Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Jangan Terlalu Memikirkan Masalah


__ADS_3

"Rah, udah mau mahgrib, Nyak balik dulu ya," ucap Rogaya sambil beranjak berdiri dari kursi.


"Iya Nyak, hati - hati," ucap Sarah sopan.


"El, jagain anak gw yak," ucap Rogaya sambil menoleh ke El.


"Iya Nyak."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," ucap Sarah sopan.


Tak lama kemudian Rogaya melangkahkan kakinya ke pintu kamar rawat inap Sarah. Rogaya menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka. Melangkah keluar dari dalam kamar. Pintu kamar ditutup oleh salah satu bodyguardnya mereka. Sarah mengambil handphone miliknya di samping kirinya.


"Kamu mau menelpon siapa?" tanya El ketika melihat Sarah sedang memencet beberapa tombol di handphone miliknya.


"Nelpon Mariana," ucap Sarah sambil mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.


"Kamu mau ngajak tinggal bersama lagi setelah dia telah mempermalukan dirimu?"


"Iya, bagaimana juga dia itu adikku, ibunya telah membesarkan dan mendidikku."


"Yang ada nanti harga dirimu diinjak - injak lagi, aku nggak suka itu," ucap El datar.


"Aku sudah janji sama Nyak untuk mengajak Mariana tinggal bersama lagi dan kamu tahu itu."


"Aku kira tadi kamu mengiyakan keinginan Nyak supaya Nyak berhenti menangis dan nggak memikirkan Mariana lagi."


"Maksudmu aku harus berbohong kepada Nyak? Terus aku harus membiarkan seorang bayi tinggal di tempat yang nggak jelas? Aku juga nggak tega El," ucap Sarah datar sambil mendengarkan nada sambung tapi belum diangkat.


"Dia kan masih ada bapaknya," ucap El nyantai.


"Bapaknya kan tidak mengakuinya."


"Kan masih ada ibunya, pasti ibunya ngejagain bayi itu. Kamu itu jangan bodoh! Dia sudah memfitnah kamu, masih aja ngajak dia tinggal bareng!" ucap El marah


"Kamu kenapa si El? Kalau kamu nggak suka mereka tinggal di penthousemu lagi, aku akan mencarikan tempat tinggal untuk aku, Nyak dan mereka. Jadi kami tidak merepotkan kamu lagi!" ucap Sarah marah.


"Ya udah kalau itu maumu!" pekik El marah sambil beranjak berdiri.


Tak lama kemudian El melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar. Menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka. El melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar ketika Sarah hendak melemparkan handphone miliknya ke arah El karena Mariana tidak menjawab panggilan darinya. Pintu itu ditutup oleh salah satu pengawal mereka.


Brak


Handphone milik Sarah kebentur daun pintu, lalu jatuh hingga luluh lantah. Sarah mendengus kesal, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Tak kuasa menahan air matanya yang tergenang di kedua pelupuk matanya. Sarah memejamkan kedua matanya. Tak terasa buliran air mata mengalir lembut di pipinya Sarah. Sarah menangis dalam diam.


Pintu kamar itu terbuka lagi. Kali ini yang datang adalah Maimunah. Maimunah tak sengaja melihat handphone milik Sarah hancur berantakan di atas lantai kamar. Sontak Maimunah berjongkok untuk mengambil kerangka handphone milik Sarah. Mengambil satu persatu bagian handphone milik Sarah. Sarah menoleh ke Maimunah.


"Nggak usah dipungut Munah," ucap Sarah sendu.


Spontan Maimunah mendongakkan wajahnya, lalu berucap, "Elu kenapa Rah? Sampai banting handphone elu."


"Masuk aja dulu, nanti gw ceritain."


