
Sarah melihat jam yang tertera di layar handphonenya menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sudah hampir tiga puluh menit Jane menunggu lift sambil melihat ig instagram di handphonenya. Dia menunggu lift selama empat puluh lima menit karena selalu penuh dengan para karyawan yang pulang dari tempat kerjanya. Penumpukan karyawan pada jam pulang kantor saat ini dikarenakan ada dua lift yang sedang diperbaiki.
"Assalamu'alaikum," salam Juneidi.
"Wa'alaikumussalam," ucap Sarah membalas salamnya Juneidi sambil menoleh ke Juneidi.
"Masih nungguin lift sepi?"
"Iya, soalnya dari tadi lift penuh melulu."
"Apakah karena ada dua lift yang sedang diperbaiki?"
"Sepertinya sich begitu. Bang Juned udah sholat?"
Pintu lift terbuka lebar. Sarah melihat ada seorang anak kecil yang memakai kerudung yang hanya diikat dileher sambil memegang beberapa permen lollipop, seorang pria yang berumur empat puluhan dengan wajah yang lelah, dan seorang pria yang sedang tersenyum ramah ke Sarah sambil membawa dua buah tas. Sarah tersenyum ramah ke pria yang sedang tersenyum ke dia sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Sarah melihat tombol lantai satu sudah dipencet. Pintu lift tertutup secara otomatis.
"Udah, tadi di ruang kerja. Mau ke masjid yang ada di atas tower nggak jadi karena liftnya penuh terus. Aku dengar kamu mau keluar?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Aku mendapatkan pekerjaan yang memiliki salary lebih besar dari pekerjaanku sebagai arsitek."
"Arsitek kan cita - citamu sejak kamu kecil, kenapa sekarang malah kamu tinggalin?"
"Karena kebutuhan ekonomi keluarga Bang Juned. Aku mau bayar biaya operasi Babe dalam waktu yang cepat, supaya aku dan El cepat menikah."
"Kaka mau pemen belapa? Ati, ua, iga, empat?" tanya anak kecil itu sambil menarik roknya Sarah.
Sarah menoleh ke anak kecil itu, lalu berjongkok untuk mensejahterakan tubuhnya dengan anak kecil itu, "Kamu lucu sekali, namamu siapa?"
"Aqila, Kaka mau belapa?"
"Empat," ucap Sarah sambil menunjukan angka empat dengan menggunakan keempat jarinya.
"Jangan, keanyakan nanti akit igi," celetuk Aqila yang memiliki pipi tembem.
"Ya udah satu aja," ucap Sarah sambil mengacungkan jari telunjuknya ke Aqila.
"Ini Kaka," ucap Aqila sambil memberikan satu buah permen lollipop ke Sarah
"Terima kasih Aqila yang cantik," ucap Sarah ceria sambil menerima permen itu.
"Sama - sama kaka yang antik," ucap Aqila yang ceria, lalu dia tersenyum manis ke Sarah.
__ADS_1
Sarah membalas senyuman Aqila dengan senyuman manis ke Aqila. Beranjak berdiri, lalu menoleh ke pintu lift. Sarah melihat tombol angka satu di bagian atas pintu lift nyala, lalu pintu lift terbuka. Aqila digendong sama seorang pria yang berwajah lelah. Mereka keluar dari dalam lift. Dua orang pria yang tadi berada di dalam lift berjalan mendahului Sarah dan Juneidi.
"Dadah kaka atau," ucap Aqila sambil melambaikan tangan kanannya ke Sarah.
"Dadah Aqila," ucap Sarah saambil membalas lambaian tangannya Aqila. "kBang Juned, Aqila lucu ya, aku jadi ingat sama murid - muridku dulu. Mereka semua lucu," lanjut Sarah sambil berjalan dan kepalanya menengok ke Juneidi.
"Waktu kamu kecil juga lucu, kayak boneka Susan," ujar Juneidi.
"Bang Juned bisa aja ledekin aku," ucap Sarah tersipu malu sambil berjalan melewati pintu utama lobby.
Juneidi hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Sarah, lalu berucap, "Kamu di jemput sama El?"
"Iya, tapi kayaknya telat," ucap Sarah sambil mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, lalu dia menghentikan langkahnya.
"Kalau gitu aku temani," ucap Juneidi samb berdiri di samping kirinya Sarah.
"Nanti Bang Juned pulangnya kemalaman."
"Kalau pulang sekarang juga percuma, macet dijalan. By the way kamu dapat pekerjaan sebagai apa?"
"Seorang penyanyi terkenal."
"Hati - hati sekarang jamannya banyak penipuan. Ngaku sebagai produser, eh malah nipu kamu dengan iming - iming menjadikanmu seorang penyanyi terkenal."
