
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
ππππππππππππππππ
Restauran yang memiliki konsep fine dining di lantai dua puluh empat gedung IR Corporation lumayan ramai dengan para pengunjung sedang ingin menikmati makan siang. Di antaranya adalah Sarah dan Rifky. Setelah empat jam kerja, Rifky mengajak Sarah makan siang di restoran itu. Sarah melihat pemandangan kota Jakarta yang tertata apik melalui jendela gedung setelah mereka memesan makanan.
"Bagaimana hari pertama kerja di sini?" ucap Rifky yang memulai percakapan mereka.
Sarah menoleh ke Rifky, lalu berucap, "Menyenangkan Pak."
"Apakah karena pekerjaan itu sesuai dengan passionmu?"
"Iya Pak."
"Semoga kamu betah bekerja di sini ya," ujar Rifky sopan.
"Aamiin Ya Robbal Alamiin."
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi deringan dari smartphone milik Rifky telah membuyarkan obrolan mereka. Rifky mengambil smartphone miliknya dari kantung dalam jasnya. Melihat tulisan My Wife di layar smartphonenya, Rifky langsung menyentuh ikon hijau di layar smartphonenya. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum, iya Sayang ada apa?" ucap Rifky lembut.
"Abi, ini Zakaria, Ummi pingsan lagi, sekarang lagi mau di bawa ke rumah sakit Pondok Indah."
"Ya udah, cepatan bawa ke sana. Sekarang Abi ke rumah sakit," ucap Rifky.
Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. Buru - buru Rifky menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Rifky mengambil dompetnya yang berada di dalam kantong celananya. Mengeluarkan sebuah kartu yang berwarna hitam. Menaruh lagi dompetnya di tempat semula.
"Ini untuk bayar makan siang kita. Sekarang saya harus ke rumah sakit, karena istri saya pingsan lagi," ucap Rifky sambil memberikan kartu hitam itu ke Sarah.
"Besok saya kembaliin kartu ini ke Bapak," ucap Sarah sopan sambil menerima kartu itu.
"Jangan besok. Kemungkinan besar, besok saya tidak ada di sini. Nanti aja, pas kita ketemuan lagi. Saya masih ingin bicara banyak sama kamu," ucap Rifky, lalu dia beranjak berdiri dari sofa single.
"Semoga istri Bapak cepat sembuh," ucap Sarah sopan sambil menaruh kartu itu di atas meja.
"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Oh ya Sar, nanti makanan saya untuk kamu aja atau kasih ke orang lain aja ya," ucap Rifky.
Sarah mengiyakan ucapan Rifky itu. Tak lama kemudian Rifky melangkahkan kakinya menuju pintu restoran, lalu keluar dari restoran. Sarah melihat sebagian dari pengunjung restoran menatap sinis ke dirinya. Sarah tersenyum manis ke mereka yang telah menatapnya dengan sinis, lalu mereka mengalihkan pandangannya. Sarah mengadahkan kepalanya ke atas. Dia takjub melihat pemandangan langit yang cerah dari atap - atap restoran yang terbuat dari kaca.
"Assalamu'alaikum Sarah," sapa Juneidi yang membuat Sarah terkejut.
Sarah langsung menoleh ke Juneidi, lalu berucap, "Wa'alaikumussalam."
"Boleh duduk di sini?" ucap Juneidi sopan.
"Boleh, silakan duduk Bang Juned," ucap Sarah.
Juneidi menduduki tubuhnya di sofa depan Sarah, lalu berkata, "Tadi Pak Rifky ngomong apa aja ke kamu?"
"Dia baru menanyakan tentang pekerjaanku, tiba - tiba anaknya telepon untuk kasih tahu bahwa istrinya dibawa ke rumah sakit."
"Yang aku dengar, istrinya Pak Rifky kena kanker otak," ujar Juneidi.
"Kasihan sekali."
"Kalau kamu dilamar sama Pak Rifky gimana?"
"Yah, aku tolak."
"Karena kamu mencintai El?"
__ADS_1
"Aku mohon jangan bahas tentang perasaanku Bang Juned," ucap Sarah serius.
"Apakah kamu senang bekerja di sini?"
"Iya. By the way, Salma cemburu nggak kalau kamu sering berduaan samaku?"
"Tidak, dia tahu tentang dirimu."
"Kamu menceritakan tentang kita ke dia?"
"Iya."
"Terus reaksinya gimana?"
"Biasa aja. Itu kartu siapa?" ucap Juneidi sambil melirik kartu hitam milik Rifky.
"Punyanya Pak Rifky, dia ngasih kartu itu untuk bayar makan siang. Tadi sebelum dia pergi, kita sudah memesan makanan."
"Aku dengar, kemarin kamu dan El diserang sama para preman di daerah sekolah tempat kamu mengajar?"
"Iya, mereka semua sudah ditangkap sama polisi."
"Kamu masih ngajar di sana?"
"Udah berhenti mulai hari ini."
"Baguslah. Dari dulu kan aku sudah kasih tahu kamu bahwa wilayah itu rawan kejahatan, tapi kamunya aja yang ngotot pengen ngajar di sana."
"Dari dulu aku sudah bilang, kalau anak - anak di sana perlu pendidikan dasar sejak umur mereka empat tahun.
"Terus siapa yang gantiin kamu?"
"Hani."
