
Malam hari yang berselimutkan hujan deras tak menghalangi niat El untuk mengantar Sarah pulang. Di tengah guyuran hujan deras, mobilnya El menelusuri jalanan menuju rumahnya Sarah. Sepanjang jalan El menyetel lagu - lagu romantis untuk menghapus keheningan. Sekilas El menoleh ke Sarah yang sedang terlelap tidur dengan sedikit mendengkur. Menelusuri jalanan wilayah Condet pada tengah malam yang sunyi.
Sejak kemarin El merasakan kebahagiaan di hatinya karena Sarah menerima cintanya. El menggenggam erat telapak tangan kanannya Sarah dengan erat sehingga membuat Sarah terbangun dari tidurnya. Sarah menutupi mulutnya dengan tangan kirinya karena menguap. Sarah menoleh ke El yang sedang menyetir. Maysaroh berusaha ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangannya El, namun hasilnya sia - sia.
"Biarkan seperti ini," ucap El lembut sambil sekilas menoleh ke Sarah lagi.
Sarah mengalihkan pandangannya ke luar jendela, lalu berucap, "Kita udah sampai di mana?"
"Udah sampai di kandang monyet," jawab El lembut.
"El, boleh aku minta sesuatu?" ucap Sarah serius sambil menoleh ke El.
"Boleh, apa itu?"
"Tolong cabut gugatan kamu di pengadilan mengenai kasus pencemaran nama baik."
"Ehmmm, baiklah. Tapi kenapa kamu meminta itu?"
"Karena masalah itu sudah selesai dan aku ingin kita tidak ada dendam dengan Nyak Leha. Sebaiknya kita memaafkannya," ucap Sarah lembut.
"Kamu baik sekali, bikin aku tambah cinta aja sama kamu. Sarah, besok kita nonton bioskop yuk!" ucap El.
"Benaran besok kamu ngajak aku ke bioskop?" ucap Sarah antara percaya dan tidak percaya.
"Iya sayangku," ucap El lembut.
"Aku senang sekali akhirnya aku bisa nonton di bioskop," ucap Sarah ceria.
"Memangnya kamu belum pernah ke bioskop?"
"Belum."
"Kalau pergi biasanya ke mana aja?"
"Aku jarang bepergian, kalau ada acara penting baru keluar rumah. Kalau lagi iseng, suka pergi ke lampu merah."
"Ngapain di sana?"
"Ngamen, buat nambahin biaya kebutuhanku selama aku kuliah."
"Memangnya Babe kamu tidak memberikan uang untuk memenuhi kebutuhanmu selama kuliah?"
"Ngasih hanya untuk uang jajan, itu juga kalau nggak ditilep sama Nyak."
"Ditilep maksudnya apa?"
"Diambil tanpa sepengetahuan Babe. Nyak suka ngambil uang jajanku tanpa sepengetahuan Babe."
"Kenapa Nyak kamu suka begitu?"
"Nyak sering ngasih hukuman tanpa sebab. Salah satunya uang jajanku diambil."
"Bagaimana perlakuan Nyak kamu ke adik kamu?"
"Berbanding kebalik perlakuannya. Nyak sangat sayang sama Mariana. Bahkan aku sempat berpikir bahwa aku adalah anak angkatnya Babe dan Nyak."
"Kalau perlakuan Babe gimana?"
"Babe orangnya cuek, dia sibuk sama pekerjaannya. Dia kurang memperhatikan anak - anaknya. Perlakuan dia ke Mariana sama juga dengan perlakuan dia ke aku."
"Babe kamu kerja di mana?"
"Babe pedagang sayur - sayuran."
"Lapaknya di mana?"
"Pasar induk," ucap Sarah sambil menoleh ke El yang sedang melihat seorang bocah sedang menyeberang dengan berlari kencang sehingga membuat El ngerem mendadak mobilnya.
Nnnccciiitttt ...
__ADS_1
Tiba - tiba mobilnya El berhenti, lalu berucap, "Aku nabrak seseorang."
"Masa El?" ucap Sarah panik dengan wajah yang pias.
"Aku cek dulu," ucap El sambil menarik tuas rem tangan mobilnya.
"Tapi hujan El," ucap Sarah khawatir.
"Kamu tenang aja," ucap El menyakinkan sambil menoleh ke Sarah.
"Hati - hati El," ucap Sarah khawatir.
Tak lama kemudian El menarik tuas pintu mobil sambil mendorong daun pintu mobil hingga pintu mobil terbuka. El keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintunya. Berlari kecil ke depan mobil. El melihat seorang bocah laki - laki sedang duduk sambil menangis tersedu - sedu. El menghampiri bocah itu, lalu berjongkok di hadapan bocah itu.
"Kita ke rumah sakit yuk!" ajak El ramah, namun tidak digubris sama bocah itu.
"Maling! Maling! Maling!" teriak beberapa warga sambil berlari ke arah El.
El langsung menoleh ke kerumunan warga yang sedang berlari sambil membawa beberapa senjata tumpul. El mengalihkan pandangannya ke anak itu yang masih menangis tersedu - sedu. El mengerutkan keningnya melihat anak kecil itu. Derap langkah beberapa warga semakin jelas bunyinya dan akhirnya tidak ada suara derap langkah para warga.
"Kenapa kamu tidak memukulnya? Dia itu maling!" ucap salah satu warga.
"Kita tidak perlu memukulnya, kita bawa aja ke kantor polisi," ucap El sambil menoleh ke para warga.
"Nggak bisa gitu dong!" protes Marzuki alias Babe Juki. "Kita harus kasih dia pelajaran! Dia ngambil duit ame perhiasan bini gw!" lanjut Marzuki.
