
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Mariana membuka gorden sehingga sinar mentari dengan warna merah kekuningan menerangi seluruh alam semesta dengan kehangatan masuk ke dalam kamarnya El. Melihat matahari yang bertengger di ufuk timur cakrawala dan lukisan alam arakan awan putih dengan indahnya menghiasi langit biru. Mariana tersenyum manis mengingat kejadian semalam.
Sebuah peristiwa yang membuat dirinya merasakan tubuhnya El. Semalam El mabuk berat karena Sarah marah besar. Setelah menonjok El, Sarah langsung pergi dari penthousenya El. Begitu juga dengan El, setelah ditonjok sama Sarah, El langsung pergi keluar dari penthousenya. El pulang tengah malam dalam keadaan mabuk berat.
Ketika El pulang dalam keadaan mabuk, Mariana sedang berada di ruang tamu, sengaja menunggu El. Mariana tersenyum licik ketika El pulang dalam keadaan mabuk tanpa adanya pengawal. Di dalam penthousenya El sepi. Dengan akal liciknya, Mariana mengambil kesempatan untuk menyetubuhi El.
Sejak pertama kali ketemu sama El, Mariana ingin sekali merasakan tubuhnya El. Tak mau menunggu lama, Mariana langsung menyergap El dan memberikan servis dengan penuh kelembutan sehingga mereka melakukan hubungan intim berkali - kali. Namun di dalam hubungan intim itu, El selalu menyebutkan Sarah ataupun Ai sehingga membuat Mariana kecewa.
Sinar matahari yang berpendar mumpuni membangunkan El yang keluar dari alam mimpinya. Kedua kelopak matanya El mulai bergerak pelan - pelan, kemudian mengedipkan dengan perlahan untuk menyesuaikan bias cahaya yang masuk ke dalam kamar. El menggeliatkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.
"Oooaaahhhmmm," suara El menguap.
El bangun dari posisi telentang ke posisi duduk menyandarkan punggungnya di headboard. Kelopak matanya yang masih terkantuk - kantuk melihat sosok Mariana yang hanya memakai lilitan selimut. Mengucek - ngucek kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya. Mengerutkan keningnya karena bingung melihat Mariana berada di dalam kamarnya.
"Mariana?" tanya El yang ingin memastikan penglihatannya.
Seketika Mariana menoleh ke El, lalu berucap lembut, "Akhirnya kamu bangun juga."
"Ngapain elu ada di sini?" ucap El bingung.
"Masa kamu lupa sama kejadian yang semalam," ucap Mariana lembut sambil berjalan menghampiri El.
"Memangnya apa yang telah terjadi semalam? Seingatku semalam aku minum - minum sama teman - temanku."
"Semalam kita making love El. Kita sangat menikmati itu."
"Bullshitt!!" pekik El. "Jangan duduk di atas tempat tidurku! Elu pergi dari sini!" ucap El ketika Mariana hendak duduk di samping kirinya.
"Aku tidak bisa keluar dari kamar ini karena pintu kamarnya terkunci."
"Fu ck you!!!" gertak El sambil berdiri dari tempat tidurnya.
El terkejut melihat tubuhnya naked. Mariana tersenyum smirk melihat ekspresi wajahnya El yang terkejut. El langsung menoleh ke Mariana dengan tatapan mata yang marah. Rahang mukanya El mengeras melihat wajahnya Mariana yang tak merasa bersalah. El langsung mencekik lehernya Mariana sehingga Mariana meringis kesakitan.
__ADS_1
"Dasar wanita ca bul!! Elu telah ngejebak gw!! Elu pantasnya hidup di neraka jahanam!!" ucap El marah.
Tok ... tok ...
Bunyi ketukan pintu kamarnya El. Sontak El melepaskan cengkraman tangannya di leher Mariana. El langsung berjalan cepat ke walking in closet. Mariana memegang lehernya yang sakit. El membuka salah satu lemari pakaiannya. Mengambil celana boxer dan celana pendek, lalu memakainya.
"El! Ada Mariana nggak di sana!" teriak Rogaya.
El langsung berjalan cepat. Menarik tangan kanannya Mariana dengan kasar. Berjalan menghampiri pintu kamarnya. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindaian sehingga kunci pintu kamarnya terbuka. El menekan handle pintu kamarnya ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu kamarnya terbuka. Rogaya terkejut melihat Mariana yang hanya memakai selimut. El langsung mendorong tubuhnya Mariana, sehingga Mariana terjatuh.
"Pergi kalian dari sini! Bilangin ke Mariana, jangan jadi wanita jahat dan cabul yang mengambil kesempatan dalam kesempitan!!!" gertak El marah.
