
Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
"Nyak, Kenapa Babe dibawa ke rumah sakit?" tanya Sarah panik dan khawatir ke Rogaya ketika Sarah sudah sampai di depan ruang ICU dan setelah salim.
"Nyak nggak tahu Sar, tadi yang bawa Babe ke sini si Njar. Waktu itu Nyak lagi pergi ke pasar induk," ucap Rogaya dengan suara yang parau.
"Sekarang gimana keadaan Babe Nyak?" tanya El khawatir sambil mengelus punggungnya Sarah berulang kali.
"Belum tahu El, tadi Nyak nggak boleh masuk ke dalam."
"Nyak, sudah ketemu sama Zarkasih?" tanya Sarah sambil menatap lembut ke Rogaya.
"Belum," ucap Rogaya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Nyak, tahu Zarkasih bawa Babe ke rumah sakit dari siapa?" tanya El.
"Dari Juned."
"Nyak ke sini sama siapa?" tanya El.
"Sama Juned."
"Sekarang Bang Juned ke mana?" tanya Sarah yang membuat El menghentikan gerakan tangannya di punggungnya Sarah.
"Tadi dia pergi ke sana," ucap Rogaya sambil menunjuk ke arah parkiran mobil.
"Ya udah Ai, kita ke Juned aja, Nyak di sini aja, kalau ada apa - apa hubungin kami," ucap El.
"Iya."
"Nyak, Sarah dan El ke Bang Juned ya," ucap Sarah.
Rogaya hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Sarah. Tak lama kemudian El dan Sarah ke tempat parkiran untuk menemui Juned. Melangkahkan kaki menyusuri tempat parkiran. Akhirnya mereka menemukan Juneidi yang sedang berbicara dengan Zarkasih. Mereka mendekati Juneidi dan Zarkasih. Zarkasih dan Juneidi terkejut dan langsung diam ketika melihat El dan Sarah menghampiri mereka.
"Njar, bisa tolong jelaskan kenapa babeku dibawa ke sini?" ucap Sarah sendu.
"Sebelumnya gw minta maaf jika belum sempat memberi tahu masalah ini ke elu. Tadi nggak sengaja gw lihat Babe gw sama Babe elu sedang bertengkar. Tiba - tiba Babe elu sesak nafas dan dada kirinya nyeri."
"Kenapa mereka bertengkar?"
"Karena hutang. Tadi Babe gw nagih hutang ke Babe elu. Kalau dalam waktu tiga hari hutang Babe elu belum bayar hutang itu, elu akan dijadikan istri keempat Babe gw. Spontan Babe elu marah sampai mereka bertengkar," penjelasan Zarkasih.
"Hutangnya Babe Rojali di Babe elu berapa jumlahnya Njar?" tanya El serius.
"Awalnya dua ratus lima puluh juta, terus Babe elu udah bayar lima puluh juta, jadi sisanya dua ratus juta," jawab Zarkasih yang membuat Sarah terkejut.
__ADS_1
Untuk apa Babe pinjam uang sebanyak itu.
Batin Sarah.
El mengeluarkan smartphone miliknya dari kantong celananya, lalu berucap, "Berapa nomor rekening Babe elu Njar? Mau gw bayar hutangnya Babe Rojali."
"Alhamdulillah masalah sudah selesai. Dari tadi kita berdua kesusahan cari cara untuk membantu Sarah supaya Sarah tidak jadi dinikahi sama Babe Gw. Akhirnya dikabulkan doa kita Jun. Gw nggak tahu nomor rekening Babe gw."
Sontak Sarah menoleh ke El, lalu berucap, "Jangan El, hutang yang kemarin aja belum dibayar semua."
"Hutang yang mana?" ucap El bingung.
"Hutang yang untuk menebus Meira," ucap Sarah.
"Ooo, sisanya nggak usah dibayar dan aku ingin memberikan Babe Rojali uang supaya Babe Rojali bisa membayar hutangnya ke Babenya Zarkasih. Aku nggak mau kehilangan cintaku," ucap El serius. "Benaran elu nggak tahu nomor rekening Babe elu?"
"Iya beneran dach."
"Aku dengar kalian mau menikah," ujar Juneidi.
"Iya sich, tapi pastinya belum tahu," ucap El.
"Kenapa belum dipastiin?" celetuk Zarkasih.
"Aku mau fokus sama urusan keluargaku dulu," jawab Sarah.
"Oh ya Ai, ini hadiah ulang tahunmu," ucap El sambil memberikan satu buah paper bag yang berlambangkan toko jam tangan yang elit ke Sarah.
"Terima kasih banyak sayangku," ucap Sarah sambil menerima paper bag itu.
"Terima kasih ya Njar. Aamiin Ya Robbal Alamiin," ucap Sarah sambil membalas uluran tangannya Zarkasih.
"Barakallah fii umrik wahayatik Sarah. Semoga cepat dapat jodoh, sehat selalu, tambah rezekinya dan panjang umur," ucap Juneidi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Terima kasih ya Bang Juned," ucap Sarah sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Sarah, elu udah telepon Mariana belum, kasih tahu keadaan Babe Rojali?" ucap Zarkasih.
"Oh ya gw lupa hubungi Mariana," ucap Sarah.
"Emangnya Mariana lagi di mana?" tanya Juneidi sambil menoleh ke Sarah yang sedang mengambil handphone miliknya.
"Nggak tahu. Hampir setengah tahun Mariana sudah jarang ada di rumah," jawab Sarah sambil memencet tombol untuk menelepon Mariana.
"Gw perhatiin Mariana sering ada di rumahnya Ricky," ucap Zarkasih sambil menoleh ke Sarah yang sedang mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
Sontak Sarah menoleh ke Zarkasih, lalu berucap, "Masa sich Njar?"
