembut tempat memijak telapak kaki Sarah dan Juneidi. Mereka sedang berjalan menuju bibir pantai sambil menikmati keindahan alam waktu senja di tepi pantai. Berhenti di tepian pantai.
Juneidi menoleh ke Sarah yang mengenakan kemeja putih dan celana jins, lalu berucap, "Sekarang kamu boleh meluapkan rasa sedihmu di sini."
Sarah menarik nafas dalam - dalam, lalu berteriak, "KENAPA AKU HARUS BERPISAH DARI ORANG TUA KANDUNGKU!?
Ucapan Sarah telah mengejutkan Juneidi. Sarah menjatuhkan dirinya di atas pasir. Juneidi mengerutkan dahinya karena antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Sarah. Juneidi mendekatkan dirinya ke Sarah yang sedang duduk sambil menekuk kedua kakinya. Juneidi duduk di samping kanannya Sarah.
"Apakah benar yang tadi kamu ucapkan?" tanya Juneidi sambil menoleh ke Sarah.
"Iya. Ternyata Babe dan Nyak adalah bukan orang tua kandungku. Mereka menemukanku di bak mobilnya Babe," ucap Sarah sedih.
"Siapa yang bilang bahwa kamu bukan anak kandung mereka?"
"Babe. Dia menceritakan itu karena ingin hatinya plong sebelum dia dioperasi. Aku sedih harus berpisah sama orang tua kandungku, sesuatu yang berharga di dalam hidupku yang seharusnya kumiliki. Aku sangat ingin menemui orang tua kandungku. Seperti apa mereka? Dan aku sangat ingin menanyakan kenapa aku bisa berada di bak mobilnya Babe. Tapi itu tidak bisa kulakukan!" ucap Sarah, lalu dia menangis tersedu - sedu.
"Apakah karena nasab kamu tidak jelas, Abi dan Ummi tidak menyetujui aku menikahimu?"
"Huhuhu ... iya huhuhu ... kata Babe juga begitu huhuhu ... huhuhu ...."
Ya Allah kenapa ini terjadi?
Batin Juneidi.
"Kamu sudah menceritakan ini ke El?"
"Huhu ... belum huhuhu ... tadi aku telepon nomornya tidak aktif huhuhu ...."
"Kamu harus sabar menghadapi ini semua," ucap Juneidi.
Tiba - tiba langit berubah menjadi gelap. Cahaya kilat menghiasi langit gelap. Ribuan buliran air turun dari langit membasahi bumi. Juneidi dan Sarah beranjak berdiri, lalu berlari kencang untuk mencari tempat meneduh. Mereka menemukan sebuah tempat duduk yang ada atapnya. Juneidi melihat ceplakan branya Sarah dari balik kemeja putihnya yang basah ketika mereka berlari ke tempat untuk meneduh.
Mereka masuk ke tempat itu yang sudah banyak orang lain yang sedang meneduh. Juneidi langsung mendekap tubuhnya Sarah supaya ceplakan itu tidak dilihat oleh orang lain. Sarah merasakan kehangatan ketika didekap oleh Juneidi. Makanya itu dia membiarkan Juneidi mendekapnya.
__ADS_1
"Aku akan membantumu untuk mencari orang tua kandungmu," bisik Juneidi.
Dari tadi gerak - gerik Sarah sedang dipantau oleh orang suruhan El. Orang itu memotret mereka berdua menggunakan smartphone. Orang suruhan itu mengirim foto itu ke alamat emailnya El yang sedang mengetik isi dokumen milik perusahaannya. El membuka inbox emailnya. El terkejut melihat foto - foto Sarah bersama Juneidi. El menghentikan pekerjaannya karena geram.
El mengambil smartphone miliknya yang sedang di charge. Mencabut kabel chargeran dari sakelar dan smartphonenya. Mengaktifkan smartphone miliknya. El melihat ada beberapa panggilan telepon untuk dirinya salah satunya dari Sarah. El tersenyum sinis melihatnya. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi orang suruhannya itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, pantau dia terus Lee sampai jam dua belas malam," ucap El setelah Lee menjawab panggilan teleponnya.
"Ok Bang El, tapi ditambahin bayarannya," ucap Lee.
"Urusan itu gampang, nanti gw transfer."
"Sip."
Tak berselang lama El menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Dia menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Sarah. Menyentuh gambar speaker, lalu terdengar nada tidak aktif dari nomor handphone milik Sarah. El mendengus kesal sambil menaruh smartphone miliknya di atas meja. Melihat jam di arloji bermerk rolex yang melingkar indah di pergelangan tangan kanannya.
