
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Bunyi derap langkah kakinya El ketika menginjak beberapa anak tangga menuju lantai satu apartemennya. Setiap pagi El selalu berolahraga di ruang fitness yang berada di lantai dua apartemennya. Melangkahkan kakinya menuju ke kamar setelah dia turun dari atas. Melewati ruang tamu apartemennya.
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau sentuh. Aku ingin kau tahu bahwa 'ku selalu memujamu. Tanpamu sepinya waktu merantai hati. Oh, bayangmu seakan-akan. Kau seperti nyanyian dalam hatiku. Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada. Kau selalu ada. Kau selalu ada. Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang. Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi, sepi.
Bunyi dering dari smartphone milik El yang berada di nakas sebelah kiri tempat tidur. El berlari kecil masuk ke dalam kamar melewati pintu kamar yang terbuka lebar setelah mendengar smartphone miliknya berbunyi. El langsung menyambar smartphone miliknya. Sekilas dia melihat tulisan Mami Renata di layar smartphonenya. El menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo selamat pagi Mami Renata!" sapa El sopan.
"Selamat pagi sayangku," ucap Renata lembut.
"Ada apa Mi telepon pagi - pagi?"
"Nanti jam sembilan pagi kamu temani Florence ke kebun teh milik Papimu ya?"
"Ngapain dia ke sana?"
"Dia ingin melihat lokasi untuk pembuatan video memasaknya. Temani ya my boy."
"Maaf Mami, nanti siang El udah ada janji sama pacar baru El."
"Kamu udah punya pacar baru? Bukannya kamu sama Florence masih pendekatan?"
"Iya, El udah punya pacar baru Mami, namanya Sarah. Aku sama Florence hanya sebatas teman Mami, waktu itu udah aku tegasi ke Florence bahwa hubungan kami hanya sebatas teman."
"Tapi kata Mami Clara kamu sama Florence lagi pendekatan?"
"Itu hanya kemauan Mami Clara. Semalam aku juga udah bilang ke maminya Flo dan ke mami Clara bahwa hubungan aku sama Florence hanya sebatas teman."
"El, Mami dan Mami Clara sudah mengenal dekat sama orang tuanya Florence, mereka orang baik - baik, alangkah baiknya kamu sama Flo pendekatan lagi. Mami yakin suatu saat kamu pasti jatuh cinta sama Flo," ucap Renata lembut.
"Sarah juga orang baik - baik, alangkah baiknya Mami mau mengenal dia lebih jauh lagi. El yakin Mami pasti menyukai Sarah. Papi Billy sudah mengenalnya," ucap El lembut.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, kalau Mami nggak percaya tanya aja sama Papi Billy.
"Ya udah, nanti Mami tanya tentang Sarah ke Papi Billy. Tapi Mami minta tolong temani Florence ke kebun teh milik Papi Rogen ya."
"Ehmmm ... tapi aku ajak pacar baruku."
"Iya, kamu ajak dia. Udah dulu ya, Mami mau masak."
"Iya Mi."
"Bye anakku."
"Bye Mami."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. El menjauhkan benda pipih itu, lalu menaruhnya di tempat semula. Mengarahkan badannya ke pintu kamar yang masih terbuka. Melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Berjalan menghampiri lemari pendingin melewati ruang keluarga dan ruang makan.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering dari panggilan interkom. El mengangkat gagang pesawat telepon yang berada di pojok kanan meja kitchen set. Mendekatkan gagang pesawat telepon ke telinga kirinya.
"Selamat pagi Tuan Muda, Nona Florence mau bertemu sama anda Tuan," ucap salah satu karyawan dengan sopan
"Selamat pagi Yono, orangnya suruh ke atas," ucap El ramah.
Tak lama kemudian El menaruh gagang pesawat telepon itu di tempat semula. El melanjutkan langkahnya menghampiri lemari pendingin. Membuka salah satu pintu kulkas. Mengambil buah pear, lalu memakannya. Menutup pintu lemari pendingin itu. Melangkahkan kakinya lagi ke ruang tamu. El melihat Florence sedang duduk manis di sofa panjang. El berjalan menghampiri Florence. Florence terkesima melihat tubuh atletisnya El yang dibasahi sama jutaan buliran keringat.
Ya Tuhan, seksi sekali El.
Batin Florence.
"Elu tunggu di sini, gw mau mandi dulu," ucap El setelah menelan pear yang digigitnya.
"I — ya," ucap Florence tergagap karena terpukau melihat penampilan El yang hanya memakai celana pendek.
