Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Yang Terbaik Buat Dirinya


__ADS_3

Tolong divote ceritanya dan kasih sarannya ya πŸ™‚.


Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya 😊.


Kasih bintang lima ya 😊.


Happy reading πŸ€—.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sang fajar bersinar terang menyinsing di ufuk timur langit cerah. Kawanan burung gereja beterbangan bebas ke sana kemari, suara kicauannya saling bersahutan satu sama yang lainnya. Kedua keindahan alam itu mengiringi rutinitas para makhluk sosial yang berada di dalam rumah sakit yang berada di jalan Orchard Singapore. Pagi hari ini Sarah, Antony, Dafa dan Aqila pergi ke rumah sakit Mount Elizabeth untuk menjenguk ibu kandungnya Sarah.


Mereka berjalan menyusuri koridor lantai dua puluh dua rumah sakit. Langkah kaki mereka diiringi oleh derap langkah kakinya para bodyguardnya Sarah. Salah satu bodyguardnya Sarah menekan handle pintu kamar rawat inap tempat ibu kandungnya Sarah dirawat. Mendorong pintu itu hingga pintu terbuka. Mereka melenggang masuk ke dalam kamar. Bodyguard itu menutup pintu. Mereka berjalan menghampiri ibu kandungnya dan ayah kandungnya Sarah yang sedang bercanda gurau.


"Assalamu'alaikum Ummi," salam Dafa ceria.


Rifky dan istrinya yang bernama Annisa Nurrahma menoleh, lalu Rifky membalas salam Dafa, "Wa'alaikumussalam."


Annisa menatap Sarah dengan tatapan mata yang berbinar karena sangat bahagia bisa melihat putri satu - satunya. Annisa sangat bersyukur telah menemukan putrinya yang telah lama menghilang. Annisa melebarkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Sarah. Sarah juga sangat bahagia karena telah menemukan ibu kandungnya yang mengenakan jilbab.


"Sini sayangku Aisyah!" ucap Annisa senang.


Sarah menghambur ke dalam pelukan Annisa. Annisa memeluk erat Sarah dengan penuh kasih sayang. Annisa memejamkan kedua matanya. Menghirup aroma tubuhnya Sarah. Tak terasa air mata mengalir lembut di pipinya Annisa. Pemandangan yang sangat mengharukan sehingga menyentuh hati.


Annisa melepaskan pelukannya. Mengusap wajahnya Sarah dengan penuh kelembutan. Sarah menyeka air matanya Annisa. Annisa tersenyum bahagia. Mengecup keningnya Sarah. Membelai tangan kanannya Sarah. Menatap wajah Sarah yang sangat dia rindukan. Menelisik setiap indera Sarah yang berada di wajahnya.


"Siapa namamu sebelum kamu menemukan kami sayang?"


"Sarah Bu."


"Panggil Ummi, semua anakku menyebut diriku dengan Ummi. Nama yang bagus. Siapa nama orang tua angkatmu Nak?"


"Almarhum Rojali dan Rogaya Ummi."


"Bagaimana kabarnya Nyak kamu? Sudah mendingan?"

__ADS_1


"Sudah lebih baik dari kemarin Ummi. Ummi terima kasih banyak ya karena telah membiayai perawatan Nyak."


"Itu nggak seberapa dengan kasih sayang beliau yang telah mendidik dan yang membesarkan dirimu Nak. Ummi sangat bersyukur karena Allah telah mempertemukan dirimu dengan orang - orang yang baik disaat kamu membutuhkan sosok orang tua. Kami sangat berhutang kepada beliau dan almarhum suaminya. Ummi sangat ingin menemui nyak kamu dan ingin ziarah ke makam almarhum babemu," ucap Annisa lemah lembut, lalu dia menoleh ke Antony dan Aqila yang sedang digendong sama Antony. "Kamu calon suaminya Sarah?" lanjut Annisa.


"Bukan Ummi, dia salah satu sahabatku," sahut Sarah sambil menoleh ke Antony.


"Assalamu'alaikum," salam El yang sedang berdiri di ambang pintu kamar.


"Wa'alaikumussalam," balas Sarah sambil menoleh ke El.


Ngapain juga El ke sini?


Batin Sarah.


El menutup pintu kamar, lalu melangkahkan kakinya menghampiri Annisa. Menaruh parcel buah di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Annisa menyatukan dua telapak tangannya di depan dada. Begitu juga dengan El. Sarah mengalihkan pandangannya ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan matanya El.


"Bagaimana kabarnya papimu El?" ucap Annisa sambil menoleh ke arah.


"Alhamdulillah baik Ummi. Ummi gimana kabarnya?"


