Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Hal Itu Bisa Terjadi


__ADS_3

"Buka matamu sayang," bisik El.


Sarah membuka kedua matanya. Terkejut dan senang melihat semua lukisannya terpampang di dalam kamarnya El. Susunan penempatan lukisannya begitu apik sehingga indah dipandang. Sarah melebarkan kedua matanya sambil menutup mulutnya yang menganga lebar dengan telapak tangan kanannya. Berjalan pelan sambil memperhatikan satu persatu lukisannya. Sarah membalikkan badannya sehingga dia berhadapan dengan El.


"Ini hari apa ya El?" tanya Sarah bingung.


"Ini hari Sabtu."


"Bukan itu maksudku. Kamu kenapa memberikan kejutan kepadaku? Pada hal hari ini bukan hari ulang tahunku."


"Masa kamu lupa hari ini hari apa?"


"Maaf aku lupa," ucap Sarah sedih.


"Hari ini anniversary satu tahun kita jadian sebagai sepasang kekasih."


"Maaf ya aku lupa," ucap Sarah merasa bersalah.


"Tidak apa - apa. Masih ada lagi kejutan untukmu, ayo ikut aku?" ucap El sambil menggenggam erat telapak tangan kirinya Sarah. lalu


Tak lama kemudian El menggiring Sarah ke pintu rahasia mereka. Melewati walking in closet dan kamar mandi. Mereka menghentikan langkahnya di depan tembok ujung lorong. El mengarahkan telapak tangan kirinya Sarah menempel di tembok ujung lorong itu. Pintu rahasia itu terbuka dengan sendirinya. Sarah melongo melihatnya.


"Telapak tanganmu salah satu kunci pintu rahasia di penthouseku," ucap El lembut.


Sarah menoleh ke El, lalu berucap, "Kapan kamu mengambil sidik jariku?"


"Kapan ya ...? Rahasia," ledek El.


"Ihhh, nyebelin."


"Ayo kita masuk ke dalam!"


Lalu mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan rahasia itu. Pintu rahasia itu tutup secara otomatis ketika mereka sudah berada di dalam ruangan rahasia. Tiba - tiba lampu menyala terang dengan sendirinya. Sarah terpana melihat foto - foto candid dirinya yang dipajang. El menggandeng tangan kirinya Sarah, lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka.


"El, foto - foto ini kapan diambilnya?" ucap Sarah sambil memperhatikan satu persatu foto yang telah dipajang.


"Rahasia," jawab El sambil membimbing Sarah menaiki anak tangga demi anak tangga.


"Apakah ini salah satu kejutannya?"

__ADS_1


"Iya, kamu menyukainya?"


"Iya, bahkan sangat menyukainya. Oh ya, kata sandi pintu kamarku adalah Sarahduaempat."


"Itu kan tanggal lahirku."


"Iya."


"Oh ya sekarang kan tanggal empat belas February, berarti hari valentine dong."


"Iya. Jadi kita jadian pas valentine dong?"


"Iya, kok kamu baru ngeh sich Ai?" ucap El sambil menoleh ke Sarah.


"Maklum El, aku nggak pernah merayakan Valentine. Baru sama kamu aja. Kamu sering ya merayakan valentine?"


"Nggak. Aku ngerayain valentine sama orang - orang tertentu aja.


Mereka menghentikan langkahnya di puncak anak tangga. El mengarah tangan kanannya Sarah ke tembok yang berada di depan puncak anak tangga. Pintu rahasia yang kedua terbuka lebar dengan sendirinya. Mereka berjalan keluar dari ruangan rahasia sambil bergandengan tangan. Pintu rahasia itu tutup secara otomatis. El memencet sakelar lampu kamarnya Sarah sehingga lampu kamar menyala.


Sarah tertegun melihat foto - foto dia bersama El, standing flower dan sebuah alat musik klasik yang berada di atas meja kecil. Kamarnya Sarah dihias dengan indahnya. El mengajak Sarah ke tengah ruangan. El melepaskan gandengan tangannya. El melangkahkan kakinya ke wood retro vintage gramophone yang berada di atas meja kecil. Menyetel sebuah alunan musik Vienna waltz dengan menggunakan alat musik klasik itu. El berjalan ke arah Sarah sambil tersenyum manis menggoda. Sarah tersenyum malu - malu melihat El.


"Mari kita berdansa," ucap El sambil membungkukkan badannya sedikit dan menaruh tangan kanannya di depan dada layaknya seorang bangsawan di Eropa.


"Bagaimana soal pencarian orang tua kandungku El?"


"Masih dalam proses sayang," jawab El lembut.


"Berarti kita menikahnya masih lama?"


"Kalau mau minggu depan juga bisa."


"Yah nggak bisa gitu juga dong El."


"Kan ayah kandung kamu bisa diganti sama wali hukum," ucap El lembut.


"Aku tetap nggak mau, masih kurang afdol."


"Yah kalau itu maumu. Tapi aku ingin kita menikah secepatnya."

__ADS_1


"Aku juga ingin kita menikah secepatnya, tapi keadaan tidak mendukungnya."


"Yah udah, kita sabar aja menunggunya."


"Apakah kamu mendeadlinenya?"


"Sampai kapan pun aku pasti menunggumu cintaku," ucap El lembut.


