Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Aku Harus Mengikhlaskannya


__ADS_3

Langit mendung tebarkan ribuan jarum- jarum kecil. Mentari enggan bersinar di pagi hari ini. Sarah memejamkan kedua matanya yang sembab berkidung pilu. Semalaman Sarah menangis karena membayangkan rembulan menari-nari tak rela melepaskannya


di peraduan malam bermanja mesra dalam dekapnya. Pagi hari ini Ahmad Juneidi alias Juned akan melangsungkan akad nikah dan merayakan pernikahannya. Mau tak mau Sarah harus mengikhlaskan kepergian Juneidi dari hati terdalamnya.


Hubungan mereka sangat dekat sebagai sahabat, teman dan kekasih sampai Sarah susah untuk melepaskan sosok Juneidi. Dari balita hingga mereka berada di bangku sekolah menengah tingkat atas selalu bersama. Mereka pacaran sejak Juneidi memasuki sekolah menengah tingkat atas. Namun setelah Juneidi lulus sekolah menengah tingkat atas hubungan asmara mereka harus berjauhan karena Juneidi kuliah di Arab Saudi.


Tok ... tok ... tok ...


Bunyi ketukan pintu kamarnya Sarah yang mengagetkan Sarah sehingga Sarah membuka kedua matanya, lalu berucap, "Siapa?"


"Rah, ada teman kamu, namanya El," ucap Rojali dengan volume yang kencang.


"Iya Be, suruh tunggu sebentar," ucap Sarah sambil membalikkan badannya.


Melangkahkan kakinya ke meja hiasnya. Dia mempoles wajahnya dengan pelembab, bedak, asedo, perona pipi dan lipstik berwarna jingga. Menyisir rambutnya yang sedikit bergelombang. Membiarkan rambut sebahunya terurai dengan alami. Menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan supaya bisa menenangkan hatinya. Mengambil tas jinjingnya, lalu memakainya.


Melanjutkan langkah kakinya ke pintu kamarnya. Membuka kunci pintu. Setelah bunyi krek, Sarah menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu kamar terbuka secara perlahan. Berjalan lemas ke ruang tamu. Dia melihat sosok El yang sedang tersenyum manis ke dirinya. Sarah membalas senyuman manisnya El dengan senyuman yang tak kalah manisnya.


El menelan salivanya melihat sosok Sarah yang cantik alami. Dengan polesan make up natural, mengenakan kemeja turtle neck yang dimasuki ke dalam celana bahan, mengenakan ikat pinggang rajutan yang berwarna cokelat membuat El terpesona memandang Sarah untuk kesekian kalinya.


Ya Tuhan, manis sekali dirinya.


Batin El.


"Ayo kita berangkat ke pernikahan Juned!" ajak El.


"Tunggu Maimunah dan Meira dulu," ucap Sarah sambil menduduki tubuhnya di atas kursi plastik.


"Tadi Maimunah udah kirim pesan ke aku, katanya dia sudah dari tadi berangkatnya bareng sama keluarganya. Kalau Meira, tadi dia bilang datangnya nanti siang bareng sama inongnya," ucap El lembut.


"Kok mereka tidak memberi tahu soal itu ke aku sich?" tanya Sarah sedikit kesal.


Kringg ... kringgg ... kringgg ...


Tiba - tiba ada bunyi dering dari ponsel milik Sarah. Sarah membuka reselting tas jinjingnya untuk mengambil benda pipih miliknya. Dia melihat tulisan Munah di layar ponselnya. Memencet tombol hijau untuk menjawab sambungan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Assalamu'alaikum Munah, kenapa sich kamu nggak kasih tahu aku kalau kamu berangkat ke acara akad nikahnya Juned bareng keluargamu?"


"Maap Sar, tiba - tiba Nyak gw maksa ngajak gw bareng. Ini juga, gw ame keluarga gw bareng ame keluarga besarnya Juned."

__ADS_1


"Wah asyik dong elu bisa dekat sama keluarga besarnya Njar dan Juned. Jangan - jangan elu dijodohin ame Njar."


"Lah kok elu tahu? Bukannya asyik tapi nyebelin, semua ngomporin gw ame Njar biar nikah. Amit - amit dach gw nikah ame tuch anak," ucap Maimunah dengan logat lucunya.


Sarah tertawa kecil, lalu berkata, "Udah terima aja perjodohan itu."


"Auah gelap, oh ya, si Mei berangkatnya nanti siang bareng inongnya.


"Iya, aku udah tahu."


"El udeh jemput elu?"


"Udah."


"Udah elu - elu pada cepetan temani gw ame Njar!" titah Maimunah.


"Iya."


"Udeh dulu ya, gw mau turun dari bis," ucap Maimunah.


