
"Yah, mulai besok kamu sudah nggak ngajar lagi di sini. Aku pasti sangat merindukanmu," ucap Tania sedih setelah mereka selesai mengajar.
"Tapi kan kita masih bisa berhubungan, sering - sering kirim kabar, janjian ketemuan, pasti bisa mengobati rasa rindumu," ujar Sarah sambil merangkul pundaknya Tania.
"Kamu mah enak, baru lulus langsung dapat pekerjaan," ucap Tania.
"Rezeki orang berbeda - beda Nia. Kamu juga enak, punya orang tua yang kaya, semua keinginan kamu dituruti. Allah itu maha adil Nia."
"Iya sich. Eh, by the way, itu cowok kamu yang kuliah di Arab?" ucap Tania sambil melihat El yang sedang berjalan menghampiri mereka sambil membawa karangan bunga mawar.
Sarah langsung mengikuti arah pandang kedua matanya Tania, lalu berucap, "Bukan, dia pacar baruku."
"Widihhhh, keren banget Sar. Yang lama kenapa putus?"
"Dia udah nikah."
"Kok kamu nggak cerita ke aku sich? Kamu pasti sedih waktu itu."
"Hehehe maaf aku tidak menceritakan tentang itu ke kamu. Yah, sedih sich, tapi untuk apa kita berlarut - larut dalam kesedihan."
"Yup, itu benar sekali, aku setuju. Gugur satu, tumbuh seribu. Lagipula penggantinya nggak kalah gantengnya, kayak oppa - oppa Korea."
"Kamu bisa aja."
"Kapan kalian jadian?
"Hari Sabtu."
"Masih hot - hotnya dong," ledek Tania.
"Nggak ada gituan."
"Memangnya kamu selama pacaran nggak pernah ciuman?"
"Nggak pernah."
"Eh, aku udah dijemput, aku pulang duluan ya, bye Sar," ucap Tania, lalu mereka cipika - cipiki.
Tania beranjak berdiri dari bangku sekolah, lalu berjalan ke pintu kelas. Tania tersenyum sopan ketika berada di depan El, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan kelas. El tersenyum manis ke Sarah sambil berjalan membawakan buket bunga mawar. Sarah beranjak berdiri dari bangku sekolah.
"Ini untukmu," ucap El lembut sambil memberikan karangan bunga ke Sarah.
__ADS_1
"Terima kasih El," ucap Sarah ramah sambil menerima buket bunga itu.
"Aku nggak telat kan jemput kamu?"
"Telat setengah jam. Ngapain kamu kasih buket bunga ke aku?"
"Kamu kan diterima di perusahaan Om Rifky."
"Ayo kita pulang!" ajak Sarah.
Lalu mereka berjalan keluar dari ruang kelas. Sarah mengunci pintu kelas. Baru lima langkah dari pintu kelas, mereka dihadang sama beberapa preman. Sarah tersenyum sopan ke mereka. El melihat sekelilingnya yang dipenuhi sama para warga. El menyiapkan diri jika mereka menyerang dia dan Sarah sambil membaca kondisi daerah di sekitar mereka.
"Ada perlu apa ya Pak?" tanya Sarah sopan ke mereka sambil menatap ramah ke mereka satu per satu.
"Elu Sarah?" tanya salah satu dari mereka dengan nada bicara yang ketus.
"Iya, Bapak mau ngomong sama saya?" ucap Sarah sopan.
Tiba - tiba orang itu mengacungkan pisau lipat ke arah Maysaroh, lalu berucap, "Elu harus mati!"
"Pak, tenang dulu ya, kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik - baik," ucap Sarah tenang dan sopan.
Dengan sigap El menarik tangan kanannya Sarah, lalu mengajak Sarah berlari kencang menghindari para preman karena jumlah premannya sangat banyak. Sarah mengikuti langkahnya El sambil menengok ke belakang. Sarah melihat para preman itu mengejar mereka. Mereka berlari tanpa arah. Para warga hanya melihatnya saja, tak berani menolong mereka.
"Kita belok ke kanan," ucap Sarah sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkahnya El.
El dan Sarah mempercepat langkah kaki mereka setelah langkah mereka belok ke kanan. Saking kencangnya mereka berlari, Sarah tak sengaja menjatuhkan buket bunganya. Menyusuri gang - gang sempit, rumah - rumah warga dan lapangan luas. Di seberang lapangan sudah beda kampung. Sarah berlari ke kampung sebelah, El mengikuti langkahnya Sarah. Menelusuri gang - gang sempit lagi, rumah para warga dan jalanan besar hingga akhirnya mereka menemukan sebuah masjid.