Tak lama kemudian Maimunah berdiri. Melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar sambil membawa beberapa bagian kerangka handphone milik Sarah. Pintu kamar itu ditutup oleh salah satu bodyguardnya Sarah. Maimunah menatap kasihan melihat Sarah yang sedang mengeluarkan air matanya. Sarah buru - buru menyeka air matanya. Menarik nafas panjang, lalu menghelanya dengan perlahan supaya bisa menstabilkan emosi jiwanya.


"Elu kenapa si Rah? Elu habis berantem ya sama El? Atau habis berantem sama Nyak elu?" rentetan pertanyaan dari Maimunah yang sedang menaruh kerangka handphone milik Sarah di atas nakas sebelah kiri tempat tidur.


"Aku habis berantem sama El," ucap Sarah sedih.


"Pasti gara - gara Nyak elu yak?" tanya Maimunah sambil menduduki tubuhnya di samping kiri ranjang.

__ADS_1


"Enggak. Dia nggak setuju aku ajak Mariana dan bayinya tinggal bersama lagi. Aku nggak mau membuat Nyak sedih terus menerus Munah karena Mariana dan bayinya pergi dari penthousenya El."


"Pasti Mariana diusir sama El yak?"


"Iya. Mariana diusir sama El karena telah memfitnah aku di depan media massa. Berita gosip itu berasal dari ucapan Mariana."


"ET dah tuch orang kagak tahu terima kasih. Masih syukur dia dan bayinya ditampung sama elu. Mungkin El ngusir Mariana karena ingin ngasih pelajaran buat Mariana."


"Aku nggak tahu maksudnya apa. Karena itu Nyak sedih dan aku sudah berjanji untuk mengajak Mariana tinggal bersama lagi."


"El mengizinkannya lagi?"


"Kayaknya tidak. Dia nggak suka sama Mariana."


"Ya jelas dong dua kaga suka sama Mariana secara dia telah memfitnah elu di media massa. Terus elu, Nyak elu, Mariana dan bayinya mau tinggal di mana?"


"Di rumah Nyak."


"Kan rumah Nyak elu katanya sudah nggak aman lagi buat elu dan keluarga elu."


"Aku akan nyewa beberapa bodyguard."


"Emangnya uang elu cukup untuk bayar beberapa bodyguard?"


"InsyaAllah cukup."


"Terus soal handphone elu gimana?"


"Aku minta kamu membeli handphone baru untukku. Bagaimana perkembangan berita gosip tentangku?"


"Gw belum tahu Rah, cuma acara gosip yang tadi pagi gw tonton. Setelah itu gw bantuin Nyak gw bikin kue geplak."


"Bagaimana perkembangan berita gosipku di media sosial?"


Pintu kamar itu terbuka lagi. Sarah dan Maimunah menoleh ke arah pintu. Sarah sangat senang melihat Aqila datang menjenguknya. Aqila berlari menghampiri Sarah. Sedangkan Antony berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Pintu kamar ditutup oleh salah satu bodyguardnya Sarah. Aqila naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuhnya Sarah.


"Mommy kenapa sakit?" ucap Aqila sedih.


"Mommy hanya kecapekan aja cantik," ucap Sarah lembut sambil mengelus punggungnya Aqila.


"Aqila kangen banget sama Mommy."


"Mommy juga sangat merindukan Aqila."


"Bagaimana kabarnya kamu Rah?" tanya Antony sambil berdiri di samping kanannya Maimunah.


"Alhamdulillah udah lebih baik dari kemarin Pak," ucap Sarah sambil menoleh ke Antony.


"Sarah, kamu sakit apa?"


"Typus Pak."


"Pasti kamu kecapekan dan banyak pikiran."


"Yah begitulah Pak Antony," samber Maimunah.


"Oh ya tadi pas aku baru sampai di dalam lobby rumah sakit, aku telepon ke hp kamu kok nggak aktif ya?"


"Gimana nggak aktif, wong handphonenya dibanting," celetuk Maimunah.


"Munah!" tegur Sarah karena Sarah tidak suka Maimunah ngomong seadanya.