"Iya, terakhir gw lihat dia keluar dari rumahnya Ricky hari Jum'at," ucap Zarkasih yakin.
"Nomor handphonenya Mariana lagi nggak aktif," ucap Sarah sambil menjauhkan handphonenya.
"Tadi juga gw telpon dia, nomornya nggak aktif. Gw kira, nomor gw diblokir, makanya gw minta elu telepon dia."
"Sekarang - sekarang ini, Mariana susah dihubungi," ujar Sarah sambil menaruh handphonenya di tempat semula.
__ADS_1
"Orang pacaran melulu sama Ricky," celetuk Zarkasih.
"Njar kalau ngomong jangan asal dong!" protes Sarah sambil menutup reselting tas selempangnya.
"Sebaiknya kita ke UGD yuk!" ajak Juneidi.
"Yap, itu lebih baik dari pada di sini," komen El.
Tak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke UGD. El menggandeng tangan kanannya Sarah selama perjalanan mereka ke ruang UGD. Mereka melihat Rogaya yang sedang berbicara sama salah satu perawat rumah sakit ketika sudah berada di lataran UGD. Tak lama kemudian perawat itu masuk ke dalam UGD. Sarah melepaskan genggaman tangannya El, lalu berlari kecil menghampiri Rogaya.
"Ada kabar apa Nyak?" tanya Sarah ketika berada di depan Rogaya.
"Babe akan dipindahkan ke ruang perawatan selama beberapa hari sebelum dioperasi, Babe harus dipasang balon di jantungnya. Nyak harus bilang ke bagian administrasi bahwa pasien atas nama Rojali segera dipindahkan ke ruang perawatan dan harus menyelesaikan biaya tindakan selama Babe di UGD, tapi Nyak nggak punya duit untuk membiayai itu semua," ucap Rogaya sendu.
"Nyak tenang aja, El yang akan membiayai semuanya," ucap El serius yang membuat Rogaya tersenyum senang.
Spontan Sarah menoleh ke El, lalu berucap, "Nggak usah El, tadi kamu sudah membayar semua hutangnya Babe di Babe Marzuki. Biar aku aja yang bayar semua biaya operasi dan perawatan."
"Udahlah Sar biar El yang membayar semuanya," ucap Rogaya yang membuat Sarah menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Ya udah, ayo Nyak kita ke bagian administrasi rumah sakit! Oh ya, tadi siapa daftarin Babe?" ucap El.
"Gw El," ucap Zarkasih.
"Elu ikut kita, Sarah dan Juned, kalian di sini aja. Nungguin kabar selanjutnya dari perawat," ucap El serius.
Sarah hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan El. El, Zarkasih dan Rogaya pergi ke bagian administrasi. Sedangkan Sarah dan Juneidi menghampiri sebuah bangku panjang, lalu mendudukinya. Sarah memejamkan kedua matanya untuk menahan air matanya. Juneidi menoleh ke Sarah karena Juneidi tahu bahwa Sarah sedang menahan air matanya.
"Kalau mau menangis, menangislah, tapi sewajarnya saja," ucap Juneidi yang sedang duduk di samping kirinya Sarah.
Sedetik kemudian air matanya Sarah mengalir lagi karena Sarah tak kuasa menahannya. Sarah menangis sesenggukan sambil menundukkan kepalanya. Sarah berdiri karena ingin menumpahkan rasa kesedihannya. Berlari menuju toilet yang berada di sekitar UGD sambil mengeluarkan air matanya. Tiba - tiba tubuhnya Sarah oleng ke belakang. Dengan sigap, Juneidi berdiri, berlari lalu menangkap tubuhnya Sarah sehingga Sarah tidak jatuh di atas lantai.
Juneidi memeluk pinggangnya Sarah dengan erat. Sarah menoleh ke Juneidi sehingga tatapan mata mereka saling bertemu. Sarah sudah tidak merasakan getaran - getaran halus di relung hatinya dan detak jantungnya normal ketika dia berada di dekat Juneidi. Sarah langsung mengalihkan pandangannya, lalu menegakkan badannya dan mengimbangi tubuhnya.
"Terima kasih Bang Juned sudah menolongku," ucap Sarah sopan.
"Iya sama - sama."
Tak lama kemudian Sarah melanjutkan langkahnya menuju ke toilet untuk menumpahkan rasa kesedihannya. Juneidi kembali duduk di tempat semula. Juneidi mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Tak diduga dia melihat El yang sedang berjalan menghampiri Juneidi dengan langkah kaki yang tergesa - gesa.
"Di mana Sarah?" tanya El panik ketika berada di hadapan Juneidi.
"Lagi di toilet. Tadi aku lihat dia sedang menangis," ucap Juneidi sambil mendongakkan kepalanya.
"Sudah kuduga dia menangis lagi. Tadinya aku balik ke sini ingin mengajak Sarah makan malam, dia belum makan."
"Ya udah kamu samperin aja ke sana?"
"Mana mungkin aku ke toilet wanita Jun, bisa - bisa aku dimarahi."
"Minta tolong sama cleaning servis toilet itu."
"Baiklah."
Tak lama kemudian El berlari kecil ke toilet wanita yang berada di sekitar UGD. El sangat khawatir sama kondisi Sarah, wanita yang sangat dia cintai. Menyusuri koridor rumah sakit sampai dia menemukan toilet wanita. El mengedarkan pandangannya untuk mencari petugas cleaning servis, tapi tidak ada satu pun orang yang berada di situ selain dirinya sambil mendengar suara tangisan Sarah. El menghembuskan nafasnya dengan kasar. El nekat membuka pintu toilet wanita. Dia melihat Sarah sedang menangis histeris. El langsung mendekap tubuhnya Sarah.
__ADS_1
"Ai, Kamu harus yang sabar."