"Waktunya bertemu client dari Malang yang bernama Regina," gumam El bermonolog.
Menyimpan data yang sudah dia ketik. Memencet tombol power di keyboard laptopnya untuk mematikan laptopnya. Menutup layar laptopnya. Berdiri dari kursi, lalu menyambar jasnya. Memakai jasnya, lalu mengambil dompetnya dan smartphonenya Menaruh dompet dan smartphonenya di saku jasnya. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar yang bernuansa klasik. Membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu, lalu menariknya sehingga pintu terbuka.
Keluar dari kamar hotel yang dibangun pada tahun seribu sembilan ratus sepuluh. Menutup, lalu mengunci pintu kamar hotel yang dibuka pada tahun seribu sembilan ratus sebelas. Menaruh kunci di kantong jasnya. Melangkahkan kakinya di koridor hotel yang bergaya art Deco menuju lobby hotel. Menyusuri beberapa koridor hotel yang dirancang oleh Alfred Bidwell Akhirnya dia sampai juga di lobby hotel yang pernah diperluas.
"Hallo, selamat sore Pak El," sapa Regina lembut.
"Hallo Nona Regina, posisi anda sekarang ada di mana ya?"
"Saya baru aja sampai di lobby hotel Pak. Posisinya Pak Rafael lagi di mana ya?"
"Saya lagi berdiri di samping mobil tua, yang pakai jas hitam."
"Ok, saya samperin ya Pak," ucap Regina lembut sedikit menggoda yang mampu membius para lelaki hidung belang.
"Baiklah saya tunggu," ucap El.
"Tunggu sebentar ya Pak Rafael."
__ADS_1
"Iya."
Tak lama kemudian El menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di tempat semula. El terpana melihat seorang wanita muda sedang berjalan menghampiri dirinya. Wanita muda itu mengenakan baju model Sabrina sehingga memperlihatkan belahan dada wanita itu yang mulus. El melihat ke arah bawah. El menjadi nafsu ketika melihat kaki jenjang dan paha putih nan mulus milik wanita itu karena wanita itu mengenakan rok mini di atas lutut.
"Anda Pak Rafael?" tanya wanita itu.
"Iya."
Wanita itu mengulurkan tangan kanannya ke El, lalu berucap, "Perkenalkan, saya Regina. Panggil aja Re."
"Rafael panggil aja El," ucap El sambil membalas uluran tangan kanannya ke Regina, lalu mereka berjabat tangan.
Ternyata orangnya masih muda dan ganteng banget kayak oppa - oppa Korea. Bisa kujadikan sebagai kekasihku selain sebagai tambang emas ku. Tapi aku harus bermain lihai supaya para pesaingku mental semua.
Batin Regina.
Sepertinya dia juga seorang wanita panggilan. Aku akan melampiaskan semua nafsuku ke dia.
Batin El.
"Sebaiknya kita pindah tempat, soalnya di sini ramai," ucap Regina lembut yang menggoda yang masih berjabat tangan sama El.
Dia udah kasih kode nich. Benar dugaanku.
Batin El.
"Kita ke kamarku aja!" ajak El.
Tak lama kemudian El menarik tangan kanannya Regina. Melangkahkan kakinya menuju kamar inapnya El di hotel yang memiliki seratus empat puluh tiga kamar. Menyusuri beberapa koridor hotel yang memiliki dua lantai. Melepaskan tangan kanannya Regina ketika berada di depan pintu kamar. Mengambil kunci kamarnya, lalu membuka kunci pintu kamar itu. Menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu terbuka.
El masuk ke dalam kamar, disusul oleh Regina. El menutup pintu kamar, lalu menguncinya. El membuka jasnya, lalu melemparnya ke sofa single. Sedangkan Regina berlenggak - lenggok menuju sofa panjang. Menduduki tubuhnya di sofa panjang, lalu menyandarkan tubuhnya sambil menyilangkan kakinya sehingga sedikit memperlihatkan area paha atas yang putih dan mulus. El tergiur untuk mencicipi tubuhnya Regina.
Ingat El, kamu sudah janji sama Sarah untuk tidak melakukan hubungan intim sama seorang wanita selain istrimu. Ah masa bodo, dia juga lagi indihoy.
Kata hati El yang saling bertentangan.
__ADS_1
.