
Ingat El, kamu sudah janji sama Sarah untuk tidak melakukan hubungan intim sama seorang wanita selain istrimu. Ah masa bodo, dia juga lagi indihoy.
Kata hati El yang saling bertentangan.
"Kamu mau minum apa?" tanya El yang masih terpaku di depan Regina.
"Tidak terima kasih, tadi aku sudah minum."
"Kamu ingin membicarakan apa?" tanya El sambil berjalan menghampiri Regina.
"Aku ingin kamu menambahkan pembelian di toko bangunan tempat aku kerja, tapi dengan harga yang normal tanpa nego lagi. Bagaimana? Kamu setuju?" ucap Regina lembut yang menggoda.
"Imbalannya apa?" tanya El sambil menduduki tubuhnya di samping kanannya Regina.
"Aku akan menemanimu malam ini," ucap Regina lembut yang menggoda sambil membuka tali bajunya sehingga sedikit memperlihatkan area buah miliknya.
"Kamu suka dipanggil sama seorang pria untuk memuaskan nafsunya?" ucap El sambil menoleh ke Regina.
"Ehm ... iya. Kulakukan itu semua untuk membiayai kesembuhan Ibuku dan biaya hidup kami. Dia menderita kanker tulang," ucap Regina jujur.
"Memangnya Ayah kamu di mana?"
"Dia kabur ninggalin kami berempat."
"Kamu punya dua saudara?"
"Aku punya dua orang adik yang masih sekolah."
"Kamu suka melakukan ini ke setiap client dan costumer?"
"Enggak. Hanya tertentu aja," bisik Regina dengan nada suara yang menggoda.
"Mereka biasanya suka kasih lebih?"
"Iya," ucap Regina yang terbius sama aroma tubuhnya El yang segar, manis dan maskulin. "Sekarang kita memulainya?"
El menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Regina. Regina tersenyum senang. Sedetik kemudian Regina ******* bibirnya El dengan penuh kelembutan. El membalas ciuman Regina. Mereka saling *******, menghisap, menukar Saliva, saling menautkan lidah dan saling mengabsen deretan gigi. Kedua tangan mereka saling menjelajah dari atas sampai bawah sehingga kancing kemejanya El terbuka dan tersingkapnya rok mini milik Regina.
Tapi pikiran El terpaku sama sosoknya Sarah. Hingga wajahnya Sarah membayangi kegiatannya. El tidak bisa menepis bayangan itu sejak pertama kali ketemu. Dia juga teringat sama janjinya dia kepada Sarah, tapi dia tidak ingin mempedulikan hal itu karena dia sedang marah sama Sarah. El sedang memburu nafsunya dengan menikmati tubuhnya Regina. El menghentikan kegiatannya. Nafas mereka tersengal - sengal. Tatapan mata yang dikuasai oleh hawa nafsu saling bertemu.
El membuka kemejanya, sedangkan Regina membuka bajunya sehingga dia hanya memakai dalaman. Tanpa menunggu aba - aba lagi, El merebahkan tubuhnya Regina. Mereka melakukan ciuman panas lagi. Ciuman El beralih ke leher jenjangnya Regina sambil meremas salah satu buah milik Regina sehingga Regina mengeluarkan desahannya. Setelah puas dengan leher jenjangnya Regina, mulutnya El beralih ke area salah satu buah milik Regina sambil melepaskan kaitan kulit buahnya.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering dari smartphone milik El. Sontak El menghentikan kegiatannya. El langsung menegakkan badannya, lalu berdiri untuk mengambil smartphone miliknya. Mengambil smartphone miliknya di saku jasnya. El mendengus kesal sambil melihat nama Lee di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu l. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo ada apa elu telepon gw Lee?" tanya El sedikit kesal.
"Cewek elu lagi digendong sama cowok itu."
"Damn it! Kenapa dia digendong sama cowok itu?"
"Mana gw tahu."
"Elu harus cari tahu!" ucap El marah.