Brak
El langsung membanting pintu kamarnya. Rogaya merasakan kepalanya sangat sakit. Lama kelamaan penglihatannya menjadi gelap sehingga dia terjatuh pingsan. Mariana langsung kebingungan melihat Rogaya pingsan. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia melihat beberapa maid sedang menatap jijik ke dirinya dan beberapa bodyguard.
"Tolongin Nyak saya!" teriak Mariana.
Beberapa bodyguard langsung mengangkat tubuhnya Rogaya. Mariana langsung berdiri, lalu berlari ke arah tangga. Salah satu bodyguard yang mengangkat Rogaya kebingungan. Mereka bingung mau membawa Rogaya ke mana. Bodyguard El yang lainnya mengetuk pintu kamarnya El. Pintu kamarnya El terbuka.
"Ada apa?" tanya El datar.
"Nyonya Rogaya mau dibawa ke mana Tuan Muda?"
"Baik Tuan Muda."
Brak
El membanting pintu kamarnya. Berjalan cepat ke atas nakas sebelah kanan tempat tidurnya. Mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk menelpon Sarah. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Terdengar nada sambung.
"Assalamu'alaikum, ada apa El?" ucap Maimunah.
"Munah, ada Sarah nggak?"
"Ada, tapi dia nggak mau ngomong sama kamu, ada apa ya?"
"Tolong kasih tahu Sarah, Nyak Rogaya pingsan sekarang lagi dibawa ke rumah sakit pusat Jakarta."
"Innalilahi, iya nanti dikasih tahu."
"Makasih ya."
"Udah dulu ya, bye El."
__ADS_1
Tak lama kemudian Maimunah menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Maimunah memberikan benda persegi panjang ke pemiliknya dengan raut wajah yang sedih. Sarah menerima smartphone miliknya, lalu menaruhnya di atas meja. Tak terasa air matanya Maimunah mengalir lembut di pipinya.
"Ada apa Munah?" ucap Sarah dengan suara yang parau.
"Nyak Rogaya tadi pingsan, sekarang lagi dibawa ke rumah sakit," ucap Maimunah sendu.
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini," ucap Sarah antara kaget dan sedih.
"Elu harus yang tabah ya menerima semua cobaan yang bertubi - tubi," ucap Maimunah yang merasa iba.
"Munah, tolong hubungi Pak Rifky. Bilang ke dia, kita ketemuan di rumah sakit pusat Jakarta aja."
"Baiklah Nona."
"Aku pergi dulu, tolong urus semua keperluanku ya Munah," ucap Sarah sambil menyambar smartphone miliknya.
"Baik Nona," ucap Maimunah sambil melihat Sarah yang sedang menaruh smartphone miliknya ke dalam tas.
Tak lama kemudian Sarah menutup reselting tas selempangnya. Lalu mengambil kacamata hitamnya yang berada di atas meja, lalu memakainya untuk menutupi kedua matanya yang sembab. Berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebuah restoran yang berada di dalam hotel bintang lima. Sarah menundukkan wajahnya sambil berjalan.
Bug
Tak sengaja Sarah menabrak orang. Sarah menoleh ke orang itu. Sarah melebarkan kedua matanya melihat Antony yang berada di depannya. Antony tersenyum manis ke Sarah. Sarah membalas senyuman Antony. Antony masih merasakan getaran halus di setiap aliran darahnya ketika menatap wajahnya Sarah.
"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Antony basa - basi.
"Aku lagi nginep di sini."
"Kenapa nginep di sini? Bukannya penthousenya El dekat dari sini?" ucap Antony bingung.
"Aku sudah putus sama El."
"Kenapa? Bukannya kalian mau menikah?"
"Maaf, aku belum bisa menjelaskan semuanya, Nyakku tadi pingsan, dia sekarang lagi dibawa ke rumah sakit pusat Jakarta."
"Ya Allah, aku ikut ya."
"Ya udah, ayo kita ke sana."
Tak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya menyusuri restoran itu. Melewati beberapa pengunjung restoran. Banyak dari para pengunjung menoleh ke Sarah. Namun Sarah enggan untuk menggubrisnya. Tak sengaja Sarah tersandung salah satu kaki kursi sehingga dia mau jatuh. Sontak Antony menarik pinggangnya Sarah supaya Sarah tidak terjatuh, lalu memeluknya dengan erat sehingga tatapan mata mereka saling memaku.
Ya Allah, aku ingin sekali memiliki Sarah seutuhnya.
__ADS_1