"Kita ikut sholat Maghrib berjamaah dulu," ucap Sarah sambil berlari menuju masjid.
Mau tak mau El mengikuti ucapan Sarah. Mereka memasuki pekarangan masjid dengan nafas tersengal - sengal. Sarah melepaskan genggaman tangannya El, lalu membuka alas kakinya. Dengan kikuk, El ikut melepaskan alas kakinya. Tak sengaja Sarah melihat tiga orang preman yang sedang mencari mereka. Dengan sigap Sarah menarik tangan kanannya El dan memberikan kode ke El dengan melirik ke arah tiga orang preman itu. Akhirnya El melihat ketiga orang itu. Sarah dan El masuk ke dalam masjid yang lumayan ramai.
"Udah sana ambil wudhu!" titah Sarah, lalu Sarah melanjutkan langkahnya menuju tempat wudhu perempuan.
El mengatur nafasnya yang masih tersengal - sengal agar kembali normal. Setelah nafasnya sudah kembali normal. El mengambil smartphone miliknya dari kantong jasnya. El menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi papi Billynya. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Empat kali nada sambung berbunyi, sambungan telepon itu dijawab.
"Hallo El, ada apa?" ucap Billy.
"Papi Billy, tolong aku. Aku dan Sarah diserang sama beberapa preman. Tolong urus para preman itu."
"Kamu sekarang lagi di mana?"
__ADS_1
"Di masjid Al Tauriq Depok lama."
"Ngapain kamu di masjid?"
"Aku lagi sembunyi dari kejaran mereka. Mereka berasal dari daerah Mekar Jaya. Pangkalannya dua ratus meter dari sekolah Nusa Jaya. Dan tolong urus mobil saya di lapangan kantor RT, depan sekolahan itu."
"Siapa Sarah?"
"Pacar baruku. Udah cepatan Papi urus mereka dan mobilku."
"Kamu udah hubungi Papi Rogen?"
"Belum, lagipula ngapain hubungi dia, dia mah pasti sibuk ngurusin beberapa perusahaannya."
"Iya."
"Terima kasih ya Papi Billy, I love you. Bye," ucap El, lalu dia menjauhkan benda pipih itu dan menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu.
El melangkahkan kakinya pelan - pelan ke pekarangan masjid. Tak diduga El melihat ketiga preman itu masuk ke dalam pekarangan masjid. El membalikkan badannya, lalu berlari menuju tempat wudhu wanita, dia melihat Sarah yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Mereka masuk ke sini, cepatan kita ngumpet, mereka berada di pekarangan masjid."
Tak menunggu persetujuan dari Sarah, El langsung menarik tangan kanannya Sarah, lalu mengajaknya berjalan cepat ke tempat yang lebih aman lagi. El melihat pintu gudang masjid terbuka. El mengajak Sarah masuk ke dalam gudang masjid. Menyusuri gudang yang hanya berisi alat - alat kebersihan. El menutup pintu gudang itu setelah El dan Sarah masuk ke dalam gudang yang sempit.
El mendekap erat tubuhnya Sarah sehingga Sarah bisa mendengar detakan jantungnya El dengan tempo yang cepat. Sarah menghirup wangi tubuhnya El yang beraroma vanilla, woody dan apel. Aroma yang membuat Sarah betah di dalam dekapan El. El menguping suara - suara yang berada di luar gudang. Samar - samar El mendengar suara ketiga preman itu yang sedang mencari mereka.
"Tadi dibagian dalam masjid nggak ada."
"Di sini juga nggak ada."
"Di pekarangan dan area kamar mandi serta tempat wudhu cowok juga nggak ada."
"Berarti mereka tidak lari ke sini. Kita cari di tempat yang lain."
Sedetik kemudian El tidak mendengar suara mereka. El menunggu beberapa menit hingga ketiga preman itu benar - benar pergi dari masjid. El mengecup puncak kepalanya Sarah dengan penuh kelembutan. El mencium aroma vanilla dan citrus yang menyegarkan dari tubuhnya Sarah. El menundukkan kepalanya, lalu mengangkat wajahnya Sarah.
El mendekatkan wajahnya dengan wajahnya Sarah, lalu Sarah berucap, "Aku mohon jangan mencium bibirku."
El menghentikan niatnya yang ingin mencium bibirnya Sarah. Jarak wajah mereka hanya satu inci. El tersenyum manis ke Maysaroh sebagai jawabannya, lalu El kembali ke posisi semula. Sarah membalas dekapan El, lalu mengelus bahunya El berulang kali.
"Terima kasih banyak El karena kamu telah menolongku lagi."
__ADS_1