__ADS_1


"Lah benar adanya seperti itu toch!" ucap Maimunah kesal karena Maimunah tidak suka sikap jaim Sarah.


"Kenapa handphonemu dibanting?" tanya Antony.


"Nggak kenapa - kenapa Pak," ucap Sarah sopan.


"Kamu mau merek smartphone apa?" ucap Antony sambil mengambil smartphone miliknya dari saku jas kerjanya.


"Yang terbaru Pak," celetuk Maimunah tanpa mempedulikan pelototan dari kedua matanya Sarah.


"Nggak usah repot - repot Pak," ucap Sarah yang nggak enak hati sama Antony.


"Nggak usah sungkan gitu, anggap aja ini hadiah dariku karena keberhasilanmu menjadi seorang penyanyi terkenal," ucap Antony sambil menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya.


"Daddy, ajak Mommy tinggal bersama kita dong," ucap Aqila memelas.


"Mommy nggak bisa tinggal bersama kalian sayang."


"Tapi aku khawatir sama kondisinya Mommy," ucap Aqila sendu.


"Kamu nggak usah khawatir sayang. Kok sekarang anaknya Mommy udah pintar ngomong ya."


"Iya dong, aku kan udah besar dan udah lancar ngomong sama nyebut huruf R."


"Wah anak Mommy udah tambah pintar ya," ucap Sarah senang.


"Iya dong, Aqila kan sekarang sering belajar dan belajarnya dengan tekun supaya bisa menjadi penyanyi terkenal seperti Mommy."


Wahai sang pencuri hatiku, kamu telah mengusik relung hatiku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku. Sangat bahagia hatiku rasanya tertusuk panah cinta. Namun rasa itu tak seindah realita. Kita harus berpisah karena waktu dan jarak yang memisahkan kita. Ow, lara dan hancur hati ku. Yang sedang dicumbu asmara cinta.


Bunyi dering dari smartphone milik Maimunah. Maimunah membuka reselting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Melihat nama El di layar smartphone miliknya. Maimunah menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo El, ada apa ya?"


"Tolong kasih handphone elu ke Sarah," ucap El datar.


Maimunah menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menyodorkan benda pipih itu ke Sarah. Sarah mengambil smartphone milik Maimunah dengan tatapan mata yang bingung. Tak lama kemudian mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya sambil mendengus kesal.


"Hallo ada apa El?"


"Kenapa handphone kamu dibanting?"


"Itu bukan urusanmu," ucap Sarah datar.


"Aku sudah membeli Apple terbaru untukmu, besok barangnya sudah ada."


"Terima kasih," ucap Sarah datar.


"Jangan terlalu lama ngobrol sama Antony."


"Itu bukan urusanmu."


Tiba - tiba sambungan telepon itu diputusin sama El. Sarah menjauhkan benda pipih milik Maimunah dari telinga kirinya, lalu memberikan benda itu ke pemiliknya. Maimunah menerimanya, lalu menaruhnya di tempat semula. Menutup reselting tas selempangnya. Aqila menegakkan badannya, lalu menoleh ke Antony.


"Daddy kita sholat yuk, setelah kita sholat kita berdoa supaya Mommy cepat sembuh."


"Sayangku, adzan Maghrib belum berkumandang. Nanti setelah berkumandang, baru kita sholat," ucap Antony lembut sambil menaruh smartphone miliknya ke tempat semula.


"Aqila, kita jajan dulu yuk!" ajak Maimunah.


"Ayo, aku mau beliin ice cream kesukaan Mommy," ucap Aqila senang.

__ADS_1


Tak lama kemudian Aqila turun dari ranjang dan Maimunah beranjak berdiri dari kursi. Maimunah dan Aqila melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar. Maimunah menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka. Mereka melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Pintu kamar itu ditutup oleh salah satu bodyguardnya Sarah.


"Muka kamu kelihatan mumet dan pucat sekali, jangan terlalu memikirkan masalah."


__ADS_2