Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Dia Cemburu


__ADS_3

Di dalam toilet sebuah gedung pencakar langit di ibu kota, ada dua orang laki - laki. Yang satu memiliki wajah blasteran dengan tinggi tubuh sekitar seratus delapan puluh lima centimeter. Orang itu adalah Antony yang memiliki berbadan tegap. Dia mengenakan kemeja biru navy yang tampaknya dijahit khusus untuk ukuran badannya karena menempel dengan begitu pas di tubuhnya sedang melihat dirinya di depan cermin. Celana panjang yang berwarna hitam tampak indah membungkus kaki jenjangnya.


Sedangkan yang satunya seorang lelaki yang mempunyai tinggi badan seratus delapan puluh centimeter, berbadan otot dan memiliki wajah yang menyerupai seorang anggota boyband Korea Selatan yang bernama Oh Sehun. Orang itu bernama Rafael Darmawan Pandjaitan. Dia keluar dari salah satu bilik di toilet itu setelah membuang hajatnya. Ale menoleh ke Antony. Saat ini Ale memakai kaos merah polos yang bermerk terkenal di dunia. Dan memakai celana jins dengan brand yang populer di dunia.


Antony menggulung lengan kemejanya sampai sikut. Lalu ia membuka kran dan membasuh mukanya dengan air yang mengalir dari kran. Sedangkan Ale membuka kran untuk mencuci kedua tangannya. Ada kecanggungan di antara mereka. El menutup kran ketika Antony mencuci kedua tangannya, lalu menutup kran ketika El menoleh lagi ke dirinya. Antony menoleh ke El, lalu tersenyum sopan.


"Selamat siang El," ucap Antony ramah.


"Siang juga," ucap El datar sambil merasakan emosi yang sejak kemarin bergejolak di dalam jiwanya.


Kemudian tanpa aba - aba, El langsung menonjok Antony sampai terjungkal ke pojok toilet. Saat ini Antony sangat marah, tanpa sebab dia ditonjok. Dia bangkit, lalu dengan cepat dia membalas pukulan El sehingga tubuhnya El jatuh lunglai ke lantai toilet. Antony menghampiri El yang duduk lemas di lantai, lalu berjongkok dan menarik dan mencengkram kerah kaosnya El sambil menatap tajam ke El.


"Kenapa kamu memukul wajah gw?!" ucap Antony geram.


"Jangan dekati Sarah dan jangan ikut campur urusan pribadi Sarah!!!" ucap El marah.


"Elu itu nggak berhak mengatur hidupnya Sarah! Elu itu bukan suaminya Sarah!"


"Tapi gw calon suaminya Sarah!!!"


"Baru calon suami udah sok ngatur hidupnya Sarah," ledek Antony.


"Elu kemarin ngapain ngurusin masalah pribadinya Sarah?! Pada hal dia bukan siapa - siapa elu!!"


"Itu bukan urusan elu!!! Elu mabuk ya?"


Ucapan Antony membuat El tambah marah. El langsung menendang ke samping hingga cengkeraman Antony terlepas dan Antony terlempar. El bangkit berdiri dengan nafas yang tersengal - sengal. Pintu kamar mandi terbuka lebar menampilkan sosok Andrew. Andrew melebarkan kedua matanya melihat keadaan di depan kedua matanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?!" ucap Andrew kesal sambil berlari kecil menghampiri Antony.


"Bilangin ke kakak elu, jangan ikut campur urusan pribadinya Sarah!!! Gw nggak suka dia dekat sama Sarah!!!" teriak El geram.


"Cemburu elu mah kelewatan El!" ucap Andrew kesal sambil memapah Antony berdiri.


"Makanya jangan berurusan sama gw!!!" ucap El marah.


"Kakak gw waktu itu berniat menolong Sarah. Memang apa salahnya menolong Sarah!?" ucap Andrew kesal ketika El sedang berjalan menghampiri pintu kamar mandi.


"Dia nggak berhak mendekati Sarah!!" ucap El sambil berjalan melewati pintu kamar mandi.


"El!?" ucap Sarah terkejut sambil menggendong Aqila.


"Iya, memangnya kenapa," ucap El datar sambil berjalan menghampiri Sarah.


"Bukannya kamu pulang lusa?"


"Tidak jadi! Kamu senang ya aku pulang lusa!? Supaya bisa bebas selingkuh sama Antony!?" ucap El kesal sambil menghentikan langkahnya di depan Sarah.


"Kalau ngomong tolong dijaga dong!!" ucap Sarah kesal.

__ADS_1


"Alah nggak usah mengelak, bilang aja sejujurnya," ucap El datar.


"Kamu mabuk, pantesan ngomongnya ngaco," ucap Sarah datar.


"Itu ngapain si bocah penyusah digendong sama kamu terus?!! Emangnya kamu babunya?!!" bentak El.


"El!!! Tolong bersikap sopan di depan wanita!!" sarkas Antony.


Kenapa mukanya Pak Antony dan El pada luka lebam. Apakah mereka habis berkelahi?"


Batin Sarah.


"Elu nggak usah jadi sok pahlawan dech!! Gw udah muak!!!" teriak El.


