
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Perlahan kedua kelopak matanya El mulai terbuka karena kehilangan daya rekat yang sempat mengunci dengan kuat. El mengerdipkan matanya agar bisa menyesuaikan bias sinar lampu yang menyeruak masuk menembus kedua kornea matanya.
Kedua kelopak matanya terbuka sempurna setelah terkatup dalam waktu yang dia sendiri tidak tahu sudah berapa lama. El mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Terkejut ekspresi pertama yang dia perlihatkan ketika melihat kamar yang bernuansa putih.
El terkesiap ketika dirinya tidak sengaja melihat seorang pria anonim sedang duduk di sofa samping kiri tempat tidur yang dia tempati sekarang. Pria yang tak dikenal itu tersenyum sopan ketika mereka beradu pandang. El membalas senyuman pria itu dengan senyuman yang ramah. Pria itu beranjak berdiri dan berjalan menghampiri El yang sedang terbaring lemas.
"Syukurlah Tuan Muda sudah sadar," ucap pria itu sambil berjalan menghampiri El.
"Aku di mana? Di mana kekasihku?" ucap El panik.
"Di rumah sakit, dia sekarang lagi di ruang dokter," ucap pria itu sambil berdiri di samping kirinya El, lalu memencet tombol untuk memanggil suster ataupun dokter.
"Kamu siapa?"
"Saya Bimo Tuan Muda, salah satu bodyguard anda," ucap Bimo sambil membungkukkan badannya ke El.
El menoleh ke bahu kanannya yang diperban dan terasa kaku. El mendengus kesal ketika mengingat kejadian dia ditembak. Melihat langit - langit kamar rawat inap. Tiba - tiba kepalanya terasa pusing. Dia memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Pintu kamar rawat inap El terbuka. Tak lama kemudian suara derap langkah memasuki ruang rawat inap El yang membuat El membuka kedua matanya lagi. Sarah, seorang dokter dan seorang perawat datang masuk ke dalam kamar rawat inap El.
Sarah menutup pintu kamar itu setelah mereka masuk ke dalam. Mereka berjalan menghampiri tempat tidur El, sedangkan perawat berjalan sambil membawa tempat alat kesehatan. Perawat itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya El dan memeriksa tekanan darahnya El dengan menggunakan tensimeter. Merapikan alat tensimeter, lalu menaruhnya di tempat semula.
Mengambil termometer dari tempatnya sambil memencet tombol on. Memasangkan termometer di ketiak El. Setelah termometernya berbunyi, perawat itu mengambil termometer dari ketiaknya El. Menaruh termometer di tempat semula. Perawat itu berjalan pelan ke ujung bawah ranjang, lalu mengambil berkas data pasien. Membuka berkas data pasien, lalu menulis sesuatu. Menutup berkas data pasien, lalu menaruh berkas data pasien itu di tempat semula.
"Wahhh, Tuan Muda El sudah sadar. Bagaimana kabar kamu? Masih ada yang sakit?" tanya dokter itu sambil memasangkan stetoskop ke telinganya.
"Kabar aku baik Dok, kepala saya masih suka sakit Dok," jawab El sambil membukakan beberapa kancing piyamanya.
"Nanti saya resepkan obat untuk sakit kepala. Kamu jangan banyak pikiran, istirahat yang banyak dan jangan banyak bergerak," ucap dokter sambil memeriksa kesehatan El. "Apakah Tuan El sudah bisa kentut?" ucap dokter sambil melepaskan ujung stetoskop dari badannya El, lalu mengambil senter dari saku jas putih.
"Belum Dok," ucap El lemas ketika dokter memeriksa kedua matanya El.
"Tolong dibuka mulut anda Tuan Muda," ucap dokter sambil mengarah senter ke mulutnya El, lalu El membukanya.
"Dokter bagaimana keadaan kekasih saya?" tanya Sarah sambil melihat dokter yang sudah selesai memeriksa mulutnya El, lalu dokter itu berjalan ke ujung bawah ranjang.
"Dia sudah membaik Nona Sarah, tapi tunggu satu jam lagi, jika dia sudah bisa kentut, berarti operasinya berhasil," ucap dokter sambil membaca berkas data pasien yang bernama Rafael Darmawan Pandjaitan.
"Kalau CT Scan, bagaimana hasilnya Dok?"
"Hasil CT Scan Tuan Muda bagus. Kami pantau keadaannya selama delapan jam ke depan ya. Kalau dia sudah bisa kentut dan fisiknya sudah tidak ada masalah, besok pagi pasien sudah boleh pulang," ucap dokter sambil menulis sesuatu di berkas data pasien.
"Baik Pak Dokter."
"Kami permisi dulu, jika perlu bantuan bisa panggil kami," pamit pak dokter.
Kemudian dokter dan perawat yang sedang membawa tempat alat kesehatan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat inap itu. Mereka keluar dari kamar rawat inap. Ketika berada di depan kamar, perawat itu menutup pintu kamar. Sarah berjalan pelan mendekati ranjangnya El, lalu duduk di tepian sebelah kanan tempat tidur.
"Siapa pelaku penyerangan itu?"
"Kamu nggak usah mikirin itu. Sebaiknya sekarang kamu istirahat lagi," ucap Sarah lembut.
