
Dilike ya guys 😊
Dikomen ya guys 😁
Divote ya guys 😊
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Secara perlahan Sarah membuka kedua kelopak matanya. Sarah mengedipkan kedua netranya berulang kali supaya bisa menyesuaikan bias cahaya lampu yang menyeruak masuk menembus kornea kedua matanya. Setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna, Sarah mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan. Dia tidak mendapati sosok El dan para bodyguard.
Hatinya merasa lega karena dia bisa menelpon Mariana lagi. El melarang Sarah menelpon Mariana karena Mariana dari kemarin pagi tidak pernah menjawab panggilan telepon dari Sarah dan tidak pernah membalas panggilan Sarah. Menurut El, Mariana sengaja melakukan itu karena ingin menjatuhkan harga dirinya.
Tapi beda dengan pendapatnya Sarah. Menurut Sarah telah terjadi sesuatu pada Mariana dan bayinya. Makanya dia sangat khawatir sama kondisinya Mariana dan Michael, anaknya Mariana. Jika tidak ada El di sampingnya, dia langsung ingin menelpon Mariana. Selain dia khawatir sama keadaan Mariana dan Michael, dia juga sudah berjanji kepada Nyak untuk mengajak mereka tinggal bersama lagi.
Sarah mengambil smartphone miliknya yang berada di samping kirinya. Menyentuh beberapa ikon smartphone miliknya yang baru untuk menghubungi Mariana lagi. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Mendengar nada sambung. Sarah mendengus kesal karena sudah semenit menunggu panggilan teleponnya dijawab. Namun sedetik kemudian panggilan telepon itu dijawab.
"Hallo, assalamu'alaikum," ucap Sarah sedikit panik.
"Wa'alaikumussalam, ada apa elu telepon gw terus?" ucap Mariana datar.
"Bagaimana kabarnya kamu dan Michael?"
"Nggak usah basa - basi dech, ada apa elu telepon gw?"
"Aku mau ngajak kalian tinggal bareng lagi di penthousenya El. Aku sangat khawatir sama keadaan kalian, makanya aku ingin mengajak kalian tinggal bersamaku."
"Iya."
Tak lama kemudian panggilan telepon itu diputusin sama Mariana. Sarah menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Meletakkan benda persegi panjang itu di samping kirinya. Sarah merubah posisi tempat tidur dari posisi tidur ke posisi duduk dengan memencet tombol yang berada di samping kiri ranjang. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Tadi setelah sholat subuh, sarapan, dan minum obat, Sarah tidur lagi. Meraih remote televisi yang berada di atas nakas sebelah kiri ranjang. Menyalakan televisi untuk menonton. Acara di televisi menampilkan sebuah iklan susu ketika El membuka pintu kamar mandi. El melangkahkan kakinya menghampiri Sarah setelah menutup pintu kamar mandi. Duduk di samping kirinya Sarah.
"Hallo pemirsa jumpa lagi di Ceti, cerita selebriti," ucap presenter cewek acara infotainment yang ceria.
"Pemirsa, kabar selanjutnya dari penyanyi pendatang baru kita yang bernama Sarah," ucap presenter yang cowok yang semangat.
"Ternyata berita tentang Sarah yang kemarin tidak benar. Kami mempunyai klarifikasi mengenai berita itu dari calon suaminya Sarah, silakan kita simak videonya," ucap presenter cewek.
"Berita yang beredar tentang Sarah itu tidak benar. Kami tidak pernah kumpul kebo walaupun kami tinggal seatap. Sarah tidak pernah melupakan keluarga yang telah membesarkannya, makanya dia memboyong semua anggota keluarga itu untuk tinggal bersama di penthousenya saya demi keamanan mereka. Sarah bukan anak buangan, dia diculik. Ketika penculiknya kepepet karena dikepung sama polisi, dia menaruh Sarah yang masih bayi di atas tumpukan sayuran. Mariana suka asal ngomong karena dia sedang stres, makanya saya mohon kepada kalian untuk tidak mendengarkan omongan dari dia. Dia stres karena dia diusir sama suaminya. Saya rasa cukup penjelasan dari saya untuk mengklarifikasi berita tentang Sarah yang sedang beredar saat ini. Terima kasih atas perhatiannya," ucap El di dalam rekaman video.
El mematikan televisi. Sarah menoleh ke El ketika El menaruh remote televisi di tempat semula. Sarah terlihat kesal karena masih tidak boleh menonton televisi. El memeluk perut ratanya Sarah ketika Sarah memalingkan wajahnya. El menciumi leher jenjangnya Sarah. Menikmati aroma dari tubuhnya Sarah yang belum mandi.
"Kamu belum sembuh, jadi masih belum bisa menonton tv," bisik El lembut.
__ADS_1
"Kalau begini terus aku bosen El," ujar Sarah datar.
"Aku punya tebak - tebakan, kalau nggak bisa dan bisa jawab dicium bibirnya," bisik El.
"Apa!? Kok aturan permainannya seperti itu sich? Itu namanya nggak adil. Kalau aku bisa jawab tebak - tebakanmu, kamu kirimin makanan untuk makan siang Antony selama sebulan. Deal?" ucap Sarah sambil menoleh ke El.
"Ok. Apakah itu? Berbiji, berbatang, berbulu, berkulit," ucap El dengan nada suara yang menggoda.