"Mommy, Aqila takut," bisik Aqila ketakutan sejak El berdiri di depan mereka.


"Aqila tenang aja, kan ada Daddy dan Mommy di sini," ucap Sarah pelan sambil mengusap pelan punggungnya Aqila ketika El berjalan meninggalkan mereka.


"Gw udah muak sama kalian semua!" teriak El sambil berjalan menuju pintu lift.


"Kenapa wajah Pak Antony terluka?" ucap Sarah khawatir ketika Andrew dan Antony berhenti di depan Sarah.


"Dia habis berkelahi sama El," celetuk Andrew.


"Sepertinya dia salah paham soal kemarin," ucap Antony lembut.


"Sebaiknya kamu jelasin semuanya ke El biar dia nggak cemburu buta," ucap Andrew serius.


"Nggak mau!" ucap Aqila ketus.


"Mommy mau marahi Om yang tadi marah - marah," samber Andrew.


Aqila menoleh ke Andrew dan Antony. Dia melebarkan kedua matanya karena kaget melihat Daddynya terluka. Aqila mengulurkan tangan kanannya ke wajahnya Antony. Menyentuhnya dengan hati - hati sambil menatap dengan tatapan mata yang sendu. Tak terasa air matanya Aqila mengalir lembut di pipinya.


"Anak cantik tidak boleh menangis," ucap Antony lembut.


"Kenapa mukanya Daddy terluka seperti ini?" ucap Aqila sedih.


"Karena dipukul sama Om yang tadi marah - marah, makanya Mommy mau marahin Om itu," celetuk Andrew.


"Mommy, Aqila mau turun," ucap Aqila.


Tak lama kemudian Sarah menurunkan badannya, lalu melepaskan Aqila dari gendongannya. Aqila memeluk erat kedua kakinya Antony. Sarah mengusap puncak kepalanya Aqila dengan penuh kasih sayang. Aqila menoleh ke Sarah sambil memeluk erat kedua kakinya Antony.


"Tolong kompresi lukanya Daddy dengan air es ya," ucap Sarah lembut.


"Iya Mommy."


"Sarah, sekarang aku kasih izin kamu pulang," ucap Andrew serius sambil menoleh ke Sarah.

__ADS_1


Sarah beranjak berdiri, lalu berkata, "Tapi Pak saya masih ada latihan vokal."


"Tidak perlu, nanti saya ngomong ke Bu Berta. Saya nggak mau El masih salah paham sama Kakak saya," ucap Andrew serius.


"Terima kasih ya Pak."


"Permisi, maaf ganggu sebentar," ucap Maimunah sopan yang tiba - tiba nongol di belakang Sarah.


Sarah menoleh ke Maimunah, lalu berucap, "Ada apa Mai?"


"Edward telepon," ucap Maimunah sambil menyodorkan handphone milik Sarah.


"Kita pergi dulu," ucap Edward sambil memapah Antony, lalu Antony, Andrew dan Aqila melangkahkan kakinya meninggalkan Sarah ketika Sarah menerima handphone miliknya.


"Iya Pak, hati - hati ya," ucap Sarah sopan sambil mendekatkan benda persegi panjang ke telinga kirinya.


"Iya," ucap Aqila sambil berjalan mengikuti langkahnya Antony dan Andrew.


"Hallo, ada apa Ward?"


"Sar, El ada di situ nggak?"


"Nggak, emangnya ada apa ya Ward?"


"Gw lupa nama klien yang seharusnya El temuin di restoran Angkasa Bali. Gw mau nanyain itu ke El, tapi nomor handphonenya lagi nggak aktif Sar."


"Telepon aja ke Bu Eli," ucap Sarah sambil merasakan kegelisahan di jiwanya setelah mendengar ucapan Edward.


"Ya udah kalau gitu, bye Sar."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Sarah memberikan handphone miliknya ke Maimunah. Maimunah menerimanya, lalu menaruhnya di dalam tas jinjingnya Sarah. Menutup reselting tas jinjingnya Sarah. Sarah melangkahkan kakinya ke pintu lift dengan langkah kaki yang tergesa - gesa.


"Sar, tunggu!" teriak Maimunah setelah membalikkan badannya.


"Cepatan jalannya!" teriak Sarah.


"Elu kenapa sich?! ucap Maimunah sambil berlari kecil untuk mensejahterakan langkahnya dengan langkahnya Sarah.


"Aku mau nyusul El, tadi El ke sini, terus dia mabuk dan marah sama aku."


"Lah bukannya dia lagi di Bali?" tanya Maimunah sambil berjalan di samping kanannya Sarah.


"Nggak. Edward yang gantiin dia nemuin kliennya di Bali."


"Kalian berantem?" tanya Maimunah sambil menghentikan langkahnya di depan pintu lift.


"Nggak juga, dia salah paham sama aku dan Pak Antony soal masalah yang kemarin.


"Ooo karena masalah yang kemarin. Dia cemburu kali elu nangis di dalam dekapan Pak Antony."

__ADS_1


"Iya, dia cemburu."


__ADS_2