
"Aaakkkhhh ...."
Erangan mendesah dengan sensual dari bibirnya Trisan telah menandakan pencapaian yang sangat nikmat dengan sesuatu yang hangat mengalir di sana. Tubuh Trisan yang kekar menindih tubuh biolanya Sarah dengan menggunakan kedua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah. Helaan nafas Trisan terengah - engah saling. Sedangkan Sarah tidak menyadarkan dirinya karena tenaganya sudah tidak ada dayanya setelah berusaha sekuat tenaga memberontak.
Sudah dua jam lebih dan sebanyak dua ronde Trisan menggempur tubuhnya Sarah. Ada beberapa bercak darah milik Sarah terukir di seprai ranjang. Perlakuan dan sentuhan Trisan terhadap Sarah sangat brutal dan kasar. Gesekan ikatan di pergelangan tangan dan kakinya Sarah terukir dengan jelas. Kissmark pemberian Trisan ada di sekujur tubuhnya Sarah. Ketika Trisan sedang mengatur nafas yang belum stabil, smartphone milik Trisan berbunyi.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
"Mengganggu sekali," ujar Trisan sambil melepaskan penyatuannya.
Tak lama kemudian Trisan menggeserkan tubuhnya ke tepian ranjang, lalu mengambil smartphonenya yang berada di atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Dia melihat nama David yang tertera di layar handphonenya itu. Menyentuh ikon hijau untuk menerima panggilan itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo Vid, ada apa?" ucap Trisan datar.
"Tuan, kita lagi dikepung, saya sudah minta ke Roby untuk menambahkan lima bodyguard yang akan berjaga di depan pintu kamar Tuan. Saya minta Tuan bersembunyi."
"Minta ke Roby tambahkan pasukan lagi!" perintah Trisan.
"Sudah saya lakukan Tuan."
"Perketat penjagaan rumah ini, jangan sampai kegiatan saya terganggu!"
"Baik Tuan."
Tak lama kemudian Trisan menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Trisan menaruh smartphone miliknya ke tempat semula. Dia menindihi lagi Sarah yang sudah tidak menyadarkan sejak satu setengah jam yang lalu. Tersenyum smirk sambil membelai wajahnya Sarah yang pucat. Trisan tergoda lagi dengan wajahnya Sarah yang cantik sehingga ingin menjamah lagi tubuhnya Sarah.
"Kita lanjutin ya," ujar Trisan bermonolog.
__ADS_1
Sedetik kemudian Trisan kembali berkelana. Mulai dari dataran indah, dataran rendah, lembah, pegunungan dan terakhir gua. Setelah puas bermain - main menjelajahi keindahan alami, Trisan membombardir gua itu dengan senjata pamungkasnya lagi sambil menjelajahi area pegunungan. Dengan berbagai gaya Trisan membombardir gua itu. Ketika Trisan menegakkan badannya untuk mengganti gaya, tiba - tiba ada bunyi tembakan.
Dor ...
Brakkk ...
Bunyi peluru yang menembakin handle pintu kamar dan bunyi pintu yang dibuka secara paksa telah menghentikan kegiatannya Trisan. Yang menembak handle pintu kamar itu adalah Rafael. Rafael melebarkan kedua matanya ketika melihat Trisan sedang berada di atas tubuhnya Sarah. El tanpa berfikir panjang, langsung meluncurkan peluru tajam ke arah Trisan karena angkara murka.
Dor ... dor ... dor ...
Ketiga peluru itu mengenai bahu kanan, bahu kirinya dan bagian tengah badannya Trisan. Seketika badannya Trisan jatuh di atas tubuhnya Sarah. Darah segar keluar dari tubuhnya Trisan telah melumuri tubuhnya Sarah yang naked. El berjalan pelan menghampiri Trisan yang sudah tak bernyawa lagi. Karena mendengar suara tembakan dari kamar utama villa, Billy dan Lee berlari cepat menghampiri El setelah menghabisi beberapa pasukan bodyguardnya Trisan.
Billy dan Lee masuk ke dalam kamar utama itu. Mereka melebarkan kedua matanya ketika melihat tubuhnya Trisan sudah tak bernyawa lagi dan lumuran darah segar menyeruak di seprai ranjang. Dengan sigap Billy menaruh pistolnya di tempat khusus pistol, lalu mengangkat tubuhnya Trisan. Sedangkan El menatap tubuhnya Trisan dengan tatapan marah yang sangat murka. Lee menelan salivanya melihat bagian atas tubuhnya Sarah penuh dengan bercak - bercak merah dan darah.
"Lee tolong bantu Om bopong tubuhnya Trisan, kita akan membawanya keluar dari sini!" titah Billy. "El kamu urus Sarah ya," ucap Billy.
Tak lama kemudian Lee membantu melepaskan tubuhnya Trisan dari penyatuannya. Lee melebarkan kedua matanya ketika melihat **** * milik Sarah bengkak dan memerah ketika memapah tubuhnya Trisan. Tak hanya itu, area situ ada beberapa bercak darah yang posisinya tepat di bawah **** * milik Sarah. El langsung menembak kepalanya Trisan dengan sekali tembakan.
