Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
El Benar - Benar Bucin Sama Sarah


__ADS_3

"Faster Ai Aaakkkhh ... aaakkkhh ... aaakkkhhh ... aaakkkhhh ...."


Sarah terbangun setelah mendengar suara ******* dari samping kanan tubuhnya. Merasakan ada sesuatu yang menggerayangi separuh badannya. Membuka kedua matanya secara perlahan. Menyesuaikan bias sinarnya lampu yang terang yang masuk ke dalam kedua kornea matanya. Sarah menoleh ke samping kanannya setelah kedua matanya terbuka sempurna.


Sarah melebarkan kedua matanya melihat El sedang me lu mat penghasil susu milik Sarah sambil memejamkan kedua matanya. Tangan kanannya El menyentuh paha kanannya Sarah dengan sentuhan seringai laba - laba. Sarah merasakan basah di bagian bawah tubuhnya El. Keringat peluh menyelimuti tubuhnya El. Sarah menggoyangkan tubuhnya El, tapi tidak ada reaksi dari El.


"El, udah bangun atau masih tidur sich? Kayaknya ... dia masih tidur, dan sedang mimpi basah nich," gumam Sarah bermonolog sambil melihat El yang sedang bermimpi, lalu Sarah menendang tubuhnya El hingga El terjatuh.


Brakkk ...


El langsung terbangun. Membuka kedua matanya secara perlahan. Mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan biasan cahaya lampu yang silau. Dia merasakan seluruh tubuhnya basah semua dan pusing di kepalanya. Dia melihat Sarah sedang berdiri di depannya sambil bertolak pinggang dan memasang wajah yang sangar. El langsung mengganti posisi tubuhnya dari tidur terlentang ke duduk berselonjor.


"Ai, kepalaku pusing," keluh El.


"Bodo amat! Kamu tadi mimpi apa sich sampai menggerayangi sebagian tubuhku?" ucap Sarah dengan kesal.


"Ehm ... mimpi lagi anu - anu sama kamu Ai," ucap El jujur.


"Dasar mesum!" bentak Sarah marah.


"Maafi aku ya Ai," ucap El memelas.


"Udah sana mandi! Sebentar lagi adzan subuh! Jangan lupa mandi junub!" ucap Sarah kesal, lalu Sarah melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya melewati pintu kamar yang terbuka.


"Huhhh ...," El menghela nafas panjang.


"Jangan lupa telepon Lee, tanyain kabarnya!" teriak Sarah dari luar kamar.


El beranjak berdiri, lalu melangkahkan kakinya lemas ke celana jinsnya yang sedang digantung. Mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Lee. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Beberapa kali mendengar nada sambung, tapi belum dijawab sama Lee sehingga bunyi yang terakhir baru dijawab sama Lee.


"Hallo ada apa El pagi - pagi buta telepon gw?" ucap Lee dengan suara yang parau.


"Gimana kabar elu?" tanya El datar.


"Udah mendingan. El elu mendingan cari lagi orang untuk ngejagain Sarah. Dia punya musuh lagi selain Pak Trisno."


"Iya, gw udah tahu hal itu. Elu nginep di rumah Zarkasih?"


"Iya. Elu masih di Surabaya?"


"Udah pulang. Gw sekarang masih di rumahnya Sarah."


"What the hell!? Elu ngapain di sana?! Elu jangan macam - macam sama dia loh!" ucap Lee terkejut.

__ADS_1


"Hey sompret! Kok elu marah sich! Terserah gw mau ngapain. Lagi pula gw hanya tidur bareng sama Sarah sambil berpelukan, tidak lebih dari itu!" ucap El kesal.


"Yah lebih baik begitu dari pada berbuat mesum di rumah itu. Ya udah nanti jemput gw aja di rumahnya Zarkasih, sekalian tolong bawain mobil gw."


"Ogah! Elu telepon Edward. Minta tolong cariin supir buat elu. Bilang disuruh sama El."


"Kenapa nggak sama elu aja sich?"


"Gw lagi mau berduaan sama Sarah seharian penuh biar nggak diganggu sama cowok - cowok yang lain lagi, lagi pula gw ingin lepas rindu sama dia."


"Ya elah segitunya yang kangen sama calon istri. Elu kayak alay posesifnya," ledek Lee.


"Nanti elu juga ngerasain, makanya cepetan punya pacar, jangan ngejomblo melulu!" ledek El.