"Bang Juned tenang aja, yang sebagai produser itu sepupunya El. Aku juga sudah tahu kantornya perusahaan label rekaman milik sepupunya El."
"Bang Juned sekarang masih tinggal di Kemang?"
"Iya. Kalau kamu jadi keluar dari sini, berarti kita jarang ketemu," ucap Juneidi sendu.
"Yah mau bagaimana lagi, aku ingin cepat - cepat melunasi hutangku ke El, supaya kami cepat nikah."
"Kamu yakin ingin menjadi penyanyi terkenal?"
"Iya. Selain ingin membayar hutangku ke El, aku juga ingin mencari kedua orang tua kandungku dengan memakai namaku sebagai penyanyi terkenal. Setelah aku menjadi penyanyi terkenal, aku bisa konferensi pers untuk mencari orang tua kandungku."
"Oh ya bagaimana perkembangan pencarian kedua orang tua kandungmu?"
"Belum ada perkembangan apa - apa. Para narasumber informasi telah banyak yang sudah meninggal dunia, jadi aku masih kecil memiliki informasi tentang kedua orang tua kandungku. Kadang kala aku suka hope less untuk menemukan kedua orang tua kandungku."
"Kamu jangan pesimis, kamu harus optimis untuk menemukan mereka. Aku yakin pasti kamu menemukan mereka."
Tin ....
Bunyi klakson mobil yang mengagetkan Sarah dan Juneidi. Sarah dan Juneidi menoleh ke sumber suara. Sarah melihat El dengan raut wajah yang menegangkan. El kesal melihat Juneidi dan Sarah berduaan walaupun di tempat umum. Sarah menyadari hal itu, makanya Sarah berlari kecil ke mobilnya El. Sarah menarik tuas pintu mobil bagian penumpang depan sehingga pintu terbuka. Masuk ke dalam, lalu menutup pintu itu. El mengunci pintu mobilnya lagi.
__ADS_1
Sedangkan Sarah memakai sabuk pengaman. El melajukan mobilnya dengan pelan menyusuri jalan di depan lobby gedung. Sekilas Sarah menoleh ke Juneidi yang sedang melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum manis ke Sarah ketika mobilnya El berada di depan Juneidi. Sarah membalas lambaian tangan kanannya Juneidi sambil tersenyum sopan.
"Ngapain juga melambaikan tangan, udah punya bini masih aja dekatin calon bini orang lain," celetuk El sambol melajukan mobilnya keluar dari area parkiran gedung.
"Dia itu salah satu sahabat dan saudaraku El," ucap Sarah sambil menoleh ke El.
"Dia juga mantan pacarmu," ucap El datar.
Sarah memegang punggung telapak tangan kirinya El, lalu berucap, "Yang itu sudah berlalu sayang, aku hanya mencintai dirimu seorang."
"Kamu belajar ngegombal dari siapa?"
"Dari ayang Beb. El udah dapat informasi lagi tentang kedua orang tua kandungku?"
"Belum ada, tapi aku punya feeling bahwa Pak Rifky adalah ayah kandungmu."
"Dasar kamu punya pendapat seperti itu apa?"
"Pertama Pak Rifky punya rumah di dekat kampung rumahnya almarhum Pak Gunawan yang dulu, lalu dia membeli rumahnya Pak Gunawan. Kedua Papi Rogen bilang bahwa Pak Rifky kehilangan anak perempuannya sejak anak perempuannya itu masih bayi. Ketiga Pak Rifky sempat mau ngomong sesuatu ke kamu tapi sampai sekarang belum sempat dilakukan karena dia sibuk menemani istrinya berobat ke Jerman."
"Bisa, ada kemungkinannya. Mungkin Pak Rifky mau membicarakan perihal tentang putrinya ke aku, tapi sampai sekarang dia belum sempat ngomong. Terus kamu cerita hal ini ke Papi Rogen?"
"Belum, waktu itu mau ngomong tapi keburu dia pergi nemuin salah satu clientnya."
"Sampai kapan Pak Rifky berada di Jerman?"
"Kalau hal itu aku tidak tahu Ai."
"Pak Rifky jangan dijadikan patokan sebagai ayah kandungku, kita harus cari lagi kedua orang tua kandungku."
"Iya sayangku. Kita tetap harus mencari lagi orang tua kandungmu."
"Udah dulu ya ngobrolnya aku mau tidur dulu."
"Ya udah kita akhiri obrolannya."
...💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹...
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.
Di like ya 🥰🥰
Di komen ya 🥰🥰
__ADS_1
Di vote ya
Love you all