Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Melakukan Itu Lagi


__ADS_3

"Bodohnya aku membiarkan El melakukan itu, aku harus sholat tobat dan tidak akan membiarkan hal itu terjadi sebelum menikah," gumam Sarah sedih sambil menorehkan beberapa cat warna di atas kanvas.


Ternyata Sarah sedang diperhatikan oleh El. El melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat Sarah sedang melukis. Berjalan menghampiri Sarah, lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh kelembutan. Sarah menghentikan kegiatannya, lalu menaruh kuas dan tempat cat lukis di tempat semula. Sarah menoleh ke El yang sedang tersenyum manis ke dirinya. El melihat raut kesedihan di wajahnya Sarah.


"Maafkan aku ya Ai," ucap El yang merasa bersalah sambil berlutut di hadapan Sarah sehingga bisa mensejajarkan posisi mereka.


"Iya, itu juga salahku. Itu yang terakhir kita lakukan sebelum menikah," ucap Sarah datar.


"Kamu masih marah ya?"


"Nggak," ucap Sarah sendu.


"Terus kamu kenapa sedih Ai?" ucap El khawatir.


"Aku sedih karena aku lalai membiarkan kita melakukan dosa besar. Aku nggak mau kita melakukan itu lagi sebelum menikah."


"Mohon maaf ya Sarah, aku kebablasan walaupun belum sempat memasuki dirimu. Aku janji tidak melakukan hal seperti itu sebelum menikah."


"Tepati janjimu El."


"Iya, aku pasti menepati janji itu."


"Oh ya El, aku minta izin Mariana tinggal di sini untuk sementara waktu. Boleh ya, please," ucap Sarah sedikit memelas sambil berdiri berhadapan dengan El.


"Bukannya dia sudah punya suami, anaknya udah lahiran dan tempat tinggal sendiri?" ucap El penasaran.


"Dia diusir sama suaminya."


"Kenapa?"


"Dia ketahuan selingkuh sama suaminya dan ternyata anak yang dia lahir bukan anaknya dia sama Richard, suaminya. Tapi anaknya Mariana sama Ricky."


"Cari mati aja tuch orang, kenapa dia tidak tinggal di rumah Ricky aja?" ucap El.


"Ricky tidak mengakui anak itu sebagai anak kandungnya. Boleh ya Mariana tinggal di sini ya sayangku," ucap Sarah sedikit merayu.


"Boleh, asalkan dia tidak mencari masalah di sini."


"Ya udah sana kamu ke kamarmu dulu, aku mau mandi," ucap Sarah.


"Baiklah," ucap El, lalu dia beranjak berdiri.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


Sarah beranjak berdiri setelah mendengar suara ketukan dari pintu. Berjalan ke pintu kamar. Mengintip keluar lewat lubang kaca pembesar yang berada di daun pintu. Melihat sosok ibunya lagi. Sarah membuka kunci pintu kamarnya. Menarik handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu kamar terbuka. Rogaya melengos masuk ke dalam kamar. Sarah menutup pintu kamarnya. Rogaya terkejut melihat El dengan rambut yang basah.


"Apa yang telah kalian lakukan!?" ucap Rogaya sedikit kesal sambil melihat sempaknya Sarah yang tergeletak asal di atas lantai.


"Kami tidak melakukan apa - apa Nyak. El tadi numpang mandi di sini. Kran di kamar mandinya bocor. Ada apa Nyak?"


"Mariana sama anaknya sudah sampai di sini," ucap Rogaya sambil melirik El.


"Kok udah sampai aja? Aku tadi bilang ke Nyak tunggu izin dulu dari El, lagi pula aku aja baru minta izin sama El," ucap Sarah bingung.


"Maafin Nyak El, Sarah. Tadi Nyak langsung iyain aja waktu Mariana minta tinggal di sini sambil menangis. Nyak kagak tega sama anak dan cucunya Nyak," ucap Rogaya merasa bersalah sambil menundukkan kepalanya.


"Nyak, seharusnya Nyak minta izin dulu sama El, dia kan yang punya tempat tinggal ini, tidak baik main nyelonong aja," ucap Sarah lembut.


"Tapi kan elu nanti jadi bininya El, rumah ini otomatis punya elu juga," kilah Rogaya sambil menoleh ke Sarah.


"Yah nggak bisa gitu juga Nyak," ucap Sarah datar.


"Ya udah Ai nggak usah bahas yang sudah lewat. Terus Nyak datang ke sini mau kasih tahu bahwa Mariana sudah datang?"


"Iya dan Mariana ingin ngobrol sama elu pada," ucap Rogaya sambil menatap ke Sarah dan El secara bergantian.


"Baiklah," ucap El.


"Ayo El kita ke bawah!" ajak Rogaya.


El menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Rogaya. Tak lama kemudian Rogaya dan El berjalan ke pintu kamar. Sedangkan Sarah melangkahkan kakinya ke kamar mandi, melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Menutup pintu kamar mandi. Rogaya menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka. Mereka keluar dari kamar. El menutup pintu kamarnya Sarah.


"El maaf ya, Nyak udah ngerepotin elu," ucap Rogaya sambil berjalan menyusuri koridor lantai dua di penthousenya El.


"Iya nggak apa - apa Nyak," ucap El yang berjalan di belakangnya Rogaya.


"Elu pada tadi tidak melakukan hal yang macam - macam kan? Soalnya tadi, kagak sengaja Nyak ngeliat sempaknya Sarah di atas lantai," ucap Rogaya menyelidik.


"Nyak tenang aja, saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya terhadap Sarah," ucap El tegas.


"Segera lakukan itu!" ucap Rogaya tegas sambil menuruni satu anak tangga.


"Saya pengennya begitu dari kemarin, tapi Sarah ingin menemui orang tua kandungnya dulu sebelum menikah. Dia ingin wali nikahnya adalah ayah kandungnya," ucap El sambil menuruni satu anak tangga.

__ADS_1


"Kalau gitu, masih lama kalian menikah, nanti Sarah keburu hamil."


"Kami belum sampai bersetubuh Nyak."


"Walaupun belum sampai bersetubuh, kamu juga harus bertanggung jawab atas perbuatan itu."


"Iya Nyak."


Tak lama kemudian suasana hening. Rogaya berjalan menghampiri Mariana yang sedang menggendong bayinya sambil tersenyum hangat ketika sudah berada di lantai satu. Sedangkan El memasang muka datar ke Mariana sambil berjalan menghampiri Mariana. El sangat tidak menyukai Mariana. Dia mengizinkan Mariana karena Sarah yang memintanya. El melihat Mariana membawa dua koper besar dan satu tas bayi.


Rogaya mengambil alih bayinya Mariana. Mariana tersenyum menggoda ke El, tapi El tidak menggubrisnya. Rogaya menduduki tubuhnya di atas sofa panjang sambil menggendong cucunya. Tanpa basa - basi El menduduki tubuhnya di atas sofa single. Mariana berkecil hati karena merasa tak dihargai keberadaannya. Tapi dia harus bersikap sopan supaya bisa tinggal di dalam penthousenya El.


"Selamat malam El, maaf ganggu sebentar. Aku dan bayiku meminta izin untuk tinggal di sini sementara waktu. Tidak mungkin kan aku dan bayiku tinggal di rumah sana karena Pak Trisno sedang mengincar Sarah, kamu, keluarga kamu, dan keluarganya Sarah. Bisa - bisa kami bisa dijadikan tawanannya. Makanya aku minta izin tinggal di sini," ucap Mariana sopan.


"Kamu tahu tentang Trisno dari siapa?"


"Dari Nyak, Nyak menceritakan hal itu ke aku," ucap Mariana polos.


"Nggak apa - apa kan cerita tentang itu ke Mariana? Bagaimana pun juga Mariana masih adiknya Sarah."


Cih, kalau ada maunya ngaku saudara.


Batin El.


"Baru sekarang kamu menganggap Sarah sebagai saudara kamu karena ada maunya. Kamu boleh tinggal di sini asalkan tidak membuat masalah dan satu kamar sama Nyak," ucap El tegas, lalu El beranjak berdiri.


"Baiklah," ucap Sarah lembut.


Tak lama kemudian El melengos pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Karena dia tidak mau terlalu lama berada di sekitar Mariana. El berjalan menuju pintu kamarnya. El menghentikan langkahnya ketika tak sengaja melihat tas jinjingnya Sarah yang berada di atas meja TV. El mengambil tas jinjingnya Sarah. Melanjutkan langkahnya ke pintu kamarnya sambil membawa tas jinjing milik Sarah.


Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu kamarnya. Setelah mendengar suara bip, El menekan handle pintu kamarnya ke bawah, lalu mendorongnya hingga pintu terbuka. Masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar, lalu berjalan ke ranjang. Menaruh tas jinjingnya Sarah di atas nakas sebelah kanan ranjang. El menduduki tubuhnya di tepian ranjang. Dia melebarkan kedua matanya ketika melihat Sarah yang hanya dibalut dengan handuk di ujung lorong dekat kamar mandi.


"Kenapa kamu nggak jadi ke sini?" tanya El ketika Sarah sedang membalikkan badannya ke tembok ujung lorong.


"Aku takut kamu melakukan itu lagi karena aku hanya memakai handuk," ucap Sarah tanpa menoleh ke El.


"Kamu mau ambil tas ini kan?"


"Berarti benar dugaanku, tas itu ada di sini."


"Aku anterin ke kamu ya?"

__ADS_1


"Nggak usah."


"Kamu nggak usah takut, aku nggak akan melakukan itu lagi."


__ADS_2