"Babenya Alang jadi kerja di perusahaan ini?"
"Jadi, mulai kemarin dia kerjanya. Mukamu pucat? Bang Juned lagi sakit?"
"Udah minum obat?"
"Udah, minum obat yang beli di warung, tapi masih sakit perut. Nanti malam ke dokter sekalian minta resepin obat yang manjur."
"Hai Ai!" sapa El ramah yang mengagetkan Sarah dan Juneidi.
"Hei El" balas Sarah ramah.
"Boleh gabung?"
"Boleh, silakan duduk," ucap Sarah.
Tak lama Kemudian El menduduki tubuhnya di samping kanannya Sarah. El tersenyum ramah ke Juneidi, lalu Juneidi membalas senyuman El. El melihat ada sebuah kartu hitam di mejanya. Dia menoleh ke Sarah yang sedang menundukkan kepalanya.
"Ai, ini kartu siapa?" tanya El dengan nada suara orang yang sedang cemburu.
Maysaroh menoleh ke El, lalu berucap, "Pak Rifky."
"Ngapain dia ngasih ini ke kalian?"
"Dia mau traktir kita berdua," celetuk Juneidi tanpa ada respon dari El.
"Tadi Om Rifky di sini?" ucap El yang masih menoleh ke Maysaroh.
"Iya," jawab Maysaroh singkat.
"Baik sekali Om Rifky mentraktir kalian," ujar El.
"Pak Rifky itu temannya Abiku," ucap Juneidi.
"Wow, ternyata dunia sempit sekali. Dia itu juga teman Papiku bahkan sahabat papiku."
__ADS_1
"Permisi, aku mau ke toilet dulu," ucap Sarah, lalu dia beranjak berdiri.
"Hati - hati ya Ai," ucap El lembut.
"Iya," ucap Sarah, lalu dia melangkahkan kakinya menuju toilet restoran.
"Kamu kerja di sini juga?"
"Iya."
"Di bagian apa?"
"Staff keuangan."
"Hati - hati kalau menghitung uang perusahaan orang lain."
"Tanpa kamu bilang, aku juga tahu hal itu."
"Permisi Tuan - Tuan, pesanan sudah matang," ucap salah satu pramusaji di restoran itu sambil membawa trolly makanan.
"Iya," ucap Juneidi.
"Ini tenderloin steak with mashed potato dan air mineralnya," ucap pelayan itu sambil menaruh steak itu di depan Juneidi.
"Terima kasih ya," ucap Juneidi sopan.
"Dan ini bistik ayam with rice dan air mineralnya," ucap pelayan itu sambil menaruh bistik ayam itu di depan El.
"Mbak pesan tenderloin steak with mashed potato satu dan air mineralnya satu," ucap El sopan.
Pelayan itu mengambil note kecil dari daku kemejanya, lalu menulis pesanan El dan berucap, "Saya ulangi lagi ya, tenderloin steak with mashed potato satu dan air mineralnya satu?"
"Iya."
"Silakan tunggu. Selamat menikmati hidangan dari restoran ini. Terima kasih,' ucap pelayan itu.
"Iya, sama - sama," ucap El, lalu pelayan itu pergi.
Juneidi beranjak berdiri, lalu berucap, "Aku mau ke toilet dulu."
"Ngapain kamu ke sana?"
"Buang hajat dan cuci tangan," ucap Juneidi sambil melangkahkan kakinya menuju toilet.
"Jangan macam - macam sama Sarah," ucap El dengan nada suara yang cemburu.
Sontak Juneidi menoleh ke El, lalu berucap, "Kalau cemburu jangan kelewatan."
Sedetik kemudian Juneidi melanjutkan langkahnya menuju toilet di restoran itu. Juneidi tersenyum manis ke Sarah yang sudah keluar dari toilet. Tiba - tiba tubuhnya Juneidi terjatuh ke depan sehingga menabrak Maysaroh. Sontak Juneidi memeluk pinggang rampingnya Maysaroh. Untung di belakang Maysaroh ada tembok, jadi mereka tidak terjatuh ke lantai.
Tak sengaja bibirnya mereka bersentuhan. Sarah merasakan hembusan nafasnya Juneidi yang begitu hangat. Sarah memejamkan kedua matanya karena tak kuasa melihat wajah gantengnya Juneidi yang masih terpatri di lubuk hatinya. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata El melihat Juneidi memeluk pinggangnya Sarah dan tubuhnya mereka berdempetan.
Rasa cemburu dan marah bergejolak di jiwanya El. Setiap aliran darahnya El mendidih melihat adegan yang telah menyayatkan luka di hatinya. El berjalan cepat menghampiri mereka. El menarik kerah jasnya Juneidi dengan kasar hingga Juneidi melepaskan pelukannya. Tanpa jeda waktu, El langsung menonjok mukanya Juneidi hingga Juneidi terpental.
"****! Kalian berciuman di sini!" ucap El marah. "Jangan sentuh dia lagi!" lanjut El dengan ekspresi muka yang marah sambil menunjuk ke Maysaroh.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Hai guys π
Terima kasih sudah membaca cerita novel ini.
Tolong divote ya, di like ya, dikasih bintang lima, dikasih hadiah, dikomentari ya π
Terima kasih atas dukungannya,π
Di bawah ini visual Bang Juned/Juneidi dan El/Rafael
__ADS_1