
Sarah membuka kedua matanya secara perlahan. Mengedipkan kedua matanya berulang kali untuk menyesuaikan cahaya temaram yang masuk ke dalam kornea kedua matanya. Menggeliatkan tubuhnya sambil merentangkan kedua tangannya. Setelah kedua matanya terbuka sempurna, Sarah menduduki tubuhnya, lalu bersandar di kepala tempat tidur. Mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Melihat sebuah kamar yang luas bernuansa manly. Sarah sudah tidak asing lagi dengan nuansa kamar itu.
"Pasti ini kamar tidurnya El dan aku sudah sampai di villanya El. Tapi di mana El?" ucap Sarah bermonolog.
Pintu kamar mandi terbuka lebar yang membuat Sarah kaget. Dari balik pintu kamar mandi yang terbuka, keluar sosok El yang hanya menggunakan handuk. Tubuhnya yang kekar bertelanjang dada, memperlihatkan otot - otot sensual seorang laki - laki yang gentleman. Otot perutnya yang seperti roti sobek membuat Sarah melebarkan kedua matanya."
"Aku risih lihat kamu bertelanjang dada, pakai baju dulu!"
"Baju ada di dalam lemari itu," ucap El sambil menunjuk sebuah lemari yang berukuran besar.
El melangkahkan kakinya menuju ke lemari itu Sarah langsung menundukkan kepalanya karena risih melihat El berjalan di hadapannya hanya dengan menggunakan handuk. Dengan santainya El berjalan melewati Sarah. Sarah beranjak berdiri, lalu melepaskan tas selempangnya. Menaruh tas selempangnya di atas nakas sebelah kiri.
"El di mana tas ranselku?" tanya Sarah sambil celingak - celinguk mencari tasnya.
"Di dalam lemari ini," ucap El sambil memakai kaos oblongnya.
Sarah langsung menoleh ke lemar. Tanpa sengaja Sarah melihat El membuka handuknya. Sarah langsung menundukkan kepalanya karena risih melihat sesuatu yang seharusnya belum boleh dilihat. El tidak mengira jika Sarah melihat sesuatu yang penting bagi dirinya karena dia sedang fokus mencari celana boxernya. Sarah beranjak berdiri dari tempat tidur. Tak sengaja Sarah menjatuhkan gelas dari atas nakas sebelah kiri ranjang.
Pranggg!!!
"Aauuww!" pekik Sarah karena tak sengaja menginjak beling dari pecahan gelas yang tadi jatuh, Sarah sontak menduduki tubuhnya di tepian ranjang.
El langsung berlari kencang menghampiri Sarah karena panik setelah mendengar jeritan Sarah. Dengan langkah kaki yang hati - hati, El melewati pecahan beling, lalu langsung duduk di atas lantai. Mengambil kaki kanannya Sarah, lalu meraba - raba telapak kaki itu untuk menemukan pecahan beling itu. Setelah ketemu, El menarik pecahan beling dari telapak itu dengan penuh kasih sayang. Sarah meringis kesakitan ketika El mengambil pecahan beling itu. Sikap manis El telah menimbulkan desiran lembut di sekujur tubuhnya Sarah.
"Terima kasih ya El," ucap Sarah sambil melihat El membuang pecahan beling itu ke tempat pecahan beling yang lainnya.
"Kamu di sini dulu, aku mau ambil obat," ucap El.
"Nggak usah El, nanti juga sembuh sendiri. Lagi pula aku mau beresin ini dulu, setelah itu mandi," ucap Sarah tenang.
"Kamu nggak usah beresin pecahan beling, biar salah satu maid aja yang beresin. Kamu mandi aja."
"Baiklah kalau begitu," ucap Sarah.
Tak lama kemudian Sarah berdiri, lalu melangkahkan kakinya dengan hati - hati ketika melewati hamparan pecahan beling menuju kamar mandi. Melewati pintu kamar mandi yang terbuka, lalu menutup pintu kamar mandi ketika sudah berada di dalam kamar mandi. Sedangkan El mengambil gagang pesawat telepon untuk menghubungi salah satu maid. Memencet tombol untuk melakukan panggilan interkom.
"Hallo selamat malam Tuan Muda, ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu penjaga.
"Tolong bangunin salah satu maid yang bekerja di bagian bersih - bersih. Suruh dia ke kamarku ya," ucap El ramah.
__ADS_1
"Baik Tuan," ucap orang itu.
El menekan tombol untuk memutuskan sambungan panggilan interkom itu. Menaruh gagang pesawat telepon di tempat semula. El beranjak berdiri, lalu berjalan pelan - pelan menghampiri nakas sebelah kanan ranjang untuk mengambil smartphone miliknya. Mengambil smartphone miliknya, lalu menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk menghubungi Adi. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo Di, bagaimana? Sudah mendapatkan informasi mengenai keluarga Pak Gunawan?"
"Saya baru dapat informasi bahwa Pak Gunawan sudah pindah dari rumah itu belasan tahun."