"Biasa aja kali, ya udah nanti gw cari tahu."
__ADS_1
Karena kesal, Lee menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Dia menjauhkan benda pipih itu dari telinga kanannya, lalu menyimpannya di kantong jaketnya, lalu menutup reselting jaketnya. Lee berlari kencang untuk menyusul langkah kakinya Juneidi yang sedang menggendong Sarah di bawah guyuran air hujan deras. Lee menepuk bahu kirinya Juneidi sehingga Juneidi menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke Lee. Juneidi mengerutkan keningnya karena bingung melihat Lee yang sedang tersenyum ramah ke dirinya.
"Bawa aja ke villa saya Pak," ucap Lee sopan dan ramah sambil melihat wajah Sarah yang pucat basi.
"Ngapain juga saya bawa orang pingsan ke villa, saya mau bawa dia ke klinik."
"Kliniknya sangat jauh dari sini Pak. Di villa saya ada obat - obatan. Ibu saya seorang dokter," ucap Lee jujur untuk menyakinkan Juneidi.
"Baiklah di mana villamu berada?"
"Itu," ucap Lee sambil menunjuk villanya yang berada di hadapan mereka.
"Baiklah kita ke sana."
Tak lama kemudian mereka berlari di bawah guyuran hujan deras. Lee membuka pintu gerbang villanya. Mereka masuk ke dalam. Lee menutup pintu gerbang villanya. Lee memberikan kode agar Juneidi mengikuti langkahnya. Mereka masuk melewati pintu samping villa. Di dapur mereka melihat sepasang suami istri yang terkejut melihat mereka.
"Pak Lee ada apa?" ucap seorang wanita separuh baya.
"Ada yang pingsan, kamar tamu sudah siap ditempati?" ucap Lee sopan ke wanita itu.
"Sudah Tuan."
"Tolong siapkan obat - obatan untuk orang pingsan, handuk kecil, air hangat, satu pakaian wanita dan satu pakaian pria," ucap Lee ke seorang pria tua.
"Baik Tuan Muda," ucap pria tua itu.
"Bi Sum, nanti tolong kasihkan obat - obatan dan tolong gantikan pakaian wanita ini ya," ucap Lele sambil menunjuk ke Sarah.
"Baik Tuan."
"Dan satu lagi, tolong siapkan makanan untuk kita ya," titah Lee sopan sambil menatap ke wanita tua dan pria tua secara bergantian.
"Baik Tuan Muda," ucap pria tua itu.
Sedetik kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju ke kamar tamu. Mereka melewati ruang makan, lalu ruang keluarga. Sambil berjalan Juneidi memperhatikan sekelilingnya. Dia melihat sebuah salib yang berada di salah satu dinding ruang keluarga, foto keluarga dan tak sengaja Juneidi melihat fotonya Lee bersama El di atas nakas antara sofa.
Pasti Lee kerabatnya El. Mana mungkin ada orang yang ingin menolong orang yang tak dikenal.
Batin Juneidi.
Lee menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu sebuah ruangan. Juneidi juga ikut berhenti. Lee menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu itu terbuka. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar yang nyaman dan bersih.
"Taruh aja dia di atas tempat tidur," titah Lee sopan.
Sedetik kemudian Juneidi menaruh tubuhnya Sarah di atas tempat tidur, lalu berucap dengan sopan, "Kamu suruhan atau kerabatnya El ya?"
Lee kaget mendengar ucapan Juneidi sehingga dia menoleh ke Juneidi, lalu berucap, "Iya, kami bersaudara. Aku memang diminta tolong sama El untuk mengawasi Sarah selama dia berada di Malang."
"Tolong bilangin ke dia, Sarah sedang mengalami masalah yang besar dan itu berkaitan dengan masa depan hubungan mereka," ucap Juneidi serius.
"Memangnya Sarah punya masalah apa?"
"Aku tak mau dan tidak berhak mengatakan itu ke orang lain. Yang berhak untuk mengatakan itu mereka berdua," ucap Juneidi serius.
