
"Ai, aku minta maaf," ucap El penuh penyesalan.
Sarah menoleh ke El, lalu berucap, "Jangan bahas itu di sini."
"Terus di mana?"
"Di tempat yang tenang."
"Baiklah, sebaiknya kamu duduk, biar aku yang beli tiket nontonnya."
Tanpa ngomong lagi, Sarah keluar dari antrian, lalu digantikan sama El dan Sarah berucap, "Aku mau nonton Robin Hood."
"Baiklah," ucap El.
"Kamu bawa apa?" ucap Sarah sambil melihat dua kantong besar yang sedang ditenteng sama El.
"Tas dan baju yang tadi kamu pilih."
"Kamu jadi beli itu semua?"
"Iya."
"Itu semua kan harganya mahal banget."
"Demi orang yang aku cintai, aku rela menghabiskan harta dan diriku."
"Gombal."
"Udah sana kamu duduk."
Sedetik kemudian Sarah melangkahkan kakinya menuju sebuah bangku yang kosong di pojok kanan lobby XXI mall itu. Menduduki tubuhnya di bangku yang kosong itu. Membuka reselting tas selempangnya. Mengambil handphone miliknya, lalu memencet beberapa tombol untuk menelpon Meira. Sarah mendekatkan benda pipi pipih itu ke telinga kirinya. Nada sambung berbunyi tiga kali, lalu sambungan telepon itu dijawab.
"Hallo selamat malam Mei," sapa Sarah ramah.
"Malam juga Sar."
"Gimana kabarnya Amangmu?"
"Udah mendingan. Kau lagi di mana?"
"Di bioskop."
"Wah asyik dong nonton film di bioskop. Gimana bioskop, bagus?"
"Iya, selain bagus, luas juga."
"Di bioskop mana?"
"Plaza ... Indonesia."
"Widihhh, itu mall elit. Kau diajakin sama El?"
"Iya."
"Nanti ceritain ya tentang bioskop sama filmnya."
"Iya. Kamu di rumah atau di rumah sakit?"
"Di rumah sakit. Eh, gimana kelanjutan kasus pencemaran nama baik kau sama El?"
"El mau mencabut gugatannya."
"Baik sekali El. Kalau kasus pencurian di rumahnya Babe Marzuki?"
"Pencurinya di kurung di tempat rehabilitasi dinas sosial. Kamu tahu dari mana tentang pencurian itu?"
"Dari Zarkasih, tadi dia cerita tentang itu waktu aku mau berangkat ke rumah sakit. Aku dengar, Babe dan Nyaknya pencuri itu dimasuki kerja sama El dan adik - adiknya dimasukin pesantren sama papinya El?"
"Berita Babenya pencuri itu benar, tapi kalau berita tentang Nyak dan adik - adiknya pencuri itu aku belum tahu, benar atau nggak."
"Si Njar merasa nggak enak sama kau Sar," ujar Meira.
"Nggak enak kenapa?"
"Karena El yang ngurus masalah pencurian itu. Sebenarnya Babe Marzuki itu lintah darat."
__ADS_1
"Ah yang benar?" ucap Sarah terkejut.
"Iya, aku dikasih tahu sama si Njar. Njar juga baru tahu kemarin kalau Babenya seorang rentenir. Dan yang lebih parahnya lagi, Babe dan Nyak kau punya hutang banyak sama Babe Marzuki, bisa - bisa nanti kau bermasalah sama Babe Marzuki."
"Nanti aku tanyakan hal ini sama Babe."
"Tapi jangan bilang tahu dari aku yak."
"Iya, kamu tenang aja."
"Eh, gimana hasil test interviewnya?"
"Hasilnya baru dikasih tahu besok pagi."
"Semoga kau diterima di sana."
"Aamiin."
"Tapi kalau kau diterima di sana, kita tetap manggung di kafenya El?"
"Masih."
"Eh Sar, udah dulu yak, aku lagi dipanggil sama suster."
"Iya."
Sambungan telepon terputus. Sarah menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruh handphonenya di tempat semula, lalu menutup reselting tas selempangnya. Sarah melihat El sedang melangkahkan kakinya mendekati dirinya, lalu menduduki tubuhnya di samping kiri Sarah.
"Ai, aku minta maaf karena sudah menyakiti hatimu," ucap El, lalu Sarah mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya yang lumayan sepi karena sebagian sudah masuk ke dalam teater satu.
"Memangnya menurutmu etis melakukan test itu di depan umum?" ucap Sarah sambil menoleh ke El dengan tatapan mata yang tajam.
"Yah, enggak sich."
"Kalau nggak etis kenapa melakukan itu?"
"Awalnya aku juga nggak tahu kalau Cla cium bibirku, terus aku kebawa suasana jadinya aku membalas ciuman Clarisa. Aku tahu jika Clarisa hanya ingin ngetes kamu setelah kamu melempar tas dan baju itu. Kamu masih marah?"
"Kamu pikir aja sendiri!" ucap Sarah ketus.
"Aku bukan cemburu," ucap Sarah serius.
"Lalu kenapa?"
