
Tiga buah mobil Audi A8 L warna hitam milik El berhenti di depan pintu lobby sebuah bangunan dua puluh lima lantai yang berdiri di pusat kota Jakarta. El membuka pintu mobil urutan yang kedua. Menurunkan kaki panjangnya sambil memegang satu bucket bunga mawar merah dan putih. Saat ini El ingin menemani Sarah yang masih dirawat. Mengayunkan kedua kakinya. Langkah kakinya El diikuti oleh para bodyguardnya.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah sakit melewati pintu lobby yang otomatis dan para satpam rumah sakit. Sekilas El mendengar desas - desus beberapa orang yang sedang membahas gosip tentang dia dan Sarah. El melengos melewati orang - orang yang sedang bergosip karena dia tidak pedulikan hal itu. Yang penting dia menjelaskan yang sebenarnya.
Berjalan menuju pintu lift. El mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ada tiga anak gadis sedang melihat dirinya. El tersenyum ramah ke tiga anak gadis itu. Salah satu dari ke tiga anak gadis itu sedang membawa parcel buah. Pintu lift terbuka, lalu mereka masuk asuk ke dalam lift. Salah satu anak gadis itu memencet tombol angka dua puluh lima, tempat Sarah dirawat. Pintu lift ketutup secara otomatis.
"Permisi Om, Om pacarnya Kak Sarah ya?" ucap salah satu anak gadis itu.
"Iya, kalian pasti para penggemarnya Sarah ya?" ucap El ramah.
"Iya, kami ingin menjenguk Sarah. Kami sudah mendapatkan izin dari Kak Sarah," ucap anak gadis itu.
"Kalau gitu kita bareng aja ngejenguk Kak Sarah," ucap El ramah.
"Iya Om."
Lampu nomor dua puluh lima yang berada di atas lampu lift menyala, sedetik kemudian pintu lift terbuka. Mereka keluar dari dalam lift. Pintu lift ketutup secara otomatis. Mereka menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat inap Sarah. Mereka menghentikan langkahnya di depan pintu kamar nomor dua. Mereka menemukan dua orang penjaga. Dua orang penjaga itu tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke El sehingga El membalasnya dengan senyuman yang ramah.
Salah satu dari dua orang bodyguardnya Sarah berbalik, lalu mengetuk pintu kamar itu. Tak lama kemudian pintu kamar dibuka oleh salah satu bodyguardnya Sarah yang bertugas di dalam kamar. Bodyguard itu tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke El sehingga El membalasnya dengan senyuman yang ramah. Mereka masuk ke dalam kamar itu. El sosok Antony yang sedang bercanda gurau dengan Sarah dan Aqila. Tiba - tiba rasa cemburu El muncul.
Sarah menoleh ke mereka, lalu berkata dengan ramah, "Selamat siang semuanya."
"Selamat siang Kak Sarah," ucap ketiga anak gadis itu senang dan kompak ketika berada di ujung tempat tidur.
"Ai, ini untukmu," ucap El lembut yang sedang berdiri di samping kanannya Antony sambil memberikan bucket mawar merah dan putih ke Sarah
"Terima kasih ya sayang," ucap Sarah bahagia sambil menerima bucket bunga itu, lalu menaruh bucket bunga itu di samping kirinya.
"Daddy mereka siapa?" ucap Aqila yang sedang duduk di atas pangkuan Sarah sambil menoleh ke para penggemarnya Sarah.
"Mereka para penggemarnya Mommy," ucap Antony lembut.
"Kak Sarah sudah menikah?" ucap salah satu para penggemarnya Sarah sambil menoleh ke Sarah.
"Belum sayang," ucap Sarah lembut sambil menoleh ke para penggemarnya.
"Tapi kenapa Kak Sarah disebut Mommy?" tanya yang satunya lagi.
"Aku yang menyuruhnya karena Aqila sangat menginginkan sosok seorang ibu."
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya Kak Sarah?" ucap yang satunya lagi.
"Alhamdulillah sudah lebih baik."
"Kak Sarah sakit apa?"
"Typus."
"Kenapa bisa kena typus?"
"Karena kecapekan. Oh ya, siapa yang namanya Rina, Selly dan Septia?" tanya Sarah sambil menatap ke para penggemarnya satu persatu.
"Saya Selly, anaknya dokter Sutrisno," ucap salah satu abg yang memakai bando.
"Kalau saya Rina," ucap abg yang rambutnya dikuncir kuda.
"Kalau saya Septia," ucap abg yang rambutnya dikepang.
