
"Ayo kita ke sana," ucap wanita itu ramah, lalu mereka melangkahkan kakinya menuju ke apartemennya El.
"Nama kamu siapa?" tanya wanita itu ramah sambil menoleh ke Sarah.
"Sarah Nyonya," ucap Sarah sopan.
"Oh, kamu yang namanya Sarah. Pantesan anakku jatuh cinta sama kamu. Selain cantik, kamu juga baik hati. Saya adalah salah satu Maminya El, nama saya Renata, panggil aja Mami Renata," ucap Renata ramah.
"Iya Nyonya, eh Mami Renata."
"Maafkan saya ya yang telah merepotkanmu."
"Mami Renata tidak merepotkan diriku."
"Kamu mau ke apartemennya El?"
"Tadi udah ke sana buat ngasih makanan ke El, tapi Elnya lagi mandi, terus aku pulang lagi."
"Kamu tadi ketemu sama Florence?" ucap Renata sambil melewati pintu apartemennya El yang terbuka otomatis dan beberapa bodyguard.
"Iya," ucap Sarah sambil mengikuti langkahnya Renata.
"Dia itu sebenarnya calon istrinya El yang kami jodohkan, tapi El menolak perjodohan itu karena dia udah menjalin kasih sama kamu. Kami sich sebenarnya sangat menginginkan Florence menjadi istrinya El, tapi El kekeh milih kamu," ucap Renata sambil berjalan melewati pos penjagaan.
Sekilas Sarah melirik meja pos penjagaan. Di atas meja itu sudah tidak ada rantang yang dia titipkan sama salah satu satpam. Ucapan Renata telah mengusik hati kecilnya. Sarah sangat sadar diri bahwa dirinya tidak sederajat sama El, makanya itu Sarah tidak mengomentari ucapan Renata. Dia hanya mengikuti langkahnya Renata.
"Awalnya aku tidak setuju El pacaran sama kamu, tapi setelah melihat kamu akhirnya aku menyetujui hubungan asmara kalian," ucap Renata sambil berjalan menuju ke pintu lift.
"Terima kasih atas dukungannya Mami Renata," ucap Sarah sopan sambil menghentikan langkahnya, lalu memencet tombol panah ke atas di sebelah kanan pintu lift.
Pintu lift terbuka, lalu mereka masuk ke dalam lift. Sarah memencet tombol panah ke atas, sedetik kemudian pintu lift tertutup. Seketika suasana hening. Pintu lift terbuka, lalu mereka keluar dari dalam lift. Renata mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari sosoknya Florence, tapi dia tidak menemukannya.
"Sarah kita ke dapur aja ya," ucap Renata sambil menoleh ke Maysaroh.
"Iya Mami Renata."
"Setiap hari Minggu pagi Mami suka kasih makanan untuk El karena para maid libur. Kasihan El nggak punya makanan buat sarapan. Tapi sekarang El beruntung dapat makanan darimu," ucap Renata sambil berjalan ke dapur.
"Iya Mami Renata," ucap Sarah sambil mengikuti langkahnya Renata.
"Itu rantang kamu?" tanya Renata sambil menunjuk sebuah rantang di pinggir tempat cuci piring.
Kok rantangnya ada di situ?
Batin Sarah.
"Iya Mami Renata."
"Saya boleh menyicipi masakanmu?" tanya Renata sambil berjalan menghampiri rantang.
__ADS_1
"Boleh," ucapan Sarah sambil mengikuti langkahnya Renata.
"Kamu masak apa?" tanya Renata sambil menaruh cup cake di mengambil piring dari rak piring.
"Nasi uduk, ayam goreng, semur tahu, dan semur jengkol," ucap Sarah sambil menaruh beberapa cup cake di atas piring yang sudah disediakan oleh Renata.
"Wah, kedengarannya enak tuch. Sudah lama Mami nggak makan semur jengkol," ucap Renata sambil menaruh beberapa cup cake di atas piring.
"Keluar kamu dari sini!" teriak El yang membuat Renata dan Sarah terkejut.
Sontak Renata dan Sarah berlari ke sumber suara. Renata dan Sarah terkejut melihat Florence keluar dari dalam kamarnya El sambil menangis tersedu - sedu dan El hanya mengenakan handuk. Spontan Renata berlari menghampiri Florence. Mendekap tubuhnya Florence dengan erat, lalu mengelus punggungnya Florence supaya bisa menenangkan Florence.
"Ngapain Mami memeluk wanita yang tak punya harga diri! Kalau aku tak ingat kedua Mamiku, sudah ku pakai wanita itu!" ucap El marah.
"El! Kamu tak boleh seperti itu!" bentak Sarah yang membuat El terkejut.
Sontak El menoleh ke Sarah dengan wajah yang terkejut, lalu berucap, "Sejak kapan kamu di sini?"
"Kamu tak boleh begitu sama seorang wanita!" ucap Sarah kesal melihat kelakuan El yang jelek sambil berjalan menghampiri Florence.
El menahan langkahnya Sarah yang hendak ingin menghampiri Florence dengan menarik tangan kirinya Sarah, lalu berucap, "Tolong jawab pertanyaanku."
"El, apa yang telah kamu lakukan terhadap Florence sampai bajunya basah?" tanya Renata sambil menoleh ke El.
"Dia tiba - tiba masuk ke dalam kamar mandi dan memelukku dari belakang. Aku kaget melihat kelakuan dari seorang wanita yang baik - baik menurut kedua Mamiku. Sontak aku melepaskan pelukannya karena aku memandang nama baik kedua Mamiku. Aku langsung seret dia keluar setelah aku memakai handuk."
"Benarkah Flo?" tanya Renata lembut, lalu Florence mengangguk sebagai jawabannya.