"Kita tidak boleh main hukum sendiri Pak, itu melanggar aturan hukum negeri ini Pak," ucap El sopan.
"Benar apa yang dia katakan Babe Juki," ucap Sarah yang sedang berdiri di belakang pintu mobil.
Marzuki menoleh ke Sarah, lalu berucap, "Eh ada Neng Sarah. Ya udah kita bawa aja dia ke kantor polisi."
"Udah ketangkap malingnya?" ucap Juneidi yang tiba - tiba datang menghampiri mereka.
"Udah Ned, yang nangkap temannya Neng Sarah."
"Ayo kita bawa bocah itu ke kantor polisi!" ajak salah satu warga.
"Tunggu dulu, saya mau menanyakan keadaan dia, apakah dia terluka atau tidak. Soalnya tadi nggak sengaja aku menabraknya," ucap El serius, lalu El menoleh ke anak laki itu. "Apakah kamu terluka karena paman?"
"Huhuhu ... huhuhu ... tidak Paman, huhuhu ... huhuhu ... tadi aku terjatuh bukan karena Paman, huhuhu ... tapi karena kesandung batu huhuhu ... huhuhu ...," ucap bocah itu sambil menangis.
"Ya udah kita bawa aja tuch bocah ke kantor polisi!" ajak salah satu warga.
"Saya yang bawa dia ke kantor polisi," ucap El serius sambil beranjak berdiri.
"Aku ikut naik mobilmu El," ucap Juneidi yang membuat Sarah kaget.
"Baiklah, siapa lagi yang mau ikut naik mobil saya?" tanya El sambil melihat para warga.
"Saya," ucap salah satu warga yang lainnya.
"Yang lainnya terserah, mau ikut naik mobil saya atau nggak. Ayo kita pergi!" ucap Marzuki.
Sedetik kemudian para warga membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya di tengah guyuran hujan. El membantu bocah itu untuk berdiri, lalu mereka berjalan. Sarah masuk ke dalam mobilnya El, lalu membuka pintu mobil bagian penumpang belakang. Juneidi dan Ridwan berlari kecil menghampiri mobilnya El. El memasuki bocah itu ke dalam mobil dengan hati - hati. Juneidi tersenyum sopan ke El ketika hendak masuk ke dalam mobilnya El. El membalas senyuman Juneidi.
"Ayo Pak RT masuk!" ucap El sambil menoleh ke seorang warga yang ingin ikut naik mobilnya El.
"Eh, iya," ucap pak RT, lalu dia masuk ke dalam mobilnya El.
Tak lama kemudian Pak RT masuk ke dalam mobilnya El, lalu menutup pintu mobilnya El. El berlari kecil ke bagian pengemudi mobil. Membuka mobil, masuk ke dalam mobil. Menutup pintu, lalu menurunkan tuas rem tangan. Melajukan mobilnya dengan pelan. Suasana hening di sekitar mereka.
"Nak, nama kamu siapa?" tanya El sambil melirik bocah itu dari kaca spion.
"Alang," ucap bocah itu sendu.
"Kenapa kamu mencuri uang dan perhiasan di rumahnya Pak Marzuki?" tanya pak RT.
"Karena dia telah merampas uang dan TV Babe."
__ADS_1
"Itu karena Babe kamu tidak mampu membayar hutang ke Pak Marzuki," celetuk pak RT.
"Tak bagus kamu mencuri barangnya Pak Marzuki Nak, walaupun orang itu telah merampas uang dan TV orang tuamu. Itu urusan orang tua," ucap Juneidi bijak.
"Tapi aku kasihan sama orang tuaku Pak. Dan karena itu kami tidak bisa menonton TV."
"Di mana rumahmu?" tanya El.
"Di Balekambang."
"Nama orang tuamu?"
"Joko."
"Nomor handphone orang tuamu?"
"Orang tuaku nggak punya handphone."
"Kalau kamu punya handphone?" tanya Juneidi.
"Tidak punya Pak."
"Kamu masih sekolah Dek?" tanya Sarah.
"Udah nggak sekolah Bu."
"Kenapa?" tanya Sarah kasihan.
"Orang tuaku nggak punya uang untuk biaya aku sekolah."
"Kamu punya adik?" tanya El.
"Punya."
"Berapa?" tanya Juneidi
"Ada tiga."
"Mereka masih sekolah?" tanya Sarah.
"Mereka sama nggak sekolah."
"Orang tuamu kerja di mana?" tanya El.
"Babe kuli bangunan, sedangkan Ibu jualan kue."
"El, aku boleh minta sesuatu?" tanya Sarah sambil menoleh ke El.
"Apa sayangku?" ucap El lembut sambil sekilas menoleh ke Sarah.
"Tolong kasih pekerjaan yang tetap untuk orang tua anak itu," ucap Sarah lembut.
"Baik cintaku," ucap El sambil menggenggam erat telapak tangan kanannya Sarah yang membuat Sarah canggung.
"Kapan kalian menikah?" tanya pak RT yang membuat Sarah malu.
"Masih belum tahu Pak RT, tapi aku sudah punya niat untuk menikahi Sarah."
"Sarah, kamu mencintai El?" tanya Juneidi.
Waduh aku harus jawab apa? Kalau aku jawab jujur, aku akan mempermalukan El dan membuat hatinya El terluka.
Batin Sarah.
"Iya, aku mencintainya," ucap Sarah yang membuat hatinya El berbunga - bunga.
"Apakah kalian saling mencintai?" tanya Juneidi serius.
"Iya, kami saling mencintai," ucap El yakin.
__ADS_1