Sarah tersenyum manis ke El. El membalasnya dengan senyuman manis yang menggoda. El mendekatkan benda kenyalnya ke benda kenyal milik Sarah. Sedetik kemudian El mencium bibirnya Sarah dengan penuh kelembutan. Sarah membalasnya, lalu mengikuti gaya ciuman El. Dede kecil El tanpa diminta terbangun yang telah membangkitkan jiwa casanova yang ada di dalam dirinya.


El mencium bibirnya Sarah dengan rakus sambil menggiring Sarah ke ranjang. Menghisap, **********, lalu menggigitnya dengan pelan sehingga mulutnya Sarah terbuka. El mengabsen deretan Sarah. Mereka saling menukar saliva ketika El membaringkan Sarah ke atas tempat tidur. Mereka saling menghisap, ******* dan mengaitkan lidah mereka. Keadaan semakin memanas di antara mereka.


El memulai menjelajahi keindahan yang alami. Dari lembah ke gunung kembar. Tak lupa menciptakan jejak petualangan sehingga terdengar suara yang merdu bagi El. Tak terasa penjelajahan El sudah sampai di depan sebuah mulut gua yang belum pernah tersentuh. Sontak El menjelajahi mulut gua itu dengan jiwa petualangannya. Terdengar suara lengkingan dan merasakan guncangan di area gua yang tidak mengurungkan El untuk berhenti sehingga keluar cairan kental dari dalam gua.


El menghentikan aksi penjelajahannya sambil merasakan cairan kental dari dalam gua. Dede kecil milik El kian membesar. El ingin meneruskan penjelajahannya ke bagian dalam gua. Dia menoleh ke Sarah yang sedang menggeleng - gelengkan kepalanya dengan lemas. El langsung berdiri, berlari ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamarnya Sarah. Menekan handle pintu kamar mandi ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu kamar mandi terbuka. El masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi itu. Kecewa, sedih, sesal, dan bahagia berkecamuk di jiwanya Sarah.


Sarah menduduki tubuhnya di tepian ranjangl bagian bawah. Mengusap wajahnya dengan kasar berulang kali. Mengaitkan kembali penutup area pegunungan, lalu merapikan kemejanya. Sarah menggelengkan kepalanya berulang kali ketika melihat kain segitiga bermudanya yang robek tergeletak tak berdaya di atas lantai kamar. Sarah berdiri, lalu merapikan rok selututnya yang tersingkap.


Sarah melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian. Tak terasa air matanya Sarah mengalir lembut di pipinya. Dia sedih karena aksi gilanya mereka yang menorehkan sebuah dosa besar. Sarah menangis dalam diam sambil membuka salah satu pintu lemarinya. Mengambil salah satu kain segitiga bermudanya. Menutup pintu lemari itu. Memakai kain segitiga bermudanya yang baru diambil.


Melanjutkan langkahnya ke meja rias. Menduduki tubuhnya di sebuah bangku depan meja hias. Menyisir rambutnya yang sudah memanjang dengan pelan - pelan sambil merenungkan ucapan dari beberapa temannya yang berada di dunia hiburan. Ucapan yang mengatakan bahwa free *** udah hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih di jaman ini. Sarah menggelengkan kepalanya berulang kali setelah mengingat ucapan dari beberapa temannya tentang free ***.


"Tadi merupakan hal yang terparah selama kami menjadi sepasang kekasih. Kami tidak boleh melakukannya lagi," gumam Sarah bermonolog sambil melihat dirinya di cermin.


Sarah menyeka air matanya dengan punggung telapak kedua tangannya. Menghirup nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan sehingga dia bisa menghentikan tangisannya. Sarah mengambil sebuah kunciran, lalu menguncir rambut panjangnya. Tak sengaja dia melihat kissmark buatan El di leher jenjangnya. Dia menghembuskan nafas dengan kasar. Membuka kunciran rambutnya sehingga membiarkan rambut hitam legamnya terurai begitu saja.


Tok ... tok ... tok ...


Bunyi ketukan pintu yang menggebu - gebu ketika Sarah menaruh karet rambut di atas meja hias. Sarah beranjak berdiri, lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu menariknya ke dalam sehingga pintu kamar terbuka. Sarah melihat ekspresi Rogaya yang sedih. Rogaya nyelonong masuk ke dalam kamar. Sarah menutup pintu kamar ketika Rogaya melangkahkan kakinya ke ranjang. Sarah berjalan menghampiri Rogaya ketika Rogaya menduduki tepian sebelah kanan tempat tidur.


"Ada apa Nyak?" tanya Sarah sambil menduduki tubuhnya di samping kirinya Rogaya.


"Sarah, Mariana boleh ya tinggal di sini?" ucap Rogaya sambil menoleh ke Sarah.


"Memangnya kenapa Mariana?" tanya Sarah sambil menoleh ke Rogaya.


"Dia diusir sama suaminya. Tolong ya izinin Mariana tinggal di sini untuk sementara waktu."


"Tapi Nyak, aku harus minta izin sama El."

__ADS_1


"El pasti mengizinkannya jika kamu yang memintanya dengan rayuan. Tolong ya," ucap Rogaya memelas.


Aku tidak menyangka jika hal itu bisa terjadi.


__ADS_2