
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
Terima kasih karena mau membaca novel saya 🥰🥰🥰
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"Sarah diculik?!" ucap Billy terkejut.
"Iya Tuan."
"Siapa yang menculik dia?"
"The Devil blood."
"Kamu sudah menghubungi keluarganya?"
"Belum Tuan."
"Ya udah biar saya yang menghubungi mereka."
Tak lama kemudian Billy menjauhkan benda persegi panjang dari telinga kirinya, lalu menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Billy memutarkan badannya. Melihat wajahnya El yang kelihatan murka. Billy berjalan pelan menghampiri El. Menepuk pelan pundak kanannya El.
"Kamu tenang aja El, Papi segera mengurusnya."
"Lee tolong kamu lacak keberadaan Sarah, pakai chip GPS di jam tangannya Sarah!" titah El.
Lee yang sedang mengutak - ngatik laptop seketika langsung menjalankan perintahnya El. El beranjak berdiri dari sofa ruang tamu penthousenya. Melengos berjalan menuju pantry. Sedangkan Billy langsung menghubungi pasukannya untuk memberikan perintah lewat pesan.
"El, kita berhasil menemukan Sarah," ucap Lee senang.
"Di mana dia?" ucap El setelah menutup pintu kulkas, lalu berlari cepat ke Lee.
"Di daerah Cianjur Bos."
__ADS_1
"Kita langsung ke sana!" ajak El sambil menatap layar laptopnya. "Papi Billy aku minta pasukan Papi lima kompi, dan siapkan empat helikopter beserta pasukannya supaya bisa mengepung rumahnya Trisan."
"Kamu tahu dari siapa Sarah diculik sama Trisan?"
"Dari keterangan GPS yang aku tanam di jam tangannya Sarah. Dulu aku memberikan sebuah jam tangan yang sudah aku tanam chip GPS, untungnya jam tangan itu selalu dipakai olehnya."
"Tadi Papi sudah minta dua kompi pasukan untuk mengepung rumahnya Trisan."
"Segitu kurang Papi Billy," ucap El sambil berjalan menuju ke kamarnya. "Suruh cepatan mereka ke sini!"
"Papi sudah bilang ke mereka suruh cepat ke sini."
"Telepon lagi ke markas Papi untuk meminta tiga dan empat pasukan helikopter," ucap El tegas sambil berjalan ke dalam rumah lewat pintu yang sudah terbuka.
"Papi telepon dulu orang tua Sarah," ucap Billy sambil menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Rifky.
"Hallo, selamat malam Billy, ada apa ya?" ucap Rifky.
"Selamat malam juga Pak Rifky. Mohon maaf sebelumnya karena anak buahnya lengah menjaga Sarah, Sarah telah diculik oleh Trisan. Tapi kamu nggak usah khawatir karena aku sudah mengirim lima kompi pasukan darat dan empat kompi pasukan udara untuk menjemput Sarah,," ucap Billy penuh hati - hati.
"Ya Allah, lindungilah anakku," ucap Rifky sedih. "Tolong bawa anakku pulang dalam keadaan apa pun. Kalian sudah tahu posisi keberadaan anakku?"
"Sudah, dulu El memberikan sebuah jam tangan yang sudah dipasang chip GPS ke Sarah, dari situ El dan kami mengetahuinya."
"Baik Pak Rifky. Selamat malam."
"Selamat malam Pak Billy."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Rifky menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menoleh ke wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Rifky tak berani membangunkan istrinya untuk memberi tahu tentang penculikan Sarah lagi. Beranjak berdiri dari tempat tidur. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi sambil memikirkan Sarah yang sedang terlelap karena menghirup gas beracun.
Terlelap di sebuah kamar yang luas dengan dekorasi ruangan yang klasik. Terdapat sofa - sofa, meja hias, lemari pakaian, tempat tidur yang unik menghiasi ruang kamar tamu di villanya Trisan. Tempat tidur yang berukuran king size itu terlihat sosok Sarah yang terbaring pulas dengan posisi kedua lengan dan kaki diikat di setiap ujung tempat tidur.
Secara perlahan kedua kelopak netra milik Sarah mulai kehilangan daya rekat yang sempat mengunci dengan kuat. Sarah mengerjapkan kedua matanya supaya bisa menyesuaikan bias cahaya lampu yang menyeruak masuk menembus kornea kedua matanya. Setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna, Sarah mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan.
Tercengang adalah reaksi pertama yang dia tampakkan ketika dia melihat kamar yang bernuansa klasik yang sudah tentu bukan kamarnya, memenuhi kedua matanya setelah terpejam dalam waktu yang dia sendiri tidak tahu sudah berapa lama. Sarah terkesiap ketika dirinya tidak sengaja melihat Trisan yang sedang duduk bersila di sofa depan tempat tidur. Trisan tersenyum smirk ke Sarah.
"Akhirnya kamu sadar juga. Aku sudah menunggu kamu selama dua jam."
"Lepaskan aku!" ucap Sarah kesal sambil menggeliatkan tubuhnya agar ikatan di tangan dan di kakinya terlepas. "Apa yang kamu lakukan padaku?" lanjut Sarah ketika melihat seluruh tubuhnya tidak mengenakan pakaian.
