
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Langit malam bertaburan bintang - bintang menyelimuti kota Jakarta mengiringi mobilnya El yang sedang menuju kafe milik Clara. Di dalam mobil itu ada El dan Sarah. Mereka pergi untuk menghadiri undangan acara pesta ulang tahunnya Clara. Roda - roda mobil itu menyusuri jalanan ibu kota Jakarta.
"El, nanti di pesta itu ada siapa aja?" ucap Sarah memecahkan keheningan di antara mereka sambil menoleh ke El.
"Ada Mami, ada Papi Billy, ada Mami Renata, ada Rachel, ada Rania, ada Om Samuel, ada teman - temannya Mami dan ada saudara - saudaranya Mami."
"Mami Renata siapa El?"
"Dia itu istrinya Papi Billy. Papi Billy itu adik sepupunya Papiku. Mereka yang telah merawat dan menguruskan sejak umurku dua tahun."
"Kok mereka yang merawat dan yang mengurus kamu?"
"Papi sama Mamiku cerai sejak umurku lima bulan. Aku dibawa sama Mami. Pas umurku dua tahun, Mamiku menikah sama Om Samuel. Papiku meminta hak asuh atas diriku, jadinya Mamiku menyetujui permintaan Papi. Sejak aku dibawa sama Papi, yang ngerawat dan yang mengurus diriku adalah mereka," penuturan El sambil menyetir.
"Papi kamu nggak menikah lagi?"
"Sejak cerai sama Mami sampai sekarang Papi belum menikah lagi. Nanti di sana aku kenali kamu sama Mami Renata," ucap El sambil membelokkan mobilnya menuju area kafe milik Clara.
Mobil Mercedes Benz C-Class Audi warna hitam milik El berhenti di depan Cafe yang memiliki dua lantai. El menarik tuas rem tangan, lalu mematikan mesin mobilnya. Sarah dan El membuka sabuk pengaman. El membuka kunci pintu mobilnya. Mereka membuka pintu mobil, lalu keluar dari dalam mobil.
El memberikan kunci mobilnya ke salah satu petugas parkir di kafe itu. Tak lama kemudian, El menggandeng tangan kanannya Sarah. Mereka melangkahkan kakinya ke pintu masuk ke dalam kafe melewati pintu utama kafe. Suasana kafe itu sudah sangat meriah. Para tamu undangan yang hadir sudah duduk memenuhi kursi - kursi yang sudah disediakan oleh panitia dan dekorasi yang glamor dan elegan telah menghiasi di kafe itu.
Sarah mengedarkan pandangannya sambil berjalan, tak ada seorang pun yang dia kenal. El mengajak Sarah ke depan panggung. Tak sengaja, Sarah melihat sosok Clara yang sedang bercengkrama dengan seorang wanita paruh baya. Di samping wanita paruh baya itu ada Florence. El mempererat gandengan tangannya.
"Kamu jangan terlalu mendengarkan ucapan Mamiku ya," bisik El.
Sarah hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan El. Mereka menghentikan langkahnya di depan dua orang pemuda. Kedua pemuda itu terpana melihat Sarah yang mengenakan baju one shoulder long slevee dress warna putih dengan riasan wajah yang natural dan rambut Bob barunya. Kedua pemuda itu tersenyum menggoda ke Sarah.
"Ngapain kalian tersenyum begitu di depan cewek gw?" ucap El datar.
"Jangan galak gitu atuh," ucap salah satu pemuda.
"Perkenalkan nama saya Richard, saudara sepupunya El," ucap pemuda yang satunya ke Sarah.
"Jangan mau berkenalan sama para buaya buntung seperti mereka," ucap El datar sambil menahan tangan kanannya Sarah yang hendak ingin membalas uluran tangan kanannya Richard.
"Nama kamu pasti Dian Sastro?" ucap Richard sambil menurunkan tangan kanannya.
"Bukan," ucap El ketus.
"Angel?" ucap yang satunya lagi.
"Bukan juga," ucap El.
"Lalu siapa namanya?" tanya Richard.
"Sarah," jawab Maysaroh lembut.
__ADS_1
"Nama yang cantik, secantik wajahnya," ucap pemuda yang satunya lagi.
"Udahlah jangan ganggu cewek gw!" ucap El kesal.
"Memangnya nggak boleh kenalan sama cewek elu?" ucap Richard ketus.
"Boleh, tapi tidak boleh menggodanya, ingat kalian sudah punya pasangan," ucap El tegas.
"Richard, Johannes sini!" panggil seorang wanita paruh baya.
Tak lama kemudian kedua pemuda itu melengos pergi menghampiri wanita paruh baya itu. El dan Sarah melanjutkan langkahnya menghampiri Clara. Mereka menghentikan langkahnya ketika berada di depan Clara. Dengan jelas Sarah melihat rasa tidak suka Clara ke dirinya. Clara memandang Sarah dengan tatapan mata yang sinis dari ujung kaki ke ujung kepala.
Sarah menoleh ke Florence yang sedang menatap El dengan mata yang berbinar - binar. El terlihat tampan mengenakan jas warna putih, celana hitam dan kemeja hitam. El melepaskan gandengan tangannya, lalu memeluk erat pinggang rampingnya Sarah dari samping.
"Happy birthday Mami, all the best for you," ucap El sambil mengulurkan tangan kanannya ke Clara.
"Terima kasih my son," ucap Clara sambil membalas uluran tangan kanannya El. "Kamu nggak mau meluk Mami?" lanjut Clara.