"Kamu pikir aja sendiri."
"Bagaimana aku bisa mikir, aku galau karena kamu masih marah sama aku."
"Dasar laki - laki labil."
"Maksudmu apa?"
"Kamu sudah janji nggak mempermainkan wanita lagi setelah kita jadian, tapi nyatanya apa?"
"Yang nyosor duluan si Cla."
"Tapi kamu bisa mengelaknya, bukan membalasnya," ucap Sarah ketus tapi pelan.
"Iya dech aku minta maaf, aku nggak akan seperti itu lagi. Maafin aku ya," ucap El memelas.
"Hei Bro!" sapa Edward dengan wajah yang sumringah.
El dan Sarah langsung menoleh ke Edward, lalu El berucap, "Ngapain elu di sini?"
"Nontonlah," ucap Edward sambil menduduki tubuhnya di samping kirinya El.
"Nonton film apa?" tanya Sarah ramah.
"Nggak tahu, tergantung cewek gw. Dia yang antri beli tiketnya."
"Elu masih jadian sama Felicia?"
"Masihlah, tapi gw udah bosen sama dia, mau cari yang baru."
"Nggak bagus gonta - ganti cewek," celetuk Sarah.
__ADS_1
"Nah, tuch El, nggak bagus gonta - ganti cewek," ledek Edward, lalu El menyikut pinggangnya Edward. "Auw!" pekik Edward.
"Mohon perhatian Anda. Pintu teater dua telah dibuka. Bagi Anda yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater dua," ucap operator pemberitahuan bioskop.
"Ayo kita masuk!" ajak El sambil beranjak berdiri.
"Memangnya kita nonton di teater dua?" tanya Sarah sambil beranjak berdiri.
"Iya," ucap El, lalu dia menggenggam erat telapak tangan kanannya Sarah.
"Edward, kita nonton duluan ya," ucap Sarah ramah.
"Iya, hati - hati Sar nanti kamu digigit."
"Digigit nyamuk? Emangnya di sini banyak nyamuk?" ucap Sarah polos.
"Hahaha, bukan nyamuk tapi drakula," ledek Edward yang membuat El menatap tajam ke Edward. "Ya elah, segitunya, intermezzo El."
"Ayo Ai kita masuk!" ajak El sambil menarik tangan kanannya Sarah.
Tak lama kemudian Sarah dan El melangkahkan kakinya menuju teater dua. El menggenggam erat telapak tangan kirinya Sarah. Masuk ke dalam teater dua. Sarah mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya di bawah cahaya yang temaram. Hatinya El sangat bahagia bisa jalan berduaan sama Sarah. Menyusuri tangga demi tangga hingga mereka menemukan tempat duduk mereka yang berada di ujung kanan paling atas.
"Kok duduknya di ujung banget, kurang leluasa nontonnya?" protes Sarah sambil menduduki tubuhnya.
"Penuh sayang," jawab El santai sambil menduduki tubuhnya.
"Dingin banget bioskopnya," gerutu Sarah.
"Sini aku peluk, biar nggak dingin," ucap El sambil memeluk erat tubuhnya Sarah.
"Ihhh, risih tahu, banyak orang juga, main meluk - meluk aja. Aku malu," protes Sarah sambil melepaskan tangan kanannya El dari pinggangnya.
"Mereka sudah memakluminya. Bioskop sudah biasa dijadikan tempat pacaran. Cium - ciuman, dan peluk - pelukan udah biasa dilakukan di sini," ucap El santai.
"Aku tidak mau melakukan itu! Tujuan kita ke sini kan untuk nonton bukan untuk cium - ciuman maupun peluk - pelukan!" ucap Sarah sinis.
"Iya dech."
"El, Babenya Alang jadi kerja di perusahaan Omnya kamu?"
"Jadi, mulai besok dia sudah kerja."
"Ibu dan adik - adiknya Alang gimana?" tanya Maysaroh yang ingin memastikan berita dari Meira.
"Mulai besok Ibunya mereka kerja di apartemenku sedangkan adik - adiknya dimasukin ke pesantren sama Papiku."
"Wah, kamu, Papimu, dan Ommu baik banget" ucap Sarah senang.
"Kapan hasil test interviewnya dikasih tahu?"
"Besok pagi."
"Semoga kamu diterima."
"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Oh ya El, kamu tahu nggak kalau Bang Juned kerja di sana?"
"Kamu bisa nggak manggil dia nama aja?" ucap El sedikit kesal.
"Dia kan umur lebih tua dariku, masa aku manggil nama, itu nggak sopan."
"Memangnya umurnya dia berapa?"
"Dua puluh empat tahun."
"Dia kerja di The IR Design And Contractor?"
"Iya."
"Aku belum tahu. Dia di bagian mana?"
"Di staff keuangan."
"Kamu jangan terlalu dekat sama dia," ucap El serius.
"Iya. Kok lampunya mati semua," ucap Maysaroh sedikit panik.
__ADS_1
"Ini tandanya film mau dimulai. Kamu tenang aja, aku akan selalu berada di sisimu.