"Iya, hati - hati ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Elu kenapa sih, kaga bilang Nyak kalau elu mau dijemput ame El dan hanya pergi berduaan. Kalau tahu begini pan gw bisa ikut bareng ame elu," ucap Rogaya datar.


"Maaf Nyak, aku juga baru tahu sekarang kalau kami hanya pergi berduaan. Kalau Nyak mau bareng sama kami, ayo bareng. Kami tungguin," ucap Maysaroh.


Yah ... kok jadi begini sich. Udah dari semalam aku menginginkan pergi berduaan sama Sarah, malah jadi begini.


Gerutu El di dalam hatinya.


"Boleh kan El?" tanya Sarah lembut sambil menoleh ke Sarah.


"Eh, boleh Sar."


"Kaga usah nungguin Nyak elu, Nyak elu nanti siang aja berangkatnya bareng Babe," samber Rojali yang membuat Rogaya kesal.


Rogaya menoleh ke Rojali, lalu berucap, "Ih Abang, kok kaga boleh?"

__ADS_1


"Sesuai rencana kita berdua. Kita pergi berdua," ucap Rojali tegas.


"Rogaya pan pengen naik mobil bagus Bang! Masa kaga boleh sich! Babe sama anaknya sama aje!" ucap Rogaya kesal, lalu dia berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.


"Udah kalian berangkat duluan aje, kaga usah mikirin Nyak," ucap Rojali.


"Iya Be," ucap Maysaroh.


"Titip anak Babe ya El," ucap Rojali ramah.


"Tenang aja Be, anak Babe pasti aman bersama El," ucap El senang yang membuat Sarah menoleh ke El.


Tak lama kemudian, El dan Sarah beranjak berdiri, lalu Sarah menyalim tangan kanannya Rojali dan berucap, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawab Rojali.


El menyalim tangan kanannya Rojali. Lalu dia dan Sarah melangkahkan kakinya keluar rumah lewat pintu rumah. El mengambil payung besar miliknya. Lalu memayungi mereka berdua. El menoleh ke Sarah, Sarah juga menoleh ke El sehingga mereka beradu pandang. Sarah baru ngeh melihat kedua matanya El berbinar - binar ketika mereka saling memandang. Sarah mengalihkan pandangannya ke jalanan.


"Ayo kita berangkat!" ajak Sarah datar yang membuat El menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar.


Sedetik kemudian, El dan Sarah melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil Mercedes Benz C200 warna hitam metalik. Rojali tersenyum bahagia melihat betapa perhatiannya El terhadap Sarah. Rojali menutup pintu rumahnya. Sedangkan Sarah dan El menikmati udara dingin yang menerpa mereka. Tak sengaja Sarah terpeleset, dengan sigap El menahan tubuh idealnya Sarah dengan memeluk pinggang rampingnya Sarah. Sarah menoleh ke El.


"Kamu nggak apa - apa kan?" ucap El penuh perhatian.


Sarah langsung menundukkan kepalanya dan menegakkan badannya, lalu berucap, "Iya, aku nggak apa - apa."


Sedetik kemudian, El dan Sarah melanjutkan langkahnya. El mengeluarkan kunci mobilnya dari kantong celananya, lalu memencet tombol alarm mobil sehingga berbunyi bip, bip, bip. El membuka pintu penumpang bagian depan untuk Sarah ketika mereka berada di samping kiri mobilnya El. Sarah tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobil. Sarah langsung memakai sabuk pengaman.


El menutup pintu, lalu berjalan cepat ke kursi pengemudi. El menutup payungnya, lalu membuka pintu mobil. Menaruh payung di bagian belakang mobilnya. Masuk ke dalam mobilnya dalam keadaan basah. El menancapkan kunci mobilnya untuk menghidupkan mesin mobilnya. Mengunci semua pintu. Memasang sabuk pengaman. Menarik tuas rem tangan, lalu memasang gigi satu untuk melajukan mobilnya.


Sarah melihat langit mendung yang menjatuhkan ribuan tetesan air, semendung dirinya. Tak terasa, air mata Sarah mengalir lembut di pipinya. Sarah langsung menyekanya. Menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan berulang kali supaya bisa menghentikan tangisannya. El mengetahui hal itu. El bingung harus melakukan apa untuk menenangkan Sarah karena sikap dan sifat susah untuk ditebak. Dalam satu waktu bisa ceria, bawel dan sedih.


"Kalau kita tidak jadi pergi ke acara pernikahan Juned, juga nggak apa - apa," ucap El melenyapkan keheningan di antara mereka.


"Kita tetap pergi ke sana," ucap Sarah sedih tanpa menoleh ke El.


"Kamu yakin?" tanya El sambil menoleh sejenak ke Sarah.


"Iya aku yakin. Bagaimana pun juga, aku harus mengikhlaskannya."

__ADS_1



______________


__ADS_2