
Sarah melangkahkan kakinya dari dalam lift sambil membawa tas jinjingnya. Berjalan menuju pintu kamar El yang tertutup rapat. Di ruang tengah Sarah melihat Rogaya dengan ekspresi wajah yang gelisah dan khawatir. Sarah membelokkan langkahnya, berjalan menghampiri Rogaya yang sedang duduk melamun. Sarah menduduki tubuhnya di samping kanannya Rogaya setelah menaruh tas jinjingnya di atas meja.
"Ada apa Nyak?" tanya Sarah sambil menoleh ke Rogaya.
Sontak Rogaya menoleh ke Sarah, lalu berucap, "Kalian berantem ya?"
"Nggak juga sich Nyak, hanya salah paham aja sampai dia cemburu buta."
"Salah paham kenapa?" ucap Rogaya panik.
"El kira aku selingkuh sama Pak Antony, pada hal aku sama Pak Antony hanya sebatas atasan dan bawahan."
"Nak Antony yang kemarin datang ke rumah kita yang di Condet untuk bantuin elu nyelesain masalah Mariana?"
"Iya Nyak."
"Nyak kira Nak Antony itu suruhan El. Elu juga segala berduaan di dalam kamar dan elu menangis di dalam dekapan Antony. Jelas aja El salah paham dan cemburu."
"Tapi kan saat itu ada para bodyguardku yang melihatnya."
"Tapi kan mereka nggak masuk ke dalam kamar, jadi mereka hanya tahu elu menangis di dalam dekapan Antony dan berduaan di dalam kamar bersama Antony."
"Tapi kan kami tidak melakukan apa - apa, lagi pula saat itu pintu kamarku terbuka lebar."
"Ya udah sebaiknya elu jelasin semuanya biar El kaga salah paham dan cemburu buta. Tadi Nyak lihat El lagi mabuk, jalannya aja dipegangi sama dua orang bodyguardnya. Nyak jadi kasihan sama El."
"Iya Nyak, tapi aku mau bikin air jahe dulu buat El Nyak," ucap Sarah sopan.
"Kaga usah, biar Nyak aje yang buat, elu ke kamar El aja sana."
"Ok Nyak."
Tak lama kemudian Sarah beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya menuju kamarnya El. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu kamarnya El ketika berada di depan pintu kamarnya El. Setelah mendengar bunyi bip, Sarah menelan handle pintu kamarnya El ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu terbuka. Sarah melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamarnya El. Menutup pintu kamarnya El.
Berjalan pelan - pelan sambil memperhatikan sosok El yang sedang terbaring terlentang di atas tempat tidur. Sarah membuka sepatu yang masih dipakai oleh El satu persatu. Melanjutkan langkahnya ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya El. Berjalan melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Mendekati bibir wastafel. Membuka kran, lalu membasuh kedua tangannya. Memencet tombol botol sabun sehingga cairan kental sabun keluar ke telapak tangannya Sarah. Membilas kedua tangannya dengan aliran air dari kran.
__ADS_1
Menutup kran air setelah kedua tangannya sudah bersih. Mengeringkan kedua tangannya dengan mesin pengering. Membungkukkan tubuhnya, lalu membuka salah satu pintu lemari untuk mencari handuk kecil. Mengambil handuk kecil dari susunan handuk yang tertata dengan rapi. Menutup pintu lemari itu. Menegakkan badannya, lalu membuka kran lagi untuk membasahi handuk kecilnya. Menutup kran air lagi setelah handuknya basah. Memeras handuknya supaya airnya tidak tercecer ke mana - mana.
Melangkahkan kakinya menghampiri El melewati pintu kamar mandi yang masih terbuka sambil membawa handuk basah. Menduduki tubuhnya di tepian sebelah kanan tempat tidur. Membersihkan luka lebam di wajahnya El dengan menggunakan handuk basah. El membukakan kedua matanya, lalu memandang Sarah dengan tatapan mata yang sayu.
"Kamu nggak kerja?" ucap El.
"Aku dikasih izin pulang sama Andrew," ucap Sarah setelah menaruh handuk basah di nakas sebelah kanan tempat tidur.
"Ai, kamu berhenti kerja ya dari sana," ucap El sendu.
"Nggak bisa gitu dong El," ucap Sarah sambil menoleh ke El.
"Kamu mau ke mana?" ucap El sambil menahan tangan kirinya Sarah ketika Sarah hendak beranjak berdiri.
"Aku mau ambil obat salep buat luka lebammu," ucap Sarah lembut.