"Kamu tahu ke mana keluarga Pak Gunawan pindah?"
"Saya belum mendapatkan informasi tentang hal itu Tuan Muda. Saya sekarang lagi lacak keberadaan keluarga Pak Gunawan lewat situs kependudukan Pak."
"Sekarang pemilik kebun itu siapa?"
"Pak Rifky Wijanarto."
"Kamu tahu dari mana mengenai itu?"
"Saya retas situs tentang hak kepemilikan tanah, Tuan Muda."
Apakah Om Rifky tahu tempat tinggalnya Pak Gunawan yang sekarang?
Batin El.
"Iya Tuan Muda."
Tak lama kemudian El menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Tiba - tiba smartphone milik El bergetar, bertanda ada panggilan masuk. El sengaja menyetel nada dering panggilan dengan tanda getar pada malam hari. El melihat nama Regina di layar smartphonenya. El mengerutkan keningnya karena bingung. sambil menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu.
Tumben sekali Regina telepon aku tengah malam.
Batin El.
"Hallo El yang ganteng," ucap Regina sensual.
"Ada apa telepon?" ucap El datar.
"Aku merindukan sentuhanmu," ucap Regina dengan nada suara yang menggoda.
"Maaf aku lagi sibuk," ucap El datar.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok
Bunyi ketukan pintu kamar ketika El menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu dan menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. El melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Mengintip dari lobang lup yang dipasang di daun pintu. El melihat satu wanita paruh baya yang memakai seragam maid di villa itu. El membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu menariknya hingga pintu kamar terbuka.
"Selamat malam Tuan Muda," ucap wanita itu sopan.
"Silakan masuk, tolong bersihkan pecahan gelas ya," ucap El sopan.
"Baik Tuan Muda," ucap wanita itu, lalu wanita itu masuk ke dalam kamar.
El membiarkan pintu kamar terbuka. Melangkahkan kakinya menghampiri wanita tua itu. Melihat wanita tua itu yang sedang membersihkan pecahan gelas. Smartphone milik El bergetar lagi. El melihat ada panggilan video call melalui sosial media. El melihat panggilan telepon itu dari Regina. El melangkahkan kakinya lagi. Dia menuju pintu balkon kamar. Membuka kunci pintu balkon, lalu menggeser pintu balkon kamar itu.
Keluar dari dalam kamar. Menyentuh beberapa ikon untuk menjawab panggilan video itu. El menyeringai licik melihat video Regina yang sedang bermain sendiri sehingga mengeluarkan suara ******* sambil berjalan ke pagar pembatas. El menyadarkan tubuhnya di pagar sambil melihat video **** dari Regina. Sebagai lelaki normal, lama kelamaan muncul hasrat birahinya El. El mengelus lembut burung perkututnya yang sedikit menegang.
"El apa yang sedang kamu lakukan di sana?" ucap Sarah yang sedang berdiri di ambang pintu balkon kamar.
Sontak El memutuskan video call itu, lalu berucap bohong, "Aku habis telepon Adi."
"El, kamar tamu di sebelah mana ya? Aku pengen tidur di sana," ucap Sarah.
El membalikkan badannya, lalu El menelan salivanya berulang kali ketika melihat Sarah yang memakai daster pendek dan berucap, "Kamar tamu sudah diisi sama para bodyguard lagi pula nggak ada kamar yang kosong. Kita tidur berdua di sini."
"Ok, tapi kamu jangan macam - macam."
"Iya, aku tidur di sofa, kamu tidur di ranjang," ucap El lembut sambil berjalan menghampiri pintu balkon kamar.
Sarah membalikkan badannya, lalu berjalan ke tempat tidur yang memiliki ukuran king size. El menutup pintu balkon kamar, lalu menguncinya. Melanjutkan langkahnya sambil melihat Sarah yang sedang naik ke atas tempat tidur. El berjalan menghampiri Sarah yang sudah tertutup selimut. El duduk di pinggiran tempat tidur.
"Katanya mau tidur di sofa," ucap Sarah datar sambil menutupi mukanya dengan selimut.
"Aku mau ngobrol sebentar sama kamu," ucap El sambil mengusap puncak kepalanya Sarah dengan penuh kasih sayang.
"Ngobrol tentang apa?"
"Tentang orang tua kandungmu."
Sontak Sarah menduduki tubuhnya, lalu menghadap ke El dan berucap, "Kamu sudah tahu orang tua kandungku?"
"Tadi Babe telepon. Dia bilang pemilik kebun sayuran itu adalah Pak Gunawan. Aku menduga kalau Pak Gunawan itu ayah kandungmu."
__ADS_1
"Aku kira kamu sudah menemukan kedua orang tua kandungku," ucap Sarah sendu.
El mendekap tubuhnya Sarah dengan penuh kasih sayang, lalu berbisik lembut, "Kamu tenang aja, kita pasti menemukannya."