"Ya udah, nanti gw telepon Edward.


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Lee menjauhkan benda pipih itu dari telinga kanannya. Menguap karena masih mengantuk. Lee melihat jam dinding yang dipajang di salah satu sisi di dinding kamar. Dia melihat sudah pukul setengah lima pagi. Edward menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk menghubungi Edward. Mendekatkan benda pipih itu lagi ke telinga kanannya.


"Hallo Ed!" sapa Lee.


"Hallo Lee. Kalian berdua sama aja, suka gangguin gw lagi molor. Ada apa sich?"


"Gw disuruh El buat nelpon elu. Gw minta tolong cariin supir buat gw beberapa hari."


"Yah mana gw tahu. Jam setengah sebelas malam tadi El minta cariin tiket pesawat ke Jakarta dari Surabaya sama elu Ed?"


"Iya, katanya sich si Sarah diserang lagi. Tuch anak segitu paniknya sama keadaan calon istri tercinta sampai rela ngorbani urusan perusahaan. Untung gw berbaik hati yang selalu membantunya dalam keadaan kepepet."


"Kayaknya dia cinta banget sama Sarah. Sampai rela nungguin Sarah di rumahnya."


"Maksud elu apa Lee?"


"El nginep di rumahnya Sarah karena saking khawatirnya sama keadaan orang yang sangat dia cintai. Kayaknya dulu dia sama Viola nggak begini - begini benget dach."


"What!? Dia tidur di rumahnya Sarah? Mereka ngapain berduaan di sana?"


"Katanya El sich nggak ngapain - ngapain."


"Kuat banget dia nahan libidonya," ujar Edward.


"Dia suka main sendiri di kamar mandi," celetuk Lee.


"Emang benar dia suka main sendiri di kamar mandi?"

__ADS_1


"Iya. Dia pernah nanyain kalau main sendiri di kamar mandi ada efek samping nggak sama gw. Terus dia cerita selama pacaran sama Sarah, dia nggak pernah berhubungan intim dan bercumbu lagi sama wanita. Dia udah janji sama Sarah kalau dia ingin berubah untuk mempertahankan rasa saling mencintai di antara mereka."


"Gw jadi salut sama El. Berarti dia sudah benar - benar berubah. Kayaknya Sarah adalah cinta pertamanya El."


"Selain cinta pertama, tapi juga cinta matinya," ujar Lee.


"Elu sekarang lagi di mana?"


"Di rumahnya Zarkasih."


"Zarkasih sahabatnya Sarah?"


"Iya."


"Ngapain elu di sana?"


"Semalam kan gw sama Sarah diserang sama kelompoknya Ricky."


"Ooo, jadi selama El berada di luar kota, yang jagain Sarah elu."


"Iyalah. Yang jago bela diri selain dia kan, aku. Oh ya Ed, ternyata Sarah jago banget bela dirinya. Gw lihat langsung bagaimana dia beraksi. Gw sampai takjub melihatnya. Gw aja semalam sempat lalai sampai kaki gw ketendang dan tulang dengkul gw kegeser. Untung ada Juneidi dan beberapa orang yang bantuin kita ngurusi masalah ini."


"Tapi yang gw denger yang jago bela diri di kampungnya Sarah adalah Juneidi."


"Pantesan orang - orang komplotan Ricky ketakutan pas lihat sosoknya Juneidi."


"Dia itu mantannya Sarah."


"Ah masa sih Ed, setahuku dia saudaranya Sarah.


"Mantan pacar iya, saudara iya."


"Pantesan cara memandang Juneidi ke Sarah seperti cara pandang seorang cowok ke ceweknya. El tahu itu?"


"El udah tahu kok. El itu cemburu sama Juneidi, tapi selalu dia tahan."


"Jangankan sama Juneidi, sama gw aja dia cemburuan. Masa pas gw jagain Sarah, dia selalu nelepon Sarah. Dan selalu ingetin gw jangan macam - macam sama Sarah. Sampai semalam gw kerjain dia. Gw bilang, gw nginep di rumahnya Sarah."


"Pantesan dia langsung ke rumahnya Sarah dan nginep di sana," ujar Edward.


"Dan parahnya lagi dia ingin berduaan sama Sarah seharian penuh biar Sarah nggak diganggu lagi sama cowok - cowok yang lain."


"El Bmbenar - benar bucin sama Sarah," celetuk Edward.

__ADS_1


__ADS_2