"Masih pagi udah mesum aja," celetuk Sarah.
"Aku nggak mesum."
"Tapi nada suara kamu yang mesum."
"Jawabannya apa?" bisik El.
"Ehm ... apa ya?" ucap Sarah sambil berfikir.
"Nyerah nggak?"
"Tunggu sebentar El."
"Aku hitung ya, satu dua tiga. Jawabannya apa?"
"Rambutan."
Tak lama kemudian Sarah menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan El. El mencium bibirnya Sarah dengan penuh kelembutan. Sarah membalas ciuman El. Pelukan El di atas perut Sarah semakin erat. El merubah posisi tanpa mengenai tangan kanannya Sarah. Sekarang posisinya El berada di atas tubuhnya Sarah tanpa melepaskan ciuman mereka. Tanpa mereka sadari, seorang suster masuk ke dalam kamar dan melihat adegan mesra mereka.
"Ekhmmm," deheman suster itu yang mengejutkan bagi mereka.
Sontak mereka menghentikan kegiatan panas mereka dan El menjatuhkan tubuhnya di samping kirinya Sarah. Suster berjalan menghampiri Sarah ketika El beranjak berdiri dari tempat tidur pasien. Sedangkan Sarah merapikan pakaiannya yang berantakan karena ulahnya El. Suster itu membuka tempat tensimeter ketika berada di sebelah kirinya Sarah.
"Selamat pagi suster, maaf ya karena kita telah berciuman di sini," ucap Sarah merasa bersalah.
"Enggak apa - apa Bu, hal itu sudah dimaklumi," ucap suster itu sambil memasang alat tensimeter di tangan kirinya Sarah dengan gemetaran.
"Nggak usah merasa bersalah gitu Ai," ucap El sambil membelai puncak kepalanya Sarah.
"Aku merasa bersalah karena kita berciuman di depan dia. Aku kan jadi nggak enak hati dan jadi malu," protes Sarah.
"Santai aja Bu, saya sudah biasa lihat orang ciuman," ucap suster itu sambil melepaskan alat tensimeter dari lengan kirinya Sarah.
"Wah kalau gitu tadi kita tidak usah menghentikan kegiatan kita Ai," ledek El.
__ADS_1
"El!" ucap Sarah kesal.
"Orangnya juga nggak apa - apa."
"Hasil tekanan darahnya saya normal Sus?" tanya Sarah yang mengalihkan pembicaraan.
"Normal Bu," kata suster sambil mencatat hasil tekanan darahnya Sarah di berkas catatan pasien.
"Suster kalau hasil pemeriksaaan dia bagus, apakah dia boleh segera pulang?" tanya El.
"Itu tergantung keputusan dokter yang menanganinya," kaya suster itu sambil mengambil termometer digital
"Suster jangan gemeteran gitu megang tangannya Sarah, nanti alatnya salah taruh loh," ledek El ketika dia baru mengetahui suster itu gemetaran saat mengangkat tangan kirinya Sarah untuk mengukur tensimeter dan suhu tubuhnya Sarah dengan menggunakan termometer digital.
"Saya nervous, hehehe," ucap suster itu malu - malu setelah menaruh termometer digital itu di ketiaknya Sarah.
"Ngefans ya sama Sarah?"
"Hehehe, iya," ucap Suster itu dengan raut wajah yang malu - malu lucu.
"Kamu mau foto bareng sama Sarah?"
"Iya mau Tuan," ucap suster itu dengan raut wajah yang senang.
Bip... bip... bip.... bunyi batas waktu pemeriksaan suhu tubuhnya Robin dengan menggunakan termometer digital. Suster itu mengangkat tangan kirinya Sarah, lalu mengambil termometer digital itu dengan gemetaran. Menaruh termometer itu di tempat yang semula.
"Santai aja Sus sama saya," ucap Sarah ketika melihat suster yang sedang mencatat sesuatu di berkas data pasien.
"Iya Sarah," ucap suster itu sambil mengambil termometer digital di ketiak Robin dan mencatat suhu tubuhnya Robin di berkas pasien.
"Kapan dokter Sutrisno periksa saya lagi Sus?" tanya Sarah yang membuat El cemburu.
"Kemungkinan besar nanti siang Bu."
"Sus, bisa nggak Sarah diganti dokternya?" tanya El yang membuat Sarah curiga.
"Maaf Tuan, itu tidak bisa diganti."
"Udah El kamu jangan cemburu gitu dech, aku menanyakan itu karena aku ingin tahu perkembangan kondisi kesehatanku. Kan hanya dia yang tahu hal itu," ucap Sarah datar.
"Saya permisi dulu ya Bu," ucap Suster itu sopan.
"Maaf nanti aja fotonya, saya masih banyak kerjaan. Saya permisi dulu."
__ADS_1
El dan Sarah menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan suster itu. Suster itu membalikkan badannya sambil membawa perlengkapannya. Berjalan menghampiri pintu kamar rawat inap Sarah. Pintu kamar itu terbuka yang menampilkan sosoknya Zarkasih dan Maimunah. Suster itu keluar dari dalam kamar seiring dengan masuknya Zarkasih dan Maimunah. Pintu kamar itu ditutup oleh salah satu bodyguardnya Sarah.
"Yah, datang lagi pengganggu."