Dor ...
"Dia telah menghancurkan masa depannya Sarah Papi!" ucap El marah sambil menaruh pistolnya di tempatnya.
"Udahlah jangan berantem, sebaiknya kita bawa Trisan dan Sarah keluar dari sini," ucap Lee bijak.
Billy membenarkan ucapan Lee sehingga dia tidak mau bertengkar sama anak asuhnya. Billy dan Lee membopong tubuhnya Trisan sambil berjalan keluar dari kamar itu. El menelan salivanya berulang kali karena tergoda melihat tubuh Sarah yang naked. Antara kasihan dan nafsu bergemuruh di jiwa kelananya. El menggelengkan kepalanya berulang kali untuk menyadarkan dirinya supaya tidak melakukan hal yang senonoh.
"El, cepatan bawa Sarah keluar!" teriak Billy.
__ADS_1
"Iya Papi."
Tak lama kemudian El naik ke atas tempat tidur. Membuka ikatan kedua pergelangan tangannya Sarah. Bergerak ke arah kaki kanannya Sarah, lalu membuka ikatannya. Bergerak ke arah kaki kirinya Sarah, lalu membuka ikatannya. El mengedarkan pandangannya untuk mencari pakaian muslim milik Sarah, tapi El tidak melihat pakaian itu. Malah dia melihat sebuah selimut di atas lantai. Mengambil selimut yang tergeletak lemah di atas lantai. Tak sengaja tangan kirinya El menyentuh bukit sebelah kanan milik Sarah sehingga membuat dedenya El terbangun.
"Shittt! Dalam keadaan seperti ini, ada - ada aja godaannya," gerutu El.
Sedetik kemudian El melilitkan tubuhnya Sarah dengan selimut itu sambil menahan hawa nafsunya. Setelah selesai melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya Sarah, El turun dari tempat tidur. Mengangkat tubuhnya Sarah, lalu menggendongnya. Berjalan melewati ceceran darah segar milik Trisan, lalu keluar lewat pintu yang sudah terbuka.
Menyusuri lorong antar kamar di lantai dua villa itu. Melewati beberapa anggota kepolisian yang sedang meringkuk para anak buahnya Trisan. Menuruni beberapa anak tangga villa itu. Menelusuri lantai dasar villa itu. Melewati beberapa para karyawan Trisan yang sedang dibawa oleh pihak kepolisian. Keluar dari villa itu melewati pintu utama villa itu. Berjalan menghampiri mobilnya. Melewati beberapa anggota kepolisian.
Perlahan Sarah membuka kedua matanya, lalu berbisik lemas, "El? Apakah kamu yang menolongku?"
El langsung menoleh ke Sarah, lalu berucap dengan lembut, "Iya sayangku."
"Terima kasih El. Tolong bawa aku ke rumah sakit, sekujur tubuhku sakit semua El," ucap Sarah dengan suara yang parau.
"Iya sayangku," ucap El lembut.
"Sebenarnya aku ingin pergi dari dunia ini El, aku malu sama semua orang terutama sama Zayn setelah kejadian ini. Aku bukan wanita suci lagi. Aku sudah tak pantas bersanding dengan Zayn ataupun sama semua orang. Diriku sudah hina El. Aku takut Zayn membatalkan pernikahan kami karena aku sudah tidak berharga lagi El, aku wanita yang sudah tidak ada harga dirinya," ucap Sarah sendu.
"Kamu nggak usah ngomong seperti itu Sarah, sebaiknya kamu istirahat dan berobat supaya kamu lekas sembuh," ucap El ketika menghentikan langkahnya di depan pintu mobilnya El yang sudah dibukain oleh salah bodyguardnya El.
Tak terasa air matanya Sarah mengalir lagi sehingga dia menangis tersedu - sedu ketika El menaruh tubuhnya di jok bagian belakang mobil. Setelah menaruh Sarah, dia duduk di sebelah kirinya Sarah. Pintu mobil itu ditutup sama orang yang sama. El menoleh ke Sarah yang sedang menangis sehingga membuat hatinya terenyuh.
"Aku yakin kamu adalah perhiasan yang sangat berharga di dunia bagi Zayn. Jika Zayn membatalkan pernikahan kalian, aku yang akan segera menikahimu setelah aku menjadi mualaf," ucap El lembut.
Ucapan El tidak digubris sama Sarah. Sarah masih tetap menangis sehingga membuat El geram terhadap almarhum Trisan. El mengepalkan telapak tangan kirinya sambil menatap sendu ke Sarah. Rasa marah, sedih, sayang dan kasihan ketika melihat Sarah yang sedang menangis. El menyeka air matanya Sarah dengan penuh kelembutan. Menggenggam telapak kanannya Sarah untuk memberikan kekuatan untuk Sarah.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa melewati ini semua karena kamu adalah wanita hebat."
Sarah menggeleng - gelengkan kepalanya sambil melepaskan genggaman tangannya El, lalu berucap, "Sialan kamu Trisan! Dasar bajingan!"