
Hallo reader yang cantik ataupun tampan 😊,
Terima kasih banyak telah memilih novel yang berjudul Haluan Hidupku untuk kamu baca. Semoga kamu menyukai novel keduaku ini, yang tentu saja masih belum sempurna. Mohon maaf bila ada kesalahan ketik, typo, EYD, dan lain - lain.
Tidak boleh lupa vote dan sarannya ya 🙂.
Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya 😊.
Kasih bintang lima ya 😊.
Happy reading 🤗.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pada hari ini, seperti biasa Bandara Soekarno Hatta selalu ramai pengunjung karena bandara ini merupakan bandara paling sibuk di negara Indonesia. Pintu kedatangan Bandara Soekarno Hatta terlihat sangat padat. Maimunah yang didampingi oleh Zarkasih sedang menunggu kedatangan Sarah dibalik pagar pembatas. Pandangan mereka tak lepas dari pintu kedatangan sambil menelusuri setiap orang yang berlalu lalang melewati pintu itu untuk menemukan Sarah dan para bodyguardnya.
"Aisyah!" teriak Maimunah.
Sarah yang memakai dress semata kaki, masker, tas ransel hitam, kacamata hitam branded dan sepatu flat warna hitam bermerek terkenal sambil mendorong sebuah trolley. Dia menoleh ke arah sumber suara yang telah memanggil namanya. Dia melihat Maimunah dan Zarkasih sambil tersenyum lebar kepada kedua sahabatnya.
"Munah!" teriak Sarah.
Kemudian Sarah berjalan cepat sambil mendorong trolley. Setelah dia sampai di hadapan Maimunah. Sarah dan para bodyguardnya berhenti melangkahkan kakinya. Sarah melepaskan pegangan trolley, lalu langsung cipika - cipiki dan memeluk Maimunah. Sarah melepaskan pelukannya. Begitu juga dengan Maimunah. Sarah merangkul Zarkasih, begitu juga dengan Zarkasih sehingga mereka saling merangkul. Mereka saling melepaskan rangkulannya.
"Bagaimana kabar Ummi elu?" tanya Zarkasih.
"Alhamdulillah baik," ucap Sarah, lalu dia memegang pegangan trolley. "Yuk kita pergi dari sini!" lanjut Sarah sambil mendorong trolley, lalu melangkahkan kakinya bersama para sahabat dan bodyguardnya.
"Gw denger elu mau nikah sama astronot?" tanya Maimunah sambil berjalan beriringan sama Sarah.
"Iya, Ummi aku yang meminta kepadaku untuk menikah sama dia."
"Terus gimana Pak Antony?" tanya Zarkasih sambil melangkahkan kakinya di samping kanannya Maimunah.
"Sangat kecewa."
"Kasihan Pak Antony, dari awal ketemu sama elu, dia sudah jatuh cinta sama elu," celetuk Maimunah. Gw kira selama ini kalian jadian."
"Nggak, kami hanya sebatas sahabat. Lagi pula sudah ada cewek yang mencintai dirinya."
"Siapa?" tanya Maimunah kepo.
"Ayu."
"Gw juga dengar si El juga ke sana?" tanya Zarkasih.
__ADS_1
"Iya."
"Terus gimana reaksinya El setelah mendengar kamu dijodohin?" ucap Maimunah.
"Kecewa."
"Tapi setelah nikah elu masih nyanyi kan?" ucap Zarkasih.
"Nggak Munah, nanti rencananya setelah konser perdana aku selesai, aku berhenti nyanyi. Aku ingin fokus nemenin Ummi yang sedang berjuang melawan penyakitnya. di Singapore."
"Berarti konser itu, konser terakhir elu dong. Yah ... kasihan banget para penggemar elu," gerutu Maimunah.
"Nanti juga ada yang gantiin aku."
"Siapa?" tanya Zarkasih.
"Si Mpok Munah," ucap Sarah dengan nada suara yang bercanda.
"Hahaha, yang ada semua orang kabur setelah ketika Munah nyanyi," ledek Zarkasih.
"Tapi elu suka kan gw nyanyi?" celetuk Maimunah.
"Kalau lagi suntuk," ledek Zarkasih.
"Zayn. Dia kakaknya Amstrong."
"What!? Serius elu!?" ucap Maimunah terkejut.
"Iya."
"Wuihhh, pasti orangnya ganteng banget. Ah gw jadi pengen nikah sama Amstrong biar kita jadi iparan," celetuk Maimunah.
Pletak
"Aaww, sakit tahu!!" ucap Maimunah sambil mengelus kepalanya yang dijitak sama Zarkasih.
"Makanya kalau ngomong dijaga!" ucap Zarkasih kesal sambil menoleh ke Maimunah.
"Lah, kan gw cuma bercanda Njar!" protes Maimunah. "Nanti gw bilangin ke baba elu ah," lanjut Maimunah.
"Bilang aja. Malah gw senang. Dengan begitu perjodohan kita dibatalkan," ucap Zarkasih datar.
"Udah udah jangan berantem," ucap Sarah.
"Sar, perasaan gw, gw pernah dengar nama Zayn. Dia salah satu sepupu gw yang tinggal di Inggris. Dia juga seorang astronot," ucap Zarkasih serius.