"Baiklah saya akan menelponnya," ucap Lee sambil membuka reselting jaketnya.
Mengambil smartphone miliknya yang berada di kantung jaketnya. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi El. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Nada tidak aktif dari nomor smartphone milik El. Lee mendengus kesal karena El tidak mengaktifkan nomor smartphone miliknya. Lee menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menaruhnya di kantung jaket.
__ADS_1
"Nggak bisa dihubungi ya?" tanya Juneidi.
"Iya. Mungkin dia sudah tidur karena besok pagi dia harus memantau dua proyek besar dan bertemu sama salah satu clientnya."
"Apakah dia masih suka free *** sama seorang wanita?"
"Setahuku dia sudah tidak melakukannya lagi karena dia sangat mencintai Sarah dan dia ingin menikahi Sarah. By the way kamu siapanya Sarah?"
"Saya Juneidi, saudaranya Sarah," ucap Juneidi sopan dan ramah, lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke Lee.
"Saya Lee," ucap Lee sambil membalas uluran tangan kanannya Juneidi, lalu mereka berjabat tangan.
"Panggil saya Juned aja," ucap Juneidi sambil melepaskan tangannya.
"Permisi Tuan, saya mau mengobati wanita itu," ucap Sum sambil berjalan membawa trolly.
"Pakaian prianya mana?"
Sum mengambil pakaian pria dari trolly, lalu memberikan pakaian pria itu ke Lee sambil berucap, "Ini Tuan."
"Terima kasih Bi Sum," ucap Lee sopan sambil menerima pakaian pria itu. "Ayo Juned kita keluar dari sini.
Juneidi menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Lee. Kemudian Lee dan Juneidi keluar dari dalam kamar. Pintu kamar ditutup oleh Sum. Lee memberikan pakaian pria itu ke Juneidi. Juneidi menerimanya sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih Lee."
"Iya sama - sama, kamu ganti aja di kamar sebelah," ucap Lee sambil menunjuk ke sebuah pintu.
"Iya," ucap Juneidi, lalu dia melanjutkan langkahnya ke pintu yang ditunjuk sama Lee.
Juneidi menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu kamar itu terbuka. Juneidi masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar itu. Sedangkan Lee melanjutkan langkahnya ke sebuah tangga melingkar menuju lantai dua villa itu sambil mengambil smartphone miliknya untuk menghubungi Edward. Menyentuh beberapa ikon, lalu mendapatkan benda pipih itu ke telinga kirinya sambil berjalan menaiki beberapa anak tangga.
"Hallo Ed, si El lagi ngapain sich?" ucap Lee.
"Setahu gw sekarang dia lagi menemui clientnya yang bernama Regina. Memangnya kenapa?"
"Tadi gw hubungi dia nggak bisa, nomor handphonenya nggak aktif."
"Waduh, jangan - jangan sekarang mereka lagi indihoy di dalam kamarnya El."
"Maksud elu mereka sedang berhubungan intim?"
"Iyalah, emangnya mau apa lagi? Secara si Regina cantik banget orangnya," ucap Edward polos.
"Kurang ajar sekali si El! Dia di sana lagi enak - enakan, sedangkan ceweknya lagi sakit sampai pingsan dan lagi punya masalah besar."
"Elu tahu dari mana Sarah pingsan dan punya masalah besar?"
"Tahu sendirilah. Gw kan disuruh El ngawasin Sarah."
"Ya ampun si El."
"Iya tuch sahabat elu gimana sich."
"Lah dia kan saudara elu, gimana sich."
"Iya nich, kita sekeluarga sudah berkali - kali menegurnya tapi tetap tidak mempan, tapi El pernah cerita ke gw bahwa dia tidak pernah melakukan free *** lagi sejak jadian sama Sarah.
__ADS_1
"Iya, gw juga tahu itu."
"Aku yakin sekarang dia sedang tidur atau lagi sibuk dan El tidak akan melukai lagi hati seorang wanita."