"Aku bukan anak kecil lagi Mam," ucap El sambil melepaskan tangan kanannya.
Sarah melepaskan pelukan El, lalu mengulurkan tangan kanannya ke Clara dan berucap, "Selamat ulang tahun Tante."
Clara membalas uluran tangan kanannya Sarah dengan enggan, lalu berucap, "Terima kasih."
"Mami suka tasnya?" tanya El sambil menoleh ke Clara yang sedang melepaskan tangannya dari genggaman Sarah.
"Suka, modelnya elegan. Terima kasih ya El," jawab Clara.
"Tas itu pilihan Sarah, Mam," ucap El.
"Oh ya El, tolong panggilin Rania di kantor Mami ya," ucap Clara yang mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kamu aja sendiri, jangan ajak orang lain ke sana."
"Sarah bukan orang lain, tapi dia pacarku."
"Kamu aja yang ke sana, aku tunggu kamu di sini," ucap Sarah lembut sambil menoleh ke El.
"Baiklah, tapi jangan ke mana - mana ya."
"Iya."
Tak lama kemudian El mengarahkan tubuhnya ke tangga yang menuju kantor. El melangkahkan kakinya ke tangga itu. Menembus kerumunan orang sehingga menghilang dari pandangan kedua matanya Sarah. Sarah menoleh ke Clara yang sedang duduk dengan anggun bersama Florence dan seorang wanita paruh baya. Mendengar percakapan Clara dengan wanita paruh baya itu.
"El udah jadian sama Maysaroh?" tanya wanita paruh baya itu.
"Kayaknya sich gitu. Walaupun mereka udah jadian aku tak sudi menganggap dia kekasihnya El."
"Kenapa begitu Jeng?"
"Udahlah nggak usah bahas wanita itu Jeng, sebaiknya kita bahas perjodohan El sama Florence. Kapan anaknya Jeng punya waktu lagi untuk pergi berduaan sama El?"
"Tapi bagaimana dengan Sarah?"
"Jangan pikirin dia, yang penting mikirin anak kita, saya yakin anaknya Jeng suka sama El."
Wanita paruh baya itu menoleh ke Florence, lalu berucap, "Nak, kamu menyukai El?"
__ADS_1
"Iya Mami," jawab Florence malu - malu.
"Tuch kan benar Jeng, anaknya Jeng suka sama El."
"Tapi Jeng, aku pengen El mutusin Sarah supaya perjodohan ini tidak ada halangannya," ucap wanita paruh baya itu.
"Tenang aja Jeng, saya yakin El akan menuruti ucapannya Jeng Renata."
"Ngomong - ngomong Jeng Renata ke mana ya?"
"Dia belum datang. Jeng Renata pasti sangat senang jika perjodohan ini berhasil."
"Jeng Renata tahu bahwa El sudah punya pacar?
"Mana mungkin El memberi tahu tentang itu ke Renata."
"Kenapa begitu?"
"El nggak berani melawan ucapan Jeng Renata dan melukai hatinya Jeng Renata. El mana berani menolak keinginan Jeng Renata yang menginginkan El dan Florence menikah."
Ucapan Clara yang terakhir telah mengusik relung hatinya Sarah. Tanpa basa - basi Sarah melangkahkan kakinya menjauh dari mereka. Menembus kerumunan orang hingga dia menemukan sebuah meja kosong. Tiba - tiba pinggang rampingnya Sarah dipeluk seseorang dari belakang ketika Sarah sedang berjalan menghampiri meja kosong itu Spontan Sarah menyikut perutnya orang itu dengan keras sehingga orang itu melepaskan pelukannya.
"Auwww!" pekik Richard yang kesakitan sambil memegang perutnya.
Sarah membalikkan badannya menghadap orang itu. Melihat sebagian orang yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mata yang sinis. Sarah menundukkan kepalanya karena insecure berada di dalam pesta ini. Richard berdiri, lalu berjalan menghampiri Sarah. Richard menatap tajam ke Sarah.
"Jangan mendekat lagi!" ucap Sarah tegas.
"Kamu harus minta maaf kepadaku."
"Itu tak perlu kulakukan karena yang salah adalah dirimu! Ngapain kamu tiba - tiba memeluk pinggangku?"
"Aku kira tadi pacarku."
"Seharusnya anda lihat dulu wajahnya orang yang anda kira adalah pacar anda, jangan sampai salah peluk!" ucap Sarah kesal.
"Ada apa ini?" ucap El yang tiba - tiba datang menghampiri mereka.
Sarah langsung menoleh ke El, lalu berucap, "Richard tiba - tiba memeluk pinggangku. Dia kira aku ceweknya."
"Ada - ada aja elu modusnya," celetuk El.
"Eh enak aja elu fitnah gw. Benaran tadi gw kira Sarah adalah pacar gw," bantah Richard.
"Sar, sebaiknya kita pergi dari sini!" ajak El, lalu El menggandeng tangan kanannya Sarah.
"Memangnya kita mau pergi ke mana?" tanya Sarah sambil mengikuti langkahnya El.
"Ke tempat yang membuat hatimu nyaman," ucap El sambil berjalan ke pintu keluar kafe.
"Tapi pestanya belum mulai El."
"Biarin aja. Aku tahu kamu bete berada di dalam pesta ini, makanya aku ajak kamu keluar dari sini."
"Kok kamu tahu?"
"Apa sich yang nggak aku tahu tentang dirimu. Apa pun yang terjadi aku tetap melindungimu dan tetap memilihmu."
__ADS_1