
"Assalamu'alaikum," salam Rogaya ketika berada di depan balai pos kamling warga.
"Wa'alaikumussalam," ucap Pak RT ramah. "Masuk Bu Rogaya."
Tak lama kemudian Rogaya beserta bodyguardnya masuk ke dalam balai pos kamling warga.
Rogaya menduduki kursi yang kosong, lalu berucap sambil menoleh ke Pak RT, "Maaf sudah merepotkan Pak RT dan para warga atas kegaduhan di depan rumah gw. Kalau boleh tahu kenapa semua itu bisa terjadi?"
"Iya nggak apa - apa Bu Rogaya. Awalnya Mariana gedor - gedor rumahnya Ibu sambil teriak. Kebetulan Ricky lewat, lalu Ricky membantu Mariana menggedor pintu rumahnya Ibu. Nggak sengaja Zarkasih lewat depan rumahnya Ibu yang berisik karena ulahnya Mariana dan Ricky. Zarkasih menasehati mereka berdua, tapi mereka berdua malah mengelak, ngatain Bu Rogaya Almarhum Babe Rojali dan Sarah. Zarkasih tidak bisa menerimanya. Akhirnya Zarkasih menonjok Ricky, terus Ricky membalasnya sehingga mereka berkelahi. Semua warga sudah berusaha memisahkan tapi tetap nggak bisa karena mereka bisa melepaskan diri dari para warga yang menahan tubuhnya mereka. Untung ada Nak Antony yang berhasil memisahkan mereka dengan menonjok wajah mereka berdua. Nah ketika tubuh mereka terkapar, para warga memegang tubuh mereka berdua, lalu dibawa kemari. Kami sidang untuk menyelesaikan masalah itu," penjelasan Pak RT.
"Elu ngapain datang ke rumah?" tanya Rogaya sambil menoleh ke Mariana.
"Yah terserah gw dong mau ngapain, itu juga rumah gw!" ucap Mariana ketus tanpa menoleh ke Rogaya.
"Itu bukan rumah elu lagi!" ucap Rogaya kesal.
"Eh! Nenek lampir! Di dalam rumah itu masih ada barang - barang gw! Elu mau ngakuin barang - barang gw, seperti elu mengakui barang - barangnya Sarah dulu!!" ucap Mariana marah sambil menatap marah ke Rogaya.
"Mariana tolong jaga sikap anda!" bentak Pak RT sambil menoleh ke Mariana.
"Ngapain juga Pak RT membela wanita tua yang jahat itu. Asal Pak RT tahu, dia dulu sering menyiksa Sarah dan sering mencaci maki Sarah tanpa sebab. Oh ya dia juga sering mengambil uang dan barang - barangnya Sarah. Wanita seperti itu tak pantas untuk dibela," ucap Mariana.
"Mariana!!! Tolong jaga ucapan anda!!!" teriak Sarah yang sedang berdiri di ambang pintu balai pos kamling warga.
"Eh elu wanita sok suci! Ngapain elu bela wanita tua yang pernah jahatin elu!" ucap Mariana sambil menoleh ke Sarah yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
Plak
Sarah menampar pipi kanannya Mariana sehingga ujung sebelah kanan bibirnya Mariana mengeluarkan darah sedikit. Sontak Mariana memegang pipinya yang terluka sambil menatap marah ke Sarah. Ricky langsung berdiri, lalu melayangkan tonjokan ke arah Sarah. Dengan sigap Sarah menangkisnya, lalu memelintir tangan kanannya Ricky.
"Aaauuuuwwww!!" pekik Ricky kesakitan sambil memegang tangan kanannya.
Spontan Mariana berdiri dari kursinya. Berjalan tanpa sopan santun. Menggandeng tangan kirinya Ricky. Memapah Ricky berjalan keluar dari balai pos kamling warga tanpa sopan santun. Semuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikapnya mereka. Sarah duduk di kursi bekas Mariana. Menoleh ke Rogaya yang sedang menangis terisak - Isak sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Sarah menoleh ke Pak RT, lalu berucap dengan sopan, "Apakah masalah sudah selesai Pak RT?"
"Sudah Sarah. Untung ada Nak Antony yang membantu kami untuk memisahkan Ricky dan Zarkasih yang sedang berkelahi. Tadi hasil sidangnya, Nak Antony yang akan bertanggung jawab atas biaya pengobatan Zarkasih dan Ricky, tapi Ricky menolaknya. Dan Nak Antony yang akan bertanggung jawab atas pembobolan kunci pintu rumahnya Bu Rogaya atas izin Bu Rogaya," ucap Pak RT sambil menoleh ke Sarah.
"Bagaimana ceritanya Pak RT sampai mereka berkelahi?" tanya Sarah sopan.
"Tadi tuch Mariana datang ke rumah itu untuk mengambil barang - barangnya yang ketinggalan di sana. Dia kesal karena pintu rumah itu dikunci dan dia tidak dikasih kunci serepnya, makanya dia gedor - gedor rumah itu. Kebetulan Ricky lewat, dia bantu Mariana untuk menggedor pintu rumahnya Bu Rogaya. Nggak sengaja Zarkasih melewati rumah itu dan melihat kelakuan Mariana dan Ricky yang sedang menggedor pintu rumahnya Bu Rogaya. Zarkasih menasehati mereka, tapi mereka mengelak, ngatain Bu Rogaya, almarhum Babe Rojali dan Sarah. Zarkasih tidak bisa menerima itu, lalu Zarkasih menonjok Ricky. Terus Ricky membalasnya sehingga mereka berkelahi."
"Kunci Pintu rumah itu berhasil dibobol?"