__ADS_1
"Tapi aku ingin tahu siapa dalang penyerangan itu."
"Kalau kamu tetep ngotot ingin tahu, aku pergi dari sini, ingat kata dokter banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, semua sedang diusut sama Papi Billy," ucap Sarah serius.
"Huh ... menyebalkan," gerutu El.
"Ini untuk kebaikan kamu El," ucap Sarah datar.
"Ya udah kamu harus di sampingku atau selalu dijaga ketat sampai kasus ini selesai ditangani sama Papi Billy. Soalnya keadaan kita lagi bahaya, ada orang yang mengincar nyawa kita," ucap El serius.
"Ehm ... iya, asalkan kamu jangan mikirin kasus ini lagi," ucap Sarah serius.
"Ok,"
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering dari handphone milik Sarah. Sarah meraih handphone miliknya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Tertera nama Aqila di layar handphonenya. Sarah tersenyum manis melihat nama itu. Memencet tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum Aqila yang cantik," sapa Sarah ceria.
"Wa'alaikumussalam Kaka Salah yang antik. Apa kabal Kaka?"
"Alhamdulillah baik, bagaimana kabarnya Aqila?"
"Alhamdulillah bai, Kaka besok kita jadi lihat lual angkasa?"
"Maaf sayang, besok kita tidak jadi lihat luar angkasa."
"Kenapa Kaka?".
"Karena Om ganteng lagi dirawat di rumah sakit."
"Om anteng sakit apa?" ucap Aqila panik.
Batin Sarah.
"Semalam Om gantengnya kecelakaan."
"Kasihan sekali. Di umah akit mana? Aku mau enguk Om anteng."
"Rumah sakit Tebet. Lantai 4, nomor 1."
"Ok, makasih ya Kaka yang antik."
"Iya sama - sama, Aqila lagi sama siapa?"
"Sama Daddy."
"Mbak Ayu udah pulang ke rumahnya Aqila?"
"Belum, nggak tahu kapan pulangnya."
"Ya udah dulu ya Aqila," ucap Sarah sambil melihat pintu kamar rawat inap El terbuka.
"Iya Kaka, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam.
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Sosok Billy masuk ke dalam kamar rawat inap El dengan derap langkah tegasnya. ketika Sarah menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Bimo langsung memberi hormat ke Billy. Billy tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya. Bimo menurunkan tangan kanannya. Sarah beranjak berdiri dari kursi, lalu menaruh handphonenya di tempat semula.
__ADS_1
"Selamat pagi Papi Billy," sapa Sarah sopan sambil menoleh ke Billy yang sedang berdiri tegak di ujung bawah ranjang.
"Pagi Papi Billy," ucap El lemas.
"Pagi. Kamu sudah sadar?" tanya Billy tegas.
"Udah Papi."
"Sejak kapan kamu sadarnya?" tanya Billy sambil membuka berkas data riwayat El.
"Beberapa menit yang lalu Papi."
"Kamu sudah dikasih obat minum?" ucap Billy sambil baca berkas data milik El.
"Belum."
"Udah dikasih sarapan?"
"Belum."
"Sarah, rumahmu sudah Papi jaga."
"Terima kasih banyak Papi Billy."
"Oh ya Papi untuk sementara Sarah tinggal di apartemenku sampai kasus ini selesai ditangani," ucap El serius.
"Kenapa kamu minta itu ke Papi? Seharusnya kamu ngomong seperti itu ke Sarah," ucap Billy santai sambil menutup berkas data.
"Aku hanya minta izin."
"Kamu sudah besar, tak perlu minta izin lagi," ucap Billy sambil menoleh ke El.
"Papi siapa dalang penyerangan itu?"
"Kamu tak perlu tahu Nak," ucap Billy lembut.
"Huh, sama aja."
"El, kamu kan udah janji nggak mau membahas itu lagi," ucap Sarah serius.
"Aku lupa hehehe," ucap El cengengesan.
"Sarah, Papi may ngomong sebentar sama kamu," ucap Billy serius sambil menoleh ke Sarah.
"Baik Papi."
"El, Sarahnya Papi pinjam dulu sebentar," ucap Billy sambil menoleh ke El.
"Iya."
Tak lama kemudian Sarah dan Billy melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat inap El. El melihat mereka melewati pintu kamar, lalu Sarah menutup pintu. El menahan sakit ketika badannya digerakkan untuk mengambil handphone milik Sarah. El menggelengkan kepalanya ke Bimo ketika Bimo hendak mau membantunya.
Dengan sekuat tenaga, El berhasil mendapatkan handphonenya Sarah. Mengutak - ngatik tombol di handphonenya Sarah untuk menelpon Lee. Memencet tombol hijau untuk melakukan panggilan. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.
"Hallo selamat pagi Lee," sapa El serius.
"Buset, pagi - pagi udah telepon. Padahal nanti siang mau gw hubungi Sarah untuk bahas tentang nyelidiki orang yang bulan kemarin dia minta tolong sama gw."
"Sekarang gw minta tolong ke elu untuk selidiki dalang dari penyerangan yang semalam gw alami."
__ADS_1
"Widihhh, kasus yang berat nich."
"Kasus yang membuat gw terkapar di rumah sakit.