"Oh ya Kak Sarah, ini ada parcel buah buat Kak Sarah dari kami," ucap Septia
"Terima kasih sayang," ucap Sarah senang. "El tolong ambilin dan taruh di atas nakas," lanjut Sarah sambil menoleh ke El.
Sarah meminta tolong kepada El karena dia tidak mungkin mengambil dan menaruh sebuah parcel buah. El mengambil parcel buah itu menaruhnya di nakas sebelah kanan tempat tidur. Salah satu penggemarnya Sarah membuka reselting tas selempangnya, lalu mengambil kamera digital miliknya. Orang itu mencolek teman - temannya, lalu mereka bertiga menganggukkan kepalanya.
"Boleh, ayo kita foto," ucap Sarah senang.
"Ayo sayang, Daddy gendong kamu," ucap Antony lembut sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Aqila.
"Nggak mau," ucap Aqila datar sambil memalingkan wajahnya.
"Boleh ya Ade Aqila ikut foto?" tanya Sarah sopan ke para penggemarnya.
"Boleh," ucap para penggemarnya kompak.
"Sini saya yang foto," ucap El sopan sambil berjalan pelan menuju para penggemarnya Sarah.
"Terima kasih Om atas bantuannya," ucap Selly sopan sambil memberikan kamera digitalnya ke El.
"Sama - sama," ucap El sambil menerima kamera digital.
__ADS_1
Tak lama kemudian para penggemarnya Sarah berjalan ke sisi kiri dan kanan ranjang. Antony membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya menuju sofa panjang. Para penggemarnya Sarah berada di kanan kiri tempat tidur. Berpose ala anak - anak ABG. Sedangkan El mengatur settingan kamera supaya bisa mendapatkan foto yang bagus.
"Ok, siap ya, satu dua tiga ciss," ucap El sambil memposisikan kamera di depan kedua matanya.
Cekrek, cekrek, cekrek
"Kita masih mau foto bersama lagi Om," ucap orang yang punya kamera digital ketika El hendak berjalan menghampiri dirinya setelah El membidik tiga kali jepretan.
"Permisi, waktunya makan siang," ucap seorang petugas rumah sakit sambil berjalan membawa sebuah nampan makan siang untuk Sarah.
"Maaf ya, aku mau makan siang dulu," ucap Sarah sopan sambil menatap ke para penggemarnya satu persatu.
"Baiklah, kami pulang, terima kasih banyak ya Kak Sarah," ucap anak perempuan yang punya kamera digital sambil berjalan menghampiri El.
"Sama - sama," ucap Sarah ramah ketika El memberikan kamera digital ke pemiliknya.
"Kamu pamit pulang ya Kak Sarah," ucap yang satunya lagi.
"Iya, hati - hati di jalan ya," ucap Sarah ketika pemilik kamera digital menaruh kamera digital itu ke tempat semula, lalu menutup reselting tasnya.
Para penggemarnya Sarah tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Sarah. Petugas rumah sakit itu melangkahkan kakinya ke pintu kamar setelah menaruh makan siangnya Sarah di atas meja depan sofa panjang, bareng sama para penggemar Sarah yang sedang melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Salah satu bodyguardnya Sarah telah membukakan kunci dan pintu kamar itu. Mereka melangkah keluar dari dalam kamar. Antony beranjak berdiri dari sofa panjang.
"Sayangku ayo kita pulang," ucap Antony sambil berjalan menghampiri Aqila yang masih di atas pangkuan Sarah.
"Nggak mau, aku mau masih di sini," ucap Aqila sambil memalingkan wajahnya lagi.
"Aqila, Kak Sarah kan harus istirahat dulu supaya cepat sembuh. Aqila juga harus istirahat supaya cepat besar," ucap El lembut.
"Sarah kami pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati - hati di jalan ya," ucap Sarah sopan.
Aqila memanyunkan bibirnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Terpaksa Antony menggendong Aqila. Aqila langsung menangis kencang sambil meronta - ronta. Dengan sekuat tenaga Antony berjalan menuju pintu kamar sambil menggendong Aqila yang sedang ngambek. Melewati pintu kamar yang terbuka. Salah satu bodyguardnya Sarah menutup pintu kamar itu setelah Antony dan Aqila keluar dari dalam kamar.
"Saatnya makan siang," ucap El senang sambil berjalan ke meja.
"Jangan disuapin lagi," protes Sarah sambil menoleh ke El yang sedang mengambil makan siangnya.
"Nggak bisa, tangan kananmu masih di infus," ucap El sambil berjalan menghampiri Sarah membawa makan siangnya Sarah.
__ADS_1
"Tapi nyendokinnya jangan banyak - banyak."
"Iya sayang."