"Belum karena dari tadi Bu Rogaya susah dihubungi lewat telepon. Kami membobol kunci pintu rumah itu karena desakan dari Mariana."
Sarah menganggukkan kepalanya karena mengerti maksud dari ucapan Pak RT, lalu berkata dengan sopan, "Terima kasih ya Pak RT dan para warga yang sudah membantu menyelesaikan masalah ini. Mohon maaf karena kami menyusahkan kalian dan membuat keributan di wilayah ini."
"Iya, nggak apa - apa Sarah. Sama - sama Sarah," ucap Pak RT ramah.
"Zarkasih terima kasih banyak ya. Sebaiknya sekarang kamu ke klinik," ucap Sarah panik dan khawatir melihat luka lebam di wajahnya Zarkasih.
"Iya, sama - sama Sarah. Pak RT saya pamit dulu ya, terima kasih Pak RT, Pak Antony dan para warga. Mohon maaf ya saya telah merepotkan kalian semua," ucap Zarkasih sopan.
"Njar, nanti kwitansi pengobatan tolong kasih ke saya ya," ucap Antony sopan.
"Iya Pak Antony," ucap Zarkasih, lalu Zarkasih berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari balai pos kamling warga dengan sopan.
"Pak Antony terima kasih banyak ya atas bantuannya, maaf telah merepotkan anda," ucap Sarah sopan sambil menoleh ke Antony.
"Iya sama - sama Sarah. Kamu tidak merepotkan saya," ucap Antony lembut.
"Pak RT, saya dan Nyak saya pamit pulang dulu, assalamu'alaikum," ucap Sarah sopan.
"Wa'alaikumussalam," ucap Pak RT.
"Saya juga pamit pulang dulu Pak RT, assalamu'alaikum," ucap Antony sopan ketika Sarah sedang membantu Rogaya berdiri.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," ucap Pak RT.
Tak lama kemudian Antony berdiri dan berjalan ke arah Sarah yang sedang memapah Rogaya berjalan. Dengan sigap Antony membantu Sarah untuk memapah Rogaya berjalan di samping kirinya Rogaya. Sarah menoleh ke Antony. Antony tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Sarah sebagai kode supaya dia bisa membantu Sarah untuk memapah Rogaya berjalan.
Mereka berjalan pelan keluar dari balai pos kamling warga dengan sopan. Sarah, Antony dan para bodyguard melintasi jalan beraspal, lalu menyeberang jalan. Memasuki pekarangan rumahnya Rogaya, lalu menghentikan langkah kaki mereka di teras rumahnya Rogaya. Sarah mengorek saku sebelah kanan celananya untuk mengambil kunci pintu rumahnya. Mengambil kunci pintu rumah itu, lalu menancapkan kunci itu ke tempatnya.
Memutar dua kali kunci pintu rumah itu ke kiri. Menekan handle pintu rumah itu ke bawah, lalu mendorongnya hingga pintu rumah itu terbuka. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah melewati pintu itu. Berjalan melewati ruang tamu. Menghentikan langkah kaki mereka ketika mereka berada di ruang keluarga. Sarah dan Antony menduduki Rogaya di sofa panjang dengan sangat hati - hati.
"Assalamu'alaikum Sar," salam Maimunah dengan nafas yang tersengal - sengal.
"Wa'alaikumussalam," balas Sarah sambil menoleh ke Maimunah.
"Bagaimana masalahnya?" ucap Maimunah sambil menduduki tubuhnya di ujung sofa panjang.
"Sudah selesai Munah. Munah tolong jaga Nyak ya."
"Iya."
"Pak Antony silakan duduk, saya ke kamar dulu ya," ucap Sarah sopan.
Antony tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Sarah. Tak lama kemudian Sarah melanjutkan langkahnya ke pintu kamarnya. Menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu kamar terbuka. Sarah berjalan masuk ke dalam kamarnya. Menduduki tubuhnya di tepian sebelah kanan tempat tidurnya. Membuka laci meja belajarnya untuk mengambil sebuah lukisan yang ingin dia berikan ke Aqila.
"Di mana ya lukisan ikan lumba - lumba itu," ucap Sarah sambil membongkar isi laci itu.
Tak sengaja Sarah menemukan selembar foto keluarga. Sarah mengambil foto itu. Menyentuh gambar foto itu dengan penuh kasih sayang. Tak terasa air matanya mengalir lembut sambil melihat foto yang menggambarkan kebahagiaan sebuah keluarga. Tak sengaja Antony yang berada di depan kamarnya Sarah melihat Sarah sedang menangis. Spontan Antony masuk ke dalam kamarnya Sarah. Antony menduduki tubuhnya di samping kirinya Sarah.
"Kamu kenapa menangis?" ucap Antony lembut.
Sarah menoleh ke Antony, lalu berucap, "Aku merindukan Babe, hiks ... hiks ... hiks ...."
Sontak Antony mendekap Sarah dengan penuh cinta. Sarah menangis di dalam dekapan Antony. Antony mengecup puncak kepalanya Sarah dengan penuh kasih sayang berulang kali. Antony tidak tega membiarkan seorang wanita yang dia cintai menangis, dia ingin berada di samping wanita yang dia cintai ketika seorang wanita yang dia cintai sedang sedih.
"Hiks ... hiks ... hiks ... sejak Babe meninggal keutuhan keluarga ini berantakan, hiks ... hiks ... hiks ... Mariana kabur entah ke mana, Nyak sering menangis yang membuat tubuhnya lemah hiks ... hiks ... hiks ...."
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, kamu bisa mencurahkan semuanya karena ada aku di sampingmu."