__ADS_1
Sarah langsung menoleh ke Zarkasih, lalu berucap, "Kata Abi aku, abinya Zayn orang Indonesia, abinya Zayn meninggal ketika Zayn masih di dalam kandungan umminya. Terus umminya nikah sama orang Inggris, punya anak, namanya Amstrong. Mereka sekarang tinggal di Inggris, Zayn dan umminya jadi warga negara Inggris."
"Nama umminya Zayn, Irene kan? Abinya Zayn namanya Umar kan? Baba Umar itu, abangnya Nyak gw dan adiknya babanya Juneidi," ucap Zarkasih untuk memastikan orang yang dia kenal.
"Iya, kok kamu tahu Njar nama ummi dan abinya Zayn? Kalau tentang keluarga besarnya Zayn, aku belum tahu," ucap Sarah bingung.
"Lah emang elu udah lupa? Dulu waktu kita masih kecil, kita sering main ke rumahnya. Waktu itu kita lagi liburan sekolah, dia datang ke Indonesia. Yang rumahnya ada kolam renang yang gede banget. Rumahnya di daerah pondok indah. Seingat gw, waktu itu elu tenggelam, terus ditolongin sama Zayn. Pantesan umminya Zayn pengen elu jadi bininya Zayn, soalnya dari dulu Zayn suka ama elu Sar," cerocos Zarkasih.
"Ah masa sich Njar? Aku jadi bingung. Kata ummi aku, waktu aku masih bayi, aku dijodohin sama Zayn. Terus setelah aku hilang, perjodohan itu dibatalkan. Sekarang perjodohan itu mau dilanjutkan lagi. Sedangkan waktu itu kita kecil, aku belum tahu siapa orang tua kandungku, mana mungkin ummi Irene pengen jodohin aku sama Zayn. Ummi Irene kan sahabatnya Ummiku."
"Kok kedengarannya jadi ribet yak?" celetuk Maimunah. "Atau gini, waktu bayi kan elu dijodohin sama Zayn. Terus elu ilang, lalu kebetulan ditemuin sama babe Rojali yang merupakan masih saudaranya Nyai Hasanah, sedangkan Nyai Hasanah adalah neneknya Zayn, Juneidi dan si Njar. Kebetulan juga elu sahabatnya Zarkasih dan Juneidi, jadi waktu kecil elu pernah main sama Zayn sampai Zayn suka sama elu," lanjut Maimunah.
"Ehm ... iya benar juga ucapan elu Munah, tumben elu pintar," celetuk Zarkasih.
"Nanti aku tanyain soal keluarga besarnya Zayn sama Abi."
Hatiku selalu untuk dirimu selamanya, hanya milik dirimu untuk selamanya. Kamu adalah belahan jiwaku. Aku tidak bisa jauh darimu, aku ingin selalu berada di samping kamu di kala suka maupun duka hingga hari ini kita bersumpah di depan Tuhan untuk sehidup semati. Ku mohon selalu bersama dengan ku karena kamu adalah belahan jiwaku. Sejak hari ini sampai maut yang memisahkan kita.
Bunyi ringtone dari smartphone milik Sarah. Dengan terburu - buru Sarah membuka reselting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Melihat tulisan Abi di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum Abi," sapa Sarah sopan.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, kamu sudah sampai Nak?" ucap Rifky lembut.
"Sudah Bi, ini lagi jalan menuju parkiran mobil. Oh ya, nama neneknya Zayn Bu Hajja Hasanah ya? Nama kakeknya Pak Haji Abdullah ya?"
"Iya. Kamu tahu dari siapa?"
"Dari Zarkasih Bi. Nenek dan kakeknya Zayn itu tetangganya Nyak dan Nyai Hajja adalah encingnya babe. Waktu kecil Zayn kan suka ke rumah Jadda dan Jid nya, lalu suka ajak saya, Zarkasih, Juneidi, Maimunah dan Meira ke rumahnya yang ada di daerah pondok indah. Tapi kenapa Abi nggak kenal sama babe dan nyak ya? Begitu juga sama nyak, kenapa nyak nggak kenal sama Abi ya? Dan kenapa kita nggak ketemu waktu itu?"
"Wow kebetulan sekali. Maaf sayang, sejak kehilangan kamu, Abi nggak pernah main lagi ke sana. Abi sibuk ngurusin perusahaan dan ummi kamu. Lagi pula sebelum itu, Abi jarang sekali main ke sana jadi nggak kenal sama babe dan nyak kamu. Begitu juga sama babe dan nyak kamu. mereka nggak kenal kami. Karena itu juga kami saat itu belum menemukan dirimu. Kalau tahu begini, sebaiknya pernikahan kalian dipercepat aja ya?"
"Nggak usah Bi."
"Kamu dijemput sama siapa?"
"Zarkasih dan Maimunah."
"Kamu nanti mau pulang ke rumah nyak kamu atau ke rumah kamu?"
"Ke rumah Nyak Bi, soalnya aku kangen sama Nyak."
"Ya udah. Assalamu'alaikum.
"Wa'alaikumussalam anakku Aisyah Humaira."
__ADS_1