"Tak perlu Sayang. Obatku hanya dirimu seorang."
"Lagi sakit malah ngegombal."
Sarah menaiki tubuhnya ke atas kasur ranjang. Tidur di samping kanannya El. Mereka memiringkan badannya sehingga posisi mereka saling berhadapan. Tatapan mata mereka saling beradu dengan binaran cinta. Merasakan desiran lembut di lubuk hati mereka. El membelai wajahnya Sarah dengan penuh cinta. Menyelipkan beberapa anak rambut Sarah ke belakang telinga. Memeluk pinggang rampingnya Sarah sambil merasakan kehangatan dan kenyamanan mereka.
"El, aku minta kamu jangan cemburu ya sama Pak Antony. Aku nggak suka dengan apa yang kamu lakukan terhadap Pak Antony. Aku tidak mau peristiwa yang seperti tadi terjadi lagi. Bagaimana pun juga dia atasanku. Aku nggak mau keluar dari sana karena aku sudah nyaman kerja di sana dan pekerjaannya sesuai dengan passionku. Aku nggak hati sama Andrew kalau aku keluar dari sana."
"Ok kalau itu keinginanmu, tapi kamu tidak boleh berdekatan dengan Aqila dan Antony."
"Baiklah. Mulai besok aku jaga jarak sama mereka."
"Tolong ceritakan tentang masalah kemarin sampai Antony mendekap dirimu."
Tok ... tok ... tok ...
Bunyi suara ketukan pintu kamarnya El. Sarah melepaskan pelukan El. Mereka beranjak berdiri dari tempat tidur. Sarah menoleh ke El yang sedang berdiri sempoyongan. El memberikan kode agar Sarah membuka pintu kamarnya dengan dagunya. Akhirnya Sarah melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar. Sedangkan El berjalan sempoyongan ke kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi. Sarah menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu kamarnya El. Menekan handle pintu kamar El ke bawah setelah mendengar bunyi bip sehingga pintu terbuka.
"Ini air jahenya dan baskom untuk mengompres lukanya El biar cepat sembuh," ucap Rogaya sambil menjulurkan satu cangkir besar dan baskom kecil ke Sarah.
__ADS_1
"Terima kasih Nyak," ucap Sarah sopan sambil menerima dua barang itu.
"Bagaimana El?"
"Udah sedikit sadar, dia sekarang di dalam kamar mandi."
"Ya udeh kalo gitu dah. Nyak ke atas dulu yak," ucap Rogaya.
"Iya Nyak," ucap Sarah sopan.
Rogaya membalikkan badannya membelakangi Sarah. Melangkahkan kakinya ke tangga ketika Sarah menutup pintu kamarnya. Ketika Rogaya mau menaiki anak tangga yang pertama pintu lift terbuka. Rogaya melihat Meira berjalan keluar dari dalam lift. Meira tersenyum sopan ke Rogaya. Rogaya tersenyum ramah ke Meira.
"Silakan duduk Mei," ucap Rogaya ramah sambil berjalan ke ruang tamu.
"Sarah ada Nyak?" ucap Mei sambil berjalan mengikuti Rogaya.
"Ada, dia lagi ngurusin lukanya El," ucap Rogaya sambil menduduki tubuhnya di sofa single, lalu Meira menyalim tangan kanannya Rogaya. "Oh ya kamu mau minum apa?"
"Air putih aja Nyak," ucap Meira sopan sambil menduduki tubuhnya di sofa panjang.
Rogaya mengambil sebuah remote dari atas meja, lalu memencet salah satu tombol di remote dan berucap, "Tolong bawain dua gelas air putih ke ruang tamu ya."
"Baik Nyonya," ucap salah satu maid di penthouse milik El.
Rogaya menaruh remote itu di tempat semula, lalu berkata, "Ada apa Mei?"
"Bagaimana kabarnya Nyak setelah kejadian itu?"
"Alhamdulillah baik Mei. Sekarang gimana kabarnya si Njar?"
"Saya belum sempat jenguk si Njar Nyak. Kemarin saya lagi di luar jadi baru denger simpang siur tentang perkelahian Njar dengan Ricky di depan rumahnya Nyak."
"Jadi elu dengar ceritanya?"
"Belum dengar yan jelas sich Nyak, makanya saya ke sini mau tahu keadaan Nyak dan Sarah. Selain itu pengen tahu cerita sebenarnya."
__ADS_1
"Begini nich cerita yang sebenarnya."