Tak lama kemudian Renata membawa Florence keluar dari apartemennya El. Renata membimbing Florence berjalan menuju ke lift. Sarah meronta - ronta supaya El mau melepaskan tangannya dan dia bisa membantu Renata, namun usahanya sia - sia. El tersenyum meledek ke Sarah, lalu Maysaroh memeletkan lidahnya ke El. El tertawa kecil melihat reaksi Sarah.
Setelah Renata dan Florence pergi dari hadapan El dan Sarah. El langsung menarik tangan kirinya Sarah, lalu membawa Sarah masuk ke dalam kamar tidurnya. Sarah meronta - ronta masih tetap meronta - ronta. El mengunci pintu kamarnya setelah pintu kamarnya tertutup dengan menyentuh beberapa ikon di layar pemindai.
El melangkahkan kakinya menghampiri tempat tidurnya sambil menyeret Sarah yang masih meronta - ronta. El menduduki tubuhnya di tepian tempat tidur, lalu menarik Sarah hingga Sarah duduk di atas pangkuannya dengan posisi membelakangi El. Sarah mendengus kesal karena usahanya sia - sia. El mencium tengkuk lehernya Sarah yang membuat Sarah kegelian.
"Stop El! Lepasin aku!" ucap Sarah kesal.
"Ada syaratnya," bisik El dengan nada suara yang menggoda.
"Jangan macam - macam syaratnya."
"Hanya satu macam, cium bibirku," bisik El.
"Itu sama aja," ucap Sarah datar.
"Ya udah kalau nggak mau cium, kita begini terus," bisik El.
"Aih, ada - ada aja syaratnya," gerutu Sarah.
"Aku sich terserah kamu, mau pilih apa, cium bibirku atau kita begini terus," ucap El lembut.
__ADS_1
"Ehmmm, cium bibir kamu," ucap Sarah.
"Gitu dong," ucap El senang.
Tak lama kemudian El melepaskan pergelangan tangan kirinya Sarah. Sedetik kemudian Sarah langsung berdiri, lalu berlari menuju ke pintu kamarnya El. Menghentikan langkahnya ketika berada di depan layar pemindai. Berusaha membuka kunci pintu dengan menyentuh beberapa ikon di layar pemindai tapi usahanya tidak berhasil.
"Sampai kapan pun kamu tidak berhasil membuka kunci pintu kamar ini tanpa tahu kata sandinya," ledek El sambil berjalan menghampiri Sarah.
"Aku pasti bisa," ucap Sarah yang masih berusaha untuk membuka kunci pintu kamar.
"Kalau begitu terus akan merusak pintunya dan kita berduaan di sini terus," ledek El sambil menghentikan langkahnya tepat di belakang Sarah.
Sontak Sarah menghentikan upayanya. Sarah membalikkan badannya hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Sarah menjadi kikuk, sedangkan El sangat bahagia bisa sangat dekat dengan Sarah. Tatapan kedua mata mereka saling beradu. El tersenyum manis ke Sarah.
"El, please jangan itu syaratnya," ucap Sarah memelas.
"Tadi kamu mengiyakan," ledek El.
"Tadi aku mengiyakan itu supaya aku bisa lepas dari genggamanmu."
"Aku janji, setelah kamu menciumku, aku akan melepaskanmu," bisik El serius.
Tak lama kemudian Sarah mendekatkan bibirnya ke bibirnya El. Mengecup bibirnya El, lalu menjauhkan bibirnya dari bibirnya El. El tertawa kecil. El membelai wajahnya Sarah sambil menatap Sarah dengan tatapan mata yang penuh dengan cinta hingga membius Sarah. El menarik tengkuk leher dan pinggangnya Sarah. Mendekatkan bibirnya ke bibirnya Sarah. Sarah memejamkan kedua matanya karena tak kuasa melihat tatapan matanya El.
"Buka mulutmu," bisik El.
Sarah membuka mulutnya, lalu El ******* bibirnya Sarah dengan penuh kelembutan. Setelah **********, El menghisapnya sambil memejamkan kedua matanya. Mengabsen deretan giginya Sarah. Sedangkan Sarah terdiam kaku menerima perlakuan El karena baru pertama kali Sarah merasakan ciuman dari seorang pria. Sarah meresapi getaran - getaran halus di relung hatinya sama seperti getaran - getaran halus yang dia rasakan jika berdekatan dengan Juneidi.
****! Ada yang bangun.
Batin El.
Perlahan Dede kecil milik El terbangun. El menghentikan ciumannya. Menjauhkan bibirnya dari bibirnya Sarah. Mencium keningnya Sarah dengan lembut. Melepaskan tangannya dari tengkuk leher dan pinggangnya Sarah. Sarah membuka kedua matanya. El tersenyum manis mengingat betapa polosnya Sarah. El mundur dua langkah.
"Kamu baru pertama kali dicium sama pria?" tanya El senang, lalu Sarah mengangguk sebagai jawabannya. "Wah aku beruntung dong, orang yang pertama mencium bibirmu," lanjut El senang.
"Aku yang rugi," protes Sarah. "Aku pengen yang pertama kali mencium bibirku adalah suamiku."
"Beberapa bulan lagi aku akan menjadi suamimu," ucap El lembut.
"Benaran kamu mau jadi suamiku?"
"Iya."
"Tapi aku belum mencintaimu seutuhnya dan aku belum mengenal dekat dengan keluargamu."
"Cinta itu akan tumbuh menjadi besar jika kita sering bertemu. Mulai besok, aku akan mengenalkan keluargaku satu per satu ke kamu."
"Udah cepatan buka kunci pintu kamarnya."
__ADS_1
"Nanti aja setelah aku mandi lagi," ucap El, lalu secepat kilat dia berlari menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur.
"Dasar tukang pemaksa."