Pintu kamar rawat inap Annisa terbuka. Seorang dokter dan seorang perawat masuk ke dalam kamar. Pintu kamar itu ditutup oleh salah satu bodyguardnya Sarah ketika mereka berjalan menghampiri Annisa dengan wajah yang ramah. Perawat itu berjalan ke samping kanan tempat tidur sambil membawa tempat alat kesehatan. Sedangkan dokter berdiri di samping kiri ranjang.


Perawat itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Annisa dan memeriksa tekanan darahnya Annisa dengan menggunakan tensimeter. Merapikan alat tensimeter, lalu menaruhnya di tempat semula. Mengambil termometer dari tempatnya sambil memencet tombol on. Memasangkan termometer di ketiak Annisa.


Setelah termometernya berbunyi, perawat itu mengambil termometer dari ketiaknya Annisa. Menaruh termometer di tempat semula. Perawat itu berjalan pelan ke ujung bawah ranjang, lalu mengambil berkas data pasien. Membuka berkas data pasien, lalu menulis sesuatu. Menutup berkas data pasien, lalu menaruh berkas data pasien itu di tempat semula.


"Wow, your health condition is better than yesterday," ucap dokter itu sambil memasang stetoskop ke telinganya. "Still often dizzy?" lanjut dokter itu sambil memeriksa Annisa.


"No more Doc."


"How many times a day?"


"Twice Doc."


"Tomorrow morning chemotherapy again. I hope your immune system is better. You should get plenty of rest so that tomorrow your health does not go down, good afternoon," ucap dokter sopan itu sambil melepaskan stetoskop dari telinganya setelah memeriksa Annisa.

__ADS_1


"Ok Dok, thank you. Good afternoon."


Tak lama kemudian dokter itu berjalan ke ujung ranjang. Mengambil berkas riwayat kesehatan Annisa. Membuka berkas itu, lalu menulis sesuatu di sana. Menutup berkas itu. Menaruh berkas itu di tempat semula. Perawat dan dokter itu berjalan menuju pintu kamar sambil membawa alat kesehatan. Pintu kamar itu terbuka. Mereka berjalan melewati pintu kamar yang terbuka. Pintu kamar itu ketutup lagi.


"Mohon maaf ya, istri saya perlu istirahat untuk persiapan kemoterapi besok," ucap Rifky lembut sambil menatap ke El dan Antony secara bergantian.


"Iya Om, saya ngerti," ucap Antony sopan sedangkan El hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Rifky.


"Sarah kamu tetap di sini, temani Ummimu," ucap Rifky lembut sambil menatap Sarah.


"Iya Bi."


Mereka memutar tubuhnya, lalu berjalan menuju pintu kamar itu. Pintu kamar itu dibuka oleh salah satu bodyguardnya Sarah. Mereka berjalan keluar lewat pintu kamar yang terbuka. Pintu itu ditutup oleh salah satu bodyguardnya Sarah. Annisa menatap hangat ke Sarah sambil membelai wajahnya Sarah lagi dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, sejak bayi kamu sudah dijodohkan sama salah satu anak sahabatnya Ummi dan Abi. Kami berjanji menikahi kalian. Karena sekarang kamu sudah ditemukan dan tidak punya seorang suami, maka kami ingin menikahinya dengan anak itu. Dia anak yang sholeh, cerdas dan mampu membawa diri sehingga dia bisa mencapai cita - citanya sebagai seorang astronot. Dia salah satu anaknya Ummi Irene."


Ah!? Apakah yang dimaksud Ummi adalah Amstrong?


Batin Sarah.


"Secepatnya kami akan mengenalkan dirimu dengan dirinya. Kami berharap kamu menerima perjodohan ini," ucap Annisa sambil menurunkan tangannya dari wajahnya Sarah.


"Apakah dia Amstrong Ummi?"


"Bukan sayang, dia kakaknya Amstrong, namanya Zayn. Kalau menurut Ummi lebih ganteng dari Amstrong sayang. Yang penting bukan gantengnya, tapi akhlak dan imannya. Kamu suka sama Amstrong ya?"


"Nggak juga Ummi."


"Dan satu lagi, Ummi sangat menginginkan kamu menjalankan salah satu kewajiban sebagai muslimah, yaitu memakai hijab. Itu sangat penting untuk hidupmu sayang."


Sarah hanya diam seribu bahasa, lalu menundukkan kepalanya. Rifky melihat Sarah yang merasa terbeban setelah mendengar ucapan dari sang istri. Rifky berdiri dari sofa, lalu mendekati dirinya ke Annisa. Membungkukkan badannya untuk mengecup puncak kepalanya Annisa penuh dengan cinta. Menegakkan badannya, lalu menatap Sarah yang masih menunduk.


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, jangan terlalu banyak pikiran sayang," ucap Rifky lembut.


Annisa menoleh ke Rifky dengan mendongakkan kepalanya, lalu berkata, "Aku hanya menginginkan yang terbaik buat dirinya."

__ADS_1


__ADS_2