"Kalau mau minum atau mau ngemil ambil aja di dapur soalnya para maid libur dan gw nggak mau telat jemput pacar gw," ucap El datar.
Sedetik kemudian El membalikkan badannya, lalu berjalan menuju ke kamarnya. Florence mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Melihat interior dan dekorasi ruang tamu yang bernuansa manly. Florence beranjak berdiri, lalu melangkahkan kakinya ke dapur. Menghampiri tempat gelas, lalu mengambil salah satu gelas. Membuka salah satu lemari pendingin. Mengambil salah satu botol air dingin.
"Assalamu'alaikum, El? Di mana kamu?" teriak Sarah ketika Florence menuangkan air dingin dari botol ke gelas yang sedang dipegang sama Florence.
Florence meminum air, lalu menaruh gelas itu di atas meja kitchen set. Menaruh lagi botol air di tempat semula. Menutup pintu lemari pendingin itu. Melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Florence melihat Sarah yang sedang terkejut melihat dirinya. Berjalan menghampiri Sarah. Dengan santai, Florence duduk di salah satu sofa single. Florence memperhatikan Sarah yang sedang memangku sebuah rantang empat susun.
__ADS_1
"Di mana El ya?" tanya Sarah sambil menoleh ke Florence.
"Di kamar mandi karena kami habis berolahraga di atas ranjang," ucap Florence sedikit berbohong yang melukai hatinya Sarah.
Dia telah melanggar janjinya lagi. Dasar buaya buntung!
Batin Sarah.
"Kamu ke sini mau ngapain?" tanya Florence datar.
"Aku udah janjian sama El mau pergi," ucap Sarah datar.
"Aku juga udah janjian sama El mau pergi," ucap Florence tak mau kalah.
Sarah beranjak berdiri, lalu berucap, "Kalau gitu aku pergi dulu, permisi."
Florence hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Sarah. Tanpa basa - basi lagi, Maysaroh melangkahkan kakinya menuju ke pintu lift. Ketika berada di depan pintu lift, Sarah memencet tombol panah ke bawah di dinding sebelah kanan lift. Pintu lift terbuka, Sarah masuk ke dalam lift. Sarah memencet tombol panah ke bawah di dinding lift. Tak lama kemudian pintu lift tertutup. Tak terasa buliran air matanya Sarah mengalir lembut di pipinya.
Sarah langsung menyeka air matanya, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan sampai air matanya berhenti keluar. Pintu lift terbuka, Sarah keluar dari dalam lift. Melangkah cepat ke pintu keluar dari apartemennya El. Sarah menghampiri pos penjaga di apartemen milik El. Dia menaruh rantangnya di atas meja. Dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya yang tidak ada seorang pun selain dirinya. Tak berselang lama keluarlah salah satu satpam apartemennya El dari kamar mandi. Satpam itu berlari menghampiri Sarah.
"Ada yang bisa saya bantu Nona Sarah?" tanya Satpam itu.
"Tolong kasih rantang ini ke Tuan El," ucap Sarah sopan.
"Baik Nona, tapi apakah Nona sudah bertemu sama Tuan El?" ucap satpam itu dengan sopan.
"Belum, dia lagi di kamar mandi. Ya udah, saya titip ini ya," ucap Sarah sopan.
"Iya Nona," ucap satpam itu.
"Terima kasih Pak."
"Sama - sama Nona."
Tak lama kemudian Sarah mengarahkan badannya keluar dari apartemennya El melewati pintu yang terbuka otomatis. Sarah melangkahkan kakinya dengan lunglai menyusuri lorong panjang. Sarah mempercepat langkah kakinya menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang memungut beberapa cup cake dari lantai koridor. Dengan cekatan Sarah membantu wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu berdiri sambil membawa beberapa cup cake yang berhasil dia pungut. Setelah semua cup cake berhasil dipungut, Sarah berdiri sambil membawa beberapa cup cake.
"Ini Nyonya sisa cup cake nya," ucap Sarah sopan sambil memberikan beberapa cup cake ke wanita paruh baya itu.
"Terima kasih cantik, tapi bisakah kamu menolong saya membawakan cup cake itu ke apartemen milik anak saya?" ucap wanita paruh baya itu.
"Bisa Nyonya, di mana apartemennya?" ucap Sarah sambil membawa beberapa cup cake.
__ADS_1
"Di ujung lorong itu," ucap wanita itu sambil menunjuk apartemennya El dengan dagunya.
What? Itu kan apartemennya El.