__ADS_1
"Kamu masih perawan, sebentar lagi aku akan menikmati tubuhmu. Benar apa yang telah diucapkan oleh anak buahku bahwa ikan segar tidak boleh dilewatkan untuk dinikmati."
"Aku mohon jangan lakukan itu kepadaku," ucap Sarah memelas.
"Aku tetap menginginkan itu," ucap Trisan serius sambil beranjak berdiri dari sofa.
"Please Pak Trisno jangan lakukan itu kepadaku," ucap Sarah memohon.
Trisan tidak menggubris ucapan Sarah. Dia tetap berjalan menghampiri Sarah sambil tersenyum licik. Berjalan sambil melihat tubuh telanjangnya Sarah dengan posisi kaki yang terbuka lebar serta diikat, sedangkan kedua tangannya Sarah diikat di atas kepalanya Sarah.
Trisan berhenti di samping kanan tempat tidur. Trisan melepaskan alas kakinya, lalu naik ke atas tempat tidur. Seketika Sarah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Namun usahanya sia - sia. Trisan tertawa sinis melihat usahanya Sarah yang percuma.
"Kamu tak akan bisa lepas dari kurunganku."
"Dasar ba ji ngan!" gertak Sarah.
"Salah kamu sendiri yang sudah mengganggu Bisnisku," ucap Trisan sambil membelai rambutnya Sarah yang sedang menggeleng - gelengkan kepalanya. "Kamu cantik juga, aku jadi ingin menikmatimu berkali - kali," lanjut Trisan sambil membelai wajahnya Sarah, seketika Sarah memalingkan wajahnya.
Tak terasa air matanya Sarah mengalir lembut. Hatinya sedih, kecewa, dan marah karena tubuhnya disentuh dengan seorang laki - laki yang bukan mahramnya. Trisan menyeka air matanya Sarah. Sarah memejamkan kedua matanya, tak Sudi melihat sosoknya Trisan. Trisan menarik dagunya Sarah, namun Sarah mengelaknya. Tak terduga, Trisan akhirnya menarik sebagian rambutnya Sarah sehingga Sarah mendongak.
"Ternyata kamu mau main kasar!?" ucap Trisan marah.
Sedetik kemudian Trisan menghempaskan tarikannya sehingga sontak Sarah menunduk. Trisan mencengkeram mukanya Sarah dengan kasar dan kuat, lalu mengarahkan wajahnya Sarah menoleh ke dia. Trisan langsung me la hap bibirnya Sarah dengan brutal. Trisan menghentikan ******* itu karena mereka kehabisan nafas. Trisan melepaskan cengkeramannya sambil mengatur nafas supaya kembali normal.
Setelah nafas mereka kembali normal Trisan kembali me la hap bibirnya Sarah. Trisan senang karena Sarah membuka mulutnya. Tapi sedetik kemudian tanpa diduga oleh Trisan, Sarah menggigit bibir bawahnya Trisan dengan keras sehingga berdarah. Spontan Trisan menghentikan kegiatannya, lalu melepaskan lumatannya.
"****!!! *****!!" geram Trisan.
Plak
Trisan menampar pipi kanannya Sarah hingga sudut bibir kanannya Sarah mengeluarkan darah segar. Trisan turun dari tempat tidur, lalu beranjak berdiri ketika Sarah masih berusaha melepaskan dirinya dari ikatan tali. Membuka laci nakas di sebelah kirinya tempat tidur. Mengambil lakban warna hitam dan gunting. Menutup laci nakas itu dengan kasar.
Naik ke atas tempat tidur. Menaiki tubuhnya Sarah dengan menggunakan kedua lutut kakinya supaya Sarah menghentikan usahanya. Sarah memalingkan wajahnya sambil memejamkan kedua matanya. Membuka lakban itu, lalu menempelkan lakban di mulutnya Sarah dan menggunting lakban yang sudah disesuaikan dengan ukuran bibirnya Sarah.
Trisan melemparkan lakban dan gunting ke sembarang tempat. Membuka kaus yang dipakainya, lalu membuangnya ke sembarang tempat. Tetesan air matanya Sarah bertambah deras ketika Trisan menjelajah area perbukitan miliknya dengan mulut dan tangannya. Sentuhan Trisan yang kasar dan brutal membuat tubuhnya Sarah kesakitan.
Penjelajahan Trisan berlanjut ke area lembah dan memberikan jejak petualangannya dengan kasar sambil membuka kancing dan resleting celana jinsnya. Trisan menghentikan kegiatannya, lalu membuka celana jins dan boxernya sampai di atas lutut. Menurunkan tubuhnya sehingga wajahnya Trisan berhadapan langsung dengan gua yang membuat Trisan bergairah.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Trisan langsung melahap gua dengan brutal. Tubuhnya Sarah kebelingsatan menerima perlakuan Trisan yang kasar. Tak tanggung - tanggung, Trisan menggigit buah peach yang ada di gua itu. Setelah puas melahap gua, Trisan menghentikan kegiatannya. Air matanya Sarah mengalir deras ketika Trisan berhasil menembus pintu penghalang gua dengan sekuat tenaga. Sontak Sarah membuka kedua matanya, lalu melebarkan kedua matanya karena kesakitan.
__ADS_1
"Milikmu sangat sempit, aku ingin sekali menikmati milikmu berulang kali," ucap Trisan dengan suara yang parau.
.